WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
30 - WR ke Sekolah


__ADS_3

Waktu sudah menujukan pukul 10.45. Sebentar lagi, waktu mengajar akan segera usai. Saat itu, Aku tengah duduk di sebuah kursi yang berada dibelakang meja, yang di tempati beberapa buah buku bertumpuk di bagian kanan nya.


Satu persatu ku ambil buku tersebut dan mulai memeriksa hasil dari belajar murid murid ku. Mereka semua tengah asik menonton video edukasi. Karena, memang itu mata pelajaran kali ini. Sesekali, ada beberapa murid diantara mereka yang menemui ku.


"Miss. Pulang masih lama, ya,?" tanyanya.


"Sebentar lagi," jawabku. Sambil tersenyum menatapnya.


Aku melanjutkan kembali aktifitas ku yang tadi sempat tertunda. Satu persatu buku itu aku periksa. Hingga, habis tak tersisa. Belum sempat meluruskan tulang punggung. Yang cukup lama membungkuk. Tiba-tiba saja pintu kelas ku diketuk.


"Assalamualaikum, Miss."


Suara itu berhasil masuk kedalam dan sampai ditelanga ku. Bukan suara Simi ataupun guru yang lain nya. Lagi pula, jika mereka yang menemuiku tidak mungkin akan mengetuk pintu segala. Pasti langsung masuk saja.


Aku beranjak dari tempat duduk ku dan segera membuka pintu.


"Waalaikumsalam," kataku. Seraya menarik gagang pintu.


Untuk beberapa detik, aku terdiam. Karena seorang laki laki yang memperkenalkan dirinya sebagai "Kakak Ananda" beberapa hari lalu. Sedang berdiri di hadapan ku dan tengah tersenyum menatapku.


"Iya. Ada yang bisa Saya bantu?" Tanyaku secara profesional. Padahal, aku sangat jengah sekali meladeninya.


"Belum pulang ya, Miss. Ananda?"

__ADS_1


Ku tarik nafas ku secara kasar dan beringsut. Benar, seperti dugaan ku. Lagi lagi dia hanya mencari alasan agar bisa mengobrol dengan ku. Untuk apa dia menanyakan hal yang seharusnya dia tau jawabannya. Apakah dia berfikir bahwa aku akan mengurung adiknya diruang kelas ini, sehingga dia bertanya seperti itu.


"Sebentar lagi, ya," ku jawab pertanyaan nya yang sangat tidak penting itu. Setelah melirik sebuah jam tangan yang melingkar di pergelangan ku. Aku masih berusaha untuk tetap tersenyum walau sebenarnya susah.


"Mamah tanya. Katanya besok, Miss. Mau dibawain apa?" saat itu aku sudah akan pergi namun ku urungkan niatku ketika mendengar pertanyaan nya.


"Maksudnya apa, ya,?" Tanya ku bingung.


Memang, hampir setiap hari. Ada saja, wali murid yang berbaik hati memberikan makanan kepada ku dan juga guru guru yang lain. Bolu, cemilan, jajanan, bahkan sesekali kerudung atau baju. Mereka memberi tanpa bertanya terlebih dulu.


"Iya, Miss. Suka gak kerudung yang kemarin mamah kasih. Klo suka nanti mamah beliin lagi katanya."


"Oh. Terima kasih banyak. Tapi, itu tidak perlu," jawabku kaku.


Bel berbunyi tiga kali, yang artinya pulang. Anak anak tampak sudah menggendong tas yang tadi sudah mereka siapkan.


"Miss, Ayo baca doa. Mau pulang," rengek mereka saling bersahutan.


Rengekan mereka saat itu, cukup membantu ku untuk bisa meloloskan diri dari hadapan laki-laki menyebalkan ini. Maaf aku berkata menyebalkan karena kau memang menyebalkan.


Setelah membaca doa dan berbaris untuk salaman. Mereka melenggang keluar kelas satu persatu. Ku cari hp ku, ada sebuah pesan masuk dari WR.


"Otw," 15 menit yang lalu.

__ADS_1


"Hati-hati," balasku. Padahal, aku tau. Bahwa, dia tidak akan membalasnya selama diperjalanan.


"Miss Tiya," Simi menemui ku. "Mana Bang WR. kata nya mau jemput,"


"Lagi dijalan sih tadi. Harusnya udah nyampe,"


sebuah pesan masuk ku terima, "Udah di sekolah,".


Aku bergegas menemui nya. Terlihat beberapa orang wali murid yang masih berada disekitaran sekolah. Sesekali mereka mengarahkan pandangan nya, pada sosok pria yang sedang menunggu kedatanganku.


"WR. Udah lama?" tanyaku.


"Belum,"


"Ehm.. ehm. Siapa tuh, Miss?" ucap salah seorang wali murid yang melihat ku menemui WR. Aku menoleh kearah sumber suara tersebut. Sekalian, aku meruncingkan pandangan ku. Untuk mencari keberadaan Kakaknya Ananda. Aku hanya ingin memastikan. Bahwa, dia melihat ku saat ini dijemput oleh laki laki lain.


Ku buat sebuah garis lengkung di bibir ku. "Yes," gumam ku dalam hati. Ketika melihat laki laki itu tengah berdiri mematung memperhatikan ku.


"Biasa. Calon imam," jawabku pada wali murid, yang hampir lupa akan pertanyaan tersebut.


"Kami duluan ya, Bu." pamit ku pada segerombolan wali murid yang masih berada disitu. Tidak lupa, ku persembahkan sebuah senyuman kecil untuk laki laki yang kini sedang memperhatikan ku dengan WR.


"Berhasil," aku bersorak dalam hati.

__ADS_1


Diperjalanan pulang. Aku bercerita banyak hal. Tapi seperti biasa, WR hanya sesekali mengangguk pelan dan lebih sering menjadi pendengar setia yang pasif. Menyebalkan memang, tapi aku mencintainya.


__ADS_2