
"Aku merasa bahwa aku tidak pernah melakukan hal yang menurutku istimewa. semua yang aku lakukan untuk mu mengalir begitu saja. jadi tidak ada alasan untuk aku mengungkitnya," WR
***
Hari minggu, hari dimana WR menjemputku untuk kembali ke kosan. Aku memintanya untuk beristirahat terlebih dulu sambil menonton tv diruang tamu.
Sudah jadi hal yang biasa ketika kita saling bertukar hp satu sama lain. Semua kontak yang di simpan di hp nya aku kenal. Beberapa pesan terkirim dan diterima juga masih dalam tahap wajar.
Tiba tiba aku teringat akan Fb yang katanya jarang sekali dia gunakan.
Ku cari aplikasi tsb di hp nya. saat itu, WR masih asik menonton tv. Tanpa memperdulikan ku yang tengan mengobrak ngabrik hp nya.
Tiba tiba saja, darah ku mendidih membaca percakapan dia dengan seorang wanita melalui messenger di facebook.
" Lewat fb aja. Jangan sms, takut ketauan." Dia memulai percakapan nya seperti itu.
Terlanjur emosi ku memuncak, tak ku selesaikan percakapan selanjutnya. Ku tarik dari belakang tubuh nya yang sedang berbaring menyamping.
"Maksud nya, apa?" tanya ku dengan menatap nya tajam.
"Apaan," tanya nya pura pura polos.
Ku lempar kan hp yang sedari tadi ku genggam, ke arah nya.
"kamu selingkuh? iya?" tanyaku dengan menahan marah.
"Engga,"
"trus maksudnya itu apa?"
"cuma sms.an doang gak lebih," jawabnya.
"bohong,".
***
Aku putuskan untuk pergi kekosan saat itu juga. Aku tidak ingin pertengkaran ku dengan nya diketahui oleh seisi rumah. Setelah menyiapkan semua pakaian yang hendak aku bawa, Akupun duduk di bagian belakang jok motor nya.
"Hampir saja, tertinggal," batinku. Sebuah sabun batang, aku masukan ke kantong jaket. Karena tertinggal teman teman nya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam tas yang sudah disimpan rapi di motor bagian depan.
"Assalamualaikum. Aku berangkat," ucap ku pada kakek dan nenek.
"Waalaikimsalam, hati hati," jawabnya.
Baru beberapa meter keluar dari rumah ku. Tiba tiba saja, WR menghentikan motornya. Dengan cepat dia mengambil sabun yang tadi aku simpan di kantong lalu melemparkan nya begitu saja.
"Jangan bodoh," ucapnya sambil mengendarai motornya lagi.
Apa yang dia maksud "jangan bodoh" apa pula hubungan nya dengan sabun yang aku bawa. Dia yang ketahuan sms.an dengan wanita lain. Kenapa, malah aku yang dibilang "jangan bodoh". Aku masih diam saat itu, malas untuk berbicara apalagi berdebat dengan nya.
__ADS_1
"Berenti dulu di rumah Kak Mul," ucapku dengan nada datar. Kak Mul, Anak ketiga dari Nenek ku. Aku sudah menganggap nya seperti kakak ku sendiri. Hari itu dia meminta ku untuk membenarkan chanel tv nya yang eror. Meskipun sedang dalam keadaan bertengkar. Aku rasa, aku masih harus tetap menyambangi rumah nya. Karena, tidak enak jika aku batalkan janji nya begitu saja.
WR menghentikan motor nya tepat didepan rumah kak Mul. Aku turun dan di luar dugaan ku, dia malah menancap gas motornya dan pergi berlalu dengan begitu cepat nya.
Aku mematung memandangi kepergian nya. Apa maksud dari ini semua. Saat itu, kondisi rumah kak Mul sedang ramai. Orang yang berada dirumah kak Mul mempertanyakan sikap nya yang pergi begitu saja. Aku urungkan niat ku untuk membetulkan chanel tv milik Kak Mul. Segera aku meminta salah seorang yang berada disitu untuk mengantarku mengejar WR.
Dengan cepat aku naik ke motornya. Motor yang kami tumpangi melaju cepat. Sedangkan, Aku memfokuskan indra penglihatan ku terus menerus mencari keberadaan WR.
Sudah setengah jam perjalanan, Namun aku tidak berhasil menemukan nya. Akhirnya, ku putuskan untuk naik ojeg ke kosan. Setelah mengucapkan terimakasih kepada orang yang mengantarkan ku, aku pun bergegas mendatangi ojeg.
"Bang, ke kota ongkos nya berapa?" tanya ku, pada si Abang ojeg. Belum sempat dia menjawab sudah ada suara laki laki yang memanggil ku dari arah belakang.
"Tiya,"
"WR," sejak kapan dia ada dibelakang ku.
"Ngapain naik ojeg. Buru naik,"
"Gak mau,"
"Buru! Jangan di anterin Om. Biar sama saya, aja." ucapnya pada si amang ojeg yang akhirnya membuat ku kembali ke motornya.
Sebenarnya, aku sangat kesal pada nya. Bayangkan, dalam satu hari saja dia sudah membuat 3 kesalahan yang fatal. Pertama "berbalas pesan dengan wanita yang tidak ku kenal". Ke dua "membuang sabun batang yang ku bawa" dengan alasan yang tidak dia jelaskan. Ketiga "dia pergi meninggalkan ku sesaat setelah aku turun dari motornya."
Menyebalkan bukan.
"Turun!" ucapnya sambil menghentikan motornya. Dia memintaku turun didepan sebuah kebun kosong yang dipagar rapi.
"Gak mau,"
"Ya, kan tadi disana. Disini mana ada ojeg. Sepi, begini,"
"bodo amat. Turun,"
"Enggak!"
"Turun!" kali ini dia menjatuhkan tas ku yang tadi disimpan pada motor bagian depan.
"Yaudah Pergi, sana. Gausah balik lagi." ucapku sambil turun dari motornya. Aku mengambil tas yang tadi sengaja dijatuhkan olehnya dan bergegas pergi meninggalkan nya.
"Mau kemana?" tanya nya sedikit berteriak karena aku sudah beberapa langkah berbalik arah menjauhinya.
"Nyari tumpangan," jawabku. Padahal aku sudah berniat akan menghubungi teman ku yang rumah nya tidak jauh dari tempat itu. Dan aku sudah berniat akan mengakhiri hubungan ini, jika itu sampai benar benar terjadi.
"Yaudah. Aku pergi, ya," ucap nya seolah mengancam.
ku lambaikan tangan ku kebelakang tanpa membalik badan.
NGIIK !!
__ADS_1
suara gesekan dari rem motor yang dipaksa berhenti.
Aku tersenyum getir melihat WR kembali menemui ku.
"Buru, naik," titah nya.
"Gak," jawabku cuek dengan melanjutkan berjalan. Dia menghentikan langkah ku dengan menarik tangan ku.
"Buru! Mau pergi sama siapa? Disini gak ada orang."
"Lah itu tau. Terus, kenapa tadi aku diturunin disini," Nada ku mulai meninggi karena hampir terbawa emosi. Tidak ku fikirkan pandangan beberapa orang yang lewat dan menyaksikan perdebatan ku dengan WR.
"Ya aku cuma mau kasih kamu pelajaran. Aku gak suka cara kamu bertindak bodoh kaya gitu."
"Mana tindakan ku yang bodoh menurut kamu? hah? bukain fb pacar. Trus liat pacarnya sms.an sama cewe lain dan aku marah. Gak boleh gitu?"
" Marah boleh. Tapi gausah pake acara bunuh diri segala."
"Bunuh diri?" tanya ku heran.
"Kamu mau bunuh diri, kan? Makan sabun?"
"Makan sabun? Makin bingung aku dibuatnya. "Siapa juga yang.." kata kata ku berhenti ketika mendengar dia mulai berucap.
"Tiya. Dia cuma mantan aku. Ada perlu, makanya sms aku. Tapi, aku bilang kalo kamu tau dia sms, pasti kamu marah. Makanya, aku nyuruh dia buat inbox di fb aja. lagian juga gak ada yang aneh kan chat.an nya." jelasnya panjang lebar sambil sesekali berhenti menarik nafas.
"Iya. Tapi, siapa yang mau bunuh diri makan sabun?" Sudah bukan perihal chat lagi yang aku fikirkan. Tapi mengenai tuduhan nya tentang aku yang ingin bunuh diri makan sabun.
"Tadi, kamu ngantongin sabun. Buat apa kalo bukan buat bunuh diri?"
"Astaga. Sabun di tanya buat apa. Ya buat mandi lah WR. Ya Allah. Apasih kamu. Pantesan tadi sabun ku, kamu ambil terus dilempar."
"Trus tadi kenapa kamu malah naik motor sama cowo lain?" tanya nya lagi seolah menghakimi.
"Lah, kan aku ngejar kamu. Yang tiba tiba pergi gitu aja."
"Apa sih yank. Kan tadi aku bilang, pas kamu turun didepan rumah kak Mul. Aku mau beli bensin dulu kataku. Gak tau nya, pas lagi ngisi bensin. Kamu malah naik motor sama cowo lain. Ngebut banget lagi. Mau langsung aku kejar, nanggung lagi nunggu kembalian. Tadinya aku fikir dia mau mau nganterin kamu sampe kosan. Tau nya kamu malah disuruh naik ojeg," Jarang jarang WR berkata panjang lebar seperti itu.
Ku ambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara perlahan.
"Huft. Salah faham," gumam ku.
"Cowo tadi. Siapa yang boncengin kamu?" tanya nya lagi.
"Kang ojeg!" bentak ku. "Udah buruan ke kosan ah. Malu diliatin orang."
"Tapi, kamu beneran gak bunuh diri, kan?
"Astaga. Engga."
__ADS_1
Dia tertawa mendengar jawaban ku dan langsung memacu motornya menuju kosan.