
Selepas isya. Disebuah tempat kos, yang di huni oleh tiga orang gadis cantik nan jelita. Siapa lagi kalo bukan Aku, Simi dan Nina.
"Enggak." pria itu lagi-lagi menolak ajakan ku untuk pergi menonton konser malam ini. Padahal, menurut informasi yang aku dapat. Akan ada beberapa penyanyi papan atas yang akan menghibur kami malam ini. Armada dan Ungu diantaranya.
Menyebalkan. Disaat teman-teman ku berniat menonton konser, yang akan berlangsung dipusat kota malam ini. Bisa-bisa nya dia malah lebih memilih berdiam diri.
WR. iya, siapa lagi kalo bukan dia. Pria yang membosankan, selalu banyak alasan jika aku mengajak nya jalan. Tapi, anehnya. Ada saat dimana dia dengan sendiri nya mengajak ku untuk berpergian. Aneh memang.
"Yank..," Aku merengek. Persis seperti anak kecil minta jajan. "janji deh gak beli apa-apa,"
"Apa hubungan nya?" sahut WR.
"Kamu, gak mau. Karena gak punya uang, kan? Takut aku minta jajan, kan?"
"Dih," dia tersenyum mendengar perkataan ku.
"Yaudah, kalo kamu gak mau nonton konser nya. Gakk apa-apa. Aku pergi sama Simi dan Nina, aja." pintaku.
"Gak boleh,"
Saat itu, Nina dan Simi juga hendak pergi bersama dengan pasangan nya masing masing. Aku, tidak masalah bagiku untuk pergi bersama mereka. Karena, aku sudah cukup akrab dengan pacar dari teman teman ku. Dan aku rasa, baik Nina ataupun Simi tidak akan menolak permintaan ku.
"Pergi sama orang gak boleh. Pergi sama kamu. Kamu nya gak mau. Sebel," aku mengkerucutkan mulutku.
Tidak terdengar jawaban darinya. Dia masih saja sibuk memainkan permainan zombie di laptop ku.
"Yank... ih," aku mengoyang goyangkan pundaknya agar dia mau merespon permintaan ku.
"Apa?" tanya nya lagi. Seolah tidak mendengar perkataan dan rengekan ku sebelum nya.
"Mau nonton Armada, yank,"
"Engga."
***
Disaat yang bersamaan Simi dan Nina tengah bersiap-siap sambil menunggu kedatangan pasangan nya.
__ADS_1
Suara motor terdengar, seorang laki laki dengan menggunakan jaket hitam, tanpa helm melintasi kosan kami dan berhenti disebuah tempat yang sudah dipersiapkan untuk parkir motor penghuni dan pengunjung kos.
Matew. Laki laki tersebut bernama Matew. Aneh? iya. Tapi, kurasa itu hanya nama samaran nya saja. Seperti WR yang enggan dipanggil dengan nama aslinya.
Dia kekasih Simi. Sudah lama mereka menjalin hubungan. Dari masih SMA, mereka sudah berpacaran. Hebat, awet sekali. semoga aku dan WR bisa seperti mereka.
Matew berperawakan tinggi, kurus. Tidak jauh beda dengan WR. Matew memiliki suara yang "berat". Hanya dengan mendengar suara nya saja. Aku sudah bisa menebak bahwa itu dia.
"Assalamualaikum," Ucap nya dengan suara yang khas.
"Waalaikumsalam," jawab kami, serentak.
"Ngapain bro?" Matew menyapa WR dan bersalaman dengan nya.
WR tersenyum, menimpali pertanyaan Matew. "Biasa," masih dengan sikap diam nya.
"Tiya. Kok, belum siap-siap?" tanya matew. Seperti mengetahui bahwa aku tidak akan ikut menonton konser tsb.
Aku terdiam dan hanya menatap ke arah WR. Dengan tatapan penuh pengharapan semoga WR mau menuruti ke inginan ku. Biasanya cara seperti ini berhasil aku lakukan. Sebuah tatapan biasanya akan lebih berpengaruh terhadapan nya, di banding perkataan.
Sebuah kata yang sejak tadi aku tunggu. Akhirnya, terdengar juga oleh ku. Sudah ku bilang, aku pasti bisa merobohkan pertahanan nya. Hanya dengan sebuah tatapan melas yang aku suguhkan.
Dengan hati riang, aku pun berkemas diri. Kami sudah siap. Tinggal menunggu kekasih Nina sampai. Katanya tadi masih diperjalanan.
Tiba juga kedatangan nya. Wanto namanya. Kekasih baru nya Nina. Entah Nina mengenalnya dari mana. Yang ku tau hubungan mereka belum berjalan lama. Tapi walaupun begitu, aku ataupun Simi masih tetap akrab dengan nya.
Tanpa dipersilahkan masuk terlebih dahulu. Nina sudah meminta Wanto untuk memutar balikan motornya, agar kita dapat secepat nya pergi menuju lokasi konser tersebut.
Perjalanan yang aku lalui kali ini tidak selancar biasanya. Puluhan motor telah berbaris. Bermacet macetan dengan tujuan yang sama. Menuju tempat konser itu berada.
"Kamu, sih. Macet, kan. Coba, kalo kamu setuju dari awal. Gak bakalan macet kaya gini jadinya."
Aku mendumel menyalahkan nya atas kemacetan yang aku alami. Padahal, jika di ingat lagi. Kalaupun saat itu, WR langsung menyetujui keinginan ku untuk pergi menonton konser. Aku masih harus tetap menunggu Matew dan Wanto datang menjemput Simi dan Nina, bukan? Ah sudahlah. Bukan Tiya namanya, kalo tidak hoby mengomel. untung saja WR seorang pendengar yang baik. Dia akan mendengarkan semua ocehan dan keluh kesah ku tanpa mendebat ku.
"Udah?" ucapnya. Ketika ocehan ku terhenti.
"Udah,". jawabku sebal. Diakhir ocehan ku dia akan selalu bertanya seperti itu. Hanya untuk memastikan bahwa aku sudah benar benar meluapkan emosi ku.
__ADS_1
***
Megah nya panggung sudah mulai terlihat. Namun, kami kesulitan untuk menyimpan motor karena semua tempat telah dipenuhi oleh motor milik pengunjung lain.
Hal itu. Akhirnya, membuat kami memutuskan untuk memarkir motor disebuah Mall, yang berada tidak jauh dari kawasan tersebut.
Awalnya. Aku, Simi dan Nina masih bersama. Hingga kami memiliki tujuan yang berbeda. Simi dengan rasa laparnya. Nina dengan rasa haus nya. Dan, aku dengan rasa was-was nya. Iya, was-was.
Bagaimana, kalo WR mengingat perkataan ku yang tadi. Perihal, aku tidak akan minta jajan. Ah, untung saja. Aku masih mempunyai bekal yang dulu sempat nenek ku berikan. Jadi, kalaupun dia tidak mentraktirku makan, paling tidak aku bisa membelinya sendiri agar tidak kelaparan.
"Belum mulai," ucap WR sambil menatap panggung dari kejauhan. Belum ada grup band yang terlihat. Hanya ada beberapa host yang tengah berusaha membangun suasana meriah.
"Baru ge jam 8." sahutku.
"Haus nih. Nyari minum dulu yuk." ajak nya padaku. Akupun mengikutinya dengan berjalan bersama di samping nya.
Setelah melihat ke sekeliling orang yang tengah berjualan. Sebuah gerobak bertuliskan "Es Liang tea" lah yang menjadi tujuan nya.
Aku hanya berdiam diri sambil berusaha mencari Nina dan Simi. Tanpa memperhatikan WR yang tengah memesan es.
"Ayo," Ucapnya mengagetkan ku. Dia mengajak ku mendekati panggung. Agar lebih leluasa, katanya begitu.
Tapi, tunggu dulu. Kenapa dia hanya menggenggam satu botol es teh ditangan kanan nya. Mana es buat ku? Apakah dia tidak ingat dengan kehadiran ku. Tidak ingin terlalu lama berfikir macam macam. Aku pun mulai mengintrogasi nya. Ternyata seperti yang ku duga, dia menjawab bahwa ," Tadi, Tiya bilang gak mau jajan, kan? Mau nonton konser, aja? Yaudah, ayo," ucapnya sambil berjalan mendahului ku.
"Ih.. Yank," ku tarik jaket yang dipakainya dari arah belakang.
"Apa?"
"Mau minum. Kenapa cuma beli satu doang ih. Bete banget"
Dia tertawa melihat tingkah ku. "Nih, minum bareng bareng aja. Hemat," Dia memberikan sebotol es teh yang tadi sudah dia minum hingga tersisa setengah.
"Dih, bekas," kataku seolah menolak.
"Yaudah, kalo gak mau," Dia berusaha mengambil es tersebut kembali. Untung saja aku sedikit lebih cepat untuk menyembunyikan nya dibelakang punggungku. Tapi, sepertinya dia tau itu. "Gak boleh," kataku.
"Yaudah, Ayo," Katanya. Sambil mengacak ngacak kerudung dibagian kepalaku.
__ADS_1