WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
12 - Lupa Bawa Uang


__ADS_3

Tok - Tok Tok


Udara dingin malam masih tersisa di awal pagi, matahari saja masih malu malu untuk menyinari bumi. Tapi kenapa ada orang yang bertamu di pagi buta seperti ini. "Mengganggu saja," Gumamku dalam hati.


Awalnya aku membiarkan saja pintu itu diketuk karena berfikir bahwa orangw tersebut akan pergi jika tidak ada yang membukakan pintu. Tapi suara ketukak itu terdengar lagi dan lagi hingga membuat Simi yang masih pulas terbangun karena mendengar suara pintu yang diketuk.


"Sono liat. kenapa lu tiduran aja sih." Umpat Simi dengan mata yang sudah terbuka sedikit.


"Biarin aja, nanti juga pergi." Timpalku yang masih asik bermain game di ponsel.


"Bang WR kali nganterin tugas lu yang semalem." Ucap Simi yang membuat aku ingat bahwa semalam WR berucap akan mengantarkan tugasku kalau sudah selesai.


Aku berjalan kerah depan dan benar saja, ada WR yang tengah berdiri didepan pintu.


"Maaf ya lama. masih tidur tadi. Ada apa?" tanyaku heran.


"Iya gak apa -apa. aku kepagian kayanya. Ini," Sebuah benda kecil berwarna hitam dia berikan padaku yang katanya berisi tugas karya ilmiah milikku yang telah selesai dikerjakan oleh nya.


"Flashdisknya nanti aku balikin."


"Santai aja,"


"Yaudah makasih ya."


Dia hanya tersenyum tanpa membalas ucapan terimakasih ku. Saat itu aku hendak masuk kembali tapi WR tidak kunjung pergi dan malah bertanya lagi "Udah sarapan?"


"Emm, belum sih"


"Bareng, yuk?"


"Yaudah, deh. Tunggu aku siap siap dulu ya. "


Sebenarnya aku tidak terlalu ingin sarapan bersama nya. Tapi, karena dia sudah membuatkan ku sebuah karya ilmiah. Jadi, aku sungkan untuk menolak permintaan nya.


Setelah mencuci muka, sikat gigi dan berganti pakaian ke yang lebih rapi, aku menghampiri WR yang dengan setia menungguku didepan teras kosan ku.


"Mau sarapan dimana?" Tanyanya sesaat sebelum aku menaiki motor hitam miliknya.

__ADS_1


"Terserah dimana aja." Jawabku sekenanya.


Aku pergi dengan motor miliknya yang dia parkir didepan gerbang kosan ku. Beberapa menit setelah Aku menaiki motor tersebut, tiba-tiba motor itu berhenti disebuah gerobak dengan tulisan "Bubur ayam," dibagian depannya.


"Langganan," Ucap WR pelan memberitahuku bahwa tempat tersebut adalah langganannya.


"Okeh baiklah." Aku mengangguk pelan dan mengikutinya berjalan.


"Dua, Pak. Yang satu gak pake bawang daun." Ucap WR pada si Bapak penjual bubur.


"Kamu gak pake apa?" Tanya WR padaku.


"Aku komplit aja."


Setelah selesai memesan, aku bergegas menuju tempat duduk yang sudah tersedia didekat gerobak bubur tersebut. Tidak terlalu ramai kondisi saat itu, Jadi aku dengan leluasa memilih tempat duduk sesuka ku. Aku dan WR saling berhadap hadapan dengan sebuah meja panjang yang menjadi penengah. Ada satu buah teko berisi teh tawar hangat dan beberapa baris gelas yang terbalik diatas meja tersebut. Ada botol kecap serta sambal dan satu nampan sate telor dan juga jeroan yang tertata rapi diatas meja. Sembari menunggu pesananku tiba, aku mengambil satu tusuk sate jeroan dan mulai menyantapnya


"Kamu sering beli disini?" tanyaku sambil mengunyah sate yang tadi aku ambil.


"Baru kali ini," Jawab WR yang kemudian mengikutiku mengambil sate juga.


"Iya, Langsung jadi langganan,".


"haha aneh," aku sedikit tertawa dibuatnya.


Pagi itu, untuk pertama kali nya. Aku pergi makan dengan laki laki lain, selain Arega. Ada rasa tidak enak di hati ketika membayangkan wajah Arega. Tapi, sisi hati ku yang lain seolah berkata "Tenang sayang, ini semua hanya pura pura,,"


Bubur ku telah tiba. Setelah mengucapkan terima kasih pada si Bapak penjual bubur. Akupun mulai menyantapnya.


WR menghabiskan semangkuk bubur dengan sangat cepat, setelah mengaduknya terlebih dulu dan menyiraminya dengan kecap. Berbeda dengan ku ,yang lebih suka makan bubur tanpa di aduk dan juga tanpa tambahan kecap. "kita benar benar tidak cocok," batinku.


WR telah selesai dengan satu mangkuk buburnya dan masih harus menungguku yang saat itu belum selesai juga. Beberapa saat setelah WR selesai barulah aku selesai.


"Aku yang traktir." Ucap WR ketika aku tengah meneguk segelas teh tawar hangat yang tadi dituangkan oleh bapak penjual bubur.


"Yah, gausah." Jawabku menolak.


"Gak apa-apa." Ucap WR seraya beranjak dari kursinya dan menuju ke penjual bubur untuk membayar.

__ADS_1


Aku menghampirnya karena melihat tingkah aneh yang dia lakukan. beberapa kali dia merogoh saku celana nya.


"Kenapa?" Aku menghampirnya dan bertanya.


"Yah aku lupa bawa uang," ucapnya. Padahal sebelumnya dia menawarkan diri untuk membayari ku makan bubur.


Entah benar uang nya tertinggal atau dia dengan sengaja mengerjai ku.


"Yasudah. Aku aja yang bayar,". sebal sekali rasanya ketika baru pertama kali sarapan bersama harus di suguhi dengan peristiwa dimana dia lupa membawa uang nya. Untung saja aku selalu membawa uang untuk berjaga jaga dan benar saja.


"Maaf, ya. Nanti aku ganti," sesalnya.


"Gausah. Biarin, aja."


Dia mengantarkan ku kembali ke kosan, langsung. setelah acara makan bubur selesai. Setelah mengucapkan terimakasih untuk yang kedua kali nya aku bergegas masuk tanpa menunggu dia berlalu terlebih dulu.


***


Hubungan ku dengan WR semakin akrab. Setiap pagi dia akan datang menjemputku untuk membeli sarapan. Hampir tiap malam dia bersama teman nya Alex akan berkunjung kekosan ku. Banyak hal yang kami bicarakan bersama, seolah kita tidak pernah kehabisan kata untuk selalu bercerita.


WR masih belum mengetahui hubungan ku dengan Arega. Karena aku cukup pintar bermain sandiwara. Ketika sedang bersama WR tak sekalipun ku main kan hp ku, agar tidak timbul rasa curiga.


"Aku pulang ya, udah malem,". katanya, seraya beranjak pergi dan memanggil Alex.


"Iya. besok main lagi, ya," ucap ku.


"Iya, jelek. Tidur, sana," balasnya sambil mengacak ngacak hijabku.


Beberapa saat setelah kepergin WR, Ku ambil hp dan mulai menghubungi Arega. Tapi, dia menolak panggilan ku dan langsung mengirimkan pesan "Maaf, sayang. Aku lagi sibuk. Nanti aku tlpn, ya."


Menyebalkan. Akhir akhir ini dia selalu begitu. jika aku hubungi alasannya sibuk. malam minggu alasannya lembur entah semua itu benar atau tidak tapi yang pasti aku membutuhkan kehadiran nya. Tidak seharusnya dia mengabaikan ku seperti ini.


"masa kerja udah malem gini masih sibuk aja," dumel ku terus menerus.


Apa dia tidak pernah berfikir disaat dia mengabaikan ku seperti ini, ada orang lain yang sedang berjuang merebut perhatian ku.


Aku masih mencintai nya, meskipun sekarang didekatku telah ada laki laki lain yang berusaha masuk ke dalam hati ku. Tapi, jika aku harus memilih, untuk saat ini aku akan tetap memilihmu, Arega.

__ADS_1


__ADS_2