
"Tiya aja yang ikut rapat ya. Biar saya yang handle anak-anak."
Saat itu aku dan beberapa guru yang lain tengah berdiri menyambut kedatangan para siswa dan siswi. Tanpa aba-aba , Miss Mala yang baru saja tiba langsung memintaku untuk menghadiri rapat. Rumah Miss Mala memang berdekatan dengan sekolah. Dia tidak biasa naik motor, jadi jika hanya kesekolah dia akan lebih memilih untuk jalan.
"Rapat dimana, Miss?" Tanyaku bingung. Apalagi disitu ada Miss Fatma, kejadian lomba saja belum bisa mencairkan suasana hatinya padaku.
"TK Percontohan, taukan? Yang dulu Pengumuman lomba."
"Iya Miss. Kapan?"
"Nanti jam 9. Minta anter Simi."
Pukul 8.30 ketika anak anak sudah memulai pelajarannya, Aku dan Simi pergi menuju tempat rapat sesuia dengan apa yang diinstruksikan Miss Mala.
Simi memarkir motornya berbarengan dengan motor motor lain yang sudah lebih dulu ada disana.
Masih ada waktu 10 menit lagi, sebelum rapat tersebut dimulai. Aku dan Simi mulai memasuki tempat yang sudah sediakan, aku mencoba mencari Dessy atau Miss Dewi, orang yang dulu aku kenal saat lomba. Tapi tak ku temukan mereka.
"Tiya," Terdengar suara memanggilku.
"Bu Elly," Ucapku lirih ketika melihat sosok yang tempo hari mengenalkan dirinya padaku.
"Kepsek (kepala sekolah) nya mana?" Tanya beliau.
"Lagi sibuk, bu." Aku berbohong karena itu juga merupakan bagian dari instruksi Miss Mala.
"Rapat belum mulai. Saya mau ngomong berdua sama kamu, bisa?" Tanya Bu Elly dengan hati-hati.
"Berdua aja? Temen saya gimana?"
"Gak apa-apa. Gue tunggu ditempat lain" Simi menyahut tanpa menunggu jawaban Bu Elly atas pertanyaanku.
"Ada apa bu?" Tanyaku ragu.
"Berapa gaji kamu di TK Pelangi," Tanya bu Elly, langsung tanpa basa-basi.
Aku sedikit terkejut mendengar penuturannya. Apa maksud dan tujuannya bertanya seperti itu. Aku sendiri memang belum tahu berapa nominal pasti dari gaji yang akan aku terima nanti. Karena aku mulai diterima mengajar itu saat pertengahan bulan. Dan Miss Mala bilang bahwa honorku akan dibayarkan bulan depan yang berati sekarang. Kalau tidak hari ini, mungkin besok. Entahlah,
"Belum tau bu," Jawabku tanpa mengada-ngada.
"Yasyudah. Saya gaji kamu 2x lipat dari berapapun gaji yang kamu terima di TK pelangi."
__ADS_1
"Hah? Maksudnya gimana bu?" Aku belum mengerti maksud dari pembicaraannya saat itu.
"Kamu pindah, jadi guru di sekolah saya."
Whatt? Serius? Bu elly seorang petugas dinas dan kepala sekolah di TK mentari memintaku untuk menjadi guru disekolahnya. Sehebat itu kah lomba yang aku menangkan sehingga kini dia ingin merebutku dari Miss Mala.
"Gimana? 2x lipat loh. Setelah 3 bulan ngajar, kalo kamu bisa pertahanin kualitas mengajarnya. Kamu boleh mengajukan honor yang kamu mau." Jelas nya sangat rinci.
Aku memang bukan orang baik, tapi rasanya tidak mungkin untukku mengkhianati Miss Mala. Aku bisa seperti ini pun berkat dukungan dari dia. Kalau tanpanya, aku bisa apa. Gaji yang bu Elly tawarkan memang terdengar menggiurkan. Tapi, jika semuanya dinilai dari uang. Lantas apa makna dari sebuah ketulusan.
"Kamu fikiran aja dulu. Ini kartu nama saya. Kalo sudah ada keputusannya silahkan hubungi saya." Sebuah kertas kecil berukuran persegi panjang ia berikan.
Dia berlalu tanpa mendengar jawabanku terlebih dahulu.
Rapat dimulai, entah apa yang dibahas karena aku meminta Simi untuk menulis setiap point yang disampaikan saat rapat dan memberikannya nanti pada Miss Mala.
"Gue kan nganter. Kenapa jadi gue yang sibuk nulis. Lagian lu, kenapa bengong mulu sih " Simi meracau dengan tetap menulis materi rapat kali ini.
Rapat telah usai, dan semua guru saling bersalaman tanda pulang. Tiba giliranku bersalaman dengan Bu Elly, Sebuah lengkungan terlukis diwajahnya.
Aku dan Simi buru buru pergi dan kembali menuju TK.
Sebenarnya aku bukan gelisah memikirkan pindah atau tidak. Hanya saja aku gelisah apakah aku harus memberi tahu Miss Mala atau bungkam seolah tidak terjadi apa-apa.
"Nanti aja Sim. Sekalian sama Miss Mala."
Simi tidak memaksa dan terus melajukan motornya
KREK
Gerbang telah dibuka oleh penjaga sekolah. Simi memasukan motornya dan menyimpan tempat parkir. Kami berdua bergegas mencari Miss Mala dan Simi langsung menyerahkan buku catatan hasil rapat tadi.
"Pulang sekolah kita rapat." Titah Miss Mala.
Sepulang siswa dan siswi sekolah, aku dan para guru yang lain berkumpul diruang guru. Miss Mala tidak ada karena tadi ijin pulang terlebih dulu.
"Mana Miss Fatma?" Suara Miss Mala menggema diujung pintu. Nina bilang Miss Fatma enggan ketika Nina mengajaknya kesini.
"Masih dikelas Miss." Jawab Nina.
"Panggilin, Nin."
__ADS_1
Nina bergegas pergi mendapat perintah dari Miss Mala dan segera kembali bersama Miss Fatma yang langsung mengambil posisi disebelah Miss Mala.
"Ini honor kalian. Putri dan Fatma." Miss Mala menyerahkan masing masing satu buah amplop putih berukuran besar dengan nama yang sudah tertulis didepannya.
"Makasih," Ucap Putri dan Miss Fatma.
"Nah kalo ini buat kalian. Honor untuk satu bulan setengah masa kerja." Kali ini aku, Simi dan Nina yang mendapatkan giliran menerima gaji.
Ini pertama kalinya dalam hidupku aku mendapatkan uang hasil kerja ku sendir. Ah, jadi begini rasanya. Kuraih amplop tersebut dengan senyum sumringah.
"Nah, yang ini anggap aja hadiah karena kamu sudah juara." Miss Mala kembali memberiku amplop.
"Wah, makasih Miss." Ucapku dengan ramah. Miss Fatma tampak memutar bola matanya dengan jengah.
"Komisi, Tiya. Kan gue yang nganterin lu." Simi berbicara dengan memepetkan tubuhnya pada tubuhku.
"Tenang, buat Simi juga ada. Walaupun gak sebesar Tiya, tapi lumayanlah." Miss Mala kembali mengambil amplop tadi tasnya dan memberikan pada Simi.
"Yeay. Makasih Miss." Ucap Simi dengan riang.
"Oh iya, Ini. Sudah saya salin. Kamu simpen aja yang aslinya." Sebuah sertifikat berwarna hijau yang beberapa hari lalu sempat aku berikan pada Miss Mala kini kembali lagi ketanganku.
"Semoga berguna buat Tiya nanti kedepannya ya." Tambah Miss Mala.
"Iya Miss. Makasih banyak."
"Oke. Silahkan kalau mau pulang. Kalian harus kuliah kan." Seru Miss Mala yang saat itu hendak bangun dari duduknya.
"mm, Miss.." Kataku dengan gugup.
"Kenapa?" Miss Mala duduk kembali "Kurang gajinya?" Ucap ya dengan tersenyum.
"eh, bukan Miss. Belum juga diliat. Itu apa sih, anu.." Ah bagaimana bisa lidahku kelu disaat seperti ini.
"Apa sih lu. Tiba-tiba gagap begitu." Nina heran melihat tingkahku. Sebenarnya aku sendiri bingung harus mengatakanya atau tidak.
"Itu Miss, bu Elly."
"Kenapa dia?" Tanya Miss Mala dengan raut wajah penasaran.
"Dia minta saya buat ngajar disekolahnya. Katanya mau gaji saya 2x lipat dari gaji yabg saya terima disekolah ini. Bahkan jika dalam 3 bulan kinerja mengajar saya bagus. Saya boleh mengajukan gaji yang sesuai dengan keinginan saya." Aku menjelaskan semuanya dengan tertunduk.
__ADS_1