WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
50 - Mall Part 2


__ADS_3

Suasana mall dikota ini sangat ramai, banyak orang berdatangan dan kebanyakan bersama pasangan.


"Kita makan dulu, abis itu nyari keperluan sekolah." Seru Miss Mala.


Ini pertama kalinya bagiku, Simi, Nina dan Putri berada di Mall ini. Aku hanya mengikuti kemana Miss Mala melangkah yang sepertinya sudah hafal betul seluk beluk Mall tersebut.


"Mau makan apa?" Tanya Miss Mala.


"Apa aja Miss." Jawab kami berbarengan.


Akhirnya, Miss Mala mengajakku kesalah satu tempat makan yang ada di Mall tersebut. Entah apa nama Restoran tersebut, aku lupa.


Kedatanganku disabut dengan ramah oleh dua orang wanita dengan pakaian yang sama.


"Silahkan masuk." Ucap mereka kompak.


Hanya ada beberapa kursi yang tersisa. Dengan segera Simi berlari kearah meja kosong dengan 6 buah kursi disekelilingnya.


"Simi, jangan norak." Bisikku ditelinganya. Simi hanya tertawa mendengar ucapanku.


Aku dan yang lain telah menempati tempat duduk masing-masing.


Sebuah menu makanan yang tebal menyerupai bentuk buku disodorkan oleh pelayan restoran kepada kami.


"Silahkan kak. Menunya," Begitu katanya


Masing-masing dari kami mendapat satu buku menu jadi kami tidak perlu menunggu apalagi berebut buku.


Kubuka lembar perlembar buku tersebut dan membaca deretan daftar menu yang berisikan gambar-gambar makanan yang menggugah selera walaupun aku belum pernah mencobanya.


"Saya pesan Avocado on Toast with Tomatoes and Feta Cheese," Ucap Miss Mala yang dengan segera dicatat oleh pelayan.


"Ayo, kalian mau apa?" Tanya Miss Mala.


Kututup buku menu yang sedari tadi membuatku bingung. Nama menu yang susah pelafalannya, gambar makanan yang asing dimata, belum lagi harga perporsinya yang rata rata diatas 50k. Astaga..


"Saya minta yang recomended dong, mba." Ucapku pada pelayan yang sedari tadi berdiri memegang pulpen dan buku catatan.

__ADS_1


"Ada 7 menu yang paling banyak dipesan direstoran kami. Salah satunya yang Ibu tadi pesan. 6 lainnya yaitu Veggie Burgers, Chicken Salad and Avocado Sandwich, Buttery Honey Mustard Salad, Salmon Scrambled, Red Apple Filled with Yoghurt, Granola and Fruits, Huevo Crocantes." Jelas pelayan tersebut dengan lancarnya.


Aku, Simi, Nina dan Putri hanya tertegun mendengarkan penjelasannya.


"Yasudah saya pesan masing masing 1 porsi ya. dengan minumannya juga 5 buah" Ucap Miss Mala.


"Baiklah, ditunggu ya bu." pelayan tersebut kemudian berlalu dengan mengambil semua buku menu yang tadi dia berikan.


"Miss banyak banget." Seru Putri.


"Gak apa-apa. Kita saling nyobain. Saya juga belum pernah soalnya." Ungkap Miss Mala.


Sembari menunggu makanan tiba, aku berbincang banyak hal dengan Miss Mala. Dia, seorang ibu rumah tangga yang sangat luar biasa. Suaminya seorang akuntan di Singapura. Wow, aku bahkan tidak percaya apa yang dikatakan olehnya sebelum dia menunjukan beberapa foto dirinya bersama suaminya didekat patung Singa


"Trus anak perempuan itu siapa Miss?" Tanyaku heran.


"Anak tunggal saya. lulus SMP saya kirim dia buat tinggal sama papahnya disana, pendidikan disana jauh lebih baik daripada disini. Nanti bulan depan juga saya kesana. Tiya handle sekolah ya. Bisakan?"


"Hah, Insha Allah Miss." Jawabku gugup.


Dua orang pelayan datang dengan masing masing membawa nampan yang dilengkapi dengan beberapa piring dan gelas diatasnya.


"Apaan nih, isinya tomat doang." Sepertinya padangan simi tertuju pada sebuah makanan yang ditata sedemikian rupa diatas piring datar. Sekilas memang tampak isinya hanya potongan buah tomat yang dibelah dua dan ditaburi dedaunan kecil diatasnya.


"Itu ada avocadonya Sim dibawah," Ucap Nina .


"Gak jelas ucap Simi."


Meski hampir semua makanan yang di pesan saat itu terasa asing bagiku dan juga lidahku tapi kami tetap menghabiskannya secara bersamaan. Sayang, makanan mahal. Walaupun semuanya Miss Mala yang membayar.


Ditengah tengah aktivitas mengunyah, Miss Mala juga bercerita bahwa dia seorang dosen yang mengajar mata kuliah akutansi disalah satu universitas Swasta dikota ini.


Dia juga punya sebuah sebuah restoran dengan menu utamanya masakan jepang, disamping itu dia juga punya toko kelontong dan toko pakaian yang dipercayakan kepada saudaranya. Seperti bosan dengan kegiatannya, akhirnya dia banting setir dengan belajar membuat sekolah dengan basic bahasa inggris.


"Miss dulu kuliah dimana?" Tanyaku dengan mengatur nada agar terkesan sopan.


"s1 saya di indonesia. S2 dan s3 di Singapura hingga akhirnya ketemu dengan pria yang sekarang jadi suami saya."

__ADS_1


"Suami Miss, Islam?" Tanya Nina tanpa berfikir panjang.


"Awalnya bukan. Tapi dia pindah agama karena ingin menikahi saya."


"So Sweet," Ucap kami berbarengan.


"Miss kenapa gak ikut tinggal disana?" Tanya Nina.


"Nanti, saya mau besarin sekolah dulu." Jawab Miss Mala.


Miss Mala juga bercerita bahwa tiap bulan sang suaminya mengirimi uang sebesar 30 juta rupiah sebagai bentuk dari nafkah yang dia berikan.


Tiga puluh juta perbulan? jika aku jadi Miss Mala pasti kerjaku hanya berselonjor kaki saja. Tapi Miss Mala begitu sibuk dengan bisnisnya yang berada dimana-mana.


"Jadi wanita gak boleh ngandelin uang suami." Kata Miss Mala.


Sepertinya hanya aku, simi dan Nina yang dibuat heran dengan penjelasan Miss Mala. Tampak Putri biasa saja seolah sudah mengetahui itu semua.


***


Selesai makan, aku dan guru guru yang lain bergegas mendatangi sebuah toko buku yang masih berada didalam Mall tersebut.


"Kalian butuh apa buat disekolah? ambil aja. Spidol, pulpen, karton atau lainnya yang kalian perlukan. Mumpung disini jadi beli sekalian." Seru Miss Mala.


"30 menit lagi kumpul dikasir ya. Udah mau magrib soalnya. Takut kalian pulang kemaleman." Tambahnya.


Dengan terpisah aku mulai mencari apa saja yang kira-kira aku butuhkan untuk bekal mengajar nanti.


Aku hanya mengambil beberapa gulung karton dengan tujuan untuk membuat beberapa hiasan kelas nantinya. Sedangkan Miss Mala tampak memasukan beberapa buah buku bacaan kedalam keranjang miliknya. "Untuk nambah koleksi perpustakaan," Begitu katanya.


Sesuai perintah dari Miss Mala, Simi putri dan Nina mulai berdatangan menghampiriku yang sedari tadi telah bersama Miss Mala menunggu kedatangan mereka didekat kasir.


Miss Mala mengumpulkan semua belanjaan dan menunggu kasir untuk menghitung total jumlah semuanya.


Sebuah kartu kredit dikeluarkan olehnya dari dompet berwarna marun yang begitu terkesan mewah.


"Ayo sudah. Bawa." Ajak Miss Mala ketika sudah menyelesaikan transaksi pembayarannya. ada 2 buah plastik berwarna putih susu yang berisikan barang belanjaan kami.

__ADS_1


Aku menggotongnya bersama Simi. sedangkan Putri dan Nina menggotong kresek yang satunya lagi. Tidak berat memang, hanya saja ini cara satu satunya agar kami semua kebagian membawa barang belanjaan.


"Langsung pulang aja ya. Udah mau malem nih." Seru Miss Mala yang disetujui oleh kami semua.


__ADS_2