
Minggu pagi, aku sudah siap sedari tadi dengan jeans dan kemeja berwarna merah muda yang senada dengan kerudungnya . hanya tinggal menunggu WR yang sepertinya akan tiba beberapa menit lagi. Dia bilang hari ini akan mengajakku berkeliling ketempat kelahirannya.
"Mau main kerumah gak?" Ajaknya beberapa hari yang lalu.
"Nanti aja,"
Entah kenapa rasanya aku belum siap untuk main kerumah dan bertemu dengan keluarganya. Pada saat nanti dimana aku merasa bahwa hubungan ini benar benar serius barulah aku mau berkunjung kerumahnya.
Pintu kosan sengaja aku buka lebar, agar ketika WR datang aku bisa langsung melihatnya. Nina dan Simi sudah sedari tadi bangun tapi diantara mereka belum ada satu orangpun yang mandi. "Gak kemana-mana gak harus mandi," Dalih Nina dan Simi.
Bunyi motor terdengar begitu jelas, WR sudah tiba sesuai janjinya yang berkata bahwa jika aku juara dia akan membelikanku boneka.
Aku segera menghampirinya tanpa menunggu dia masuk kekosan terlebih dulu.
"Ayo," Kataku dengan antusias.
"Langsung?" Tanyanya ragu.
"Iya. Gue pergi dulu ya Nin, Sim." Pamitku pada mereka berdua.
"Kalo gak bawa oleh-oleh gak boleh balik." Ancam Simi yang masih terfokus dengan ponselnya.
Ku abaikan perkataan Simi dan bergegas menaiki motor yang sudah lebih dulu WR tumpangi.
Hari ini masih pagi, udara sejuk masih terasa disepanjang jalan ini. Motor yang WR kendarai melaju dengan santai diantara motor-motor lain yang seolah tengah kebut-kebutan.
"Jadinya kemana?" Tanyaku ditengah-tengah suara angin dan motor yang sedang beradu.
"Katanya mau beli boneka?" Tanyanya memastikan.
"Sarapan dulu,"
"Mau sarapan apa?"
"Apa aja asal ada tempat duduknya."
Aku dan WR mulai mencari disepanjang jalan yang kami lalui. Ada banyak orang yang berjualan tapi ada banyak juga orang yang membeli. WR sangat anti untuk mengantri. jadi sudah pasti dia tidak akan memberhentikan motornya ditempat yang ramai seperti yang sudah aku lewati tadi.
WR menarik rem motornya dan berhenti beberapa langkah dari sebuah gerobak yang bertuliskan "Kupat tahu,"
__ADS_1
Aku yang melihat kondisi dimana tidak ada satu orangpun pembeli disini menjadi tidak yakin akan kualitas dari rasa yang akan aku nikmati nanti. Sebenarnya aku lebih memilih mengantri selama rasa yang disuguhkan cocok dengan hati, dibanding harus makan ditempat yang sepi tapi soal rasa malah bikin tidak enak hati.
"Turun," Ucap WR yang sepertinya tidak tau bahwa hati dan fikiranku tengah berkecamuk.
"Disini?" Tanyaku dengan ragu.
"Iya, itu ada kursinya."
Aku berjalan turun mengekori WR yang telah lebih dulu menyambangi penjual kupat tahu tersebut. Aku tidak menyangka bahwa penjual yang ada dibalik gerobak itu ternyata seorang pria tua yang sudah renta. Rasa tidak tega mulai melanda ketika melihatnya harus tetap berjuang di usianya yang sudah tidak lagi muda.
Dengan suara yang surau bapak tersebut bertanya "Berapa bungkus, A?"
"Dua, makan disini ya pak." Jelas WR yang seketika itu juga menuju kursi yang telah disediakan.
"Ini A, Neng. Silahkan." Ucap Pria tersebut dengan sangat sopan setelah beberapa menit berkutat dengan kupat tahu yang dibuatnya.
Dua buah piring berisi kupat tahu telah berada dihadapanku. Aku mengaduknya dan mulai mencicipinya
"Bismillahirohmanirrohim," Ucapku lirih.
Aku mulai mengerutkan dahi ketika satu suapan masuk kedalam mulutku. "Asin banget," Batinku tanpa bersuara karena takut si Bapak penjual itu mendengarnya. Soal rasa memang tidak ada yang istimewa selain dari rasa asinnya saja. Aku menatap WR dan dia nampak biasa saja. Seolah tidak terjadi apa-apa.
"Udah?" Tanya WR memastikan. Aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaannya. Sesaat kemudian WR menarik piringku dan mulai menyantap suapan demi suapan Kupat tahu tersebut hingga habis tidak tersisa dan minum dengan segera.
WR beranjak dari kursinya dan mulai menghampiri si Bapak penjual tadi untuk membayar. Satu lembar uang 20ribuan diberikan oleh WR tanpa kembalian.
"Alhamdulillah," Ucap syukur pria tua itu.
Aku kembali malanjutkan perjalanan kesebuah tempat yang WR sebut "Kampung Boneka".
"Gak asin?" Tanyaku tiba-tiba membahas kembali kupat tahu yang baru saja aku makan.
"Asin," Jawabnya singkat.
"kok diem aja?"
"Ya harus apa?" Tanyanya yang membuatku tidak bisa lagi mendebatnya.
***
__ADS_1
Kini aku mulai memasuki jalan raya dua arah dengan jalur lurus sejauh mata memandang. Banyak sekali mobil-mobil besar yang melintas di jalur ini, suara bising dari kendaraan bermotor dan juga asap hitam yang berasal dari knalpot kendaran menjadi pemandangan di pagi yang menjelang siang ini. Sesekali butiran debu bertebaran menabrak kakiku yang saat itu tidak mengenakan kaos kaki. Untung saja saat itu aku memakai masker dan juga helm, kalau tidak pasti wajahku sudah dipenuhi oleh debu.
"Masih jauh gak?" Tanyaku setelah cukup lama berada dalam kebisingan jalan.
"Bentar lagi,"
Dari kejuhan sudah bisa terlihat sebuah fly over berwarna biru yang melintas diatas 2 jalur rel kereta api yang bersebrangan dengan pasar. Aku pikir, aku akan melwati jembatan tersebut tapi ternyata WR mulai menyalakan lampu sen nya kearah kiri, menyebrangi rel kereta yang saat itu sepi dan mengambil jalur kiri lagi.
Beberapa menit melaju, mulai tampak sebuah bangunan dengan berbagai macam boneka yang bergantungan.
"Itu tempatnya?" Tanyaku pada WR untuk memastikan.
"Bukan," Jawabnya
Aku melewati sebuah toko boneka yang aku rasa lumayan besar, selain boneka yang digantung masih banyak juga boneka yang dipajang di etalase.
Lagi, aku melihat sebuah toko boneka, tapi kali ini lebih banyak ada dikanan kiriku. ternyata aku mulai memasuki kawasan yang sepanjang jalannya benar benar dipenuhi toko boneka, sejauh netraku menelisik hanya boneka yang terlihat. Mataku mulai berlarian kesegala arah, baru kali ini aku melihat boneka ada dimana mana.
"Banyak banget yank," Aku berteriak histeris menyaksikan itu semua.
"Iyalah, namanya juga kampung boneka."
Sebuah toko boneka yang berada disebelah kanan jalan, disitulah WR memberhentikan motornya. Toko tersebut tidak cukup besar jika dibanding toko-toko yang berada disekitarnya.
"Kok disini?" Tanyaku seraya melepaskan helm.
"Langganan," Jawabnya.
"Dih, sering beliin cewek boneka ya?"
"Engga juga."
Dia berlalu masuk ketoko tersebut yang disamput ramah oleh penjaga toko. Ada banyak berbagai macam boneka disini. Dari yang sekecil jari hingga sebesar badan orang dewasa. WR mempersilahkan ku memilih boneka apa yang aku ingini.
"Pilih aja, mau yang besar atau kecil. Terserah." Ucapnya.
"hmm, apa ya?"
Aku mulai mengelilingi toko tersebut inci demi inci. Hingga akhirnya fokusku tertuju pada sebuah boneka besar berwarna kuning. "itu aja," Kataku memberi tahu WR.
__ADS_1