WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
64 - Sakit Part 4


__ADS_3

Sinar surya memaksa masuk melalui kibasan gorden yang tertiup angin. Sesekali cahaya tersebut mengenai netraku yang masih tertutup hingga membuat aku terbangun. Aku masih terbaring disini, di ruangan yang sama seperti saat kemarin aku tersadar. Ku lirik jam yang terpasang di dinding bagian kanan, sudah pukul 8 pagi. Pantas matahari sudah bertugas saat ini.


Ku alihkan padanganku pada sebuah sofa yang tadi malam dipakai WR untung terpejam. Sofa tersebut sekarang kosong tanpa adanya WR diatasnya. "Kemana perginya dia. " Gumamku dalam hati. Ku cari handphone WR yang semalam ku simpan dipinggir bantal dan ternyata sudah tidak ada, pasti dia sudah mengambilnya.


Aku merasa tubuhku lebih segar pagi ini, ku coba untuk bangun dari posisiku yang tengah berbaring dan memaksakan diri untuk duduk. Berhasil, kini posisiku tengah duduk dengan infusan yang masih terpasang.


Samar samar terdengar suara langkah kaki yang dibarengi dengan terbukanya pintu kamarku.


"Kok duduk sih?" WR bertanya bahkan ketika kakinya belum sempat melangkah masuk. Dengan mempercepat langkah kakinya, dia menemuiku dan menyimpan sebuah kresek yang tadi di jinjingnya.


"Bubur lagi aja," Keluhku seolah sudah mengetahui isi dari wadah yang terbungkus kresek itu.


"Ya trus mau apa?" Tanya WR sembari duduk dikursi dekat ranjangku.


"Yang lain."


"Kan Tiya belum boleh makan nasi," Ucap WR meyakinkan.


"Huft, yaudah."


"Sini, aku suapin dulu. Nanti baru aku sarapan belakangan." WR mengambil satu porsi bubur yang tadi dibelinya untuk ku makan.


"Gausah. Makan sendiri aja. Aku udah kuat." Balasku.


"Makan yang banyak. Biar cepet sehat." Ucap WR sembari mengambil bubur miliknya dan mulai menyantapnya setelah membaca basmalah.


Sarapan ku kali ini sedikit lebih banyak dibandingkan dengan porsi makanku tadi malam, setengah porsi bubur berhasil aku makan dan sisanya WR yang menghabiskan.


"Selamat Pagi."


Seorang laki laki dengan menggunakan jas berwarna putih memasuki kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu bersama dengan seorang perawat yang tadi malam memberiku obat.


"Pagi, Dok." Ucap WR menimpali sapaannya.


"Gimana? Udah baikan belum?" Laki-laki yang WR panggil Dokter tersebut menghampiri dan berdiri disampingku.


"Udah sehat, Dok." Jawabku dengan antusias.


"Yasudah, tunggu sampai siang. Kalau sudah tidak ada keluahan, baru boleh pulang." Ucap Dokter.

__ADS_1


"Udah sarapan kan?" Tanya nya lagi


"Udah dok. "


"Bagus, diinget makanan apa aja yang boleh dan gak boleh di makan ya."


"Iya dok." Jawabku.


"Obatnya kasih, Sus." Dokter menatap perawat yang berdiri dibelakangnya dengan tangan yang menampa nampan berisikan obat obatan persis seperti semalam.


Dokter dan perawat berlalu setelah menyaksikan ku menghabiskan 3 butir obat dengan cepat. Tinggalah kini aku berdua lagi dengan WR diruangan ini.


"Nih, handphone kamu." Sebuah ponsel dengan case berwarna pink diberikan olehnya padaku.


WR berkata bahwa ketika aku masih tidur, dia pulang kekosan mengambil ponsel miliku sekalian untuk berganti baju dan menumpang mandi disana. Kebetulan Simi dan Nina belum berangkat mengajar saat itu.


"Aku gak dibawain baju ganti?"


"Gak ngerti. haha" Ucapnya sambil tertawa.


"Dih, aku dari kemaren gak mandi gak ganti baju."


Aku mengerutkan bibirku sebagai balasan dari ledekannya dan mulai memeriksa ponselku yang sejak kemarin tidak tersentuh olehku. Layar tersebut berwarna hitam, sepertinya mati total. Aku sudah berusaha menekan tombol on off nya tapi tetap saja handphone milikku tidak menyala.


"Mati," Ucapku dengan expresi datar pada WR yang tengah memainkan ponselnya.


"Masa sih?"


"Pinjem charger-an."


"Gak ada."


"Ya terus buat apa bawain hp."


"haha," Tanpa kata WR membalas perkataanku dengan hanya tawa.


Tok - Tok - Tok


"Assalamualaikum." Ucap seseorang dari balik pintu kamarku. Miss Mala masuk bersama Simi dan Nina dibelakangnya dengan sebuah parsel berisi buah buahan beraneka macam yang dibawa oleh Simi, Serta satu kantong plastik berwarna putih susu dengan tulisan Alfamart yang di jinjing oleh Nina.

__ADS_1


"Nih dari Miss Mala." Simi meletakan buah-buahan tersebut dimeja dan juga satu kantong plastik yang tadi dibawa Nina.


"Iya gue tau. Gak mungkin lu mampu beli gituan." Jawabku


"Haha sial." Umpat Simi.


Aku berterima kasih kepada Miss Mala karena telah menyempatkan dirinya untuk menemuiku di klinik ini. Miss Mala bilang, saat itu sekolah dipulangkan ketika jam istirahat. Makanya Miss Mala dan kedua temanku bisa datang untuk menjengukku disini. Miss Mala juga berkata bahwa tadi ibu-ibu wali murid berencana untuk ikut menjengukku, tapi dilarang oleh Miss Mala karena merepotkan jika terlalu banyak.


"Saya ke bagian administrasi dulu ya, mau nyelesain pembayaran." Ucap Miss Mala setelah kita mengobrolkan banyak hal.


"Makasih banyak lho Miss. Potong dari gaji saya aja perbulan." Ucapku


"Gausah, kamu tenang aja. " Miss Mala berlalu dengan sebuah senyuman khas nya.


Selepas kepergian Miss Mala, seorang perawat datang kekamarku dan memeriksa keadaanku mulai dari detak jantung, tensi darah, suhu tubuh dan lain lainnya yang aku sendiri tidak mengerti.


"Sudah boleh pulang, tapi inget dijaga pola makannya ya." Pesan perawat tersebut sembari melepaskan selang infusan yang masih berisi air.


"Aw," Aku terpekik ketika merasakan jarum yang menusuk pada urat lenganku telah dicabut keluar dari tempatnya. Dengan segera Perawat tersebut menutupnya menggunakan plaster berwarna coklat.


"Sudah, saya permisi dulu." Perawat tersebut berlalu.


Aku mulai mengemasi diriku dan bersiap untuk pulang. Tidak banyak barang- barang yang aku bahwa bahkan hampir tidak ada. Hanya satu buah tas milik WR dan makanan serta buah-buahan yang tadi dibawakan Miss Mala.


"Ayo," Miss Mala kembali dengan membawa sebuah aplop berwarna putih serta satu kantong kresek kecil yang berisi obat obatan. Dengan rinci Miss Mala menjelaskan apa saja makanan yang tidak boleh aku konsumsi, serta kapan saja obat obatan itu aku makan.


"Terima kasih banyak, Miss." Ucapku mengiba.


"Sudah gak usah dipikirin. Ayo pulang." Titah Miss Mala.


Sesuai kesepakatan, aku pulang bersama Miss Mala menggunakan mobilnya karena Miss Mala khawatir aku masih belum cukup kuat untuk menaiki motor, begitu katanya. Sedangkan WR pulang dengan motornya, begitupun dengan Simi dan Nina.


"Pelan pelan aja jalannya." WR membantuku berdiri dan menggenggam tanganku untuk keluar meninggalkan ruangan tersebut. Sedangkan Simi dan Nina kembali harus membawa barang bawaan yang tadi Miss Mala berikan dan belum sempat aku makan.


Satu buah parsel dan plastik telah tertata rapi dijok belakang mobil Miss Mala. Sedangkan Aku telah duduk dikursi bagian depan berdampingan Miss Mala. WR menutup pintu mobil dan bergegas mengambil motornya bersama Simi dan Nina.


"Sudah tidak ada yang tertinggal?" Tanya Miss Mala sesaat sebelum menancap gas mobilnya.


"Udah Miss."

__ADS_1


"Oke.. lets go home."


__ADS_2