
Aku dan yang lain memutuskan untuk pulang setelah sadar bahwa kini sudah pukul hampir 10.00 malam. Meskipun langit kian menghitam dan udara dingin terus berkeliaran namun jalan disekitar sini masih cukup ramai.
"Nih, lu yang bayar." Kusodorkan dua lembar uang berwarna merah kepada Mathew dan memintanya untuk mengurus pembayaran tersebut sedangkan aku dan yang lain bergegas menuju motor.
Tidak butuh waktu lama untuk menunggu Mathew kembali, dengan segera dia mengendarai motornya dengan Simi yang berada dijok belakang dan mulai memimpin perjalanan pulang. Perjalanan pulang kali ini berbeda dengan jalan yang aku lalui tadi saat pergi, Mathew bilang "Lewat sini lebih cepet,"
"Yank," Bisikku lirih
"Apa?" Tanya WR.
"Perasaan aku kok gak enak ya. kaya akan terjadi sesuatu." Aku menjelaskan apa yang aku rasakan saat itu.
"Kosan dikunci gak? takut kemalingan lagi." Jawab WR.
"Dikunci kayanya. Tapi kosan dulu juga dikunci tetep aja kemalingan."
"Yaudah santai aja dulu. bentar lagi nyampe." WR mencoba menenangkanku.
Beberapa menit berada diatas motor, tibalah aku disebuah perempatan yang memiliki lampu merah disetiap sudutnya. Tampak dari jauh terlihat lampu berwarna hijau yang menyala terang digelapnya malam. Sedangkan waktu yang terus bergerak mulai menghitung mundur dari angka 5. Motor Mathew dan Wanto melaju dengan sangat cepat didepan ku begitupun dengan WR, seperti tidak ingin menunggu lampu merah.
Simi dan Nina telah melaju didepanku, tapi tiba-tiba saja WR menghentikan motornya setelah berhasil melalui lampu lalu lintas tersebut. Ku arahkan wajahku kesebelah kiri dan ternyata sudah ada seorang polisi lengkap dengan seragam polrinya tengah berdiri menatap kami.
"Polisi? malam malam begini?" Gumamku dalam hati. Apa benar dia polisi atau dia hantu yang sedang mengerjai kami.
"Selamat malam," Ucap polisi tersebut dengan gagah.
"Malam, Pak." Jawab WR yang masih duduk diatas motornya. Akupun diam tak bergeming dibelakang WR karena aku sendiri masih tidak yakin bahwa ini polisi asli.
"Mohon tunjukan kelengkapan surat surat motornya." Pinta si Polisi tersebut. WR mulai mengeluarkan sebuah dompet yang berada disaku celananya dan memberikan STNK, SIM dan KTP miliknya sesuai dengan apa yang diminta polisi.
"Anda saya tilang. Anda tau kesalahan anda apa?" Tanya polisi tersebut setelah meriksa kartu kartu tadi.
"Gak tau." Jawab WR dengan spontan karena memang aku sendiri tidak tahu apa alasan aku diberhentikan sedangkan Simi dan Nina bisa melaju dengan leluasa.
"Anda melanggar lampu lalulintas dengan menerobos lampu merah."
"Masih kuning kok pak tadi." Bantah WR.
__ADS_1
"Tapi saat anda berada ditengah-tengah jalan lampunya sudah berubah menjadi merah. itu sama saja pelanggaran." Tambah polisi tersebut dengan yakin.
"Lah tadi dua motor didepan saya kok gak diberentiin sih, Pak. terus dibelakang saya juga ada satu motor tapi dia gak diberentiin. " Keluh WR.
Memang pada saat itu ada sebuah motor dibelakang kami. Namun sepertinya motor tersebut telah mengatahui keberadaan polisi sehingga dia mengendarai motornya sangat jauh dari sisi jalan. berbeda dengan WR yang melaju dikiri jalan karena tidak menyadarai kehadiran polisi.
Bukannya menjawab pertanyaan yang WR lontarkan, polisi tersebut malah menarik kunci motor WR dan membawanya masuk kesebuah pos polisi yang berukuran tidak cukup besar.
"Loh gak bisa main ambil gitu dong pak." WR turun dengan segera dan mengikuti polisi tersebut.
Sampailah aku dan WR dipos polisi. Ada sebuah motor polisi didalam ruangan tersebut. Pantas saja dari tadi aku tidak melihatnya. Aku fikir, malam-malam begini sudah tidak ada lagi rajia, nyatanya sama saja.
"Motor kamu saya tahan. Nanti kamu bisa ambil dipengadilan."
"Gak bisa gitu dong, Pak. Harusnya bapak ambil stnk saya dan kasih surat tilang bukan malah ngambil motor saya." Keluh WR menanggapi sikap polisi yang hendak menyita motornya.
"Baru saja sejam yang lalu sebuah truk pergi setelah mengangkut puluhan motor pengendara yang melanggar peraturan seperti kamu."
"Maaf, Pak. Tapi kan motor saya lengkap surat suratnya. STNK dan SIMnya juga ada. Jika saya tidak bisa menunjukan surat surat tersebut barulah bapak bisa membawa motor saya." Debat WR.
"Duduk," Ucap polisi tadi, Aku dan WR pun duduk sesuai dengan arahannya. "Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan Rambu Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf a atau Marka Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf b dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah). Mau denda yang mana kamu?" tambah polisi itu.
"Saya minta surat tilang saya." Ucap WR setelah mendengar penuturan dari petugas polisi tadi.
"Baiklah," Ucap polisi tersebut yang dengan segera mengisi bagian yang kosong pada selembar kertas.
"Ini, silahkan bayar di bank." Sebuah kertas berwarna merah disodorkan kepada WR oleh polisi. Dikertas tersebut tertera berapa jumlah yang harus dibayar atas pelanggaran menerobos lampu merah yaitu sebesar Rp.500.000.
Aku menggaruk rambutku yang tertutup kerudung dengan kasar, kenapa semuanya bisa rumit seperti ini.
"Saya mau sidang aja, Pak." Ucap WR.
"Jadi anda tidak mengakui kesalahan anda, begitu?" Tanya polisi tersebut dengan sedikit arogan
"Iya. Karena pada saat saya melintas lampu lalu lintas tersebut belum berwarna merah. Kalaupun saya harusnya ditilang, dua motor yang berada didepan atau paling tidak satu pengendara motor yang berada dibelakang saya harusnya juga ikut bapak tilang. bukan hanya saya."
"Baiklah, Silahkan. Datang kepengadilan sesuai dengan tanggal yang sudah ditetapkan. Dan jelaskan didepan hakim apa yang sudah kamu jelaskan pada saya." Polisi tersebut memberikan kembali kunci serta surat surat kendaraan WR yang tadi sempat dia minta.
__ADS_1
"Silahkan pulang, sudah malam." Tambah petugas polisi dengan membalik badan.
Tanpa banyak pertanyaan WR segera mengambil Kunci serta KTP SIM karena STNK miliknya ditahan sebagai jamanin dan bisa diambil nanti pada saat persidangan
"Ayo," Ucap WR sembari menggenggam tanganku menuju keluar.
"Kamu ngapain berenti. Harusnya tadi kabur aja." Aku mendumel setelah keluar dari pos polisi.
"Gak tau, haha." Jawabnya dengan tertawa.
Baru satu kali tarikan gas, motor WR kembali berhenti didepan sebuah Alf*mart. Ada Simi dan Nina yang tengah menungguku. Mereka tertawa melihat kedatanganku.
"Diapain lu sama polisi?" Tanya Wanto pada WR.
"Ah, curang. gue doang yang ditilang."
"Hahaha, kurang cepet lu." Seru mathew.
"Lagian, ya. lu, temennya ditilang bukan nolongin malah ninggalin. Sekarang ngetawain, lagi." Aku mulai meracau.
"Lah gue nungguin ini disini." Timpal Simi sembari menguyah gorangannya.
"Alah, boong lu. Tadi lu lanjut terus, gue kejar dan bilang kalo si Tiya di berentiin polisi. Baru deh si Mathew berenti." Terang Nina.
"Salah si Mathew bukan gue. Gue kan cuma penumpang. udahlah yang penting lu selamet." Timpal Simi
"Selamet apaan. gue disidang."
"Kenapa tadi gak damai aja. Kasih duit, kelar." Saran dari Wanto yang langsung dibantah oleh Nina. "Ih, gak boleh. Nanti kalo ketahuan malah dipenjara makin lama." begitu katanya.
"Dikasih surat tilang gak?" Tanya Mathew.
"Iya nih." WR menujukan sebuah kertas berwarna biru yang tadi diberikan oleh polisi.
"Surat surat kendaraan lengkap?" Tanya Mathew yang dibalas dengan anggukan pelan.
"Yaudah dateng aja. Sidang paling denda gak nyampe 50 ribu." Terang Mathew.
__ADS_1
"Udah ayo dirumah aja ngobrolnya ah." Pintaku pada mereka yang tengah asyik berbincang walaupun duduk diatas jok motor. "Tapi kali ini gue didepan, ah." Tambahku yang dibalas oleh tertawaan mereka.