
Aku berjalan dibelakang Simi Nina dan Raka, menuju sebuah restoran.
"Selamat datang," Sebuah pintu dengan bahan dasar kaca dibuka oleh salah seorang yang bertugas menyambut kedatangan kami.
"Terima kasih," Jawabku pelan sembari menyuguhkan sebuah senyuman.
Beberapa langkah kemudian, Aku beridiri mematung dan langsung mengedarkan pandangan untuk mencari kursi kosong di restoran ini yang sudah hampir setengahnya terisi.
"Kita disana aja yuk, Sim. Nin." Aku hendak menuntun Simi dan juga Nina untuk duduk disebuah meja dengan empat buah kursi yang berada disekitarnya.
"Tapi itu kan cuma ada empat kursinya, Tiya." Raka berucap seolah membantah ajakanku pada kedua temanku.
"Iya Tiya. Gimana sih lu. Kurang satu. Kita kan berlima." Tutur Simi yang berpendapat sama dengan Raka.
"Arega sama Raka meja lain. Gak apa-apa kan." Tanyaku sembari mengarahkan tatapan pada Arega.
"Iya," Jawab Arega singkat. Binar maniknya seolah memancarkan kekecewaan atas sikapku padanya.
"Gimana sih, kan yang bayar Arega. Masa duduknya pisah." Simi tetap bersih kukuh tidak ingin pisah meja dengan Raka dan Arega. Pendapat tersebut diperkuat dengan dukungan Nina yang juga membela mereka. " Lagian cuma makan doang, rame rame. Takut banget si lu." Ucap Nina.
Simi dan Nina terus menerus memaksaku agar mau duduk bersama dengan berbagai macam alasan yang mereka lontarkan. Akhirnya, dengan sedikit terpaksa aku menuruti keinginannya.
Simi memilih sebuah meja dengan 6 kursi yang melingkar disekelilingnya. Tidak apa lebih, asalkan tidak kurang. Begitu yang Simi ucapkan. Masing masing tiga buah kursi diposisikan menghadap meja yang sama. Aku duduk sejajar dengan Simi dan Nina. Sedangkan Arega duduk berdampingan dengan Raka yang otomatis membuat aku dan Arega saling berhadap-hadapan dan hanya terhalang meja.
Seorang pelayan berjalan kerahku dengan sebuah daftar menu di tangannya. Diberikan lah daftar menu yang tadi dibawa pada Arega dan pelayan tersebut mulai mengeluarkan buku kecil berserta pulpen yang ada disaku bajunya.
"Silahkan, mau pesan apa?" Ucap lembut pelayan tersebut.
Arega mulai membaca dan memilih beberapa menu yang dikehendakinya beserta minumannya juga dan disusul oleh Raka.
"Ini boleh pesen apa aja?" Tanya Simi sembari melihat lihat menu yang kini sudah berada ditangannya.
"Iya, pesen aja." Jawab Raka.
"Lah. yang mau bayarin siapa?" Tanya Simi
"Arega lah, duit gue abis dipake beli kamera."
__ADS_1
"Huuu.. kere." Ucap Simi dan Nina berbarengan.
Saat itu Aku lebih memilih diam dibanding dengan ikut terjun kedalam percakapan mereka.
"Heh, lu mau pesen apa? Bengong mulu." Simi menepuk pundak kananku dengan jari jemarinya. Aku yang saat itu memang sedang tidak fokus jelas terhenyak menerima perlakuan Simi.
"Eh, apa ya. Samain aja." Jawabku asal ceplos.
"Samain kaya siapa?" Tanya Simi lagi.
"Sama lu. Samain aja kaya lu. minumnya juga." Jawabku yang dengan segera dicatat oleh pelayan yang sesaat kemudian berlalu. "Ditunggu ya, kak." Ucap pelayan tersebut.
Dret - Dret
Aku mulai memeriksa handphone ku yang sedari tadi bersemayam didalam tas mungilku. Benar saja, asal suara getaran tersebut dari handphoneku, Sebuah panggilan masuk ku terima atas nama WR. "Kenapa WR menelepon. Apa dia tahu bahwa aku sedang bersama dengan Arega? Apa yang harus ku katakan padanya." Begitu banyak fikiran yang berkecamuk didalam kepalaku ketika mendapatkan panggilan tersebut.
"Siapa?" Tanya Arega yang seolah menyadari kediamanku sembari menatap layar ponsel yang berada dalam genggaman.
"WR?" Tanya Arega lagi tanpa menunggu aku menjawab pertanyaan pertamanya.
"Angkat aja. Aku diem kok. Lu juga diem dulu." Arega berucap sembari memperingati temannya, Raka. Agar diam dan tidak banyak bicara. Karena sedari tadi Raka selalu saja mengobrolkan banyak hal bersama Nina.
"Eh, ini Si WR nelepon gue." Ucap Simi dengan nada kaget. "Angkat jangan." Tanya lagi menunggu persetujuanku.
"Angkat aja. Kalau gak diangkat nanti curiga." Ucap Arega. Simi menatapku seolah ingin mendengar keputusanku, ku anggukan kepalaku sebagai jawaban dari kesetujuanku.
"Yaudah diem ya." Ucap Simi sembari mengarahkan jari telunjuknya kebibir. Sebenarnya aku khawatir tentang apa yang akan Simi bicarakan nanti dengan WR. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada jalan lain selain Simi menerima teleponnya.
"Hallo," Simi membuka pembicaran dengan WR melalu telepon seluler miliknya.
"Lagi dimana?" Tanya WR diseberang sana. Simi sengaja menloud speaker ponselnya dengan tujuan agar aku bisa mendengar dengan jelas apa yang WR katakan.
"Di Mall." Jawab Simi setenang mungkin.
"Sama siapa?"
"Maksudnya?" Tanya Simi. Aku mulai panik mendengar pertanyaan yang dilontarkan WR.
__ADS_1
"Lagi sama Tiya gak."
"Iya."
"Tadi di telepon gak diangkat. lagi ngapain orangnya."
"Lagi ke kamar mandi. Ini handphone di tas. Tasnya ditinggal dikursi." Ucap Simi yang tentu saja berbohong pada WR karena sejak tadi aku berada disampingnya bukan dikamar mandi.
"Sendiri?"
"Iyalah."
"Kenapa gak ditemenin. Nanti kalau pingsan lagi gimana?" Ucap WR dengan nada yang menunjukan kekhawatiran.
Arega menatapku ketika WR berkata pingsan, mungin Arega bermaksud ingin mendengar cerita tentang kejadian aku pingsan. Tapi ditahan olehnya karena tidak mungkin dia berbicara sedangkan telpon Simi masih tersambung pada WR.
"Enggak. Dia udah sehat. Udah ah gue mau makan. Nanti lu telepon lagi aja keorangnya." Ucap Simi beralasan agar bisa buru buru menutup telepon dari WR yang sedari tadi mengujani nya dengan deretan pertanyaan mengenai ku.
"Tiya gak boleh makan yang pedes, asem sama santan dulu. ingetin Sim." WR memberi tahu pantangan yang disarankan oleh dokter beberapa hari yang lalu ketika aku masih sakit. Dia masih saja mengingatnya dan memintaku untuk tetap menjauhi makanan tersebut sampai kondisiku benar benar stabil.
"Siap Pak Dokter." Jawab Simi.
Panggilan berakhir dan diikuti oleh hembusan nafas Simi yang memburu. "Ah, gila cowok lu. udah kaya ngintrogasi maling." Simi berkeluh sembari mengusap dadanya dengan telapak tangan. Nina hanya tertawa menyaksikan tingkah laku temannya, Simi.
"Katanya kabar kamu baik?" Seolah mengabaikan Simi yang masih ngos-ngosan setelah berbicara dengan WR. Arega lebih tertarik untuk mengetahui keadaanku.
"Ya aku baik." Jawabku dengan yakin.
"Terus tadi pingsan, gak boleh makan ini, gak boleh makan itu. Kenapa?" Tanya Arega dengan panik.
Kenapa dia harus bersikap seperti itu? bukankah sudah sejak lama hubunganku dengan nya berakhir. Harusnya perhatiannya pun berakhir saat dimana aku lebih memilih WR
"Sempet sakit. Beberapa hari yang lalu. Tapi sekarang udah sehat." Jawabku menjelaskan apa yang sepertinya ingin Arega dengar.
"Dirawat?" Tanyanya lagi dengan rasa penasaran yang begitu mencuat.
"Iya cuma dua hari semalem doang."
__ADS_1
"Maaf aku gak tau kalau kamu sakit. Kalau tau kan seengganya aku bisa nengokin kamu." Ucap Arega dengan tatapan menyesal.
"Gak apa-apa. Ada WR kok yang nemenin aku." Jawabku dengan senyum hingga membuat Arega mengangguk pelan dan tidak bertanya lagi.