
Terjadinya kasus perampokan, eh puncurian. Ah entahlah apa namanya. Yang jelas kejadian tersebut telah membuat aku menjadi orang yang dipenuhi dengan rasa ketakutan dan kekhawatiran.
Hari hari ku menjadi tidak tenang. Aku tidak bebas berpergian dan tidur pun tidak nyaman. Akhirnya, Aku, Simi dan Nina memutuskan untuk pindah kos ke tempat yang pengamanan nya jauh lebih baik.
"Aku mau pindah kos," ucapku kala itu di teras depan kelas dikampus.
"Kemana?"
"Ke tempat kos nya Anya yang dulu. Agak jauh sih dari kampus kalo jalan."
"Yaudah, kapan?"
"Besok. Bantuin ya."
"Siap."
***
Besok nya,pagi pagi sekali WR datang menepati janji nya untuk membantu ku pindah kos. Beberapa hari sebelum nya, Nina sudah menemui pemilik kosan disana dan sudah membayar biaya untuk satu bulan kedepan.
Aku dan yang lain sudah bersiap dengan barang bawaan nya masing masing. Entah berapa kali bolak balik, hingga semua nya selesai.
Kosan kali ini, hanya terdiri dari kamar tidur dan kamar mandi saja. Sedikit lebih kecil dari kosan ku yang lama, padahal harga nya sama. Tapi setidaknya disini tidak pernah terjadi kasus mengerikan yang sempat aku alami dikosan ku yang lama.
"Pulang dulu, ya," ucap WR setelah beristirahat cukup lama dikosan baru ku.
"Malem kesini?" Tanyaku. Karena ini hari sabtu dan otomatis nanti malam adalah malam minggu.
"Iya," jawab nya sambil berlalu menaiki motornya.
***
Kembali, aku harus terbiasa dengan suasana baru disini. Kosan di samping kanan ku di isi oleh seorang wanita. Karena ku lihat, hanya ada sepasang sepatu didepan nya. Sedangkan, kosan di samping kiri ku. Yang paling ujung, di isi oleh dua orang laki laki yang selalu ramai oleh teman teman nya. Menurut informasi yang Nina dapat, meraka semua anak Teknik. Kebanyakan anak Teknik itu laki laki.
Dan masih banyak penghuni kos lain nya yang belum aku kenal. Total ada 8 kamar kos ditempat ini. 4 kamar dibawah dan 4 kamar lagi dilantai atas. Saat itu aku memilih di bawah karena dekat ke tempat parkir jadi bisa lebih leluasa mengawasi motor.
Selepas isya WR datang menemui ku. Ada banyak laki laki dikosan ujung saat itu. Sehingga membuat WR kesulitan untuk sekedar memarkirkan motornya.
"Anterin pulang. Nanti kesini lagi naik motor nya Simi," saran dari dia yang aku setujui.
Dia kembali ke kosan nya dengan di ikuti oleh ku. Setelah menyimpan dan memastikan motornya aman, diapun mengambil alih motor Simi yang aku pinjam.
"Makan belum?"
"Belum."
"Beli makan apa?"
"Nasi goreng depan kosan aja. Katanya enak," usul ku yang diterima oleh nya.
Ku lihat Simi dan Nina sudah terlebih dulu ada di tukang nasi goreng tsb. Ku minta WR untuk lebih dulu kekosan dan menunggu ku disana.
Cukup lama aku menunggu pesanan nasi goreng kami selesai. Karena ini malam minggu, dan pembeli ramai sekali
__ADS_1
Kami segera bergegas pulang setelah nasi goreng yang kami pesan matang. Pintu kosan terbuka tapi kali ini aku biasa saja. Karena aku tau ada WR didalam nya.
"Makan yank," kata ku sambil memberikan sebuah sendok padanya.
Kebetulan, porsi nasi goreng tsb cukup banyak. Jadi, kami hanya membeli dua bungkus saja. Satu untuk ku dan WR. Satu lagi untuk Nina dan Simi. Kami memakan nya dengan lahap. Karena, memang dari siang belum makan. Pintu kosan sengaja terbuka lebar selain agar merasakan udara segar, tidak enak juga rasanya karena ada WR disini.
Ketika tengah menyantap suapan demi suapan nasi goreng, tiba tiba saja Nina bengong.
"Nina lu kenapa? Liat setan, lu?" Tanya ku yang saat itu kaget melihat expresi Nina yang diam seketika.
"Ganteng bangett," jawabnya dengan expresi wajah yang menggelikan
"Alah. Elu, sih. Kambing di pakein jas aja ganteng." Simi menimpali perkataan Nina dengan tawa.
"Serius ih. Sini liat, kalo gak percaya." Nina menarik tangan simi keluar dengan maksud mencari keberadaan laki laki tersebut.
"Ih iya. Tiya, cakep banget." Ucap simi yang sepertinya sudah menemukan keberadaan laki laki tsb. Dimana lagi kalo bukan di kosan ujung yang di isi oleh anak teknik.
"Iya, gitu?" Tanya ku dengan antusias dan berniat bangun untuk ikut melihat. Belum sempat aku berdiri, tangan ku sudah dipegang oleh WR.
"Mau kemana?" Tanya nya seolah mengintrogasi.
"Eh, engga jadi." Jawabku malu.
Nina dan Simi kembali ketempat semula dan kembali melanjutkan makan nya. Topik pembicaraan kita kali ini berubah menjadi laki laki tampan. Siapa saja, entah itu mantan nya, orang yang dikenal nya, artis sampai orang biasa. Asalkan dia tampan, pasti kita perbincangkan.
Ku perhatikan, raut wajah WR mulai berubah seperti bosan. Aku? Biasa saja. Toh, aku cuma sekedar mengobrolkan laki laki tsb tanpa ada rasa cinta. Jadi, tidak mungkin dia cemburu buta.
Saat itu aku dan simi tengah tertawa terbahak bahak mendengar apa yang Nina ceritakan. Tiba tiba saja..
Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri ku. Tidak sakit memang. Tapi, cukup membuat ku malu. Karena, aku di tampar di hadapan Nina dan Simi oleh WR.
"Apaan, sih?" Tanyaku sambil menyentuh pipiku.
"Berisik banget, Lu," ucapnya dan langsung pergi meninggalkan kosan.
Apa sebenarnya maksudnya. Bisa bisanya dia menamparku di hadapan teman teman ku. Apa dia tidak berfikir bahwa tindakan bodoh nya itu telah mencoreng nama baik nya sendiri dihadapan teman teman ku.
"Bodoh," ucapku dalam hati.
Aku terdiam. Tidak ada hasrat untuk mengejar nya. Walaupun aku tau, dia pasti pulang dengan berjalan kaki saat ini.
"Bang WR cemburu kali. Elu sih," Terlihat Simi menyalahkan Nina.
"Sakit gak , Tiya?" Tanya Nina.
"Engga sih. Cuma malu nya itu, loh," jawabku yang disambut tawa oleh mereka.
"Kejar, sono," titah Simi seraya melemparkan kunci motor nya padaku.
"Males," jawabku.
"Tanyain lah. Maksudnya apa. Biar jelas," saran dari Nina.
__ADS_1
Ku ambil kunci motor yang diberikan Simi dan langsung memacu motor itu pergi.
"Buru. Naik," ucapku. ketika sudah berhasil memberhentikan motor yang aku bawa tepat di hadapannya yang sedang berjalan lesu.
"Buru !!" ucap ku lagi dengan nada membentak. Diapun menuruti dan naik dibelakang ku.
Sebentar saja kita sudah sampai di kosan nya. Dia turun dan aku bergegas pulang.
"Maaf," kata kata itu keluar dari mulutnya.
"Maaf?" Aku menyeringai mendengar perkataan nya. "Buat apa?" Tanyaku.
"Aku gak sengaja,"
Aku tersenyum dengan bibir yang tidak simetris.
"Enak aja bilang maaf. Abis nampar aku depan temen temen. Enteng banget bilang maaf."
"Yaudah. Tampar aku, lagi." Titah nya sambil menarik narik tangan ku dan diarahkan ke pipinya.
"Apaan sih.," Ku tarik tangan ku yang tengah dia kibas kibaskan ke pipinya.
"Maaf, Ay. Aku gak sengaja. Repleks." Sesalnya dengan wajah mengarah kebawah.
"Sakit gak?" Tanya nya lagi.
"Pipi nya gak sakit. Hati nya yang sakit. Di tampar pacar sendiri." Aku mendumel dengan expresi cemberut.
"Lagian kamu ngomongin cowo didepan aku. Ya, aku kesel lah,"
Aku terdiam, menghela nafas dan sepertinya aku yang keterlaluan. Tapi, meskipun begitu. Tetap saja tindakan yang dia lakukan itu tidak benar
"Oh, jadi kalo kamu kesel kamu bakal nampar gitu?
"Engga, Ay. Itu mah gak sengaja.Sumpah."
"Aku gak suka kamu kaya gitu lagi,"
"Iya. Aku gak bakal kaya gitu lagi." Ucapnya yang kali ini menatapku.
"Kamu nangis,?" Tanyaku melihat genangan air di netra nya.
"Engga,"
"Kalo kamu kaya gitu lagi. Aku mau putus aja." Aku mengancam nya. Karena, jujur. Sudah lebih dari 6 bulan dekat dengan nya baru kali ini dia bertindak seperti itu. Walaupun tamparan nya tidak sakit tetap saja sudah menggores luka dihati.
Mungkin maksud dari tindakan nya hanya untuk melampiaskan kekesalan nya padaku, hanya saja cara nya salah.
"Janji. Aku janji gak bakal kaya gitu lagi." Ucapnya dengan wajah yang menyesal.
"Yaudah. Aku mau pulang."
"Tunggu. Aku ambil motor dulu. Aku anterin kamu." Dengan tergesa dia berlari dan mengambil motornya.
__ADS_1
Kami jalan bersama dengan motor yang berbeda. Dia mengikuti ku dari belakang dan pergi setelah memastikan aku tiba di kosan dengan selamat.