
Ku buka mataku secara perlahan dan mulai meneliti setiap inci dari tempat ini. Aku tidak mengenalnya, tempat ini asing bagiku. Dimana aku? ini bukan kosan ku, ini bukan kasur ku. Kemana Simi dan Nina, kenapa hanya ada aku disini sendiri, diruangan yang berukuran persegi dengan sebuah selang menggantung yang terpasang pada punggung tangan bagian kiri. Aku berusaha untuk bangun tapi rasanya badanku belum kuat untuk melakukan aktivitas ringan itu.
Cekrek
Gagang pintu bergerak dengan diiringi terbukanya pintu kamar yang aku tempati saat ini.
"Udah sadar?" WR menghampiriku dengan sebuah senyum yang mengembang di wajahnya.
Aku menuntut penjelasan darinya mengenai apa yang terjadi dan kenapa aku bisa ada disini. Seingatku, siang tadi aku hendak makan sebelum semuanya berubah menjadi gelap hingga aku tidak bisa mengingat apapun.
WR menjelaskan bahwa siang tadi Simi meneleponnya dengan sangat panik. Simi bilang bahwa aku pingsan, jadilah WR dengan segera datang menemui ku dikosan. WR, Simi dan Nina sudah berusaha membangunkanku namun tidak ada tanda tanda aku akan sadar.
"Terus siapa yang bawa aku kesini?" Aku memotong penjelasan yang belum sepenuhnya WR sampaikan.
" Aku lah,"
"Sendiri?" Tanyaku heran.
"Simi dibelakang. Mau kerumah sakit tadinya tapi kejauhan yaudah keklinik aja."
WR juga mengatakan bahwa ketika motor yang ditumpangi olehku tiba didepan klinik, dengan cepat Simi berlari kedalam dan meminta bantuan perawat yang berjaga. Seorang perawat keluar dengan membawa sebuah tempat tidur yang bisa dorong dan memindahkanku yang semula dimotor menjadi keatas kasur tersebut.
"Kok aku gak jatoh sih ditinggalin Simi," Tanyaku bingung.
"Ya, kan aku pegangin. Gimana sih."
"Ooh. terus terus."
"Ya terus diperiksa katanya kamu kena typus."
"Kok bisa."
"Ya bisalah. kan kamu manusia biasa."
WR memintaku untuk istirahat sedangkan dia ijin keluar untuk membelikanku makanan. Ku lirik kearah jendela sudah tidak ada cahaya matahari menyelinap. Sepertinya aku pingsan cukup lama hingga langitpun sampai berubah warna. WR bilang Simi pulang disuruh olehnya karena Simi harus kuliah dan menyampakan kabar sakitnya Tiya pada Dosen. Sedangkan WR lebih memilih untuk menemaniku disini dan meninggalkan kuliahnya.
__ADS_1
Hampir 15 menit meninggalkan ku sendirian dalam keheningan, kini WR kembali dengan membawa dua buah bubur yang terbungkus steropoam lengkap dengan sendoknya.
"Kata dokter kamu gak boleh makan yang pedes, asem, santan, ya pokonya yang kaya gitulah. Makanya aku tadi nyari buburnya yang pake kuah kecap bukan santan." Ucap WR sembari membuka bungkusan bubur tersebut.
"Ayo duduk dulu." WR membantuku untuk duduk dan memindahkan bantal kebagian belakang untuk ku jadikan sandaran.
"Nih. makan." Dia memberikan satu porsi bubur kepangkuanku dan mengambil satu porsi bubur lagi untuk dimakan olehnya.
Dia mengaduk bubur tersebut dan mulai menyantapnya suapan demi suapan tanpa memperhatikan ku yang sedari tadi belum mulai makan satu suap pun.
"Makan dulu," Ucap WR ketika sadar bahwa aku belum memulai makan malamku.
"Suapin,"
"Emang gak bisa sendiri?"
"Lemes, ih." Jawabku kesal.
Saat itu aku sebenarnya aku sudah cukup kuat untuk sekedar mengambil sesendok bubur dan mengarahkannya kemulut hanya saja aku malas. Sepertinya cairan infusan yang sedari tadi masuk melalui uratku sedikit demi sedikit sudah memberikanku energi yang baru walaupun belum sepenuhnya.
"Yaudah tunggu dulu," WR menghabiskan buburnya dengan cepat dan mulai menyuapiku dengan segera.
"Yaudah nih ganti." Dia meletakan bubur tesebut kembali ketempatnya dan mulai ngambil bubur dengan sedikit hanya diujung sendoknya saja.
"Astagfirallah, Kamu yang bener dong." Umpatku kesal melihat tingkah lakunya yang tidak disengaja atau memang dia yang menyebalkan.
"Hahaha.." WR hanya tertawa mendengar keluhanku dan mulai menyuapiku dengan benar.
Jika biasanya aku mampu menghabiskan satu porsi bubur walaupun lama, tapi tidak untuk kali ini. Hanya tiga suap sendok saja bubur yang mampu perutku terima. Rasa nyeri dan mual kembali terasa ketika aku memaksakan untuk tetap menelannya.
"Yaudah, nanti lagi makannya. Jangan dipaksain." WR menyimpan kembali bubur yang masih terisi penuh, keatas sebuah meja yang berada dipinggir tempat tidurku.
"Mau tiduran lagi." Pintaku lirih.
"Ayo," WR membantuku kembali keposisi semula, karena memang itu yang paling nyaman untukku saat ini.
__ADS_1
Tok - Tok - Tok
Pintu kamarku kembali diketuk dan disusul dengan terbukanya pintu, tampak Simi dan Nina tengah tersenyum kearahku.
"Lu gausah pingsan lagi ya. Nyusahin gue." Simi menggerutu sembari duduk dikasur bagian kananku.
"Tapi lu khawatirkan?" Tanyaku mengejeknya.
"Sorry ya. Tapi sayang nya gue biasa aja tuh." Jawab Simi cuek. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya.
"Kamu kapan boleh pulang?" Tanya Nina.
Aku sendiri memang tidak tau kapan aku diperbolehkan pulang. Karena sedari tadi aku tidak melihat ada perawat ataupun dokter yang masuk untuk memeriksaku.
"Tergantung, kalau keadaannya membaik besok udah boleh pulang. Kalau belum ya dirawat dulu sampai bener bener pulih." WR menjelaskan semua yang dia dengar dari Dokter yang tadi memeriksaku ketika aku pingsan.
Tok - Tok - Tok
Pintu kamarku kembali diketuk, kali ini seorang perawat tiba dengan membawa sebuah nampan stainless ditangannya.
"Selamat malam," Sapanya dengan senyum yang merekah lebar. "Gimana? udah baikan?" Tambah perawat tersebut.
"Udah, Sus. Saya kapan boleh pulang." Tanyaku penasaran.
"Nanti nunggu keputusan Dokter dulu. Kalau sekarang Dokternya sudah pulang. Besok pagi kesini lagi buat ngecek kondisi Mba Tiya, sudah membaik atau belum. Untuk saat ini, saya bawakan beberapa obat yang harus mba Tiya minum. Sudah makan, kan?"Jawab perawat tersebut dengan penuh penjelasan.
"Sudah, Sus. Tapi sedikit." Kali ini WR yang mengambil alih jatah jawabanku.
"Iya tidak apa-apa." Tiga buah pil berukuran cukup besar diberikan oleh perawat tersebut padaku.
Ah, pil doang. bukan masalah bagiku. sebesar apapun obatnya aku pasti bisa menelannya bahkan tapi air sekalipun. kelemahanku hanya satu, yaitu melihat jarum suntik. Untung saja aku pingsan pada saat pemasangan jarum infusan, kalau dalam keadaan sadar pasti aku sudah blingsatan seperti cacing kepanasan.
Tiga buah obat masuk secara bersamaan kedalam perut setelah melewati tenggorokanku. Segelas air bening telah WR sediakan untuk memperlancar perjalanan ketiga buah obat tersebut.
Glek- Glek - Glek
__ADS_1
Aku meminum air yang telah WR sediakan dengan tiga tegukan dan memberikannya kembali pada WR untuk disimpan.
" Baiklah, Saya permisi dulu. Nanti kalau infusannya sudah habis. Mas bisa panggil saya diruang jaga buat ganti botol infusan ya." Ucap perawat tersebut dan berlalu meninggalkan Aku bersama dua orang sahabatku dan satu orang kekasihku yang tengah duduk mengelilingiku.