
Malam minggu, harusnya Arega yang ada disini menemani ku. Tapi, sepertinya dia terlalu sibuk dengan kerjaan nya sampai melupakan aku, kekasih nya.
Seperti menggantikan posisi Arega yang sibuk. WR datang dengan memberikan semua waktunya untuk ku.
Simi dan Nina pergi bada Magrib ke Taman Bencong (Sebuah pasar yang hanya buka di malam hari). Awalnya, aku berniat ikut bersama mereka. Tapi, ketika hendak membuka pintu untuk berangkat. Sudah ada sosok laki laki yang berdiri didepan pintu kosan ku.
"Bang WR. Ngagetin aja," ucap Nina sambil menepuk nepuk dadanya. "Bukan nya ngetok pintu atau salam, gitu. malah diem aja," tambahnya.
"Tiya, mau pergi?" tanya WR tanpa menjawab ocehan Nina terlebih dulu.
"Emm. Engga, deh. Disini, aja," tidak enak rasanya jika harus meninggalkan WR yang entah sejak kapan berada didepan kosan ku.
Nina dan simi berlalu, Aku dan WR kembali membicarakan banyak hal. kurasa WR bukan tipe orang yang romantis. Terbukti, selama ini dia tidak pernah sedikitpun merayuku atau memuji ku.
"Pengen ke kamar mandi, dong. Tiba tiba kok mules, ya," ucapnya disela sela perbincangan kami tanpa rasa malu.
"Sok. Aku tunggu di luar aja," kataku.
Beberapa saat menunggu diteras luar, sambil memainkan gawai. Oandangan ku tiba tiba disilaukan oleh lampu motor yang menyorot kearah ku.
"Astaga, Arega," kaget bukan main aku, ketika menyadari bahwa laki laki dengan lampu motor yang menyorot itu ternyata pacarku.
Dia turun dari motornya, menatapku dengan senyuman termanis diwajahnya. Aku berusaha setenang mungkin agar dia tidak curiga.
"Kok kesini gak bilang dulu," tanyaku dengan jantung yang berdegup kencang. Khawatir kalo sampe WR melihat ku bersama dengan Arega malam ini.
"Kejutan," jawabnya sambil berjalan masuk ke kosan.
"Eh. Jangan masuk," Aku berusaha menahan tubuhnya dengan tangan ku.
"Kenapa? Ada cowo didalem?" tanya nya dengan raut wajah yang berubah menjadi serius.
"Enggalah. Itu, Apa, Nina sama Simi lagi keluar. masa kita didalem berduaan, kan gak enak," jawabku setengah berbohong.
__ADS_1
"Yaudah. Disini, aja," dia mencoba untuk duduk diteras. Tapi belum sempat bokong nya menyentuh lantai aku sudah menarik lengan nya.
"Aku laper yank, cari makan aja, yuk,"
Yang aku fikirkan saat itu, bagaimana caranya agar WR tidak bertemu dengan Arega.
Arega memandang ku sejenak lalu tersenyum
"Ayo,".
Segera aku naik ke motor Arega dan dengan cepat pula kami berlalu meninggalkan kosan ku dengan WR yang masih berada di kamar mandi.
Aku menarik nafas panjang panjang dan menghembuskan nya dengan tidak berarturan.
"untung saja," syukur ku dalam hati.
"Mau beli apa?" tanya Arega di tengah perjalanan.
***
Kembali badan ku melemas ketika teringat WR yang mungkin saja telah selesai buang hajat nya. Ku periksa hp ku dan benar saja sudah banyak pesan dari nya yang menanyakan keberadaan ku dimana dan beberapa panggilan tak terjawab. Entah dari mana dia mendapatkan no hp ku lagi. Tapi, seingatku. Baru 3 hari yang lalu ketika dia pertama kali mengirimkan pesan pertamanya "WR" itu saja.
"Maaf. Aku pergi gak pamit. Besok aku jelasin," ku balas pesan ku yang langsung saat itu juga ku hapus beserta pesan pesan lain dari nya.
"Ok," balasnya singkat.
***
Tiba di sebuah tempat nasi goreng yang menjadi langganan ku bersama Arega. Ada rasa canggung terselip diantara kedekatan kami. Suasana malam ini begitu ramai. Tapi, entah kenapa fikiran ku malah melayang layang seolah kosong, hampa. Seakan aku sedang duduk bersama dengan orang asing.
"Kamu kenapa? Kaya lagi mikirin sesuatu " tanya Arega yang sepertinya menangkap kecemasan pada raut wajah ku.
Aku berdiam diri sejenak. Menarik nafas dalam dalam, sebelum akhirnya berkata " Aku mau putus,". Entah setan darimana yang memaksaku untuk berkata seperti itu. Tapi, saat ini. Rasanya aku lebih takut kehilangan WR dari pada kehilangan Arega.
__ADS_1
Arega hanya tertawa mendengar penuturan ku sambil terus menyantap nasi goreng milik nya.
"Aku serius," ucapku lagi. Kali ini dia menghentikan makannya. Ada perasaan takut dalam diriku. Entah takut kehilangan nya atau bukan, aku tidak mengerti.
"Kenapa? Mau jadian sama WR?" pertanyaan nya benar benar membuatku tak mampu berkata kata. Darimana dia tahu soal WR. Simi dan Nina tidak mungkin membocorkan rahasia ku. Aku berusaha tetap tenang agar dia tidak curiga.
"WR siapa?" aku balik bertanya.
"WR anak MTK yang dulu kamu ceritain itu. Aku udah ada feeling sih sama dia,".
Aku terdiam beberapa saat. Bagaimana dia bisa dengan yakin nya menebak isi hati ku.
"Aneh. Kamu gak nyadar apa. Selama ini kamu terlalu sibuk kerja kerja dan kerja. Sms jarang, tlpn apalagi. Aku cape kaya gini terus. Punya pacar. Tapi, kaya gak punya pacar. Tuh si Nina sama si Simi tiap malem minggu di apelin sama pacar nya. Sedangkan aku, cuma nungguin kamu tlpn aja. Itupun kalo kamu gak sibuk." aku mencoba memutar balikan fakta agar Arega tidak menyudutkan ku.
"Maaf," ucap nya sambil meraih tanganku. ku tampik tangan nya agar tidak menggennggam tangan ku.
Saat itu aku benar benar sedang mencurahkan isi hati ku, kekesalan ku selama ini pada Arega karena kesibukan nya telah membuatku memendam begitu banyak kata kata hingga tidak sengaja beberapa bulir air mata jatuh membasahi pipi ku
"Mamah sakit, harus segera di operasi," Kata katanya berhasil membuat air mata ku berhenti mengalir.
Arega, anak pertama dari 3 bersaudara. Katanya, dulu hidup nya bahagia dan serba berkecukupan. Tapi, semenjak Ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Semenjak itu pula usaha yang keluarga nya bangun, bangkrut sedikit demi sedikit. Jadilah Arega sang tulang punggung keluarga, bekerja untuk membiayai kedua adiknya sekolah paling tidak hingga lulus SMA.
"Terus?" tanya ku dengan cemas.
"Ya, mau gak mau aku harus kerja lembur agar dapat tambahan uang lebih banyak untuk biaya operasi mamah, biaya sekolah adik adik ku dan juga buat bahagiain kamu,".
Seperti dijatuhkan dari ketinggian. Kata kata nya benar benar membuat ku susah untuk bernafas. Aku merasa menjadi wanita paling egois. Aku hanya memikirkan diriku sendiri, berharap Arega mau mengerti keadaan ku tanpa sedikitpun aku mengerti kondisi dan keadaan nya saat ini.
"Kamu tetep mau putus sama aku?" terlihat kesedihan bersemayan di sorot matanya.
"Engga, Maaf. Aku gak ngertiin kamu."
"Aku sayang banget sama kamu," Arega kembali meraih tanganku dan kali ini aku mebiarkan nya seperti itu.
__ADS_1