
Semenjak kejadian dia menduga ku akan bunuh diri. Hubungan kami semakin membaik dan belum ada perdebatan lagi. Kenapa aku berkata belum? Karena aku merasa bahwa perjalanan ku dengan nya akan sangat panjang dan masih akan banyak perdebatan perdebatan lain nya yang sudah siap untuk kami lewatkan.
"Semenjak kita memutuskan untuk berkomitmen, semenjak itu pula perdebatan sehebat apapun tidak akan merubah apapun" WR
***
"Ngapain dibawain kesini?" Tanyaku melihatnya kerepotan membawa sebuah sound system berukuran lumayan besar.
"Simpen di kosan kamu, aja," ucap nya seraya mengeluarkan laptop dari tas yang ada dipunggung nya.
"Kenapa, gitu?" Tanyaku.
"Ada yang ilang lagi aja, laptop,". Ucapnya.
Peristiwa hilang nya laptop disekitar kosan ku bukan yang pertama atau kedua kali nya. Setiap minggu nya ada saja yang kehilangan laptop.
Anehnya, hanya kami para mahasiswa yang menjadi incaran nya. Karena, hampir tidak terdengar ada warga sekitar yang kehilangan barang berharga. Lagi lagi, kami para mahasiswa lah yang dibuat was was.
"Laptop kamu dimana?"
"Di rumah, kan gak dibawa." Jawabku.
"Yaudah gausah. Pake punya aku aja." Ucapnya sambil membersihkan noda yang menepel pada laptop.
"Udah bersih, di lap mulu," protes ku yang melihat nya tidak selesai selesai mengelap laptop.
Dia hanya tersenyum, sesekali tampak netra nya tertuju pada laptop tsb.
"Udah. sono pulang,"
"Masih sore. Baru juga jam 8," jawabnya setelah melirik sebuah jam yang melingkar di tangan kiri nya.
"Ya mau nunggu tengah malem dulu?"
"Yaudah, kamu tidur." Ucap nya sambil beranjak pergi.
"Iya,"
***
Beberapa saat setelah WR pulang. Aku langsung bersiap tidur dan menolak ajakan Simi dan Nina untuk maskeran terlebih dulu. "Lagi gak mood," ucapku.
Entah kenapa udara malam ini begitu panas sehingga membuat aku terbangun di malam hari.
Ku lihat jam di dinding menunjukan pukul 1 dini hari. Nina dan Simi tampak tertidur pulas.
Aku mencoba memejamkan mata kembali. Namun rasanya, kantuk seperti telah pergi dan enggan kembali.
"Yank, udah tidur?" Sebuah pesan ku tujukan untuk WR. Berharap dia menemani ku chatingan hingga kantuk kembali datang menghampiri ku.
Beberapa menit aku menunggu. Namun, tidak ada pesan masuk dari nya.
Bosan memainkan hp. Akhirnya aku mengambil laptop milik WR yang tadi dia titipkan dikosan ku. Ketika tengah asik melihat beberapa foto foto jadul nya waktu SMK. Samar samar aku mendengar suara benda beradu
Krek!!
seperti suara pintu yang terbuka. Pelan sekali suara nya, karena kondisi di malam hari yang sangat sunyi dan sepi jadi aku bisa mendengarnya.
__ADS_1
Aku terdiam beberapa saat. Ku lirik jam ternyata masih pukul 2. Siapa yang membuka pintu malam malam begini. Apakah WR? Tidak mungkin rasanya dia kesini sedangkan pesan ku saja tidak dibalasnya. Lagi pula, bukan kah aku sudah menguncinya tadi.
Saat itu, fikiran ku bercabang. Antara hantu dan maling. Baik hantu ataupun maling, kedua nya sama sama membuat ku tidak beranjak dari tempat tidur ku sedikitpun. Aku diam tanpa melakukan pergerakan sama sekali, rasanya suara nafas yang keluar dari hidung pun aku pelankan.
Krek !!
Terdengar bunyi pintu untuk yang kedua kali nya.
"Kenapa? Apa yang terjadi. Apa hantu itu pergi. Tapi, tunggu dulu. Jika dia hantu, tidak mungkin dia menggunkan pintu untuk keluar. Jangan jangan dia maling? Tapi kenapa dia pergi lagi." Begitu banyak pertanyaan yang bermunculan di fikiran ku.
Akhirnya, ku beranikah diri untuk melihat keruangan depan. Dengan terpejam, aku mencari saklar lampu dan menyalakan nya. Sedikit demi sedikit ku buka mata ku, mencoba mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ku lihat.
Kosong, tidak ada siapa siapa diruang depan dengan pintu yang masih terkunci rapat.
"Apa aku hanya berhalusinasi?" batinku.
Aku kembali ke kamar dan melanjutkan tidur ku.
***
Pagi harinya, Aku ceritakan semua yang aku alami tadi malam. Simi dan Nina ketakutan dengan apa yang aku bilang. Tapi, kami mencoba berfikir positif. Bahwa itu hanyalah orang iseng. Karena memang, tepat di kosan depan ku, ada seorang laki laki yang tinggal seorang diri dan suka iseng menjahili Nina.
Tidak kalah kaget nya dari Nina dan Simi. WR juga terkejut mendengar penuturan ku.
"Kamu, gak apa apa?"
"Engga, orang aku diem aja di kamar." Ucapku
"Bukan nya tlpn," sesal WR.
"Hee, iya ngantuk banget sih."
***
Seminggu setelah kejadian malam itu. Semua nya baik baik saja. Tidak ada yang mencurigakan dan tidak ada lagi berita kehilangan. "Yang waktu itu hantu berati, bener." Ucap ku pada diri sendiri.
"Buruan, Nina. Gue kunciin nih." Ucapku pada Nina setengah berteriak karena di masih berada di dalam kosan.
"Tunggu, cas hp dulu." Balasnya dengan tergesa gesa keluar.
Siang itu sebelum kuliah, aku pastikan bahwa kosan ku benar benar terkunci dengan rapat. Meskipun sudah tidak ada lagi rasa was was saat aku meninggalkan kosan tsb.
***
Tidak terasa perkuliahan sudah selesai dan tibalah waktunya pulang. Saat itu, aku duduk paling belakang dengan Nina yang mengendarai motor.
"Tiya, Bang WR ada dikosan?" Tanya nya tiba tiba ketika motor berbelok memasuki gerbang kosan.
"Enggalah, kan dia kuliah." Jawabku santai.
Saat itu motor yang kami tumpangi telah sampai didepan kosan. Aku tertegun memandangi pintu kosan yang sudah terbuka. Seketika itu juga, tubuh ku melemas. Karena aku yakin, WR tidak ada dikosan ku. Lalu siapa yang sudah memasuki kosan ku?
"Nina, Tiya." Teriak Simi dari dalam. Entah sejak kapan dia masuk aku tidak mengetahui nya.
Aku berjalan dengan gontai memasuki kosan. Keringat dingin sudah mulai bercucuran membasahi baju yang aku kenakan. Terlihat penampakan yang sangat tidak mengenakan. Baju baju bertaburan dilantai dengan pintu lemari yang terbuka lebar.
Ku hampiri lemari ku dan benar saja Laptop itu hilang. Laptop yang kemarin malam WR titipkan dikosan ku telah hilang. Bukan hanya itu saja. Sound system yang dibawa nya kemarin juga lenyap entah kemana.
__ADS_1
"Hp gue ilang, lagi di cas." Rengek Nina sambil terduduk lemas.
Segera ku cari hp ku dan menelpon WR.
"Yank, laptop kamu ilang." Ucap ku dengan menangis. Karena seumur hidup, ini pertama kali nya aku mengalami tragedi pencurian seperti ini.
"Kok bisa?" Tanya nya santai
"Gak tau. Pulang kuliah tau tau pintu kosan udah kebuka. Udah berantakan semua nya." Tuturku sambil beberapa kali terhenti menahan tangis.
Saat itu memang tidak ada barang milik ku yang hilang. Tapi dengan hilang nya laptop milik WR sama saja seperti aku yang kehilangan.
"Yaudah. Aku kesitu bentar lagi. Gausah nangis." Ucapnya masih dengan tenang.
Sesaat kemudian, sudah ada beberapa warga dan penghuni kosan lain yang mendatangi kosan ku.
"Laptop kamu ilang, yank" ucapku dengan nada sedih ketika melihat WR telah tiba dengan beberapa orang teman nya.
Seperti seorang penyidik. Dia memperhatikan pintu dan jendela. Tidak ada tanda tanda jendela di buka paksa. Namun, ada sedikit goresan yang tampak didekat engsel pintu.
"Kayanya lewat sini," ucap nya pada teman nya.
"Apa aja yang ilang?" Tanya dia padaku.
"Laptop sama sound system kamu. Sama hp nya Nina yang lagi di cas," jelasku masih dengan mata berkaca kaca.
"Helm aku sih, mana?" Tanya nya lagi.
Helm? Astaga, aku baru ingat helm yang dia simpan dikosan ku pasca mengantarkan ku kembali dari rumah waktu itu.
"Emang helm kamu disini ya?" Tanyaku dengan ragu.
"Iya, warna merah kan Bang?" Tanya Nina seolah mengenal helm milik WR.
"Iya,"
"Yah, helm nya ilang juga ya." Rengek ku kembali, mengetahui ada satu lagi barang milik nya yang berhasil di gondol pencuri.
"Yaudah biarin." Ucapnya. Terlihat sedikit kesedihan di sorot matanya. Namun tidak tampak penyesalan di raut wajahnya atas kejadian itu.
"Yank, ih gimana ih. Ilang coba, yank." Aku masih belum ikhlas, masih belum bisa menerima kenyataan ini semua.
"Ya mau gimana lagi." Tanya nya mentapku.
"Gak tau," jawabku lesu.
"Yaudah, bukan rezeki kita."
"Tau gitu. Tadi aku gausah kuliah aja."
"Ya apalagi kalo kamu dikosan sendiran, hayo. Mau gimana?"
"Dihh yank ih. Jangan nakut nakutin."
"Yaudah. Cuma barang barang mah nanti kalo ada rezeki bisa beli lagi. Yang penting kamu gak apa apa."
Dia tenang sekali, begitu tenang. Hampir semua barang yang hilang itu milik nya. Namun, entah kenapa malah aku yang gusar memikirkan nya. Ah WR. Maaf, karena tidak bisa menjaga barang barang yang sudah kamu titipkan. Itu yang aku sesalkan.
__ADS_1