
Hari ini hari jumat. Aku sudah berada dikelas sejak 1 jam yang lalu dan harusnya, Dosen mata kuliah pertama sudah datang dan memberikan materi. Tapi, seperti nya Dosen itu terlambat. Karena belum ada tanda tanda akan ke hadirannya.
Momen tersebut di manfaatkan oleh ketua kelas ku, Putri. Untuk menyampaikan informasi. Setelah berdiri didepan kelas dia meminta ku dan teman teman yang lain agar tenang ketika ia sedang berbicara.
"Eh temen temen. Mohon perhatian nya sebentar ya. Jadi gini, sekolah tempat aku ngajar lagi butuh banyak guru. Ada yang minat gak?" ucap nya di depan kelas.
Aku biasa saja mendengar pengumuman dari teman ku itu. Bukan nya aku tidak minat, hanya saja pasti saingan nya akan banyak dan berat. Untuk saat ini aku hanya ingin fokus kuliah saja dulu. Memang, aku sempat tertarik mengikuti beberapa jejak teman ku. yang sudah mengajar di beberapa sekolah swasta. Hanya saja, saat itu tawaran yang putri sampaikan yaitu menjadi guru TK. Aku tidak pernah membayangkan nya sama sekali.
Kuliah selesai lebih awal. Karena dosen yang berhalangan datang. Aku dan Simi hendak menuju parkiran. Saat itu, Nina ada tugas yang harus diselesaikan nya terlebih dulu. Jadi, dia meminta ku dan Simi untuk pulang duluan.
"Tiya, Simi." suara seorang gadis memanggil ku dengan berteriak. Aku mencari kesegala arah dan ku lihat ada putri dibelakang ku tengah melambai lambaikan tangan nya ke arah ku. Aku berhenti, menunggu nya yang sedang berjalan cepat menemui ku.
"Ada apa?" tanya ku. Ketika dia sudah berada di hadapan ku.
"Jmu mau ngajar, gak? Bareng sama Simi juga?"
Oh, rupa nya dia ingin membahas perihal lowongan yang tadi dia sampaikan di kelas.
"Yang lain kenapa, sih?" tanyaku heran. Kenapa juga dia harus menawari ku.
"Yang lain kan udah pada ngajar. Ada yang belum ngajar tapi jarak rumah kesekolah jauh, kasian. Kalo kamu kan deket." terang Putri seperti menaruh harapan besar pada aku dan Simi.
"Gak, ah. Simi aja tuh."
"Ah males, gue. Kalo sendiri. Bareng sama lu, Tiya." ucap simi menimpali ku.
"Takut gak lolos,"
"Pasti lolos. Tiya bisa nyanyi, kan?" tanya Putri padaku.
"Bisa. Lagu galau tapi. Kaya lagu lagu nya Armada gitu. Kalo lagu ngerock begitu gak bisa, gak kuat suaranya" jawab ku yang di tertawakan oleh Simi.
"Ih lagu anak anak Tiya. Kan, mau jadi guru TK.," ucap Putri sambil mengoyang goyangkan tangan kanan ku.
"Bisa. Balon ku ada 5 rupa rupa warna nya. hijau kuning kelabu merah muda dan biru. Gitu, bukan?"
"Tiya gak bener banget lu, mah," ucap Simi dengan mendorong pundak ku dan tertawa.
"Ih. Pokonya nanti sore kalian dateng kerumah aku, ya. nanti kita temuin ketua yayasan nya." ucap Putri sambil berlalu meninggalkan aku dan sSimi yang masih tertawa.
"Syarat nya apa aja?" tanyaku pada putri yang mulai pergi menjauh.
"Gausah bawa apa apa. Pake baju yang sopan, aja," ucap nya sambil berlalu.
"Dateng gak, Sim?
"Dateng aja, cobain. Siapa tau jodoh. Kawinin."
"lah .."
__ADS_1
***
Setiba nya dikosan. Kami langsung bersiap makan dan mandi. Karena, sudah ada janji yang tidak kami sepakati terlebih dulu bersama putri. Dengan memakai celana bahan hitam dan sebuah kemeja yang terpasang di badan. Aku dan Simi sudah siap untuk melamar jadi guru TK.
"Kalian mau kemana?" Nina baru kembali dari kampus ketika melihat Aku dan Simi sudah rapi hendak pergi.
"Mencari nafkah," ucap Simi.
"Mau dong di nafkahin," aku menatap Simi dengan tatapan nanar. Simi tertawa geli mendengar jawaban ku.
"Ayo kita cari nafkah sama sama," simi memandangku dengan raut wajah menahan tawa.
"Ikut," ucap Nina yang langsung naik di jok motor bagian belakang.
Pada saat itu, Nina masih menggunakan celana Jeans dengan atasan renda renda yang dipakai nya. Sebenarnya, dia meminta ku untuk menunggu nya ganti baju terlebih dulu. Tapi, sudah terlalu sore dan tidak ada waktu lagi.
jadi, aku ajak saja dia sekalian. Toh, dia tidak merepotkan.
***
15 menit kemudian. Aku dan teman teman ku, sudah sampai disebuah rumah yang cukup besar dengan cat berwarna putih dan di kelilingi oleh pohon pohon kecil nan rindang.
seorang gadis cantik keluar dari rumah tersebut. Dengan berpakaian rapi sama sepertiku. Dia menaiki motor nya dan menemui ku yang sejak tadi berada didepan pagar rumah nya,
"Rumah Ketua yayasan nya dimana, Put? tanya ku pada putri.
Kami berlalu, setelah sebelum nya aku berpindah motor. Dari motor Simi ke Motor nya Putri. Karena, saat itu Putri seorang diri. Jadi tidak ada salahnya jika aku menumpang di motornya.
Benar saja, tidak butuh waktu lama. Motor yang putri kendarai berhenti disebuah bangunan yang dikelilingi tembok yang menjulang tinggi. Pintu pagar nya terbuat dari besi yang sangat rapat dan tidak ada celah sama sekali.
"Ini rumah nya?" tanya ku tidak yakin. Karena dilihat dari luas pagarnya, rumah itu sangat besar.
"Iya. Benta,r aku tlpn dulu Miss Mala nya." Ucap Putri.
Mis Mala? Apakah dia Ketua Yayasan yang putri ceritakan? Entahlah. setelah menutup telpon nya terdengar suara kunci yang di buka dari arah dalam.
Wanita paruh baya dengan mengenakan daster dan serbet di pundak kiri nya, tengah tersenyum mempersilahkan kami masuk.
Benar dugaan ku. Rumah ini besar sekali. Lantai nya terbuat dari marmer dengan tembok nya terlihat begitu kokoh. Ada dua buah mobil yang terparkir dihalaman rumah nya. Fortuner berwarna Hitam yang begitu gagah dan sebuah mobil Ayla warna merah terparkir disebelahnya.
Tampak nya, Putri sudah tidak asing lagi dengan rumah ini. Karena hanya Aku, Simi dan Nina yang terlihat bengong memasuki rumah sebesar ini.
"Eh Putri. Sini masuk. aajakin temen temen nya." Seorang wanita cantik dengan rambut yang digerai panjang terlihat di depan pintu. Dia tersenyum ke arah kami.
Aku berlalu, masuk kerumah tersebut menuruti perkataan nya. Kami dipersilahkan duduk dan disuguhi beberapa makanan dan minuman hangat.
"Jadi, kapan mau mulai ngajar?" tanya nya dengan rasa yakin. Aku dan yang lain masih bengong mendengar pertanyaan nya.
"Oh iya, sampe lupa. kenalin. Mala. Ketua Yayasan di sekolah yang akan jadi tempat kalian mengajar nanti." ucap nya dengan senyum.
__ADS_1
"Saya Tiya Mis. ini Simi dan yang itu Nina," aku memberanikah diri untuk memperkenalkan diriku dan juga teman teman ku.
"Oke. Kalian semua diterima." ucap Miss Mala.
"Emm. Anu mis. Saya, nganter aja," ucap Nina terbata bata karena memang dia tidak tau menahu soal perkara ini sebelum nya.
"Ydah sekalian ngajar aja, Nina. boleh, kan. Mis? ucap Putri seraya menoleh ke arah Mis Mala menunggu persetujuan nya.
"Tentu. Kalian bertiga, hari senin mulai ngajar. Oke." ucap Mis Mala dengan santai namun tetap terkesan tegas.
"Engga di tes dulu, Miss?" tanya ku
"Gausah. Saya udah tau." jawabnya.
"Miss Mala kan bisa baca kepribadian dari cara duduk, jalan, dan ngomong seseorang." ucap Putri yang membuat aku tersentak.
Aku menatap ke arah Mis Mala dan dia hanya tersenyum menatapku. "Saya sudah perhatikan semua gerak gerik kalian mulai dari parkiran, berjalan, duduk dan makan minum pun saya perhatikan. Saya sudah yakin pada kalian bertiga." Jelas Miss Mala.
Karena langit semakin gelap dan sudah mulai terdengar lantunan lantunan solawat yang berarti magrib akan segera tiba. Aku meminta ijin untuk segera pulang dengan keputusan yang telah disepakati bahwa : Hari senin nanti, aku dan kedua teman ku sudah sah menjadi guru TK.
Di perjalanan kami tidak henti henti nya membicarakan perihal kejadian yang cukup aneh yang kami alami tadi.
Magrib sudah berlalu sejak aku masih dalam perjalanan tadi. Setiba nya di kosan, terlihat seorang laki laki tengah duduk sambil memainkan hp nya.
"WR." aku memanggilnya dari gerbang dan dia menoleh kearahku. Ku biarkan Simi menyimpan motornya di parkiran sedangkan aku dengan segera membuka pintu agar kami bisa secepatnya beristirahat.
"Dari mana aja sih. Sms gak dibales, tlpn gak di angkat." keluh WR.
"Iya, gitu," aku mencoba mencari hp yang tadi aku simpan di tas. Betul, seperti apa yang dia bilang. Ada begitu banyak pesan dan panggilan yang tidak sempat terjawab.
"Lupa, di silent jadi gak kedengeran. sibuk banget tadi jadi gak sempet liat hp."
"Dari mana, sih?" tanya WR lagi.
"Ngelamar dong. hari senin nanti, aku udah sah jadi guru." aku berkata dengan bangga.
"Guru apa?"
"TK,"
"kok, TK?"
"Iya. Biar bisa belajar,"
"belajar apa?"
"Ya belajar menjaga anak kecil. Kan nanti, anak TK aja yang sekelas bisa aku jaga dengan baik, apalagi anak kita." jawabku sambil tersenyum ke arah WR.
Tidak terdengar WR menjawab kata kata ku. Hanya terdengar nafas yang ia hembuskan secara kasar dengan sedikit garis lengkungan dibibirnya.
__ADS_1