
Sore di hari sabtu. Suara motor berhenti didepan kosan ku yang tidak lama kemudian di iringi oleh suara ketukan pada pintu. Sabtu dan minggu kuliah libur, begitupun dengan mengajar. Hanya saja, saat itu baik aku maupun Nina dan Simi tidak ada yang pulang kampung. Ingin merasakan berleha leha dikosan, begitu yang Simi bilang.
"Assalamualaikum,"
Sudah pasti itu WR. Aku hafal betul suaranya. Tapi kenapa dia tidak memberi tau ku terlebih dulu jika akan berkunjung. Aku tengah memainkan gawai ketika dia datang dan tidak ada satupun pesan yang dikirimkan oleh nya. Kuu buka kan pintu dan nampak WR sedang berdiri dengan mengenakan jaket dan menggendong sebuah tas. Seperti habis kuliah, tapi itu hari libur. Lantas apa isi tas yang dia bawa. Tidak biasanya dia seperti itu jika hanya ingin main kekosan sjaa.
"Ayo, ikut." Kata nya masih didepan pintu.
"Kemana?"
"Ciater, bareng anak anak" (anak anak yang WR maksud adalah teman teman nya)
Sebenarnya aku malas menyetujui ajakan nya untuk pergi ke Ciater bersama teman teman nya itu. Aku yang belum terlalu akrab dengan teman nya, sedikit kesulitan untuk bisa bersosialisasi dengan mereka. Ingin sekali rasanya aku mengajak Simi ataupun Nina. Tapi sayang mereka enggan dengan alasan pacarnya akan datang malam nanti.
Aku berusaha menolak ajakan nya dengan memintanya untuk tetap berada dikosan saja. Tapi WR menolak dan meyakinkan ku bawa perjalanan ini pasti akan menyenangkan.
"Yaudah, ikut,"
Setelah melalui pemikiran panjang akhirnya aku setuju untuk ikut bersama nya dan juga kawan kawan nya ke Ciater. WR memintaku berkemas dan membawa satu atau dua setel baju ganti saat itu juga. Setelah semua siap dan memastikan tidak ada yang terlupakan. Aku dan WR kembali ke kosan nya, dimana kosan tersebut menjadi titik kumpul pemberangkatan kita sore itu.
"Nah, gitu dong. Ikut." Ucap salah seorang laki laki yang berada disana. Entah siapa. Aku lupa namanya. Aku hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan nya.
Ada banyak sekali mahasiswa dan mahasiswi yang berkumpul disana. Aku tidak mengenalnya, bahkan wajahnya saja asing bagiku. WR bilang, perjalanan ke ciater kali ini bukan hanya melibatkan satu fakultas saja. Tapi juga fakultas fakultas lain yang masih berada dibawah bendera organisasi yang sama dengan nya. Pantas saja.
Cukup lama aku berada dikosan, selama berada disana aku hanya beradu tanya dengan WR saja. Bingung rasanya jika aku harus mengobrol dengan orang yang aku sendiri tidak tau ingin membahas apa.
Sore ini, alam tampak nya menyetujui perjalanan kami. Langit masih begitu semangat menunjukan warna biru nya padahal burung burung sudah mulai bergerombol pulang menuju tempat peristirahatan nya.
__ADS_1
"Ayo, berangkat. Baca doa dulu." Ucap Bang Eman. dia salah satu dari beberapa orang yang aku kenal di komunitas itu. Selebihnya, entahlah.
Setelah berdoa, masing masing orang menaiki motornya. Ada banyak sekali motor yang jika aku taksir jumlahnya mencapai 30 motor. Hampir semua tiap satu motor diisi oleh dua orang. Ada yang bersama pasangan nya layaknya aku dan WR. ada yang bersama temannya dan ada juga yang sendiri saja. kasian.
Ini pengalaman pertama bagiku. Aku belum pernah seperti ini sebelumnya ketika aku menjalani hubungan dengan yang terdahulu. Benar Feeling ku, WR mampu memberikan sebuah rasa yang baru dalam hubungan ini.
Puluhan motor berjalan memanjang menyusuri jalanan. Ada beberapa orang yang duduk di jok belakang motor, membawa bendera. Iya bendera yang mereka bangga banggakan. Yang nantinya akan dipasang disana. begitu yang WR sampaikan.
"Sign motornya idup terus sih, yank?"
Tadinya aku fikir motor yang berada didepan ku akan berbelok arah karena sign di motornya hidup terus. Tapi WR bilang itu salah satu cara agar kita tidak bingung mencari mana kawan seperjalanan dan mana yang bukan. Sepertinya memang dari sejak berangkat sign itu sudah mereka hidupukan, hanya saja aku yang terlambat menyadarinya.
Pemberhentian pertama kami, disebuah pom bensin. Kebetulan Adzan magrib berkumandang jadi kami memutuskan untuk beristirahat terlebih dulu. Entah siapa yang mengambil keputusan nya. WR bilang dia hanya mengikuti motor motor yang ada didepan nya saja. Beberapa tengah mengisi ulang bbm nya. Dan beberapa orang juga ada yang menuju toilet dengan tergesa.
Setelah melaksanakan ibadah solat magrib, kami pun melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya sempat membeli beberapa bungkus cemilan yang sengaja aku siapkan untuk diperjalanan.
"Kok lewat sini sih?"Ucap ku yang hampir berteriak karena helm yang dipakai nya mengurangi kualitas pendengaran nya.
"Iyalah, mau lewat mana lagi." jawab WR dengan enteng nya.
"Ini, hutan ya?" tanyaku penasaran.
"Bukan, gunung."
Ternyata perjalanan ku waktu itu membelah gunung. pantas saja hanya ada kegelapan yang aku lihat. tanpa ada nya pemukiman warga. Lama sekali rasanya gunung itu untuk aku lalui. Hingga aku tersentak kaget ketika melihat ke arah belakang.
"Ya ampun." Ucapku yang tertahan.
__ADS_1
Ternyata motor yang WR kendarai berada di barisan paling belakang. Bagaimana bisa. Bukan kah tadi aku masih berada di tengah tengah barisan. Memang ada beberapa dari mereka yang mendahului motor WR kala itu. Tapi, aku tidak menyangka bahwa kini aku berada paling ujung.
"Buruan ih, kita paling belakang, tau." dengan menggoyang goyang kan bahunya, aku berteriak disamping telinga yang tertutup oleh helm nya. hingga helm yang aku kenakan dan helm nya beradu.
"Kenapa?" tanya nya seolah tidak terjadi apa apa.
"Takut," Jawabku sambil menuntup mata dan terus berdoa. jangankan berada dijalan sepi seperti ini, tidur dikosan sendirian saja aku tidak berani.
Seolah memahami ketakutan ku, WR pun memacu motornya dengan cepat. Sebentar saja sudah ada beberapa motor yang dia dahului. Syukurlah, paling tidak bukan aku yang berada paling belakang saat ini. Di perjalanan kali ini, aku lebih banyak menutup mataku dengan tujuan mengurangi ketakutan ku. Aku tidak ingin sampai melihat sesuatu yang tidak ingin aku lihat sama sekali.
Ku buka mata yang sedari tadi ku paksa untuk terpejam ketika motor yang aku tumpangi berhenti disalah satu indomart. Beberapa dari mereka turun dan membeli cemilan. Karena saat itu cemilan yang aku beli tadi masih tersisa jadi aku memutuskan untuk berdiam diri dimotor saja.
"Masih jauh?" Sudah lekah sekali rasanya perjalanan ku kali ini. Ciater, sebuah tempat yang belum pernah aku datangi sebelum nya. Entah bagaimana dan seperti apa keadaanya aku tidak bisa membayangkan. hanya saja WR bilang bahwa kita bisa berendam air hangat disana.
"Lumayan,* Jawabnya pelan.
Aku kembali melanjutkan perjalanan setelah semua anggota telah selesai berbelanja. Cukup lama aku melewati pemukiman warga, sebelum akhirnya motor yang aku tumpangi memasuki kawasan perkebunan teh yang begitu luas membentang. Jalan yang hampir semuanya berlubang membuat WR tidak bisa melaju dengan maksimal. Pun sama hal nya dengan motor motor lainnya. Beberapa kali motor yang aku tumpangi menggerung hebat ketika menaiki jalan yang tanjakan nya lumayan curam.
Sebuah tanjakan yang amat curam, samar samar sudah terlihat dari kejauhan berkat bantuan dari cahaya lampu motor yang memberikan penerangan. Beberapa orang termasuk WR menghentikan motornya ketika melihat sebuah motor matic berwarna biru sedang didorong oleh pemiliknya.
"Bang Eman, ngapain?" begitu WR memanggilnya.
"Gak kuat nanjak motor gue," Penjelasan yang diberikan oleh bang Eman. sekitar 3 atau 4 orang penumpang laki laki turun untuk membantunya mendorong motor hingga ke atas.
Perjalanan yang begitu panjang bagiku. Tapi tidak bagi WR. Dia bilang, sebenarnya kita hanya berkendara selama 2 jam saja, berhubung beberapa kali berhenti jadinya cukup memakan waktu yang lama. Terserahlah,
"Sebentar lagi sampai." Ucap WR setelah motor nya mampu melewati tanjakan curam tanpa ada drama mogok dijalan.
__ADS_1
"Baiklah,". jawabku pelan.