WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
60 - Masalah di Sekolah Part 2


__ADS_3

aku terdiam kaku mendengar penuturan Miss Mala menganai salah satu wali murid yang hendak melaporkan ku pada polisi. Aku mencoba mengingat lagi dengan teliti apakah aku pernah mencubitnya atau pernah mengajarkan Cecilia untuk mencubit tapi aku tidak mengingat apapun. Karena seingatku aku memang tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan oleh orang tuanya Cecilia.


Cecilia, dia siswa yang cukup aktif dikelas. Hobinya menyanyi, periang dan jarang ada masalah dikelas. Sedangkan Ibunya, sepertinya aku pernah bertatap dengannya ketika membahas nilai nilai uts milik cecilia yang masih kurang. Penampilannya cukup modis walaupun dengan gamis yang menjulur kelantai dan disertai dengan cadar. Sepertinya dia orang baik, entah kenapa tiba-tiba saja orang tua Cecilia bisa naik pitam dan menuduhku tanpa bertanya lebih dulu kebenarannya.


"Tiya," Suara Miss Mala membuyarkan semua lamunanku tentang Cecilia dan orang tuanya.


"Bener kamu gak nyubit dia?" Mata Miss Mala menatapku tajam seolah ingin mendengar pengakuan dariku.


"Ya Allah Miss. Sumpah, Gak pernah." Aku audah hampir menangis menjawab pertanyaan Miss Mala.


Miss Mala menenangkanku dengan berkata bahwa jika benar orang tua Cecilia akan melaporkanku pada polisi, Miss Mala pun akan turun tangan dengan membayar seorang pengacara demi membela guru dan sekolahnya. Karena sampai kasus tersebut tersebar kemana mana bisa jelek reputasi dari sekolah yang sudah Miss Mala bangun dengan penuh usaha itu.


pengacara? apalagi ini Tuhan. Seumur hidup baru kali ini aku merasakan terlibat langsung dengan masalah seperti ini.


Dret - Dret


Ponsel milik Miss Mala bergetar. Aku bisa melihat dengan jelas nama dari layar handphone yang menyala tersebut karena Miss Mala meletakan gawainya di meja. Mom's Cecilia, itu nama yang tertera disana.


Miss Mala mulai menerima panggilan tersebut dan tidak banyak bicara. Hanya mengangguk beberapa kali dan kemudian menutupnya. Miss Mala berkata bahwa ibunya Cecilia ingin bertemu dengan Tiya terlebih dulu. Biar nanti dia yang datang kesini bersama Cecilia yang memang sengaja tidak masuk sekolah karena dilarang oleh orang tuanya.


Aku menunggu dengan kecemasan yang luar biasa tidak bisa menduga atau sekedar membayargkan apa yang akan terjadi nantinya. Miss Mala beberapa kali menenangkanku tapi rasanya sulit bagiku untuk tetap tenang dalam kondisi seperti ini.


Seorang wanita dengan gamis panjang dan juga cadar telah tiba di rumah Miss Mala bersama putri kecilnya, anak semata wayangnya dan dipersilahkan masuk oleh seorang ibu ibu yang sepertinya pembantu rumah tangga Miss Mala.


Sejak kapan mereka tiba, kenapa aku tidak mendengar ketukan gerbang. apa aku terlalu khusuk melamun sehingga tidak mendengar apapun.


"Sini Mom, Silahkan duduk." Miss Mala menyambut kedatang ibu dan anak itu dengan ramah.


Ibunya Cecilia melangkah dan duduk dikursi lain yang tidak sejajar dengan ku. Sedangkan Cecilia langsung menghampiriku dan memeluk.


"Miss, kata mamah aku gausah sekolah. Padahal aku pengen sekolah " Ucap Cecilia dengan senyuman khas nya.


Aku tersenyum kearahnya dan mengusap rambut ikalnya dengan pelan.

__ADS_1


"Sini, sayang. Cecilia." Ucap Ibu Cecilia ketika melihat anaknya bergelayut manja padaku.


"Gak mau," Jawab Cecilia.


Ibunda Cecilia memulai percakapan ini dan membiarkan anaknya duduk berdekatan denganku. Orang tua Cecilia menjelaskan bahwa dia sudah susah payah membangun akhlak yang baik untuk putri kesayangannya dan tentunya mencari sekolah yang baik juga. Dia tidak pernah menyangka jika guru Cecilia sendirilah yang mengajarkan anaknya itu untuk mencubit.


"Demi Allah saya gak pernah ngelakuin hal itu, Mah." Ucapku berkali kali tapi seolah tertutup pendengarannya dia tetap tidak mau mendengarkan penjelasanku.


Suasana disini makin mencengkam, hanya Cecilia saja yang tetap bergembira bersama games di handphonenya.


"Kalau guru saya tidak terbukti melakukan itu semua, Mom bisa dituntun atas tuduhan pencemaran nama baik loh." Miss Mala membalas ancaman yang diajukan oleh ibunya Cecelia dengan sebuah ancaman juga.


"Silahkan, Miss Mala tanya sendiri sama Cecilia. Kalau memang tidak percaya." Pinta ibunya.


"Cecilia, sini sayang." Miss Mala memanggil nama tersebut dengan sangat lemah lembut. Cecilia menghampiri Miss Mala setelah aku mengembalikan fokusnya yang hilang bersama permaianan yang dimainkan olehnya.


"Kenapa?" Tanya Cecilia.


"Miss Mala mau tanya. Kata Mama, Cecilia bisa nyubit ya. Coba gimana nyubitnya." Miss Mala meminta Cecilia untuk mempraktikan cara dia mencubit ibunya pada Miss Mala.


"Tuh, lihat kan Miss. Nyubitnya sakit begitu." Ibu Cecilia langsung berkomentar tentang apa yang baru saja dialamai Miss Mala. Tapi Miss Mala memberi isyarat pada ibu Cecilia agar diam dan tidak terlalu banyak bicara dulu.


"Siapa yang ngajarin Cecilia?" Tanya Miss Mala untuk yang kedua kalinya.


"Miss Tiya," Cecilia menjawab langsung pertanyaan Miss Mala. "Iya kan Miss Tiya," Tambah Cecilia sembari tersenyum manis menatapku.


Aish, anak ini. apa maksudnya berbicara seperti itu dihadapan Miss Mala. Belum lagi, kenapa dia merasa bangga dengan senyum yang begitu merekah ketika berkata bahwa aku yang mengajarinya.


"Kapan Miss Tiya ngajar Cecilia?" Miss Mala kembali mengajukan pertanyaan pada Cecilia.


"Tiap hari kalau sekolah." Jawab Cecilia dengan polosnya.


"Betulkan apa yang saya bilang. Hari ini juga saya minta surat pindah untuk Cecilia dan siap siap menunggu surat panggilan dari polisi." Ibunya Cecilia berucap dan hendak beranjak dari kursinya.

__ADS_1


"Tunggu, sebentar bu. Beri saya kesempatan untuk bertanya langsung pada Cecilia," Pintaku memohon kepada orang tuanya.


"Tidak usah."


"Tolong lah bu. Sekali saja. Setelah ini terserah apapun yang akan ibu lakukan, saya terima."


Aku berjalan menghampiri Cecilia yang masih berada dihadapan Miss Mala. Ku tempelkan lututku dengan keramik rumah Miss Mala dengan maksud mensejajarkan tatapanku dengan netranya Cecilia.


"Tadi Miss Tiya liat Cecilia nyubit Miss Mala," Aku mencoba memberinya pertanyaan pembuka.


"Iya,"


"Cecilia tau kalau nyubit itu perbuatan yang gak baik loh."


"Tapi di film yang aku tonton mereka saling cubit cubitan Miss." Kalimat lain akhirnya keluar dari mulut kecilnya.


Ku arahkan tatapanku pada Ibunya Cecilia yang tengah kebingungan mendengar jawaban berbeda dari anaknya.


"Film? Film apa?" Tanyaku menelisik lebih dalam lagi.


"Ada dirumah. Di TV aku. Aku punya TV gede loh Miss. Nanti Miss Tiya main ya." Ucap Cecilia.


"Jadi Cecilia bisa nyubit itu karena liat di TV?" Tanyaku meyakinkan.


"Iya Miss."


"Tadi pas ditanya Miss Mala kenapa Cecilia jawab Miss Tiya yang ngajarin?"


"Kan aku emang belajar sama Miss Tiya disekolah. Soalnya Miss Mala kan jarang masuk."


"Sayang serius. Kamu bilang kamu diajarin Miss Tiya?" Ibunya Cecilia mendekat kearah anaknya dengan gusar.


Miss Mala yang sepertinya sudah mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh Cecilia mulai menjelaskan pada Ibunya bahwa ini hanya salah paham saja. Miss Mala menanyakan pertanyaan yang sama seperti ibunya Cecilia ketika dia mencubit. "Siapa yang ngajarin?" otomatis jawaban yang diterimapun sama. Karena mungkin saja fokus si anak tertuju pada kalimat "Siapa yang ngajarin?" Jadi jelas dia akan menjawab Miss Tiya, karena memang Tiya gurunya.

__ADS_1


Sedangkan aku mengajukan pertanyaan yang berbeda dengan lebih terarah sehingga fokusnya tidak tercampur antara mencubit dan yang mengajarinya.


"Clear ya, Mah. Sudah saya bilang kalau guru saya tidak mungkin seperti itu. Jadi gimana? mau tetap melapor polisi? Kalau iya mari saya antar sekalian karena saya juga akan melaporkan salah satu orang tua murid saya yang sudah berbuat fitnah." Ucap Miss Mala dengan tegas.


__ADS_2