WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
29 - DI Taksir Wali Murid


__ADS_3

Sudah seminggu, Aku menjadi seorang pengajar. Semanjak aku mulai mengajar. WR jadi jarang menemui ku di pagi hari. Tapi, biasanya. WR, akan datang diwaktu siang sekedar mengambil baju ganti, untuk nya kuliah. Dan kembali, disore hari. Untuk makan bersama. Sekalian membawa baju kotor nya, untuk di cuci oleh ku.


Beberapa hari yang lalu. WR, menemui ku dengan baju yang beraroma tidak sedap.


"Bau. Mandi, sana," ucapku. Ketika dia duduk disebelah ku.


"Bau, ya.? Kayanya baju nya yang bau, deh." dia mendengus denguskan hidung nya, pada ketiak kanan dan ketiak kiri.


"Gk tau baju siapa ini. Tadi, mau kesini gak ada baju. Yaudah, ngambil yang digantung aja," tambahnya memperinci.


"Baju kamu pada kemana?" tanyaku bingung. Bagaimana bisa baju nya habis. Hingga bisa bisa nya dia memakai baju yang entah sejak kapan digantung dikosan nya.


"Kotor semua. Belum sempet loundry."


"Yaudah. Bawa, sini," ucapku menawarkan diri.


"kamu yang nyuci?"


"Iya. Bayar tapi,"


"Bayar pake cinta, ya,"


"gak mau. gak kenyang," jawabku sambil tertawa.


Hari berikutnya. Dia membawa beberapa buah baju dan celana kotor nya untuk ku cuci. Semenjak hari itu, dia rutin mengantarkan baju kotor nya padaku. Bahkan, baju yang sudah bersih dan rapih pun. Tidak dibawa pulang kekosan nya. "Takut dipake teman teman," jelas nya begitu. Itu sebabnya, dia lebih memilih menitipkan baju baju nya dilemari ku.


***


Hari selasa. Seperti hari kemarin. Aku, Nina dan Simi berangkat lebih awal ke sekolah karena sedang diadakan nya ulangan harian. Jadi, ada beberapa berkas yang harus aku persiapkan dulu sebelum memasuki kelas. Aku seorang diri menghandle kelas ini. Karena, seperti yang dikatakan oleh Miss Mala dulu, dia akan sangat sibuk.


Murid murid ku tengah asyik menggambar bebas sesuai dengan jadwal ulangan hari ini "Drawing". Satu persatu mereka mulai berdatangan menghampiriku memberikan tugas yang sudah selesai mereka kerjakan.


Bel tanda istirahat berbunyi. Semua siswa berlarian keluar. Aku tengah sibuk, melihat hasil dari gambar yang di buat mereka.


BRAKK !!


Dua buah tangan menggebebrak meja ku. "Astagfirallah Aladzim, bu." ucapku. ketika, melihat seorang wanita paruh baya berdiri dihadapan ku dengan wajah yang merah menahan amarah.


"Saya gak terima ya, Miss. Anak saya nilai Reading nya cuma segini." Wanita tersebut menyodorkan selembar kertas ulangan dengan nilai 30.

__ADS_1


"Silahkan. Ibu duduk, dulu. Kita omongin baik baik, ya."


"Gak bisa. Saya ini orang kaya Miss. Ayah nya Ananda itu seorang polisi yang sudah berpangkat. Jangan macem macem sama saya."


"Iya. Saya tau, Ibu itu orang kaya. semua anak yang sekolah disini juga orang kaya. Ada yang orang tua nya pengacara, ada yang orang tua nya kepala desa, ada yang orang gua nya Tentara. Dan masih banyak profesi profesi lain nya. Yang mendapat nilai dengan tinta warna merah bukan anak ibu saja. beberapa dari mereka juga ada. Tapi, orang tua nya tidak ada yang menyalahkan saya." Aku menjelaskan itu semua dengan menahan amarah agar tidak meluap.


"Dia pinter baca. Pasti Miss udah di sogok kan biar anak saya gak jadi juara,"


"Astagfirallah, Bu. Baiklah. Demi menghilangkan rasa curiga ibu pada saya. Bagaimana, jika Ananda di tes kembali sambil di saksikan oleh ibu ," Oke jawab wanita tersebut dengan yakin nya.


Tampak Ananda seperti ketakutan. Kali ini, aku kembali menyuruhnya untuk membaca teks yang sama seperti kemarin. Hanya saja saat ini, ada Ibunya yang menemani.


"Buruan, baca," omel ibu tersebut pada anak nya dengan sedikit mencubit. Ananda sedikit meringis akibat perlakuan ibunya tersebut.


"Bu," ku tatap nanar orang tua murid tadi. "Ayo Ananda baca dulu, ya," kali ini netra ku berpindah pada Ananda.


Dia mencoba membaca semampunya. Namun, hasilnya tetap sama. Dia hanya mampu mengucapkan beberapa kata saja. Setalah menyaksikan sendiri kemampuan anaknya. Wanita tersebut keluar tanpa berbicara sepatah kata pun.


"Ya Tuhan, seperti ini rupanya jadi seorang pengajar. Selain harus menghadapi tingkah laku anak anak. Kita juga harus siap menghadapi tingkah laku orang tua nya." aku membatin dalam hati.


Jam istirahat telah usai. Waktu nya anak anak kembali masuk dan mengerjakan satu lagi soal ujian. "Writing" subject kali ini. Sembari menunggu mereka menyelesaikan tugas, sesekali aku berkirim pesan pada WR.


"Dilabrak emak-emak. Astaga," ku kirimkan kalimat tersebut sebagai pembuka percakapan kami.


"Iya, nanti diceritain." aku menutup ponsel ku dan kembali mengawasi anak anak. Gara gara kejadian tadi, aku jadi tidak sempat makan. Pantas saja perutku mulai keroncongan. Satu jam sudah berlalu. Tampak nya mereka, sudah selesai semua dengan tugas nya.


Bel sekolah berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar, setelah sebelum nya mengantri untuk bersalaman dengan ku. Aku masih memberesekan tas ku kala itu, ketika Ananda kembali menemui ku dengan seorang pria. Pria tersebut masih cukup muda, mungkin sedikit lebih tua dari ku.


"Maaf, Miss. Saya kakak nya Ananda," ucap nya. Sambil mengulurkan tangan untuk berjabat. Ku tempel kan kedua telapak tangan ku dan menyimpan nya didepan dada. "Saya guru nya Ananda," jawabku sambil tersenyum.


"Ini Miss, Dari mamah. Minta maaf katanya . Cuma dia malu mau kesini langsung," Pria tersebut menyodorkan sebuah paper bag, yang kulihat ternyata berisi sebuah kerudung bermotif bunga dan sebuah dompet berwarna coklat muda.


"Gak usah," Aku mengembalikan lagi apa yang tadi dia beri. Namun, dia menolaknya. Yasudah, aku menerima nya dengan terpaksa.


***


Semenjak kajadian hari itu, hari hari berikut nya. Kakak Ananda akan selalu terlihat. Di pagi dan siang hari, untuk mengantar dan menjemput Ananda. Sebenarnya tidak masalah. Jika saja, sikap dan tingkah laku nya seperti kebanyakan wali murid pada umumnya. Tapi dia tidak, dia selalu mencari kesempatan untuk bisa mengobrol dengan ku. Apa saja dia tanyakan mulai dari perkembangan adiknya, tingkah laku adik nya dan sederet pertanyaan lain nya. Yang aku rasa, hanya mengada ngada. Agar dia dia bertatap muka dengan ku saja.


"Eh, kata kakak aku. Miss Tiya nanti bakal jadi kakak aku, lho." tidak sengaja aku mendengar Ananda berbicara seperti itu pada teman nya.

__ADS_1


"Hmm," aku menarik nafas panjang dan mengeluarkan nya secara beraturan. "Udah gak bener ini,".


Ku ceritakan perihal kecurigaan ku pada Kakak nya Ananda. Kepada Simi dan Nina. Mereka hanya tertawa dan berkata bahwa, jangan sampai aku meninggalkan WR untuk laki-laki yang baru aku kenal lagi. Seperti dulu, waktu aku meninggalkan Arega.


"Inget, Bang WR dikosan," ucap Simi seolah meledek ku.


Sebenarnya untuk laki laki kali ini, tidak ada rasa penasaran untuk mengenalnya lebih jauh lagi, berbeda kasus nya dengan WR dulu.


Jadi, aku sangat yakin. Bahwa, aku tidak akan jatuh cinta lagi, kali ini. Sebenarnya, Kakak nya Ananda, tidak terlalu buruk. Dia tinggi, sama seperti WR. dan memiliki kulit yang satu tingkat lebih bersih ketimbang WR. Tapi aku tidak sedikitpun memiliki rasa padanya.


***


"Yank, gimana?" Tanyaku padanya setelah menjelaskan semua yang aku alami secara rinci.


Hari itu malam sabtu. Ba'da magrib, langsung ku minta WR untuk menemuiku. Karena, aku sudah ingin menceritakan semua ini padanya.


"Ya biarin, aja," respon nya biasa saja. Seolah tidak ada rasa cemburu. Menyebalkan.


"Kamu, gak cemburu?" tanyaku


"Engga. biasa aja,"


"Ih. Kok, gitu.?"


"Ya resiko, aku,"


"Resiko punya pacar cantik kaya aku, ya?"


"Resiko punya pacar guru TK." jawabnya diiringi tawa.


"Hari senin jemput aku dong, Yank." usul ku padanya.


"Emang Simi sama Nina gak ngajar?"


"Ngajar, biar cowok itu tau. Kalo aku udah punya pacar, yank."


Dia menggerakan kepala nya keatas dan kebawah. sambil berucap "ohh, Gitu ya."


"Awas loh Bang, si Tiya kan gampang kepincut cowo lain," ucap Nina meledek ku dan di tertawai oleh Simi.

__ADS_1


"Gak mungkin. Udah cinta mati. dia, soalnya," jawab WR dengan tenang. dan disambut gelak tawa oleh Nina dan Simi.


***


__ADS_2