WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
35 - Villa


__ADS_3

Rasa lelah sudah menjalar disetiap persendianku. Tampak sebuah bangunan besar yang dikelilingi oleh pohon rindang dan bunga bunga dengan aneka macam warna terhias rapi disekitarnya. Walaupun sinar surya sudah lama bersembunyi, tapi mawar masih tetap semangat menunjukan warna nya.


Motor yang aku tumpangi berhenti di sebelah kanan bangunan tersebut, atau orang orang biasa menyebutnya Villa, karena lokasinya yang berada di perbukitan. Sebuah Honda Jazz warna merah telah terparkir lebih dulu disana. Entah sejak kapan mobil itu datang, seingatku hanya ada puluhan motor yang pergi bersama sama sore itu.


"Ini Villa,nya? tanyaku pada WR. hanya untuk memastikan saja bahwa tidak ada perjalanan lagi malam ini. karena aku sudah terlalu lelah.


"Iya," Jawabnya sambil turun dari motor dan bergegas memasuki vila tersebut bersama teman teman nya yang lain.


Villa itu sudah diisi oleh 4 orang mahasiswa yang datang lebih dulu menggunakan honda jazz yang tadi berada di parkiran. Kurang lebih seperti itu informasi yang aku terima dari WR. karena disini aku tidak mengenal banyak orang kecuali dia dan beberapa orang temannya.


Setelah melihat lihat, akhirnya aku tau bahwa Villa ini cukup luas. Tidak hanya tampak dari luar saja yang besar. Tapi dalam nya pun megah. ada 3 buah kamar berukuran besar. ruang tamu yang nyaman, sebuah dapur yang membentang. dan tidak lupa dua buah kamar mandi, satu di samping kiri ruang tamu yang dilengkapi dengan kolam air hangat. Dan satu lagi disalah satu kamar yang berbaris. Besar sekali Villa ini. Entah berapa kocek yang harus aku keluarkan jika harus membayar sendiri. Untung nya, aku datang kesini beramai ramai dan tentunya gratis. Dibayarin Bendahara, ucap WR begitu.


Aku di minta untuk beristirahat di kamar pertama bersama beberapa orang mahasiswi lain nya. Sisanya di kamar kedua. Dan untuk laki laki yaitu di kamar belakang dan diruang tamu.


"Aku ke kamar dulu, ya," ucap WR setelah menyimpan tas yang berisi barang barang ku di kamar depan.


Aku mengangguk melepas kepergian nya dan berlalu menuju tempat tidur. Sekitar 10 orang yang bersama ku dikamar itu. andai saja kamarnya sebesar kosan ku, pasti akan terasa pengap sekali. tapi untung lah kamar ini luas, dan paling luas diantara kedua kamar lain nya.


Aku mencoba tersenyum kaku pada beberapa gadis yang ada disitu. Ingin mengobrol tapi bingung apa yang harus diperbincangkan. Akhirnya aku memutuskan untuk mandi saja. Ku persiapkan sepasang baju dan perlengkapan mandiku dengan maksud menghilangkan keringat yang menempel di tubuhku. Ternyata kamar yang aku tempati lah yang ada kamar mandinya. Walaupun tidak ada kolam air hangat nya, tapi setidaknya ada shower yang mampu mengeluarkan air hangat juga. Udara divila begitu dingin, menusuk hingga ketulang. Dengan cepat ku selesaikan mandi ku dan berlalu keluar.


Bingung harus berbuat apa dan ditambah dengan rasa lapar yang tiba tiba saja ada, akhirnya membuatku keluar kamar untuk mencari WR. Setelah berjalan melewati kamar tengah yang pintunya tertutup dan ruang tamu yang diisi oleh beberapa anak laki laki yang tengah mengobrol, sampailah aku dikamar ujung, tempat dimana WR berada. Aku mematung dari kajauhan, memandang WR yang saat itu sedang mengobrol bersama teman temannya dengan mengenakan baju yang sama, belum mandi sepertinya. Aku tidak berani untuk memanggilnya dan tidak berani juga meminta tolong kepada orang lain untuk memanggilkan nya. Aku hanya memperhatikan nya dan beberapa kali menyebut namanya dalam hati. Berhasil, WR melihat kearah ku dan langsung beranjak dari tempat duduknya untuk menemuiku.


"kenapa?" Tanya WR.


"Laper,"


Akhirnya WR mengajak ku kesebuah warung yang tadi sempat aku lewati sebelum sampai ke vila ini. Warung itu berada cukup jauh jika berjalan kaki akhirnya aku meminta untuk naik motor saja


Setelah beberapa menit mengendari motor Mx miliknya. tibalah aku disebuah warung yang berjejer beberapa. Hampir semua warung terisi oleh pengunjung dan suasana malam itu terbilang cukup ramai. Aku mendatangi sebuah warung yang dihuni oleh beberapa orang teman WR. Tapi ternyata lauk dan nasi sudah habis. pun begitu dengan warung warung disebelahnya. Akhirnya dengan terpaksa aku membeli pop mie dan menyantapnya saat itu juga karena hanya itu satu satunya menu yang bisa mengganjal perutku.


Dinginnya udara sekitar membuat popmie yang baru saja direbus menggunakan air panas hanya terasa hangat di tenggorokan. Segera ku selesaijan makan ku, Setelah menghabiskan masing masing satu cup pop mie berukuran besar. Aku dan WR kembali ke vila.


Tampak dilapangan orang orang sedang duduk berkeliling dengan seseorang yang berada ditengahnya.

__ADS_1


"Ngapain itu, yank?" tanyaku pada WR melihat kondisi yang tadi tidak ku lihat.


"Diskusi,paling," jawabnya sambil sibuk memarkir motor.


"Diskusi?"


"Iya. Ngobrol santai tentang ke organisasian."


"Aku, ikut,?"


"Terserah. Tapi kalo ngantuk ya tidur aja."


WR mengajukan pilihan yang sangat mudah untuk ku putuskan. Tidur, tentu aku akan lebih memilih itu saat ini dibanding berkerumun diluar dengan kondisi dingin dan lelah. WR menuju teman teman nya yang sedang berkumpul di lapangan sedangkan aku menuju ke kamar berniat untuk segera rebahan. Tapi ternyata kamar tersebut kosong. tidak berpenghuni satu atau dua orang pun. Semuanya berkumpul dilapangan dan ada beberapa yang masih berada diwarung.


Aku menatap dengan tajam setiap sudut dari kamar tersebut. Rasa takut kembali datang ketika aku mengingat bahwa kamar ini tidak setiap harinya terisi. Mungkin saja lebih sering kosong. Jadi, selama kamar ini kosong siapa lagi yang akan mengisinya kalo bukan...? Ah, seketika juga aku meggeridikan badan dan menghentikan fikiran ku yang selalu saja macam macam. Ingin sekali berlari keluar dan berkumpul bersama mereka. Tapi rasanya malu karena pasti aku akan menjadi pusat perhatian ketika berjalan kearah sana.


Aku mulai memasuki kamar tersebut dengan tidak menutup pintu. Ku cari Handphone ku dan mulai mencoba menghubungi WR Tapi sepertinya dia meninggalkan handphone nya dikamar. Seperti ada yang mengarahkan pandangan ku pada sebuah jendela. Ada setangkai bunga mawar yang berada diatasnya. Aku berdiri dan mencoba mengambilnya. "Siapa yang menyimpan mawar diatas jendela seperti ini?" Aku bertanya pada diri sendiri yang tentu saja tidak tau jawabannya.


"Tiya," Ucap seseorang dari arah pintu. Seorang gadis yang menjadi teman satu kamar ku malam ini. Entah siapa namanya aku pun binggung bagaimana dia bisa tau namaku


"Ini, ngambil bunga diatas jendela. Siapa sih yang naro." Sepertinya aku salah bicara. Mendengar jawabanku, gadis tersebut langsung mengahampiriku dan meminta agar aku meletakan bunga tersebut ke tempat semula.


"Kenapa?" tanyaku heran.


"Udah simpen aja. bukan punya kita." Jawabnya menutup percakapan ku kala itu.


***


Pagi hari aku terbangun oleh suara kicauan burung yang bergema ditelingaku. Ku sibak sebuah kain yang menutupi jendela dan terlihat beberapa orang tengah berolahraga disana. Kucari ponselku dan mulai menggubungi WR. Beberapa saat setelah menerima pesan dariku, WR bergegas menuju kamar dan mengajak aku sarapan diwarung semalam tempat kita makan Syukurlah kali ini menu yang disajikan masih lengkap nasi dan lauk pauknya. Segera aku membawa makanan yang telah dibungkus untuk dimakan di Vila.


"Yang lain pada kemana?" tanyaku pada WR sambil menyantap sarapan yang tadi aku beli. karena Vila ini tidak seramai semalam.


"Ke kolam kayanya," jawabnya

__ADS_1


"Kok kita gak kesana sih?"


"Jangan lah, mahal."


"dih. trus kesini mau ngapain?"


"Ya main aja."


Menyebalkan bukan? iya dia memang menyebalkan. Sudah jauh jauh aku mengikutinya hingga ke villa tapi ternyata uang yang dia bawa tidak cukup untuk membayar tiket masuk ke kolam pemandian air panasnya.


Selesai makan WR mengajakku berkeliling Vila, biar gak bosen katanya. Sambil nunggu siang tiba, soalnya kita akan kembali ke kota siang hari. Begitu banyak tanaman yang berbunga indah disekitar Vila ini. Pandangan ku tertuju pada sebuah bunga berwarna merah yang merekah indah.


"Boleh di ambil gak sih?" tanya ku pada WR ketika melihat bunga tersebut.


"Gak boleh ngerusak." jawabnya cuek.


"pengen,"


"Jangan,"


"Satu aja, please."


Sebuah bunga mawar berwarna merah darah berhasil dia petik sesuai dengan ke inginan ku.


"Ehm, ehm," terdengar suara orang berdehem ketika WR hendak memberikan bunga tersebut padaku.


"Sini di potoin," Ucap Bang Eman yang melihat kejadian tersebut. Tanpa menunggu jawaban dari ku, dia dengan cepat mengambil beberapa foto kami di ponselnya dan mengirimkan nya ke ponsel milik ku.


"Terima kasih," Ucapku pada Bang Eman.


***


Aku kembali ke Vila dengan sekuntum mawar yang diberikan oleh WR tadi di taman. Entah kenapa tiba tiba saja aku teringat akan bunga yang semalam berada di atas jendela. Ku arahkan pandangan ku pada jendela tersebut dan ternyata mawar itu sudah tidak ada. Banyak pertanyaan muncul dari benak ku salah satunya mengenai siapa yang telah mengambil mawar tersebut. Aku mencoba untuk tidak berfikir macam macam dan lebih memilih mempersiapkan barang bawaan agar tidak ada yang tertinggal. Satu persatu teman teman ku mulai berdatangan dan mereka pun mempersiapkan hal yang sama sepertiku.

__ADS_1


Siang hari, setelah memastikan semua anggota telah siap dan tidak ada barang yang tertingggal. Aku dan yang lain menaiki motor kami masing masing dan bersiap untuk pulang.


"Bissmillahirohmanirrohim," Sebuah doa yang mengiringi kepulangan kami ke kota.


__ADS_2