WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
32 - Nonton Konser Part 2


__ADS_3

Malam itu, suasananya begitu ramai. Ada banyak para pedangan angsongan, ada banyak orang yang berlalu lalang dan ada banyak juga sekumpulan orang yang sudah berdiri di depan. Ya, didepan panggung. Berharap bisa melihat dengan jelas para personel band legendaris yang mereka idolakan.


Sebenarnya, WR itu fans garis keras nya Armada. Itu semua ku ketahui ketika aku memeriksa beberapa album foto nya di facebook. Ada sebuah album khusus yang diberi nama "Pasukan Armada" . Isinya foto-foto personel Armada semua. Entah itu saat pentas, hangout atau yang lain nya. Selain foto dari para personel Armada, dia juga menyimpan beberapa lirik lagu galau yang di bentuk dalam format foto dalam album nya. Huh, dasar bucin.


Tadinya, aku berfikir. Bahwa, dia akan sangat antusias mengajak ku untuk nonton konser Armada bersama. Tapi, ternyata dia sudah bersedia datang kesini pun butuh bujukan yang sangat luar biasa.


Aku? Aku sangat suka lagu-lagu Armada. Itu sebab nya aku bersemangat sekali membujuknya agar mau menemani ku nonton konser ini.


***


Aku berjalan setengah berlari, berusaha untuk mensejajarkan posisiku dengan WR. Dia berjalan begitu cepatnya, apa dia tidak sadar bahwa ada seorang gadis yang datang bersamanya. Dia bilang, mau mengajak ku nonton paling depan, disini kejauhan. begitu katanya.


"Penuh banget, yank." Aku pasrah melihat situasi didepan panggung sudah terisi penuh. Biarkan saja walau hanya bisa menonton dari kejauhan. Setidaknya, ini lebih baik dari sekedar dilayar kaca.


Namun, bukan WR namanya jika menyerah begitu saja. Dia memegang tangan ku dan mulai membawa ku masuk kedalam kerumunan orang orang yang berada di area konser tersebut.


Beberapa kali aku berkata "Maaf, Permisi" pada orang yang tidak sengaja aku senggol. Bahkan, ada yang tidak sengaja terinjak kaki nya oleh ku.


WR berhenti sesaat, menatap ke arah panggung. kali ini sudah lebih dekat, tidak sejauh diawal. Tapi, kepuasan belum terlihat dari wajah nya. Dia kembali menuntun ku hingga aku benar benar ada didepan panggung.


"Pegangan, kesini," Sebuah pagar dengan tinggi sepinggang terpasang dihadapan ku. WR meminta ku untuk berpegangan pada pagar tersebut agar keseimbangan ku tidak hilang. Entah berapa lama aku berdiri disitu dengan WR yang berada di samping kanan ku.


Beberapa lagu dari band band Indie sudah berlangsung beberapa waktu yang lalu. Namun, bukan mereka yang aku tunggu.


"Cape gak?" tanya WR sedikit berteriak di kuping kanan ku. Kondisi saat itu berisik sekali. Jadi, jika dia berkata dengan nada biasa sudah pasti aku tidak bisa mendengarnya.


"Enggak," jawabku, sambil menggelengkan kepala.


***

__ADS_1


Dua orang host datang menggantikan Band Indi yang sudah kembali ke belakang layar. Rina Nose dan Indra Bekti. Aku sering melihat mereka di TV. Tapi, baru kali ini aku melihatnya dengan rinci. Ku fikir Rina Nose cantik hanya karena efek TV. Tapi, ternyata kecantikan nya asli.


Beberapa kata mereka lontarkan, sebelum akhirnya berteriak "Kita sambut, Armada,".


Tampak para anggota dari band Armada naik ke panggung yang telah disediakan. Beberapa personel lainnya langsung menuju alat musik nya masing masing. Dan, Rizal. Sang Vocalis, kini tengah berada tepat didepan ku.


"Woy, bengong," suara WR memecah kekaguman ku pada Vocalis Armada, yang lagu-lagunya selalu berhasil membuat jiwa bucin ku meronta ronta.


Satu buah lagu dibawakan oleh Rizal Armada dengan merdu. Saat itu, keadaan masih kondusif. Entah penonton yang mulai terbawa suasana atau apa. Disaat lagu ketiga mulai dinyanyikan. Tiba-tiba saja tubuhku mulai terdorong kesana kemari tidak karuan. Entah siapa yang memulai.


Melihat kondisi yang mulai membahayakan, dengan sigap WR berdiri dibelakang ku dan melindungiku dari beberapa orang bar bar yang mendorong dorong tidak karuan. Sudah ada beberapa orang yang terjatuh akibat dari kericuhan tersebut. Beruntung, sang vocalis menyadari kegaduhan tersebut. Sehingga, dia memperingatkan untuk tetap aman dan damai. Jika ingin konser ini tetap berlangsung. Kata katanya cukup didengar, sehingga kondisi kembali seperti diawal.


"Gak apa apa?" WR menanyakan hal tersebut setelah dia kembali keposisi awalnya.


"Engga. Agak takut dikit."


"Mau pulang,?" aku menggeleng menandakan penolakan dari pertanyaan nya.


Ditengah tengah menyanyi. Rizal, menunjukan aksinya bermain gitar dan diakhiri dengan melemparkan sebuah benda kecil yang tadi sempat dipakainya untuk memetik senar.


HAP !!


Sebuah tangan terlihat mengepal, seolah menggenggam sesuatu yang baru saja di dapatnya.


Dihadapkannya kepalan tangan itu kearahku,


"Tara.." WR berucap sambil membuka tangan nya. Sebuah benda kecil berwarna biru yang tadi dilempar oleh Rizal Armada telah dia dapatkan.


"Kok bisa, sih?" seolah tidak percaya WR bisa mendapatkanya. Mengingat hampir semua orang yang berada di garda depan mengangkat tangan nya berharap bisa memiliki benda yang sebenarnya tidak seberapa berharga namun sepertinya akan istimewa, karena benda tersebut diberikan langsung oleh Rizal Armada.

__ADS_1


"WR," Dia menyebut namanya sendiri dengan rasa bangga.


Ternyata, itu lagu terakhir yang dibawakan Armada. Kini, dia digantikan oleh grup band yang tidak kalah melegenda nya, Ungu. Tampak beberapa orang bergerombol dengan memakai kaos warna hitam dengan tulisan "Cliquers" dibagian dada dengan tangan memegang spanduk berukuran besar dengan tulisan yang sama. Persis,seperti para fans Armada yang memakai kaos bertulisakan "Pasukan Armada" dan Spanduk dengan tulisan seperti itu juga.


Ungu juga salah satu band kesukaan ku, hanya saja malam sudah semakin larut dan WR sudah mulai mengajak ku pulang.


***


Setelah mencoba mencari keberadaan Simi dan Nina, melalui pesan singkat yang aku kirimkan secara terus menerus. Akhirnya, bertemulah aku dengan mereka disebuah warung baso yang terletak diseberang jalan panggung.


"Sejak kapan Lu, disini?" tanyaku ketika sudah berhasil menemukan nya.


"Dari dateng gue langsung disini, makan. " jawab Simi dengan enteng nya.


"Kalo, Elu?" Tanya ku yang beralih pada Nina.


"Belum lama. Tadi sempet kesana sebentar, cuma penuh banget. Males desek desekan ah," ucap Nina dengan manja nya.


"Lu, mau nonton konser atau makan?" pertanyaan ku yang malah mereka tertawakan.


***


Kami semua bersiap pulang setelah aku menolak ajakan WR untuk makan baso terlebih dulu. Bukan, bukan karena aku takut dia tidak membawa uang. Hanya saja saat itu aku memang sedang tidak lapar.


Rasa kantuk dan lelah mulai terasa ketika motor yang WR kendarai berhenti di depan gerbang kos ku.


"Aku pulang, ya," pamitnya, sama seperti Matew dan Wanto yang lekas pergi setelah mengantarkan Simi dan Nina.


"Hati-hati," jawabku pelan. Karena, sepertinya suara ku akan serak-serak basah layaknya Dewi Persik. Setelah tadi beberapa kali mengiringi Armada beryanyi.

__ADS_1


"Buat kamu, aja," Dia mengambil sesuatu di saku jaketnya. Dengan senyum dia memberikan benda yang tadi sempat diperebutkan orang banyak.


"Yaudah," Aku menerimanya, tanpa perlu mendebatnya.


__ADS_2