WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
39 - Tes Lisan


__ADS_3

Beberapa peserta satu persatu mulai di panggil masuk keruangan yang bertuliskan "Tes Lisan". Ku lirik sebuah kertas berukuran persegi panjang dengan nomer 15 yang tertulis diatasnya. 5 orang sudah memasuki ruangan tersebut namun belum juga ada yang keluar.


Cemas dan gelisah bercampur aduk dalam fikiran. Beberapa kali aku meneguk sebuah air mineral didalam botol yang tadi sempat aku beli, untuk sekedar menghilangkan rasa cemasku. Tapi sepertinya nihil.


Rasanya baru kemarin aku berada disini, menjalani tes tulis dengan segala kekhawatiran dan kini aku harus menjalani nya lagi. Tiga hari, bisa dibilang waktu yang cukup singkat untuk ku mempelajari beberapa materi yang belum sempat aku pelajari, tapi aku berusaha untuk tetap percaya diri.


Simi dengan setia menungguku diluar ruangan. Pun dengan beberapa orang lainnya yang juga menunggu teman mereka yang sedang berjuang. Ya, berjuang. Anggap saja begitu.


Para peserta lain tengah fokus dengan materi materi yang berada dalam kertas yang dipegangnya. Aku lebih memilih diam dan memperhatikan, karena aku tipe orang yang tidak bisa belajar dalam keadaan terdesak seperti itu.


CEKLEK !!


Suara pintu terbuka, seorang peserta keluar dengan membawa sebuah map berwarna hijau. Disusul oleh beberapa peserta lain yang juga melenggang keluar dengan map tersebut. Entah apa isinya, tapi raut wajah mereka terlihat tidak seirama. Ada yang tampak bahagia dan pula ada yang tampak berduka.


"Alhamdulillah, aku lulus ke tahap selanjutnya." Dessy menghampiriku dengan memberitahu kabar bahagia yang didapatnya.


Saat itu Dessy memang mendapat antrian no 5 jadi dia tes pada gelombang pertama. Sedangkan aku sepertinya gelombang ke 3 karena hanya 5 orang pergelombangnya yang memasuki ruangan tersebut.


"Wah, hebat. Selamet ya." Ucapku turut berbahagia atas keberhasilannya.


"Iya, makasih."


"Ditanya apa aja tadi?" aku berusaha mengintrogasi Dessy.


"Gampang sih menurut aku." Jawabnya tanpa menjawab maksud dari pertanyaanku. Ya wajar saja dia seperti itu, karena bagaimanapun juga aku inikan saingan nya. untuk apa dia memberi tahuku perihal pertanyaan apa saja yang diajukan nanti, bisa bisa kalah saing nanti dia olehku.


"Itu apaan?" aku mencoba mengalohkan pertanyaan dengan bertanya perihal map hijau yang dia bawa.


"ini keterangan lulus atau engga nya. Kalau lulus kita dapet tema buat nanti micro teaching. kalo gak lulus ya gak ada." jelasnya membahas isi dari map tersebut.


"Kamu dapet tema apa?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Indonesiaku,"


Aku menyudahi percakapanku dengan Dessy ketika melihat seorang peserta keluar dari balik pintu ruang tersebut. "Cepet banget," gumamku dengan rasa heran. Atau aku yang terlalu lama mengobrol dengan Dessy sehingga tidak terlalu memperhatikan peserta yang berada diruangan tersebut.


Lima orang peserta telah keluar, tibalah nomer urut 10-15 memasuki ruangan tes lisan. Aku termasuk kedalamnya, dengan iringan doa yang terucap dalam hati aku melangkah memasuki ruangan tersebut.


Ada lima buah meja dan kursi yang masing masing telah ditempati oleh para juri, tiga orang laki laki dan dua orang wanita. Menurut informasi yang aku dengar sih mereka orang orang dari dinas pendidikan yang diminta untuk menjadi juri kali ini, sama seperti waktu tes tulis tempo lalu. Hanya saja aku baru mengetahuinya, aku fikir mereka sama sama guru juga sepertiku.


Karena aku masuk paling belakang otomatis aku mendapatkan kursi yang paling ujung, seorang laki laki paruh baya dengan rambut yang sudah memiliki dua warna dan kumis tebal yang begitu lebatnya tengah duduk menunggu kedatanganku.


"aish, kaku sekali dia. Kenapa aku tidak mendapatkan juri ibu ibu saja. Sepertinya akan lebih mudah." dumel ku dalam hati.


Aku tersenyum menatapnya sembari menarik kursi agar aku lebih mudah untuk mendudukinya. "Pagi Pak." Ucapku menyapanya. Tidak ada balasan yang terucap dari mulutnya. Hanya sebuah anggukan kecil dan sedikit senyuman yang tergaris di bibir tuanya.


"Udah siap?" Tanya juri tersebut. Handoko, sebuah nama yang terpasang dibaju bagian kanan dadanya.


"Insha Allah siap pak." Jawabku sedikit ragu.


"Iya Pak. betul."


"Masih muda kok jadi guru." Ucapnya ketus. Ini sebuah pertanyaan yang harus aku jawab atau harus aku abaikan saja ucapannya.


"Hehe, iya pak." jawabku garing karena bingung harus menimpali apa.


"Oke, langsung aja ya." Ucapnya sembari membuka sebuah map yang berada dimejanya.


"Ya allah pak. dari tadi juga saya udah pengen langsung. Bapak malah berbelit belit." Jawabku. tapi dalam hati. mana mungkin aku berani menjawab seperti itu dihadapannya, bisa mati berdiri aku nanti.


"Soal pertama, Kamu lebih suka disebut Guru atau Pendidik?" Pak Handoko menatapku dengan yakin.


What? ah ini sih pendapat, aku ahlinya jika berkelit lidah. untuk apa pula aku belajar banyak teori, pengertian dan segala macam jika yang ditanyakan adalah sebuah pendapat. Salah satu dosenku pernah berkata bahwa "Tidak ada yang bisa menyalahkan pendapat seseorang, karena itu hak dia." See, jika mengacu pada ucapan dosen tersebut sudah bisa dipastikan bahwa jawabanku kali ini akan benar, karena pak Handoko tidak mungkin menganggap salah pendapat seseorang.

__ADS_1


"Pendidik Pak. Alasannya Karena.." Belum sempat aku melanjutkan tiba tiba saja Pak Handoko memotong ucapanku.


"Saya gak minta alasan. Saya cuma tanya pilihan kamu." Kata-katanya membuat ku terdiam menahan malu. Benar apa yang dikatakannya. Tapi untuk apa dia hanya bertanya tanpa mau mendengat alasan yang sudah tersusun rapi dalam otak untuk aku beberkan.


"Maaf Pak." Ucapku pilu.


"Yasudah. Lain kali jawab saja sesuai pertanyaan yang kami terima."


"Iya Pak."


"Pertanyaan kedua, Apa alasan kamu menjadi guru. Cita cita kah atau keinginan orang tua."


"Cita cita saya waktu kecil jadi dokter sih Pak. Tapi keadaan dan situasinya malah membuat saya masuk kuliah jurusan pendidikan. Tapi gak apa apa, soalnya Guru juga cita cita kedua saya setelah dokter." Aku menjawab pertanyaannya dengan benar tanpa ada dusta diantara kita.


"Oke, bisa diterima. Pertanyaan ketiga. Apa yang kamu ketahui tentang kurikulum?"


"Kurikulum adalah suatu rencana pendidikan, yang memberikan pedoman tentang jenis, lingkup, urutan isi, serta proses pendidikan. Dengan program itu para siswa melakukan berbagai kegiatan belajar sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku pada dirinya." Aku menjawab pertanyaan ketiga dengan yakin dengan lugas persis seperti yang aku hafalkan tadi malam.


" Pertanyaan ke empat. Sebutkan jenis jenis kesulitan belajar siswa yang kamu ketahui."


" Kesulitan atau masalah siswa dalam proses belajar mengajar biasanya meliputi kesulitan membaca, kesulitan menulis, dan kesulitan berhitung, kesulitan mengelola emosi baik dari lingkungan maupun dari diri peserta didik itu sendiri serta ketidakmampuan anak untuk memahami isi pelajaran karena ia mengalami kesulitan untuk mengulang kembali apa yang telah dipelajarinya." Jawabku panjang lebar sambil sesekali menarik nafas.


" Pertanyaan yang ke lima, Lalu bagaimana cara mengatasi masalah tersebut?"


"hmm, untuk anak yang mengalami kesulitan pendengaran dan penglihatan akan di posisikan pada tempat duduk bagian depan. untuk siswa yang gagal mencapai tujuan pembelajaran akibat gangguan internal, kita sebagai guru akan mengadakan program remedial. dan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan menerima materi pelajaran, pnggunaan alat peraga pelajaran dan media belajar kiranya cukup untuk membantu mereka."


Ah lelah sekali rasanya menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pak Handoko. Dia tampak fokus mendengarkan aku berbicara sambil sesekali menulis sesuatu di kertasnya.


"Oke sudah." Ucapnya yang seketika itu juga menghilangkan rasa lelahku.


"Ini hasilnya, liat sendiri nanti diluar." Pak Handoko menyodorkan sebuah map berwarna hijau yang sama seperti milik Dessy dan peserta lainnya.

__ADS_1


"Makasih Pak." Ucapku sambil mengambil map tersebut dan berjalan melewati empat peserta lainnya yang belum selesai.


__ADS_2