
Aku tiba dirumah Miss Mala sekitar pukul 8 malam. Lalu lintas cukup padat hingga akhirnya membuat kami tiba dengan agak lambat.
Putri telah pulang lebih dulu ketika mobil yang ditumpangi berhenti tepat didepan rumahnya. Sebenarnya aku juga ingin langsung pulang kekosan hanya saja jalannya tidak searah, lagi pula motor Simi masih berada dirumah Miss Mala.
Setelah menurunkan beberapa barang belanjaan dan menyimpannya diruang tamu. Aku, Simi dan Nina berpamitan dengan segera karena malam mulai menggelap sedangkan bintang seolah tidak nampak.
"Hati-hati ya." Miss Mala setengah berteriak melepas kepergianku malam itu.
Udara dingin mulai terasa karena kini aku menaiki motor digelapnya malam. Untung saja aku memilih posisi duduk ditengah, paling tidak udara disini tidak terlalu parah. Motor milik Simi melaju membelah angin yang dikendarai olehny sendiri. Sedangkan Nina duduk diposisi paling belakang.
Beberapa menit melaju diatas motor tibalah kita disebuah perempatan lampu merah. Ada dua jalan yang sama-sama bisa aku lewati menuju kekosan. Lurus melewati perlintasan kereta api, atau belok kanan menuju pusat kota. Karena berpikir bahwa arah pusat kota akan jauh lebih ramai, akhinya Simi membelokan stang motornya kerah sana.
Beberapa saat setelah motor yang aku tumpangi berbelok, terdengar suara klakson motor yang begitu keras.
Tid-Tid-Tid
"Sim, minggir. Lu ngalangin jalan orang." Aku sedikit berteriak didekatnya, karena deburan angin dan ditambah helm yang dia gunakan pasti sedikit mengganggu pendengarannya.
Simi pun mengarahkan motornya sedikit lebih kepinggir, harusnya jalan tersebut cukup, bahkan sangat cukup jika hanya untuk sebuah motor yang ingin mendahului karena jalanan disini sangat luas walaupun dipakai dua arah.
Tiba-tiba saja dua orang pria dengan menggunakan motor hitam besar dan helm fullface berwarna hitam juga telah berada disamping motor.
"Ih, apaan sih."
Motor yang aku tumpangi sedikit bergoyang ketika Simi mencoba menepis tangan laki-laki itu yang berusaha mencoleknya.
Aku mulai khawatir melihat keadaan seperti itu. Jalanan cukup ramai, banyak mobil dan motor yang berlalu lalang. Kenapa pria tersebut nekat seperti itu ditengah tengah keramaian seperti ini.
Tanpa disuruh, Simi dengan cepat menarik gas motornya dan melaju lebih cepat dibanding diawal. Aku pikir cukup sampai disitu, namun rupaya pria tersebut malah mengejar kami. Simi berusaha melajukan motornya secepat mungkin tapi jelas kalah karena motor yang mereka tumpangi CBR sedangkan motor Simi hanya Vario.
"Mau apasih?" Nina memberanikan dirinya berteriak kepada dua orang pria tersebut.
Satu orang pria yang duduk dibagian belakang jok membuka helm dibagian depan wajahnya dan mulai menyeringai. Seketika itu juga bulu kudukku berdiri yang sepertinya dirasakan oleh Nina juga, karena dia mempererat pelukanannya padaku.
Dari jarak beberapa meter lagi tampak sebuah bangunan besar bertuliskan Carrefour disisi kiri jalan. Dengan panik aku meminta Simi untuk masuk kearea tersebut agar pria itu tidak mengikuti lagi.
Dengan cepat Simi mengikuti titahku dan membelokan motornya menuju Carefour. Simi menekan tombol karcis dengan sesekali melihat spion hanya untuk memastikan bahwa pria tersebut sudah pergi.
Tapi dugaanku salah. Pria tersebut malah memarkirkan motornya diluar area, turun dari motornya dan mulai menyalakan rokoknya.
"Gimana nih, dia belum pergi." Terdengar kecemasan dari rengekan Nina.
"Yaudah, masuk dulu aja sekalian belanja." Usulku yang tentu saja mereka setujui karena aku tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan dua orang pria aneh yang mengganggu dijalan.
Aku, Simi dan Nina mulai memasuki pusat perbelanjaan tersebut. Terang sekali didalam sini, tidak seperti dijalanan tadi, gelap dan menyeramkan. Sebenarnya aku bingung hendak membeli apa, karena kebutuhanku semuanya masih ada. Tapi karena saat ini aku sedang bersembunyi jadi mau tidak mau aku harus membeli minimal 1 jenis barang agar tidak keluar dengan tangan kosong.
Aku memilih sebuah jajanan berbahan dasar kentang dengan rasa sapi panggang dan sebotol air mineral. Nina dan Simi juga hanya mengambil satu buah jajanan saja sama sepertiku. Walaupun barang yang kami beli tidak banyak, tapi aku menghabiskan waktu yang lumayan lama didalam Sini. Mungkin sudah sekitar 30 menit aku berkeliling ditempat ini.
"Ayo, udah pergi pasti." Seru Simi setelah mengecek jam tangan berwarna merah yang melingkar ditangan kanannya.
Dengan perasaan yang lebih tenang, aku berjalan keluar dari pusat perbelanjaan tersebut. Entah Nina mendapatkan pirasat atau apa. Karena sebelum mengambil motor yang berada diparkiran, dia lebih dulu meminta ku untuk melihat kearah jalan tempat pria tadi memberhentikan motornya.
__ADS_1
Langkahku terhenti, jantungku mulai berdegup lebih cepat dari biasanya melihat sosok dua pria tadi masih setia berada disana dengan rokok yang dijepitnya menggunakan jari telunjuk dan jari tengah.
"Masuk, masuk buruan." Cepat cepat Simi meminta ku untuk kembali masuk ke tempat tadi.
Aku berlari tanpa menoleh, entah mereka melihatku atau tidak. Yang terpenting saat ini adalah aku harus bisa lolos darinya.
Kami tiba didalam dengan nafas yang tersenggal senggal. Keringat mulai bercucuran diudara yang harusnya dingin oleh AC yang bertebaran.
"Gimana dong?" Aku bertanya pada Simi dan Nina, berharap mereka menemukan jalan keluar dari masalah ini.
"Udah jam 9 nih, 1 jam tutup." Tambahku dengan khawatir.
"Telepon bang WR. Suruh jemput." Usul Nina.
"Tapi kan dia lagi dirumahnya." Bantahku.
"Coba dulu aja. Gue juga sekalian mau nelepon wanto. Dan Elu juga telepon si Mathew ya, Sim." Atur Nina dengan cemas.
Segera aku menghubungi WR dengan handphone yang sedari tadi aku genggam untuk melihat jam.
Satu kali panggilan telah berakhir, tapi tidak ada jawaban darinya.
"Udah tidur kali ya?" Gumamku dalam hati.
Aku tidak menyerah dan mulai mencoba menghubunginya lagi.
"Hallo, assalamualaikum," Terdengar suara WR menyambut panggilan dariku.
"Kenapa? Udah pulang jalan-jalan sama Miss Mala nya?" Tanya WR yang memang belum aku kabari perihal kepulanganku dari Mall tadi.
Aku menjelaskan semua kronologi yang terjadi dengan sangat rinci padanya.
"Kamu tunggu disitu. Jangan keluar sampe aku datang. 30 menit lagi aku nyampe." Ucap WR sebelum menutup telepon miliknya.
"Gimana?" Tanya Nina yang sudah sejak tadi mengantongi selulernya.
"Bisa, setengah jam lagi nyampe."
"Si mathew gak bisa dihubungi. Lagi man footsal kayanya.," Terang Simi dengan muka kesal karena kekasihnya tidak bisa dihubungi ketika sedang benar benar dibutuhkan.
"Gak apa-apa. Si Wanto bisa kok dateng. Cukup berdua bareng bang WR juga. Yang penting ada cowok." Jelas Nina dengan sedikit lebih tenang.
Entah berapa lama aku dan kawan-kawan mematung dengan rasa cemas yang menjalar mengikuti aliran darah.
Nina tiba-tiba saja tersenyum sumringah menyaksikan Wanto telah tiba bersama seorang temannya, entah siapa. aku tidak mengenalnya.
Dengan sedikit berlari Nina menghampiri Wanto dan mencurahkan segala kekhawatirannya itu.
"Bang WR," Simi berteriak dan menganggkat tangan kanannya lalu mengoyangkannya kenan dan kekiri.
"Mana Sim?" Tanyaku yang saat itu belum menemukan keberadaan WR.
__ADS_1
"Itu," Tunjuk Simi.
"Ah, syukurlah. akhirnya dia tiba juga." Bisikku lirih dengan rasa tenang yang mulai bermunculan.
"Kamu gak apa-apa?" WR langsung bertanya mengenai kabarku ketika langkahnya terhenti tepat dihadapanku.
"Iya," Jawabku pelan.
"Masih ada gak R orangnya. Tadi pas gue masuk masih ada." Tanya Wanto pada WR.
"Dipinggir jalan. yang motornya gede bukan, ay?" WR menatapku dan menunggu jawaban yang keluar dari mulutku.
"Iya,"
"Masih ada,"
WR dan Wanto menanyakan kenapa dan bagimana semua ini berawal, baik aku maupun Nina sama-sama tidak mengerti apa maksud dan tujuan mereka bertingkah seperti itu.
Akhirnya Wanto dan WR membuat kesepakatan bahwa masing masing dari tiga orang pria, yakni WR, Wanto, dan Andere, temannya wanto akan membonceng kami.
Karena mathew tidak ada, jadi Simi berboncengan dengan Andre menggunakan motor milik Simi, sedangkan aku pindah kemotor WR dan Nina dimotor Wanto.
Aku keluar dengan sedikit kekhawatiran yang masih bersarang. "Bagaimana jika mereka membawa senjata tajam." Ah pikiranku memang kadang kadang bar-bar.
"Yank, takut." Ku cengkram jaket yang membungkus tubuh WR malam itu.
"Ada aku disini," Ucapnya dengan tenang.
Kami mulai menaiki motor secara berbarengan. Terlihat bahwa pria tadi masih tidak beranjak dati tempatnya berdiam diri. Motor yang aku tumpangi melaju keluar disusul dengan Nina dan Simi dibagian belakang.
Ku penjamkan mata dengan rapat semenjak keluar dari carefour tadi untuk menghilangkan kecemasan ku.
"Tiyaa," Nina berteriak disebelah motorku membuatku tersentak.
"Udah gak ada, udah pergi." Terang Nina dengan senyum penuh kemenangan.
"Ah, syukurlah." Ku tarik nafas dalam-dalam dan mulai menggembuskannya secara beraturan.
***
Baik WR maupun Wanto dan juga temannya tidak langsung pergi ketika aku dan yang lain telah sampai kosan dengan selamat. Simi menahan kepergian mereka dengan alasan takut jika pria tersebut ternyata masih mengikutinya.
Setelah menunggu beberapa saat dan memastikan bahwa tidak ada pria yang mencurigakan akhirnya Wanto dan WR pun pamit pulang, karena sudah larut malam.
"Tidur, besok aku jemput." Ucap WR.
"Kamu gak ngucapin selamet sih?" Tanyaku heran.
"Yaudah selamet." Jawabnya singkat.
"Dih, gitu doang." Ucapku kesal. WR hanya tersenyum tanpa menjawab rengekanku.
__ADS_1
"Aku kekosan ya, kalo ada apa-apa. telepon aja." Ucapnya sebelum berlalu.