
Pagi ini sama seperti biasa. Aku, Simi dan Nina akan pergi ke warung makan langganan untuk menghilangkan rasa lapar. Di kosan, memang tidak ada kompor jadi tidak memungkinkan untuk kami masak. Hanya ada sebuah Rice cooker, itupun sudah berdebu karena jarang digunakan.
Sebenarnya warung makan tersebut tidak terlalu jauh dari kosan hanya saja aku dan yang lain lebih memilih untuk manaiki motor dibanding dengan jalan kaki.
Simi mengeluarkan motor vario miliknya dengan dibantu olehku. Dan Nina mendapat bagian mengunci pintu.
"Berangkat," Seru Simi setelah memastikan Aku dan Nina telah duduk dibelakang.
Motor berhenti diantara barisan motor lainnya yang saat itu tengah membeli makan ditempat yang sama denganku. Memang, dari sekian banyaknya warung makan tempat ini lah yang selalu ramai pengunjung, terumata pria karena runah makan ini dimiliki oleh tiga orang perempuan bersaudara yang ketiga tiganya cantik semua. Tapi bukan itu alasanku menjadikan tempat makan ini sebagai langganan, aku merasa semua menunya cocok dengan lidah ku. itu saja,
"Tiya, mau beli apa lu. Bengong mulu," kata kata Simi membuyarkan lamunan ku.
"Eh, mm, apa ya. anu biasa. Ayam, aja," kata ku terbata -bata.
"Kenapa lu bengong? gak bawa duit?" Nina menepuk punggungku dan tertawa.
"Yeh, bawalah. Sembarangan." Jawabku.
"Yaudah Sini mana?" Tanya Simi yang dengan segera ku sodorkan uang dua puluh ribuan kearahnya.
Setelah memilih makanan, kami pun segera membayar dan begegas pulang.
Setibanya dikosan. Aku melihat sebuah motor JupiterMx berwarna hitam terparkir tepat di depan pintu kosan kami. Sejak kapan motor itu berada didepan kosanku. Aku ingat betul bahwa tadi motor itu tidak berada disitu, bahkan aku tidak melihatnya berada disekitaran kosan. Apa pemilik motor itu baru saja datang. Tapi siapa yang berani menyimpan motornya tepan didepan pintu kosan hingga menghalangiku untuk masuk.
Masih dengan rasa penasaran bercampur kesal, Aku mencoba membantu Simi untuk memindah kan motor tersebut ke arah lain. Namun nihil, karena pemilik motor tersebut telah mengunci stang motornya. "Nyusahin orang aja," Batinki.
"Woy, Motor siapa, nih?" Teriak Simi dengan harapan si empunya motor akan datang ketika mendengar suara Simi yang begitu menggema dan segera akan memindahkan motornya yang entah disengaja atau tidak. Padahal lahan lain masih luas. kenapa dia harus menyimpannya diteras kosanku
__ADS_1
Tidak lama setelah Simi berteriak. Terdengar suara pintu yang dibuka. Seorang laki laki memakai kaos lengan pendek berwarna hitam dengan celana levis, keluar dari kosan no 6. Rambut depan nya menutupi sebagian wajahnya. Dan seperti nya dia mengikat rambutnya. Mengingatkan ku pada sosok laki laki yang pernah aku lihat, beberapa bulan yang lalu. Tapi, dulu aku hanya melihat bagian belakangnya saja sedangkan sekarang aku melihat bagian depan. Bisa aja mereka orang yang berbeda,
Aku terus memperhatikan setiap langkah nya. Ku taksir dia memiliki tubuh yang lebih tinggi dariku. hanya saja saat itu, entah kenapa dia berjalan sedikit membungkuk. "Mungkin malu," fikirku.
"Maaf," sebuah kata pelan yang terucap dari mulut nya. Sambil tetap menunduk dan bergegas memindahkan motornya.
"Aneh banget sih orang." Ucapku dalam hati.
"Bang WR, ya?" Tanya Nina dengan sedikit histeris. Sontak aku dibuat kaget oleh pertanyaan nya.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, hanya sebuah anggukan pelan yang ku lihat dan itu cukup membuat ku yakin bahwa dia adalah WR.
"Cieee..," seru Nina dan Simi berulang ulang sambil menatap ke arah ku. Setelah itu mereka berlalu pergi kedalam. Sedangkan aku, Entah kenapa aku masih berdiri disini, mematung memperhatikan setiap gerak gerik nya. Dia menengok dan menatap ku dalam waktu yang singkat. Setelah selesai memarkirkan motornya, dia berjalan ke arahku.
"WR," ucapnya sambil menjulurkan tangan.
"Udah tau," jawabnya santai tapi dengan netra yang entah mengarah kemana. Kenapa dia tidak mau menatapku. Apa ada yang salah dengan wajahku.
"Boleh minta no hp?" Tanya nya lagi sebelum aku sempat berkata kata.
"Ah, Apa?" Jawabku terbata-bata. Entah kenapa pendengaran ku menurun tiba tiba saat bersamanya.
"No hp kamu. Boleh, aku minta?" Dia mengulangi perkataan nya dengan sebuah penekanan di kata boleh.
"Oh iya, sebentar." Aku hendak mengambil secarik kertas dan pena. Tapi ternyata WR sudah menyiapkan itu semua. Seolah ini semua berjalan sesuai dengan rencana nya.
Ku tulis no hp ku pada sebuah kertas berukuran kecil yang diselipkan di saku celana nya dan memberikan kembali kertas yang sudah tertuliskan nomer handphone ku itu padanya
__ADS_1
"Makasih, ya," ucapnya seraya meraih kertas tersebut dan menyimpannya kembali disaku celana.
"Iya," balas ku dengan berusaha tersenyum semanis mungkin.
"Ada yang marah, gak?" Tanya WR dengan santai
"Engga," jawab ku sedikit ragu.
Sebenarnya saat WR bertanya seperti itu. Aku teringat akan pacar ku, Arega yang mungkin saja akan marah. jika tahu bahwa aku dengan sengaja memberikan nomer handphoen ku pada laki laki lain. Tapi saat itu, ada WR di hadapan ku dan membuat ku seolah tidah peduli pada kekasihku. Astaga, apa ini.
Dia berlalu kembali kekosan nya sedangjan Aku masih mematung menatapnya kepergiannya. Sempat dia menengok ke arah ku, lalu tersenyum. Sebelum akhirnya dia benar benar masuk.
Aku tersenyum melihat sebuah lengkungan diwajahnya. Dengan masih menahan senyum tersebut aku memasuki kosan ku. Tampak Nina dan Simi tengah asyik menikmati makanan yang baru saja dibelinya.
"Nih, punya lu, makan. Jangan pacaran mulu." Ucap Simi dengan mulut yang terisi penuh.
"Awas jatuh cinta." Timpal Nina sambil menatap kearahku.
"Apa sih kalian. Enggalah. gini-gini gue setia tau." Ucapku seraya membuka bungkusan nasi dan ayam milikku.
"SElingkuh TIada Akhir," Jawab Simi dengan tertawa dan diikuti oleh Nina. Tawa mereka menggema seirama.
Aku mulai menyantap makananku sesuap demi sesuap dengan hati dan fikiran yang saling bertentangan.
Jadi, dia WR yang dulu sempat meminta nomer handphone ku dan menghilang begitu saja. Jadi, dia orang nya yang sudah membuat ku berkeliling kampus hanya untuk mengetahui rupa nya. Kenapa dia kembali disaat yang tidak tepat seperti ini. Haruskah aku memberitahunya bahwa sebenarnya aku sudah mempunyai pacar? Tapi. bukan kah dia tidak bertanya dia hanya menanyakan bahwa ada yang marah atau tidak. itu saja kan. Lantas, harus aku jawab apa selain kata "Tidak."
WR, akan sejauh mana kah hubungan ini nanti nya.
__ADS_1