
"Iyalah Tiya. Siapa lagi." Jawab Raka.
Sepertinya Raka tengah menjebak ku. Beberapa tindakannya benar benar membuatku yakin bahwa Raka tengah berusaha menyatukan ku kembali dengan Arega. Huh, lihat saja aku tidak akan bisa masuk kedalam perangkap mu.
"Jangan gue lah." Aku menolak saran yang diberikan oleh Raka. Kenapa harus aku? bagaimana jika WR mengetahuinya, ah membayangkan nya saja aku tidak bisa.
"Iya bener jangan Tiya. Banyak temennya WR kalau udah daerah sana. Nanti ketauan berabe urusannya. Yang ada bukan cuma si Tiya yang berantem. Gue juga bisa kena ceramah sama Si WR karena ngebiarin ceweknya dianterin pulang cowok lain." Simi angkat bicara dan mulai mendukungku. Syukurlah, Simi cukup mengenal WR sehingga Simi juga tidak mau mengambil resiko atas tindakannya.
"Nina aja, gimana?" Usul Simi yang kali ini menyarankan agar Nina yang pulang bersama Arega. Bukan tanpa alasan Simi memilihnya. Simi bilang, diantara WR, Mathew dan Wanto. Wanto-lah yang paling tidak cemburuan jadi Simi memutuskan agar Nina yang diantar pulang malam ini. Lagi pula Wanto mengetahui sikap Nina yang mudah akrab dengan banyak pria, jadi sepertinya Wanto tidak akan marah jika melihat Nina berboncengan dengan pria lain.
"Ok. Gue setuju tapi jangan sama Arega ah. Sama Raka aja gimana." Nina menyetujui permintaan Simi dengan syarat yang diajukan.
"Loh, kan motornya punya Arega. Gimana sih?" Raka seolah keberatan dengan syarat yang diajukan Nina atau mungkin sebenarnya dia kesal karena rencana yang dirancangnya telah gagal.
"Udah gak apa-apa. Gue tunggu disini. Lu anterin dulu si Nina." Arega menyerahkan sebuah kunci motor miliknya kepada Raka yang hendak mengantar Simi pulang.
"Sorry, ya." Ucap Raka yang berlalu mengambil motor Arega dan diikuti oleh Nina.
"Aku pamit, ya." Ucapku pada Arega sesaat sebelum motor yang Simi kendarai melaju membelah angin.
Aku tiba lebih dulu dengan Raka dan Nina yang berada dibelakangnya. Setibanya dikosan, Raka meminta ijin untuk pergi kekamar mandi dengan alasan sudah tidak tahan lagi. Beberapa menit di kamar mandi, Raka pamit pergi.
"Hati-hati, ya. Kalau udah nyampe sms." Ucap Nina melepas kepergian Raka.
"Maksud lu apa nyuruh si Raka sms. Emang dia tau nomer lu?" Tanyaku heran.
"Iya dong. Tadi kita udah tukeran nomer handphone." Jawab Nina sembari merapihkan rambutnya.
"Awas lu ya kalau ngasih info tentang gue ke si Raka. Nanti yang ada dia curhat ke Arega." Aku mulai mengancam Nina yang hanya dijawab dengan tawanya. "Enggalah, sayang." Tutur Nina.
Aku mulai menghubungi WR dan memberitahunya bahwa aku telah berada dikosan. Aku berbincang cukup lama hingga terdengar suara pintu yang diketuk secara berulang ulang.
"Siapa yang bertamu malam-malam begini?" Gumamku dalam hati.
__ADS_1
Aku saling menatap satu dengan yang lain. Aku, Nina dan Simi sama-sama bingung dan takut mendengar suara ketukan tersebut.
Tiba-tiba saja ponsel Nina berdering,
"Astagfirallah, Raka." Seru Nina setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya.
"Kenapa?" Tanyaku dan Simi bersamaan.
"Itu dia yang ngetuk pintu." Ucap Nina sembari beranjak dari duduknya dan mulai membukakan pintu untuk Raka.
Kosan ini hanya mempunyai dua ruangan, yang pertama ruang tidur dan kedua kamar mandi. Ketika pintu kosan dibuka otomatis para penghuninya pun ikut terlihat hingga keluar.
Nina membuka pintu tersebut dan menampilkan Raka yang tengah berdiri berdampingan dengan Arega.
"Mau apa mereka kemari?" Gumamku dalam hati.
"Halo, halo, yank." Samar samar terdengar suara WR dari ponsel yang belum sempat aku matikan.
"Halo," dengan gelagapan ku arahkan kembali ponsel tersebut kekuping.
"Besok aku telepon lagi ya. " Ucapku menutup percakapan dengan WR.
"Kenapa?" Tanya Nina pada Raka dan juga Arega. Aku tidak beranjak dari posisiku begitupun dengan Simi yang masih sibuk menelepon Mathew.
"Kunci kosan kayanya jatoh deh tadi waktu dikamar mandi." Raka menjelaskan alasannya untuk kembali kekosanku dimalam hari seperti ini.
"Masa sih?" Tanya Nina seolah tidak percaya.
"Iya. Kalau gak ada disini berarti jatoh dijalan. Tapi aku liat kamar mandi nya dulu ya. Siapa tau ada." Raka meminta ijin untuk mencari kunci yang terjatub dikamar mandi dan tentu saja diijinkan oleh Nina.
Simi menyudahi aktivitasnya dan mulai bergabung bersama Nina dan Raka mencari kunci dikamar mandi.
Melihat Arega yang hanya berdiri didepan pintu membuat ku tidak enak hingga akhirnya aku menyuruhnya untuk duduk. Arega duduk sesuai dengan perintahku.
__ADS_1
"Untung ketemu, kalau engga bahaya nih." Raka melenggang keluar dari kamar mandi dan diikuti oleh Nina dan Simi yang membantunya mencari kunci.
"Awas jatoh lagi." Ucapku pada Raka.
"Engga. Ini gue rapihin." Raka menyatukan kunci tersebut dengan beberapa kunci lainnya yang menyatu dengan kunci motor.
"Eh gue tadi beli gorengan nih, mau gak?" Tanya Raka pada Simi dan Nina karena sepertinya Raka tau akan lebih mudah menawari Simi dan Nina ketimbang menawariku.
"Mau, sini sini bawa." Benar saja, Simi dan Nina begitu antusias hanya dengan mendengar gorengan saja.
Raka menuju motor dan mengambil sebuah kresek yang digantungnya pada stang motor. Lalu menyodorkan gorengan tersebut kehadapan Nina dan Simi.
"Boneka beruangnya masih ada?" Arega berucap setelah sekian lama terdiam. Ku alihkan pandanganku pada sebuah boneka yang mulai tampak lusuh.
"Iya, masih aku simpen." Jawabku setelah mengalihkan pandangan dari boneka beruang tersebut.
"Gak dibuang aja?" Tanya Arega.
"WR bilang aku boleh nyimpen boneka itu kalau aku mau." Jawabku berbohong. Karena sebenarnya WR telah memintaku untuk membuang atau membawa pulanh boneka beruang pemberian Arega dulu.
"Yang kuning punya siapa, punya Simi bukan?" Tanya Arega lagi.
"Ehhh, Sorry ya. Gue gak level sama boneka. Punya nya si Tiya tuh. Gue juga heran kenapa sih tuh anak tiap pacaran pasti dibeliin terus boneka. Mana gede begitu lagi bonekanya. Ngabisin tempat." Simi meracau sembari mengunyah gorengan yang berada dihadapannya.
"Oh, itu dari WR?" Arega bertanya lagi
"Iya," jawabku dengan sedikit senyuman.
Satu plastik gorengan telah habis dan hanya tersisa beberapa buah cabainya saja.
"Hoamm.." Simi mulai menguap dan diikuti oleh Nina.
Seperti mendapatkan kode dari Simi dan Nina, Raka dengan segera pamit pulang bersama Arega. Mereka berlalu setelah mengucapkan selamat malam. Kututup pintu kosan dan mulai membaringkan tubuhku keatas sebuah kasur yang tidak begitu empuk.
__ADS_1
"Ah, semoga WR tidak pernah tahu apa yang terjadi malam ini." Doaku dalam hati sebelum menutup mata.