
Dua buah mata kuliah yang di UTS-kan hari ini telah berhasil aku selesaikan dengan agak lambat. Karena aku terlalu fokus mempersiapkan diri untuk lomba, aku jadi mengabaikan tugasku sebagai seorang mahasiswa. Tapi tidak masalah, walaupun otakku sedikit tersendat yang penting semua soal aku kerjakan dengan tepat.
"Kita ke tukang taneman, Sim." Pintaku pada Simi yang sudah mengetahui tujuanku.
Dengan cepat Simi mengendarai motor Vario merah putih miliknya menembus angin. Beberapa menit diperjalanan, tibalah aku dipinggir jalan yang dipenuhi oleh berbagai jenis tanaman.
"Mau nyari tanaman apa?" tanya Simi.
"Gak tau. Turun dulu aja."
Kedatanganku disambut dengan senyum oleh si penjual tanaman hias tersebut.
Dia berjalan dibelakang, menungguku menemukan tanaman yang sesuai dengan kriteriaku.
Aku memasuki deretan pohon pohon kecil yang berjajar. Mulai dari yang sedang sampai yang rindang. Ku langkahkan kakiku secara perlahan dengan netra yang terus menelisik kesetiap tumbuhan yang ada.
Tatapanku tertuju pada sebuah tanaman yang kira kira baru tumbuh 10cm dari permukaan tanah.
"Itu aja," aku menunjuk tanaman tersebut.
"Yang ini?" tanya sang pemilik tanaman tersebut yang sejak tadi memperhatikanku.
"Iya,"
"Ini sih taneman jahe, neng." Terangnya seolah ingin memastikan pilihanku benar atau salah.
"Jahe? nah kebetulan. Yaudah itu aja pak. Minta 5 pohon ya. dari tunas, trus agak tinggi, makin tinggi, tinggi lagi, sampe kira kira selutut pak tingginya."
Si bapak penjual pohon tertegun mendengar permintaanku tapi dengan segera dia mencarikan tanaman yang sesuai dengan keinginanku.
"Bentar ya neng, bapak cari dulu." Ucapnya begitu.
"Lu mau ngapain sih, Tiya." Simi tampak kebingungan memilhat tindakanku.
"Kepo," Jawabku dengan mendekatkan wajahku kewajahnya.
"ini neng," Bapak penjual bunga kembali dengan membawa lima buah tanaman jahe sesuai permintaanku lengkap dengan pot nya.
"Minta tanah satu karung, pupuknya satu bungkus. pot kecil 20pcs. Sama jahenya aja pak." Tambahku pada si Bapak tersebut.
"Siap neng. Tapi kalo jahenya aja bapak gak punya. neng bisa beli diwarung." Jawab Pria paruh baya tersebut.
"Bawanya gimana ini, Tiya. Lu mau ngapain sih?" Tanya Simi dengan cemas. Karena barang bawaanku makin banyak.
"Kalem, kalo gak kebawa nanti nlpn WR minta jemput."
Si bapak telah kembali dengan membawa pesananku. Setelah menghitung semua tanaman, pot, tanah dan pupuk yang aku beli menggunakan kalkulator miliknya, akupun segera membayar dan bersiap membawa pulang itu semua.
Satu karung kecil tanah telah disimpan oleh penjual tersebut dimotor bagian depan milik Simi dengan pupuk dan pot yang bersatu dalam satu kresek besar dan digantung dibagian depan juga. Tinggal lima buah tanaman beserta potnya yang tersisa, aku membuatnya menjadi dua bagian kresek dan menentengnya ditangan kanan kiriku dan meletakannya diatas paha ketika duduk dibonceng oleh Simi.
"Pulang," Tanya Simi memastikan.
"ketukang foto copy," pintaku setengah berteriak ditelinganya.
"Ya Allah Ya Rabbi. Tiya," keluh Simi menahan rasa lelah karena beraktivitas seharian.
***
__ADS_1
Langit mulai menjingga, udara dingin semakin jelas terasa. Aku sedikit kesusahan untuk turun dari motor dengan 2 buah kresek berukuran besar yang tengah aku tenteng.
"Lu yang turun, Sim." Pintaku pada Simi ketika motornya berhenti didepan sebuah tempat foto copy.
"Beli apaan?".
"Karton ijo tua satu, ijo muda satu, coklat muda satu."
"Duit nya mana?"
"Pake duit lu dulu. Minta notanya biar diganti sama Miss Mala."
Simi berlalu setelah mendengarkan permintaanku dan segera dia kembali dengan tiga buah karton ditangannya.
"Pulang?" Tanya Simi lagi.
"Iya."
"Ah, akhirnya." Ucap Simi.
***
Hampir Isya aku dan Simi tiba dikosan. Setelah menurunkan semua barang belanjaan dan memasukannya kekosan. Simi bergegas mandi menyegarkan tubuhnya. Sedangkan aku membaringkan tubuhku yang mulai terasa kaku. Nina tidak ada dikosan, mungkin dia pergi kesuatu tempat. Entahlah, dia tidak mengabariku atapun Simi.
"Yank," Sebuah pesan yang kutujukan untuk WR.
"Main?" tanyanya.
"Besok pagi aja kesini. Sakarang cape banget. ngantuk."
Ku simpan gawaiku dan bersiap menunggu Simi keluar dari kamar mandi. Lama sekali Simi berada didalam sana hingga aku tidak sengaja terlelap.
Aku terbangun dengan kondisi lampu yang padam. hanya ada sedikit pencahayaan yang aku dapat dari luar. Remang remang aku melihat Nina tengah tertidur pulas. Sejak kapan dia pulang, aku tidak menyadarinya. Tampak disebelah Nina, terbaring Simi yang tengah tidur juga.
Waktu menujukan pukul satu dini hari ketika aku terbangun. Rasanya ingin sekali mandi, tapi tengah malam begini, aku mana berani. Akhirnya aku melanjutkan tidurku tanpa mandi terlebih dahulu.
***
Tok tok tok..
Suara pintu diketuk berulang-ulang. Ku buka paksa mataku yang masih nyaman terpejam. Nina tampaknya sudah berangkat ke sekolah. Sedangkan Simi masih tertidur pulas. Aku memang telah meminta ijin kepada Miss Mala untuk tidak masuk mengajar hari ini karena harus membuat alat peraga untuk persiapan microteaching besok dan disetujui oleh Miss Mala dengan Simi yang tentunya ijin juga.
"Ay," Terdengar suara panggilan dari balik pintu. Sepertinya itu WR. Dia datang seperti yang sudah disepakati tadi malam.
Aku berjalan dengan beberapa kali mengucek mataku yang masih terasa perih menahan kantuk.
Jeglek !!
Pintu terbuka. WR tengah berdiri dengan tangan yang memegang kresek berwarna putih dengan 3 buah sterofom didalamnya.
"Apaan tuh," tanyaku yang langsung tertuju pada barang bawaannya.
"Bubur," Jawabnya sembari melangkah masuk.
"Apaan nih," Kali ini WR yang bertanya padaku mengenai sekarung tanah dan lima buah tanaman beserta potnya yang berada dipinggir sebelah kiri pintu.
"Ya buat besok lah." Jawabku. Sepertinya WR belum memahami maksud dan tujuanku jika dilihat dari raut wajahnya.
__ADS_1
"di apain?" tanyanya lagi.
"Ya kan aku micro teaching temanya "tanaman" ya aku bawa dong tanaman asli biar lebih greget." WR hanya mengangguk mendengar penuturanku.
"Simi, bubur nih. mau gak lu?" ucapku berusaha membangunkan simi yang masih tertidur.
"Iya. sisain." jawabnya tanpa membuka mata.
Aku bergegas mencuci muka dan menggosok gigi sebelum menyantap bubur yang WR bawa. Simi masih tertidur saat aku dan WR telah selesai menghabiskan satu porsi bubur masing masing.
"Nih," Aku memberikan beberapa lembar karton kehadapan WR setelah menyingkirkan sampah bekas bubur tadi.
"Apaan nih," tanyanya bingung.
"Bikin gambar jahe di karton coklat. Trus tempel dikarton ijo tua."
"Gitu doang?"
"Bikin dari bentuk jahenya doang. terus agak numbuh dikit, makin tinggi, makin tinggi. biar jadi 5 tahapan. Itu karton ijo muda buat bikin daunnya."
WR tampaknya mulai mengerti maksud dari ucapanku. dengan segera dia meminta sebuah pensil dan mulai menggambar jahe sesuai permintaanku.
"Yang bagus," Ucapku mengingatkannya.
"Iya," Jawabnya sambil tetap fokus menggambar dan sesekali menggunting lalu menempelkannya di karton.
"Mandi dulu ya," pintaku pada WR karena tidak tau harus membantu apa jadi aku fikir lebih baik aku mandi saja.
"Yaudah sana."
Aku mandi seperti biasa, tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lama. beberapa menit setelah mandi ku selesai, aku melenggang keluar. Tampak Simi sudah terbangun dan memakan bubur miliknya sambil memperhatikan WR mengerjakan itu semua.
"Ih, lu makan bubur gak sikatan dulu Sim." Ejekku pada Simi.
"Vitamin." Jawabnya tanpa menoleh dan tetap melanjutkan makan dengan kaki kanan yang ditekuk hampir mendekati dagu.
"Jorok."
Aku berjalan menghampiri WR yang sepertinya sudah hampir selesai. Tinggal menempel pohon yang kelima dan semuanya beres.
"Nih, udah." WR memberikan karton tersebut padaku.
"Makasih ya." Jawabku sembari memperhatikan hasil karya WR.
"Bayar,"
"Dih itu sih bubur." Jawabku polos.
"Lah kan aku yang beliin."
"Eh iya lupa."
"Besok lomba jam berapa?"
"Pagi, doain ya."
"Iya," Jawabnya pelan dengan sedikit anggukan dikepalanya.
__ADS_1