WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
80 - Happy Birthday WR Part 2


__ADS_3

Assalamualakum Readers kesayangan. Maaf nih karena lama banget gak up. Beberapa minggu terakhir ini Author lagi gak mood banget buat nulis, maunya rebahan aja terus. Tapi tenang aja, cerita ini inshaallah gak bakal ngegantung gitu aja kok. Happy reading guys..


***


Setelah berkutat hampir dua jam dengan layar handphone yang menampilkan tutorial membuat serta menghias tumpeng, akhirnya terciptalah tumpeng ala Tiya. Nasi kuning berbentuk kerucut yang dibentuk menggunakan alat yang tadi pagi dibeli telah tertata rapi ditengah tengah nampan. Tidak lupa telur rebus berbaris rapi bersama deretan ayam bakar yang baru saja aku beli bersama tahu tempe dan beberapa lauk lainnya.


Tak lupa hiasan hiasan tumpeng seperti membuat bunga dari wortel serta lobak. Walaupun hasilnya tidak sesuai dengan expectasi tapi setidaknya tumpeng buatanku bisa dibilang cukup menarik untuk dipandang. Dan soal rasa tidak perlu ditanya. Semenjak aku mengangkatnya dari magiccom, Simi dan Nina sudah berkali kali mencicipi nasi kuning tersebut. Beberapa kali juga aku memarahi mereka agar mau bersabar menunggu waktunya tiba.


Selepas isya, wanto datang dengan membawa berbagai macam buah sesuai dengan yang Nina sebutkan. Sedangkan tidak lama setelah itu Mathew pun tiba dengan membawa sebuah kado yang pasti ditujukan untuk Simi.


"Mana pesenan gue?" Tanyaku pada Mathew ketika ia telah berada di kosan.


"Nih, 21 kan." Dua buah lilin berberukuran kecil dikeluarkan Mathew dari sakunya dan dengan segera diserahkan padaku.


Aku memang lupa untuk membeli lilin. Aneh, padahal aku merasa sudah membeli semua nya dengan lengkap tapi masih saja ada barang yang terlupa. Untung saja tadi Nina mengingatkan ku perihal lilin tersebut dan akhirnya Simi buru buru menghubungi Mathew agar bersedia membelikan lilin sesuai dengan pesananku.


"Berapa?" Tanyaku berniat mengganti uang yang telah Mathew gunakan untuk membeli lilin tersebut.


"Gausah lah. Bayar sama itu aja sepiring." Ucap Mathew dengan tatapan terarah pada tumpeng yang berada disusut ruangan.


Mathew memang belum tahu kalau Simi telah menyiapkan kue untuk perayaan Anniversary mereka. Karena Simi berniat memberi kejutan setelah aku memberi kejutan pada WR.


"Sepiring loh ya. Gak boleh nambah." Ledek ku pada Mathew.


"Eh btw, si WR nya mana ini?" Jawab Mathew berlainan dengan ledekanku.


"Iya Tiya. Nanti kalau si WR pulang kerumahnya gimana?" Tanya Simi yang mulai gugup rencana ku gagal.


Simi, apa dia tidak mengenalku. Bukan Tiya namanya jika ceroboh dalam merencanakan sesuatu. Aku sudah memastikan WR tidak akan pulang dan tetap berada dikosannya.


Segera ku ambil handphone dan mulai menghubunginya. Telepon tersambung setelah dering kedua. Sesuai rencanaku, WR tengah berada dikosannya. Aku memintanya untuk datang kekosanku dengan alasan memeriksa laptopku yang tertinggal dilemari. Awalnya WR menolak tapi setelah aku berkata bahwa Simi lupa mengunci pintu kosan saat pulang dulu, akhirnya WR bersedia datang kekosanku.


Sementara itu, para lelaki tengah memarkirkan jauh motornya kebagian pojok agar tidak mudah terlihat oleh WR. Semua sendal yang tergeletak didepan pintupun dibawa masuk olehku. Ini semua aku lakukan agar WR yakin bahwa kosan ku benar benar kosong. Lampu kosan dimatikan untuk menambah keyakinannya.


Beberapa menit berada dalam kegelapan akhirnya terdengar suara motor yang sudah pasti milik WR. Segera ku nyalakan lilin angka 21 tersebut dengan menggunakan korek milik Wanto. Tanganku mulai gemetar tapi aku mencoba untuk tetap tenang. Ku langkahkan kaki ku pelan menuju kearah pintu dan menunggu WR membukanya.


Ceklek !!


"Happy Birthday WR"


Ucap kami berbarengan. Diiringi dengan lampu yang sudah kembali dihidupkan.


WR tampak diam untuk beberapa saat menyaksikan aku yang tengah berdiri dihadapannya dengan satu nampan tumpeng sebelum akhirnya dia tersenyum.


"Selamat ulang tahun." Ku tatap netra nya dan mulai bersuara.


Tidak ada jawaban dari WR. Dia hanya mengelus kepala ku yang tertutup kerudung.


"Tiup," titahku masih tetap dalam posisi berdiri.

__ADS_1


Dua buah nyala apu yang terdapat pada lilin ditiupnya secara bersamaan dan disambut dengan riuh tepuk tangan.


"Ayo, potong kue nya. Eh tumpeng nya. Udah laper nih gue." Ucap Nina.


Ku berikan sebuah pisau kue kepada WR dan meminta nya untuk segera memotong tumpeng tersebut. Sebelum memotong, WR sempat menoleh kearahku dan bertanya "beli dimana ini tumpeng?"


"Aku bikin tau,"


"Duh. Jadi sayang aku mau motong nya juga."


"Yey. Ya kalau gak dipotong malah mubajir. Gak kemakan. Udah buruan potong."


"Iya."


WR mulai mengawali memotong dan mengambil bagian paling atas tumpeng tersebut dan meletakannya dipiring. Tidak lupa dia mengambil beberapa ayam telur dan lainnya.


"Ih, suapin aku dulu." Ucapku ketika aku melihat WR mengucap basmalah dan hendak menyantap nasi kuning tersebut.


"Emang harus ya?"


"Iya. Biar so sweet."


"Yaudah nih." Satu suapan nasi diarahkan nya kemulutku.


"Nah gitu dong. Udah ayo yang lain makan aja sok ambil." Titahku pada kedua temanku dan pacarnya yang sedikit banyaknya berjasa dalam acara malam ini.


"Kue pesananku mana?" Tanyaku pada WR setelah membereskan piring bekas makan.


"Kue apa?" Tanyanya heran.


Aku mengingatkan nya perihal kue yang aku minta padanya nanti dihari ulang tahunnya. Kue tart dengan toping beraneka macam buah yang aku lihat saat mengantarnya membeli kue untuk dosennya.


"Aku kan gak tau kamu mau kasih aku kejutan kaya gini." Dalih WR.


"Terus. Kue nya gimana?"


"Besok beli."


"Asiik."


Setelah selesai mengabiskan nasi tumpeng buatanku. Kami pun mulai menyantap beberapa buah buahan yang tadi dibawa Wanto. Dan seperti menemukan waktu yang tepat. Tiba-tiba saja Simi berjalan kerarah lemari nya dan mulai mengeluarkan kue tanpa lilin yang sedari tadi dia sembunyikan diatas tumpukan bajunya.


"Selamat Anniversary." Ucap Simi pada Mathew yang tidak menyadari bahwa kekasihnya itu tengah berdiri dengan satu buah kue.


Mathew tampak terkejut melihat Simi memberinya kue. Sepertinya Mathew tidak menduga akan mendapat kejutan juga dari kekasihnya itu. Mathew meminta Simi untuk duduk disampingnya agar bisa memotong kue tersebut dengan segera.


Mathew dan Simi mulai memotong kue tersebut bersamaan dan mulai membagi bagikannya. Karena perut terasa kenyang, jadi kue tersebut belum habis dan masih tersisa setengahnya.


Simi kemudian mulai membuka kado yang diberikan oleh Mathew padanya. Sebuah kamera instax menjadi pilihan Mathew untuk dijadikan hadiah pada kekasihnya itu.

__ADS_1


"Aku gak dikasih kado?" Tanya WR yang sepertinya ditujukan untukku.


"Ah. Iya, lupa. Tunggu sebentar." Sebenarnya aku tidak lupa perihal kado tersebut dan sedang menunggu moment yang pas. Hanya saja melihat Simi membuka kado membuat WR akhirnya mengajukan pertanyaan tersebut padaku.


"Eh ada beneran? Aku cuma boongan ay." Ucapnya sembari menahan tanganku.


"Tutup mata dulu. Awas kalo ngintip." Titaku.


Ku ambil satu parsel kado yang ditutupi kain dan mulai mengarahkannya kehadapan WR.


"Buka." Ucapku.


Perlahan lahan WR membuka matanya dan berbarengan dengan mulutnya yang terbuka seolah tidak percaya menyaksikan satu parsel berisi kado berada didepannya.


"Banyak banget." Ucap WR.


"Haha, gak apa apa. Ayo buka." Titahku.


"Ini yakin mau dibuka? Dipajang ajalah."


"Jangan. Ini kan barang kepake semua."


"Yaudah deh."


WR mulai membuka pembungkus parsel tersebut dan mulai memilih hadiah mana yang terlebih dulu akan dia buka. Pilihannya tertuju pada botol kaca berisi surat ucapan dariku. Dibukalah botol tersebut dan diambilnya gulungan kertas yang berada didalamnya. Tampak dia tersenyum ketika membaca ucapan yang tertulis di potongan kertas tersebut. Kemudian dia memasukan gulungan kertas itu kembali ke botol dan mulai membuka kado yang lainnya, satu persatu hingga selesai semua.


Setiap satu kado yang dibuka, dia selalu tersenyum kearahku dan berkata bahwa dia sangat menyukai apa yang aku berikan.


WR langsung mengganti jam tangannya dengan jam yang baru saja aku berikan. Begitu pula dengan isi dompet nya yang langsung dikeluarkan dan digantikan pada dompet baru nya.


"Tas nya buat gue aja, R." Ucap Wanto


"Ribut aja yuk." Jawab WR


"Hahaha ngeri." Balas Wanto.


Tidak terasa obrolan dan candaan mengalir begitu saja hingga tanpa terasa satu persatu dari kami mulai menguap.


" Ay. Besok aku kesini. Katanya kamu mau beli kue. Btw, makasih ya." Ucap WR


"Sama sama." Jawabku lembut.


"Yaudah tidur. Besok aku jemput." Tutur WR sembari beranjak dari duduknya.


"Ayo pulang. Biarin mereka tidur." Ajak WR pada Wanto dan Mathew.


"Siap. siap." Seru mereka berbarengan.


Kulambaikan tangan melepas kepulangan WR. Lega rasanya telah berhasil membuat sesuatu untuk WR. Semoga dia senang.

__ADS_1


__ADS_2