WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
37 - Tes Tulis


__ADS_3

Entah sejak kapan aku berdiri mematung dihadapan sebuah cermin yang menggantung didinding kosanku. Sebuah celana bahan berwana hitam dan kemeja berwarna putih telah melekat ditubuhku beberapa waktu yang lalu. Tiba waktunya aku harus menjalani tes pertama dari lomba guru berprestasi yang akan aku ikuti. Selama 7 hari ini, aku sudah pelajari semua materi yang Miss Mala sampaikan padaku.


"Bagaimanapun hasilnya nanti, yang terpenting aku sudah berusaha semampuku." Sebuah kata kata yang aku tujukan untuk menyemangati diriku sendiri.


Ku ambil lipstik berwarna Peach yang tadi sempat aku pinjam pada Simi dan mulai mengolesnya secara bergantian dibibir atas dan bawahku. Sebuah bedak yang masih dimiliki Simi-pun menempel dengan tipis dibagian wajahku. Aku memang hampir tidak pernah Makeup. jika ada acara tertentu saja aku mengunakan makeup. dan biasanya aku hanya akan memintanya pada Simi ataupun Nina. Perlengkapan Makeup mereka cukup banyak soalnya.


Ku arahkan tatapan ku pada sebuah jam yang menempel didinding bagian kiri. Tampak jarum pendek dari jam tersebut mengarah pada angka 6 dan jarum panjangnya berada diantara angka 6 dan 7. Masih ada waktu satu jam lagi untuk memulai lomba hari ini. Tampak Simi sudah siap sedari tadi untuk menemaniku, sesuai dengan permintaan Miss Mala.


Ku ambil sebuah blezer berwarna hitam yang tadi sempat aku gantung di sebelah cermin. Setelah mengenakan dan memasang tiga buah kancingnya, ku ambil kerudung berwarna hitam ku dan mulai mengenakannya. Ku ambil sebuah jarum pentul berukuran kecil yang terselip diantara cermin dan kayu yang menjadi bingkainya. kutarik bagian ujung kanan kerudung ku dan menempelkannya diblazer bagian pundak menggunakan jarum pentul tersebut. Hal serupa aku lakukan pula pada ujung kerudung bagian kiriku.


"Aku sudah siap untuk mengikuti lomba ini." Gumam ku dalam hati sembari menatap diriku sendiri yang berada didalam cermin.


"Lets go Sim," Ucapku seraya mengambil sebuah tas berwarna hitam yang tergeletak dilantai.


"Berangkat," Jawab Simi.


Aku berjalan keluar sembari mengenakan pantofel dengan tinggi 5 centi. Tas yang aku kenakan kali ini cukup berat, lain dengan biasanya. karena berisi beberapa buah hardcopy perangkat pembelajaran.


"Lu yang nyetir, Sim. Gue lemes." Ucap ku dengan wajah memelas.


"Alah, lebay lu. Cuma mau lomba doang. udah kaya mau lahiran. Selow aja, Menang sukur. gak menang yaudah." Ucap Simi sembari tertawa diakir kata.


Simi tidak jadi menarik gas motornya karena melihat sebuah motor masuk kearah kosan ku.


"WR. Ngapain?" Tanyaku ketika melihatnya datang.


"Udah mau berangkat?". Tanyanya sambil menghampiriku dan menyimpan motornya didepan gerbang.


"Iya. Takut." jawabku masih duduk diatas motor.


"Santai aja, Lakukan yang terbaik." Ucapnya yang hanya aku balas dengan anggukan penuh keraguan.


"Yaudah, aku pulang dulu." Ucapnya sambil berlalu mengendarai motor JupiterMx miliknya dan disusul motor milik Simi yang melaju dibelakangnya walaupun beberapa saat kemudian arah kami berlawanan.

__ADS_1


***


Sekitar 15 menit Aku dan Simi menempuh perjalanan, tibalah aku di sebuah TK (Taman Kanak Kanak) Percontohan.


Jika mengaku pada lokasi yang dikirimkan oleh Miss Mala, sepertinya benar ini tempatnya. Sudah ada banyak motor yang terparkir disana. Beberapa orang dengan pakaian yang sama sepertiku-pun mulai tampak. Aku dan Simi mencoba mengikuti mereka dengan tujuan untuk bisa menemukan ruangan untuk tes tulis nanti dilaksanakan.


Tampak dari kejauhan sebuah kerumunan orang orang yang berseragam sama sepertiku dan ada juga yang berbeda, tengah berkumpul didepan sebuah ruangan.


Langkah ku tiba tiba saja terhenti menyaksikan orang orang tersebut yang seperti nya jauh lebih tua dan berpengalama dariku.


"Kita balik lagi aja yuk, Sim." Pintaku pada Simi dengan keringat yang mengucur deras dibagian dahi.


"Haha Soak lu ya." Ledek Simi seolah mengetahui kekhawatiranku.


Aku berbalik dengan niat untuk membatalkan lomba tersebut. Belum sempat kaki ku melangkah, tiba tiba saja ponsel yang berada di saku celana ku bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Miss Mala. Seolah mengetahui kebimbangan yang tengah aku alami, dia tiba tiba saja menelpon dan langsung memberiku motivasi. "Kamu pasti bisa, Tiya. Saya gak pernah salah pilih orang sebelumnya. dan saya yakin kalo saya juga gak salah milih kamu." Ucap Miss Mala diseberang sana.


Ku tutup telpon darinya dengan sedikit rasa percaya diriku yang muncul karena beberapa kata kata darinya.


Aku melangkah mendekati ruangan tersebut. Tampak beberapa orang guru tengah sibuk membolak balikan halaman buku yang mereka bawa.


"Engga ah, udah." Jawabku gugup.


Dua orang wanita berpakaian paling berbeda baru saja tiba dengan memeluk beberapa map berwarna coklat, salah satu diantara mereka berhenti diantara kami dan berkata : " Ayo masuk ibu-ibu. Yang gak ikut lomba silahkan tunggu diluar ya." Ucapnya dengan senyum dan diiringi oleh beberapa orang peserta lainnya.


Aku bengong memperhatikan semuanya, seolah tidak percaya bahwa aku ada disini untuk bersaing dengan mereka, para guru yang usianya jauh lebih tua dariku. Aku bisa apa?


"Heh, bengong, lagi. Masuk sana." Simi mendorong pundak kanan ku dengan pelan. Aku tersadar bahwa kini hanya aku yang berseragam hitam putih yang masih berada diluar ruangan.


"Doain gue, Sim." pintaku sambil menatapnya.


"Ya Allah. Semoga Si Tiya menang, aamiin." Simi menganggkat kedua telapak tangannya dan mengusapkannya kewajah.


Aku bergegas menuju ruangan tersebut. Ku hitung, ada 6 kursi dibagian depan dengan 5 kursi dibagian belakangnya. Mungkin ada 30 peserta yang mengikuti lomba tahap pertama ini.

__ADS_1


Astaga, hanya tersisa dua buah kursi kosong yang tepat berada didepan meja pengawas. Ah, coba saja aku masuk lebih dulu pasti aku akan memilih untuk duduk dibagian paling belakang. Atau kalo tidak pun tidak harus dibagian paling depan seperti ini. Kursi kosong ini tersisa satu buah lagi. Milik siapa?


Seorang gadis yang sepertinya seusiaku berlari dengan terburu-buru memasuki ruangan tes setelah sebelumnya mengucap salam.


"Maaf, bu. Saya terlambat." Ucap gadis itu kepada dua orang pengawas yang tengah duduk sedikit jauh dihadapanku.


"Iya. Gak apa-apa. Silahkan duduk." Jawab salah satu dari dua orang pengawas tersebut.


Hanya tersisa satu buah kursi kosong yang berada disebelahku. jadi mau tidak mau dia harus duduk berdampingan dengan ku.


"Dessy," Ucap gadis itu seraya mengulurkan tangannya padaku.


"Tiya," jawabku dengan senyum dan menjabat tangannya.


Karena semua peserta sudah hadir, petugas yang duduk didepanku meminta untuk masing masing peserta mengumpulkan perangkat pembelajaran seperti yang sudah di syaratkan.


Sebuah tumpukan hardcopy telah tersusun rapi diatas meja yang ditempati pengawas tadi. Mereka berdiri dan mulai membagikan soal satu persatu kepada peserta lomba test tulis kali ini.


Tiga lembar kertas yang di steples menjadi satu bagian sudah berada dalam genggamanku. Ku tarik nafasku dalam dalam dan mulai berdoa dalam hati "semoga aku bisa berhasil melewati tes ini."


Kubuka mataku dan mulai mengarahkan pandangan pada kertas soal yang nantinya harus aku isi. Ada 50 soal dengan bentuk pilihan ganda dan 10 soal essay yang harus aku selesaikan dalam waktu 60 menit.


Ku ambil pena yang berada didalam tas dan mulai menuliskan nama dan asal sekolahku dikertas bagian atas. Kubaca satu persatu soal tersebut. Hampir 50% dari soal yang tertulis dikertas itu, sudah bisa aku yakini kebenaran dari jawabannya karena materi tersebut sudah aku pelajari. Walaupun ada beberapa soal yang aku sendiri tidak tau jawabannya. Sempat beberapa kali aku menghitung kancing blazer ku. Tapi jawabannya selalu sama, yaitu C.


40 menit sudah ku habiskan waktu ku untuk menyelesaikan soal pilihan ganda tersebut. Masih ada waktu 20 menit lagi untuk ku menyelesaikan essay. Tiba-tiba saja Dessy berdiri dari duduknya.


"Aku duluan ya," Ucapnya sambil tersenyum kearahku.


"Ah... iya." Aku sedikit terkejut mendengar perkataannya. Cepat sekali dia menyelesaikan soal soal tersebut. Aku mulai panik melihatnya sudah mengumpulkan lembar jawaban tersebut.


Ku arahkan pandangan ku keluar, terlihat Simi tengah mengepalkan kedua tangannya dengan gerakan bibir yang seolah-oleh berkata "Semangat" yang terlihat dibalik jendela kaca dengan kusen kayu yang mengelilinginya.


Kembali ku arahkan tatapan ku pada essay yang belum sempat aku isi satu pun. Untung saja, essay kali ini lebih banyak meminta pendapatku sebagai seorang guru, hal tersebut memudahkan ku untuk mengarang bebas di halaman tersebut.

__ADS_1


Lima soal sudah berhasil aku selesaikan. Tampakn satu persatu dari peserta mulai mengumpulkan lembar jawaban miliknya. Aku mencoba untuk memfokuskan diriku mengisi soal soal yang tersisa semampuku. waktu masih tersisa beberapa menit lagi ketika aku sudah berhasil menyelesaikan semua soal-soalnya. Tanpa memeriksanya kembali, langsung saja ku kumpulkan lembar jawaban tersebut kedepan.


Lega rasanya telah menyelesaikan tes tulis kali ini dengan lancar. Walaupun aku tidak tahu hasilnya akan seperti apa. yang terpenting aku sudah berusaha.


__ADS_2