WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
19 - Pilih Aku Atau Dia


__ADS_3

Hari ketiga pertengkaran itu, WR datang menemui ku. Aku menyambutnya dengan expresi datar. Expresi yang baru kali ini aku tunjukan. Dimana biasanya aku menunjukan expresi gembira menyambut kedatangan nya.


Dia berjalan masuk dan duduk tanpa menunggu perintah dari ku. Aku ikut duduk di hadapan nya yang sedari tadi diam membisu.


"Mau ngomong apa?" tanyaku sambil mengangkat kelapa nya dengan tangan agar dia mau menatapku. Menatap kekecewaan yang terpancar dari kedua mataku. Aku ingin dia melihatnya, melihat rasa sakit yang aku alami atas kelakuan nya. Sebentar dia menatapku dan kembali menundukan kepalanya.


"Mau ngomong, gak?" tanyaku kesal. Dia hanya menggeleng pelan.


"Yaudah, pulang. Ngapain kesini," aku bersiap menarik tangan nya agar keluar.


"Namanya, Siska," kata katanya membuat ku terdiam. Dengan posisi menunduk dia memulai ceritanya.


"Dia mantan aku waktu SMA." WR menarik nafas nya dalam dalam dan terdiam sejenak. Seolah sedang merangkai beberapa bait kalimat yang akan dia sampaikan padaku.


"Tiya, Inget gak. Pertama kali aku minta no kamu. Aku udah suka sama kamu. Makanya nekat nyamperin Tiya ke kelas dan minta no kan?". Dia menghentikan kata katanya dan menatapku. Aku mengangguk pelan, memberikan jawaban dari pertanyaan nya.


"Saat itu, temen ku sms. Katanya dosen udah masuk. Akhirnya aku pergi sebelum dapetin no kamu."WR diam setelah itu.


"Terus?" Aku sudah tidak sabar mendengar penjelasannya lebih banyak lagi.


"Ya aku jomblo, lah. Terus, sebulan sebelum ketemu kamu. Tiba tiba, Siska sms. Bilang kalo dia masih sayang sama aku. Yudah, aku terima. Kita balikan juga lewat hp. Gak ketemu sama sekali. Eh taunya ketemu Tiya, disini. Aku seneng banget. Kaya peluang aku buat deket sama Tiya terbuka kembali." WR kembali terdiam beberapa saat. aku mencoba mendengarkan penjelasannya dengan seksama.

__ADS_1


"Apalagi pas Tiya sering minta bantuan aku. Aku seneng bisa bareng bareng sama Tiya. Aku udah niat mau mutusin Siska. Cuma, aku ngerasa gak enak kalo harus mutusin dia lewat hp. makanya aku tunggu moment kepulangan dia barulah nanti aku ketemu dan ngomong langsung. Tapi, Tiya keburu tau dan salah paham duluan." tambahnya sambil sesekali berhenti, menarik nafas.


"Terus?" tanya ku pura pura cuek mendengar penuturan nya.


"Terus apa lagi? Aku udah jujur sama kamu. Aku udah ceritain semuanya sama kamu." jawabnya menatapku.


"Kamu pilih aku atau dia,"


"Aku kan udah bilang kalo aku bakal mutusin dia. Apa kalimat itu kurang jelas buat kamu artikan bahwa aku pilih kamu."


"Jadi, Selama ini. Aku cuma selingkuhan, kamu?"


dia hanya terdiam. sepertinya terlalu berrat untuk WR berkata "iya".


"Iya. Tapi sekarang kamu sudah jadi satu satu nya pacar aku. kemarin aku udah ketemu dia dan mutusin dia. Siska nangis tapi aku bisa apa."


Aku tersenyum kecut mendengar penuturan nya.


"Siapa yang bisa menjamin, kalo kamu gak bakal berhubungan lagi sama dia. kamu bisa saja sms tlpn dia tanpa sepengetahuan aku, kaya dulu." Rasa kesal dan amarah masih terasa oleh ku. Bukan hal yang mudah untuk aku melupakan kejadian tersebut.


Diluar dugaan ku. Dia mengambil hp nya dan mengelurkan kartu sim yang ada didalamnya.

__ADS_1


"Ini kan? No dia ada di kartu ini. Semenjak punya hp sampe sekarang aku gak pernah ganti kartu. Demi kamu Tiya..," Dia menghentikan kata kata nya.


KREK


Dia mematahkan kartu sim nya. Aku tertegun melihat tindakan nya. Mungkin dia bingung harus berkata apa lagi. Karena semuanya sudah dia jelaskan. Sedangkan, aku masih belum memaafkannya.


"Kamu, ih. Ngapain, sih,?" Aku berusaha meraih potongan kartu Sim tersebut. Mungkin masih bisa diperbaiki. Tapi, WR lebih memilih untuk membuang kartu tersebut keluar.


"Gue lebih sayang, lu. Dari pada kartu itu. Kalo kartu itu bikin Lu gak percaya sama gue, Yaudah. Gue ancurin aja kartunya." jawabnya seperti menahan tangis. Tampak genangan air di netranya.


Aku tersenyum dan entah kenapa rasa penasaran ku kembali muncul. Aku ingin menguji nya lebih jauh lagi.


"Kamu fikir. Aku, bodoh? Bisa aja, kan. No cewe itu udah kamu save di tlpn."


Dia menatapku tajam, dan


BRAKK !!


Dia melemparkan hp nya ke tembok. hingga layar nya pecah dan tutup hp nya terpental.


"Kamu, ih. Apa apan sih," aku merasa bersalah. Karena telah memancing nya melakukan hal senekat itu.

__ADS_1


"Aku gak butuh hp. Aku butuh nya kamu. Aku gak mau hp. Hp cuma bikin kamu jauh dari aku. Tiya.," dia menatapku . "Aku sayang kamu, Tiya. Please, jangan tinggalin aku,"


Aku terdiam, bisu dan mematung kala itu. dia menangis di pangkuan ku sambil berkata tidak ingin kehilangan ku.


__ADS_2