
Hari hari berlalu dengan begitu luar biasa. Aku tak memperdulikan lagi perihal Arega yang mengubungi ku atau tidak. Toh aku sudah tidak membutuhkan nya, sudah ada WR disini yang selalu ada disaat aku membutuhkan nya.
Tidak terasa malam minggu kembali tiba. Sebenarnya Arega berniat menjumpaiku kala itu. Hanya saja, aku berkata bahwa aku sedang tidak ada dikosan "pulang kampung" kataku. Padahal, tentu saja aku berbohong. Lebih menyenangkan menikmati malam minggu bersama WR dibanding dengan nya.
WR selalu menyuguhkan hal hal baru yang belum pernah aku rasakan sebelum nya. Cara nya mencintai ku berbeda dengan kebanyakan orang pada umum nya. Ya, aku rasa begitu.
"Minggu besok ikut ya," ucap WR tiba tiba.
"Kemana?"
"Ada, deh. Seru pastinya. Ajakin juga Nina sama Simi,".
"oke,"
***
Seminggu berlalu, tiba hari dimana WR mengajak ku pergi bersama semua teman teman nya. Hanya Nina yang ikut menemaniku karena simi mendadak harus pulang setelah mendengar kabar bahwa ibu nya sedang dalam perawatan.
Sudah ada sebuah bus terparkir dijalan. WR bilang, itu bus yang akan aku tumpangi bersama dengan Nina dan teman teman nya yang lain.
"Aku? kamu gak ikut?" Tanyaku heran.
"Aku naik motor,"
"Kok gitu. Terus aku di mobil sama siapa kalo kamu naik motor,".
"Kan ada Nina. Aku harus naik motor. biar gampang kalo ada perlu apa apa,".
Dengan terpaksa aku menyetujui keinginan nya. Aku sudah terlanjur bersiap siap dengan membawa beberapa pasang baju ganti di tas. Karena WR bilang, kita akan menginap dua tiga hari disana.
Sepanjang perjalanan, Nina lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Alex. Ah, harusnya aku juga bersama dengan WR saat ini. Entah kenapa dia malah memilih menggunakan motornya.
Berdasarkan hasil obrolan yang Nina dapat dengan Alex. Ternyata, kita pergi bukan untuk berwisata. Namun untuk sebuah pelatihan. Yaa, semacam penerimaan anggota baru untuk arganisasi nya. Pantas saja dia sampai menyewa bus segala.
***
Malam hari, kami tiba disebuah tempat yang baru pertama kali aku datangi. Tempatnya luas dikelilingi oleh sawah yang terbentang sejauh mata memandang. Aku bersiap siap turun dan mengikuti arahan salah satu teman WR untuk menyimpan barang bawaan kami kedalam kamar. Ada dua ruang kamar yang besar. Satu kamar untuk putri dan satu kamar lagi untuk putra.
Setelah menyimpan tas, aku berlalu keluar dan mencari WR. Nina tidak mau menemaniku keluar dengan alasan ingin istirahat karena terlalu lelah. Padahal jarak yang kami tempuh hanya membutuhkan waktu 3 jam saja.
"Kak Tiya, nyari bang WR ya?" tanya salah seorang gadis yang berkaos kan sama dengan beberapa orang yang ada disana. mungkin panitia, Fikirku.
"Belum nyampe kak. Tadi pas kita berangkat Bang WR balik dulu kerumah nya. Gak tau mau ngapain,".tambah gadis itu sebelum aku sempat menjawab.
Aku memutuskan untuk duduk di teras Aula, sambil menunggu kedatangan nya. Ada beberapa orang yang meminta ku agar istirahat saja, karena besok pagi pagi sekali akan ada sebuah acara. Tak ku dengarkan saran mereka, aku masih tetap disini menunggu WR tiba.
Mungkin satu jam lamanya aku menunggu, hingga suara motor yang mungkin aku kenal itu mulai terdengar.
"WR," gumam ku ketika mendengar beberapa orang berkata "Bang WR, baru nyampe. Astaga,"
Aku menoleh dan terdiam melihat WR datang bersama seorang wanita yang duduk di jok belakang. Setan? Bukan, sepertinya dia wanita sungguhan. Ingin sekali rasanya aku pergi. Tapi, hati meminta ku untuk tetap disini menunggu dia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kok belum tidur?" tanya nya ketika melihat ku berada diluar ruangan.
"Kamu kok baru nyampe? Dia siapa?" tanya ku padanya. Gadis itu menatap ku dan tersenyum.
"Dia Puput. mau ikut kesini juga, cuma ketinggalan. makanya tadi aku jemput dia dulu kerumah,"
Jemput? kerumah nya? Astaga, apa jangan jangan selama ini WR baik terhadap semua wanita. Kenapa begitu? Kenapa bukan aku yang dibonceng nya? kenapa malah wanita itu.
__ADS_1
Aku memutuskan untuk kembali ke kamar karena tampak nya WR juga tengah sibuk mempersiapkan sesuatu, entah apa.
Nina dan beberapa orang mahasiswi sudah pulas ketika aku tiba di kamar. Ku lihat gadis yang bersama WR tadi masih duduk dengan memainkan gawai nya.
"Tiya, ya?" sapa nya ketika melihat ku datang.
Aku hanya tersenyum sinis kepadanya. Bagaimana, aku bisa berbaik hati pada gadis yang sudah berani duduk berdekatan dengan pacarku. Ya pacarku, anggap saja begitu.
"Kenalin, Aku Puput. Temen nya, WR" dia menjulurkn tangan nya padaku.
kuraih tangan nya dan kami saling berjabat.Aku tak menyebutkan namaku karena dia sudah menyebutnya di awal pembicaraan kami.
***
Rasanya baru beberapa jam aku terlelap. Ayam pun belum sempat berkokok. Matahari juga masih nyaman di tempat peristirahatan nya. Tapi, beberapa orang sudah masuk ke kamar dan meminta kami bersiap siap.
Aku terbangun dan melirik jam di dinding yang masih menunjukan pukul tiga dini hari.
Aku dan beberapa orang lainnya, yang terdiri dari wanita dan pria. Berkumpul disebuah lapangan yang tidak terlalu terang. Kami diharuskan membentuk barisan yang terdiri dari 5 orang. Ku taksir mungkin sekitar ada 40 peserta jika dilihat dari banyak nya barisan.
"Cowo push up, cewe skot jump. Pemanasan dulu," ucap seorang laki laki yang tidak aku kenal.
Dimana WR, dimana Alex, kenapa semua orang yang berdiri dihadapan ku terlihat asing.
Salah satu kelemahan ku yaitu tidak bisa melakukan hal yang berkeringat dalam kondisi perut kosong. Dari kemarin sore perutku belum terisi. wajar jika baru beberapa kali skot jump tubuh ku mulai mengeluarkan keringat dingin.
"Nina, kepala gue pusing," aku mencoba berpegangan pada Nina karena aku semakin kehilangan kekuatan untuk menopang tubuh ku sendiri.
Aku tak kuasa menahan lemah, hingga akhirnya aku terjatuh ke tanah " Tiya, Tiya," suara Nina yang khawatir sambil mengoyang goyangkan pundak ku masih terdengar walau samar. pandangan ku semakin buram.
"Bang Tolongin, Tiya." Teriak Nina kepada siapa saja yang berada disana.
***
Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri, aku terbangun dengan posisi Nina berada disamping kanan dan puput disamping kiri.
"Tiya, udah baikan?" tanya Nina dan puput saling bergantian. Aku mencoba tersenyum semampuku.
"Tadi Bang WR disini. nungguin Tiya gak sadar sadar, Barusan keluar, ada yang manggil. gatau mau ngapain". Nina seolah mengerti apa yang ingin aku ketahui.
"eh itu bang WR," ucap Puput yang membuat senyum ku kembali merekah
"Tiya, kenapa?" sambil berjongkok didekat kaki ku dia bertanya.
"Gak apa apa. Tadi WR kemana? Aku nyariin, tau," rengek ku dengan manja.
"Tidur," jawab nya dengan tersenyum
"Yaudah. Tiya, istirahat aja ya. Nina disini aja jagain Tiya. gak apa apa, kan? Aku keluar dulu. masih banyak yang harus dikerjain soalnya," tambah nya lagi.
Setelah memberikan segelas teh hangat yang dibawa nya, dia pun pergi menemui teman teman nya.
***
Aku beristirahat lumayan lama dengan Nina yang setia menemani ku walaupun sambil bermain dengan gawai nya.
mungkin pukul 9 pagi ketika seorang gadis datang dan memberi tahu ku bahwa waktu sarapan sudah tiba.
Nina membantuku untuk berdiri. Jami bersiap keluar untuk sarapan. Diluar sudah ada beberapa pelapah daun pisang lengkap dengan nasi dan lauk pauk nya.
__ADS_1
"laki laki di kanan, perempuan di kiri," ucap Bang Eman yang entah sejak kapan dia berada disini. Karena setauku, tadi malam aku tidak melihatnya.
Bang Eman tersenyum ke arah ku dan mempersilahkan aku duduk. "Tiya disini aja deket Ketua," Ketua yang Bang Eman maksud adalah WR. Hampir semua orang yang berada disini memanggilnya dengan sebutan 'Ketua" kalau tidak "Abang" hanya aku yang menyebutnya "WR" itupun atas permintaan nya.
"Gausah Bang. Tiya disini aja bareng anak anak cewe," Ucapku sambil tersenyum. Karena saat itu ,WR juga belum terlihat hanya tempat untuk nya sudah disiapkan.
Satu persatu orang orang mulai berdatangan dan duduk mengelilingi menu sarapan pagi ini.WR tiba paling akhir, dia hanya melihat ku dan tersenyum tanpa berkata apa apa lagi. Setelah pembacaan doa yang di pimpin oleh nya, kami pun menyantap makanan itu bersama.
Aku selesai paling awal. Karena memang, aku sedang merasa tidak enak badan. Aku pamit kembali ke kamar dan di "iya" kan oleh beberapa orang disana.
Aku kembali ke kamar dan mencoba mencari hp ku yang ternyata mati. Entah sejak kapan hp itu mati. ku cari charge dan mulai mencarge hp ku.
Beberapa saat kemudian Nina masuk ke kamar dan memberitahu ku bahwa ada acara nobar (nonton bareng) film sejarah. Malas sebenarnya aku kesana, hanya saja untuk apa juga aku berdiam diri dikamar dengan hp mati dan WR yang sibuk kesana kemari, hingga tak sempat mengobrol lama dengan ku.
***
Sekitar 2 jam film itu selesai di putar. Semua peserta di perbolehkan untuk kembali ke kamar.
"Hp gue ilang, Nina," ucap ku ketika melihat hp yang tadi aku charge sudah tidak ada di tempatnya.
Nina menganggap bahwa aku lupa menyimpan nya padahal aku ingat betul bahwa tadi aku mencharge nya.
"bilang Bang WR, aja," saran dari Nina yang langsung ku setujui.
Setelah berkeliling Aula, aku tidak menemukan nya, Ternyata, dia ada di sebuah kursi dibawah pohon yang rindang bersama teman teman nya.
"WR" panggilku dari kejauhan karena merasa malu jika harus menemuinya.
Dia menengok ke arah ku dan langsung berjalan ke arah ku.
"Hp aku ilang," kata ku dengan cemas.
"Ini," dia mengeluarkan sebuah hp dari saku nya.
"Kok ada dikamu, sih,?" tanya ku heran.
"Kamu belum putus ya sama cowo kamu?" tanya nya yang membuat ku terkejut.
"Udah putus, kok," jawabku berbohong. Karena jujur, aku belum memutuskan hubungan ku dengan Arega saat itu. Aku masih bingung bagaimana cara mengakhiri nya. Hanya saja akhir akhir ini, memang aku sudah bersikap cuek kepada nya dan berharap dia akan marah lantas menyudahi hubungan kita, tapi nyata nya tidak.
"Banyak pesan dari dia, Kangen katanya," ucapnya dengan santai.
langsung ku periksa hp ku dan benar, ada beberapa pesan dari nya yang mengatakan bahwa di kangen dan ingin bertemu dengan ku. Mungkin pesan ini dikirimnya sewaktu hp ku mati, karena sebelum itu aku selalu teliti untuk menghapus semua pesan darinya ataupun balasan dari ku untuk nya.
"Ya kan dia yang kangen bukan aku. Coba liat, aku bilang kangen gak sama dia. dibales juga engga, kan?" Aku mencoba meyakinkan nya dengan sandiwara ku.
"Yaudah. Gausah dibales,"
"Iya,"
"Eh, Selamat ulang tahun, ya?" aku menjulurkan tangan ku untuk berjabat.
Dia tersenyum mendengar ucapan ku, "Kok tau?" tanya nya begitu.
"Puput yang bilang." jawabku.
"Mana kadonya?"
"Dih, gak ada. Kan baru tau."
__ADS_1
"Yaudah. Ngutang, berarti." ucapnya sambil tertawa.