WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
61 - Sakit Part 1


__ADS_3

"MasyaAllah Miss, maafkan saya Miss."


Wanita dengan jilbab panjang itu kini memelukku dengan permintaan maaf yang terus terulang dari mulutnya yang tadi hendak dia gunakan untuk melaporkanku pada polisi. Nada bicaranya yang tadi penuh dengan kekeselan kini berubah menjadi nada penyesalan.


"Gak apa-apa, Mah. Yang penting sudah jelas kalau saya tidak pernah berbuat seperti yang di tuduhkan."


Aku mencoba untuk membuatnya tenang agar tidak terus terusan memelukku dengan mengucapkan kata maaf. Bagiku, dia tidak menuduhku berbuat hal yang tidak-tidakpun sudah membuat aku lega. Ku tatap Miss Mala seolah bertanya apa yang harus aku lakukan tapi Miss Mala hanya tersenyum lebar.


"Saya maafin kok, Mah. ini kan cuma salah faham aja." Aku kembali mengucapkan kalimat yang sepertinya ingin terus didengar oleh ibunda Cecilia. Cecilia kini menatap dengan tatapan heran padaku dan juga ibunya. Sepertinya dia belum paham apa yang tengah terjadi diantara para orang dewasa yang ada disekitarnya.


"Terima kasih, Miss." Ucapnya dengan mengendurkan pelukan dan mulai melepaskanku secara perlahan.


Ibunda Cecilia tampak sangat menyesali kecerobohannya dalam bertindak, beberapa kali dia meminta pengampunan padaku dan juga Miss Mala. Akupun tidak mempermasalahkannya, bahkan disaat Miss Mala menawariku untuk melaporkan Ibunda Cecilia balik dengan tegas aku menolaknya. Biarlah ini menjadi pembelajaran bagi kita semua.


"Semoga lain kali Mama lebih bijak dalam mengambil keputusan." Saran dari Miss Mala kepada ibunda Cecilia.


"Maaf Miss."


"Kalaupun harus berurusan dengan polisi, saya tidak takut. Saya sudah berniat menyewa pengacara untuk membela guru saya." Tambah Miss Mala yang membuat ibu Cecilia menundukan tatapannya.


"Saya yang ceroboh Miss. Ini semua salah saya. Saya yang membiarkan Cecilia menonton tayangan bebas tanpa pengawasan." Sesal Ibunda Cecilia dalam tunduknya


"Makanya, intropeksi diri dulu sebelum menyalahkan orang lain." Sepertinya Miss Mala masih menyimpan sedikit kekesalan pada orang tua murid tersebut.


"Saya janji gak akan kaya gitu lagi, Miss." Ucap Ibu Cecilia dengan terbata.


"Lain kali kalau ada masalah apapun selesaikan dengan jalan lain dulu sebelum mengambil jalur hukum. Coba saja Mama bisa berbicara lebih sopan lagi pada saya dan meminta untuk bertemu lebih dulu tanpa mengembel-ngembeli akan lapor polisi segala. Mungkin saya tidak akan sekesal ini."


"Maaf Miss," Ucap wanita itu lirih.


"Yasudah saya maafkan." Seru Miss Mala.


"Alhamdulillah, MasyaAllah. Terima kasih banyak Miss." Tampak kebahagiaan mulai menghampiri wajahnya yang sedari tadi muram.

__ADS_1


"Kalau begitu saya pamit ya, Miss." Ucap Ibunda Cecilia ketika hendak pulang dari rumah Miss Mala.


"Ya, hati-hati." Jawabku.


Aku dan Miss Mala mengantarkan kepulangannya hingga kedepan pintu rumah.


"Dadah Miss Mala, dadah Miss Tiya." Cecilia melambaikan tangannya kearahku sembari berjalan melenggar keluar gerbang. Tampak sebuah mobil berwarna merah terang telah terparkir disana, mungkin suaminya. Entahlah,


"Aw," Ucapku tertahan ketika merasakan ada sesuatu yang sakit diperut bagian atas. "Masuk angin nih kayanya. " Batinku dalam hati dengan niat akan meminta Simi atau Nina untuk ngerokin nanti.


Selepas kepergiannya aku berbincang banyak bersama Miss Mala mengenai kejadian tadi. Katanya dia sudah bercerita pada suaminya yang ada di Singapura. dan Suaminya berkata : Kalau guru mu benar. Bela dia sepenuhnya. Kalau salah jangan hakimi dia terlalu parah, mintalah penjelasan terlebih dulu dari tindakannya" untuk itu Miss Mala berniat menyawakanku pengacara, karena Miss Mala tau bahwa aku tidak bersalah. Ah, Miss Mala dan suaminya, Terima kasih banyak.


"Simi suruh jemput sini aja. Kamu gak usah ke TK." Ucap Miss Mala seolah tahu bahwa niatku selanjutnya adalah menemui Simi di TK.


"Baik, Miss."


"Mau makan dulu?" Tanya Miss Mala menawariku makan. Aku baru ingat bahwa sedari pagi aku belum makan. Ah, akhir akhir ini jadwal makanku memang barantakan.


Tid - Tid


Suara klakson motor terdengar berulang ulang disertai dengan beberapa kali ketukan pada gerbang. "Pasti Simi dan Nina," Batinku. Aku segera berpaminatan pada Miss Mala saat itu juga dan berjalan keluar menemui Simi dan Nina.


"Salamin sama mereka. Bilang saya masih banyak kerjaan. Mampirnya lain kali aja." Ucap Miss Mala melepas kepergianku.


Aku berjalan keluar dan membuka gerbang, tampak Simi dan Nina tengah duduk diatas motornya.


"Kan gue belum Sms kok udah dijemput sih," Tanyaku ketika sudah berada dihadapannya.


"Ya udah kelar sekolahnya juga," Ucap Simi.


"Iya gitu. gak tau gue. Yaudah ayo balik."


"Gak mampir dulu, lu ada masalah apaan tadi?" Tanya Nina mengintrogasi.

__ADS_1


"Gausah, sibuk. nanti gue ceritain dikosan"


Aku menaiki motor Simi dan pulang bersama dengan cahaya matahari yang bersinar terang. Ku jelaskan semua yang aku alami pagi tadi bersamaan dengan terpaan angin yang terbelah oleh motor. Belum lagi suara dari kendaraan lain, benar benar membuatku harus berteriak ketika bercerita pada mereka. Sebenarnya aku sudah menolak untuk bercerita dijalan dan lebih memilih untuk menceritakannya nanti dikosan. Tapi, jiwa kepo mereka meronta ronta hingga memaksaku untuk menjelaskan semuanya saat itu juga.


"Perut gue sakit," Rintihku tiba-tiba ditengah ceritaku pada Simi dan Nina.


"Mau boker lu?" Tanya Simi.


"Kayanya gue masuk angin atau kelaperan ya, beli makan buru lah." Ucapku sembari memegangi perut.


Simi melaju dengan sangat cepat dan memberhentikan motornya disebuah rumah makan yang berada didekat kosanku. dengan segera aku memilih menu dan membungkusnya jadi satu.


Aku berjalan pulang meninggalkan Simi yang tengah menghidupkan motornya dan Nina yang masih bingung akan makan apa. Keringat mulai bercucuran membuatku beberapa kali harus mengusap mata yang perih terkena keringat.


Ku percepat langkahku dengan sebuah kresek hitam yang berisi makanan. Segera aku mengambil kunci yang ada diatas pintu dan mulai memasukannya kelubang pintu. Aneh, beberapa kali aku gagal memasukan kunci tersebut, hingga Nina dan Simi tiba, akhirnya mereka lah yang membukakan pintu itu.


Kubuka sepatu dengan tergesa dan mulai memasuki kosan. "Kenapa ini? Pandanganku mulai berbayang." Batinku dalam hati.


"Lu, pucet banget. Pake lipstik makanya." Ucap Simi yang baru saja memasuki kosan setelah memarkirkan motornya.


"Ih, bukan pucet gak pake lipstik. itu sih kelaperan. Pea." Nina membalas komentar yang Simi ajukan padaku.


"Buru makan, Tiya." Nina menghampiriku dan mengeluarkan sebungkus nasi dari plastik serta membukanya. "Ayo makan dulu," Tambah Nina.


"Ambilin sendok Sim," Titah Nina pada Simi. Dengan segera Simi mengambil sendok dan melemparkannya kearahku.


Ku raih sendok yang tergeletak dihadapanku dan mulai mengambil sedikit nasi yang ada didepanku.


Teng -


Sendok yang aku pegang jatuh bersama nasi yang berceceran. Kenapa rasanya tanganku lemas sekali. Bahkan untuk mengangkat satu sendok nasi saja aku tidak kuat.


"Tiya, Tiya," Simi dan Nina mulai memanggilku secara bergantian tapi rasanya aku tidak punya kekuatan untuk sekedar menjawab panggilannya. Kepalaku terasa berat. rasa sakit diperutku kian bertambah, pandanganku mulai tidak karuan, hingga aku tidak mampu lagi menopang tubuhku bahkan dalam keadaan duduk seperti ini dan tiba-tiba saja semuanya berubah menjadi gelap, gelap hingga aku tidak mengingat apa-apa lagi.

__ADS_1


__ADS_2