WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
81 - Hinata Part 1


__ADS_3

Hari itu WR menepati janjinya untuk mengajakku membeli kue yang aku minta padanya dulu. Kurang dari jam 7 pagi, motornya telah terparkir dihalaman kosanku.


"Emang tokonya udah buka?" Ucapku ketika menyambut kedatangannya.


"Gak tau. Tapi aku mau numpang mandi dulu ya. Terus nanti sore mau pulang dulu kerumah."


"Mau ngapain? Kan besok kuliah."


"Malem nya langsung balik lagi. Ada urusan sebentar." Ucap WR beralasan.


Dengan segera, dia menuju kamar mandi dan memberikan dompet beserta ponselnya untuk ku simpan.


ku letakan kedua benda titipan tersebut dan mulai membaringkan tubuhku kembali disebelah Simi yang masih tertidur pulas.


Tiba-tiba, sekilas ku lihat layar handphone milik WR menyala. Mungkin WR mensilentnya, sehingga tidak terdengar bunyi ataupun getaran ketika ada sebuah notifikasi masuk. ku acuhkan notifikasi tersebut dan melanjutkan aktivitasku yang tengah berselancar di dunia maya. kulihat ada sebuah permintaan pertemanan baru pada aplikasi berlogo F atas nama Hinata.


"Hinata? Pacarnya naruto?" Nyinyirku dalam hati.


Ku buka profilenya, tapi tak satupun aku menemukan foto asli dirinya. Dia selalu menggunakan foto Hinata sebagai foto Profilenya. Ku urungkan niatku untuk mengkonfirmasi pertemanan darinya karena aku merasa tidak mengenal siapa dia.


Mungkin bagi sebagian orang ada yang berpendapat bahwa aplikasi tersebut memang untuk menambah teman. Tapi tidak bagiku, hanya orang yang aku kenal saja yang akan menjadi temanku.


Beberapa saat mengstalking akun Facebook milik kekasihnya Naruto itu. Lagi, Layar pintar tersebut kembali menyala untuk yang kedua kalinya sehingga membuatku akhirnya memutuskan untuk melihat notifikasi yang masuk.


Cling..


Dengan memasukan kata sandi yang aku tahu, seketika ponsel itupun terbuka. Ada sebuah gelembung pesan berwarna biru dilayar bagian kanannya. Kutekan icon tersebut dan terpampang lah percakapan antara WR dan Hinata.


Seketika itu juga fikiranku langsung teringat pada Akun bernama Hinata yang baru saja mengirimkan pertemanan padaku. Dengan gusar, ku scrol percakapan mereka hingga paling atas. Tapi tidak ku temukan yang lain selain dari percakapan yang dikirimkannya hari ini.


[Kamu jadi kan nemenin aku sore nanti]

__ADS_1


begitu pesan yang dikirimkan oleh akun bernama Hinata.


Siapa dia? Pantas WR bilang jika dia harus pulang sore nanti. atau jangan jangan urusan yang WR bilang itu tentang perempuan bernama Hinata.


[Kamu langsung kerumah aja, ya.]


Pesan kedua dari gadis tersebut. Jantungku mulai berdebar kencang membaca pesan pesannya. Ada sesuatu yang terasa panas didada ketika menyaksikan itu semua. Ingin sekali aku berlari dan mendobrak pintu kamar mandi hanya saja aku ingat bahwa saat ini dia tengah mandi jadi tidak mungkin aku merealisasikan niatanku itu. Sesegera mungkin ingin ku hujani WR dengan setumpuk pertanyaan yang sudah hampir terbalut dengan amarah ini.


Aku mencoba untuk mengatur nafasku dan berusaha untuk bersikap tenang. Kejadian seperti itu sudah pernah aku alami diawal awal hubunganku dengan WR dulu. Aku tidak ingin berprasangka buruk terlebih dahulu walaupun segala macam fikiran buruk tengah bersarang di otakku saat ini.


Rasanya, jika mengingat semua yang telah WR lakukan untukku sangat tidak mungkin dia akan mengkhianatiku. Tapi gadis itu? Siapa dia. haruskah aku membalas pesannya. atau haruskah aku memarahinya karena telah berani mengirimkan pesan pada WR. apakah Hinata ini mantannya? Tapi seingatku mantannya bernama Siska bukan Hinata. Ataukan mungkin nama panjangnya Siti Siska Hinata? ah sudahlah, fikiranku semakin kacau tidak terarah.


Ku tahan rasa penasaranku yang sudah sangat memuncak dan meletakan kembali ponsel tersebut ketempatnya.


WR keluar dari kamar mandi dengan telah berpakaian rapi yang tadi sempat dia ambil dilemari.


"Baju kotornya aku bawa aja. kan nanti sore sekalian pulang." Ucapnya dengan tangan menggenggam baju yang tadi dia kenakan.


"Yaudah kalo kamu maksa." Ucapnya sembari berbalik kekamar mandi dan meletakan baju kotornya kembali.


"Emangnya sore nanti kamu mau kemana sih?" Dengan kata yang sangat aku tata, aku mencoba untuk menggali informasi darinya sebelum aku menghakiminya nanti.


"Ada urusan." Jawabnya sembari duduk didepan pintu masuk.


Ku hampiri dia agar bisa mengobrol dengan lebih leluasa tanpa harus berbicara keras agar Nina dan Simi tidak terganggu.


"Urusan apa?" Tanyaku lebih jauh.


"Urusan kemanusiaan haha," Jawabnya sembari tertawa.


Rasa kesal dihatiku mulai bermunculan ketika WR tidak membahas sedikitpun tentang akun bernama Hinata yang tadi mengirimkan pesan padanya.

__ADS_1


"Tadinya sore nanti aku mau minta anter kamu, tau." Kali ini aku berasalan untuk tahu siapa yang akan dipilihnya.


"Mau kemana? kan bisa sekarang."


"Gak bisa. Nanti sore kan Simi sama Nina mau jalan jalan sama pacarnya." Semoga kedua sahabatku itu tidak terbangun untuk saat ini, agar kebohonganku tidak terbongkar.


"Yaudah aku gak jadi pulang kalo gitu." Ucap WR menatapku dengan yakin.


"terus urusan kemanusiaannya gimana?" Tanyaku meyakinkan keputusannya.


"Kan Tiya juga manusia. jadi Tiya juga harus diurusin."


"Haha, gitu ya." aku tertawa dengan perasaan yang lega karena WR masih menempatkanku sebagai prioritas utamanya. Paling tidak, sekarang aku sedikit yakin bahwa Hinata tersebut bukanlah siapa siapa dan tidak lebih penting dariku.


"Mandi dulu sana." Titah WR.


"Udah tadi abis subuh." Bantahku.


"Ya cuci muka kek sana."


"Iya"


"Eh handphone aku mana?" Tanya WR.


"Bentar, aku ambilin." Dengan sedikit rasa gugup. Aku ambil ponsel tersebut dan kembali aku buka kuncinya. Ternyata Hinata kembali mengirimkan pesan pada WR karena sepertinya dia menunggu balasan pesan dari WR yang tadi aku abaikan.


"Eh ada inbox nih. aku buka ya."


Tanpa menunggu jawaban darinya langsung saja ku tekan ikon gelembung tersebut sehingga kini status pesannya sudah terbaca. Dengan begitu WR tidak akan tahu bahwa aku sudah membuka pesannya sedari tadi.


"Aduh, sakit perut. Nih, nih handphone kamu." Dengan tergesa gesa ku kembalikan handphone miliknya. Aku memang tidak berniat untuk membaca kelanjutan pesan tersebut. tujuanku hanya ingin membuat WR tidak menyadari bahwa aku telah membaca pesan dari Hinata tadi.

__ADS_1


Ku tutup pintu kamar mandi dan mulai mencuci muka. Siraman air seolah menampilkan gadis bernama Hinata. Aku ingat betul ketika memeriksa akun nya tadi, tidak ada yang aneh ataupun sesuatu yang berhubungan dengan WR. Apa itu karena aku belum berteman dengannya. Tapi jika Hinata mempunya hubungan dengan WR. lalu naruto bagaimana? Ah maksduku, aku bagaimana? Tidak mungkin. WR tidak mungkin mengkhianatiku, apalagi dengan gadis kartun seperti Hinata itu.


__ADS_2