
"Hey, Tiya..'
Seorang gadis dengan baju sama seperti yang aku kenakan memanggilku dari arah gerbang sembari melambai-lambaikan tangannya yang dipenuhi dengan seikat bendera berwarna merah putih lengkap dengan kayu pegangannya. Sedangkan Tangan kirinya sibuk menenteng sebuah kresek berukuran cukup besar dengan karton berwarna merah dan putih yang tidak tertutupi oleh kresek tersebut.
"Dessy, baru dateng?" Sapaku ketika dia sudah tiba dihadapanku.
"Iya. Media kamu banyak banget." Ucap Dessy setelah matanya menelisik kearah barang bawaanku.
"Iya. Tes terakhir jadi harus maksimal," Ucapku dengan tersenyum.
"Iya kamimu bener. Ayo masuk yuk. Katanya suruh kumpul diruang guru." Ajak Dessy padaku.
Aku, Simi dan Dessy mulai berjalan dari parkiran menuju keruang guru seperti yang sudah Dessy sebutkan. Mulai terdengar suara anak-anak bersahutan. Hari ini memang hari jumat dan kegiatan belajar mengajar tentu tidak diliburkan karena kami para peserta akan membutuhkan kehadiran mereka untuk membantu kami dalam tes micro teaching nanti.
Aku menenteng dua buah kresek berisi 5 buah pohon. Sedangkan Simi memilih untuk menyered karung yang berisi tanah.
"Gue ambil sisanya dulu." Kata Simi ketika kita telah sampai diruang guru tersebut.
"Thanks a lot. Sim." Ucapanku yang hanya dibalas oleh sebuah lengkungan dan kedua alis yang terangkat.
Tidak butuh waktu lama untuk Simi mengambil itu semua. Simi tiba dengan membawa sisa barang-barangku yang tertinggal. Aku mulai membariskannya didepan ruangan agar lebih mudah untukku mengambilnya nanti saat tes dimulai.
"Astaga. Simii." Aku sedikit berteriak memanggil namanya.
"Apa sih. lu." Jawab Simi yang baru saja memainkan gawainya.
"Air nya belum beli. Nanti anak-anak gimana nyiramnya." Bagaimana bisa aku lupa membawa sebotol air untuk praktek menyiram nanti.
"Pake air selang," Ucap Simi meledek.
"Ih, serius. Ayo tolong beliin. Takut keburu mulai." Titahku dengan sedikit memohon pada Simi.
"Iya," Jawab Simi.
Simi pergi keluar hendak membeli sebotol minuman. Dessy dan beberapa orang peserta yang lain telah berada diruangan tersebut dengan posisi duduk yang membentuk persegi panjang. Hanya ada sembilan orang yang duduk dengan pakaian PGRI disana, belum termasuk aku.
"Nih, " Simi datang dengan sebuah botol minum berukuran besar.
__ADS_1
"Makasih banyak ya sayang," Aku hendak mengecup keningnya. Tapi Simi menjauh "Najis gue dicium elu," Umpat Simi.
Aku hanya tertawa mendengar umpatannya dan menyimpan air mineral yang dibelikan Simi kedalam kresek pupuk.
"Gue nunggu dimana?" Tanyanya lagi.
"Ke TK aja dari pada lu bete disinikan. Temuin Miss Mala, minta ganti duit lu buat beli sarapan. Gue sih kayanya dapet jatah makan." Ucapku yakin karena melihat beberapa tumpuk kardus kue yang tersusun rapi diatas meja.
"Ok." Simi berlalu sesuai permintaanku.
Aku berjalan memasuki ruangan tersebut dan duduk disatu kursi kosong yang tersisa.
"Sini, " Dessy melambaikan tangannya kearahku. Kursi yang tersisa ini tepat berada disamping kanannya. Mungkin dia yang memilihkannya untukku atau hanya kebetulan saja. Entahlah,
"Temen kamu nunggu dimana?" Tanya Dessy memulai percakapan.
"Pulang, nanti kesini lagi."
"Kita berdua yang paling muda," Dessy sedikit berbisik ditelingaku ketika berbicara hal tersebut.
"Hay," Aku menoleh ketika mendengar suara dari arah kiri.
Seorang wanita yang tampak dewasa seperti peserta lainnya tengah duduk dan tersenyum kearahku. Aku membalas senyumannya setelah memastikan bahwa benar aku yang disapa olehnya.
"Dewi," Wanita itu masih tersenyum dan menjulurkan tangannya kearahku.
Aku meraih tangannya dan mulai memperkenalkan diriku juga "Tiya, bu." Begitu kataku.
"Ngajar dimana?"
"TK pelangi, bu."
"oh yang deket sini ya. kebetulan saya guru di TK IT ini."
Lidahku tiba-tiba saja kaku mendengar penuturannya. "Ah, pasti dia salah satu dari ketiga juaranya nanti." gumamku dalam hati.
Terdengar suara ketukan yang berasal dari sepatu yang beradu dengan lantai. Dua orang wanita memasuki ruangan yang para peserta tempati dengan menggunakan batik berwarna biru, sepertinya mereka panitia lomba kali ini.
__ADS_1
Setelah mengucapkan salam dan mempersilahkan kami menikmati hidangan yang telah disediakan, salah satu dari panitia itu mengeluarkan sebuah toples kecil yang berisi kertas yang digulung kecil semacam undian arisan.
Dia meminta kami untuk mengambilnya secara bergantian dan dibuka nanti secara bersamaan. Toples tersebut diberikan pada peserta yang duduk paling dekat dengannya. Satu persatu para peserta mengambil kertas tersebut dan menggenggamnya. Tibalah aku yang mendapatkan giliran mengambil kertas tersebut. dengan mengucap bismillah aku mengambil satu kertas tanpa dipilih terlebih dahulu. Hingga kertas dari toples tersebut habis. Barulah kita semua membuka gulungan kertas itu secara bersamaan.
"1,2,3 buka." Titah sang panitia.
"Masing masing perserta diberi waktu 20 menit untuk tes micro teaching kali ini. Sudah ada dua orang penguji didalam kelas yang akan menilai performa kalian dalam mengajar. Kerahkan semua kemampuan kalian karena semua peserta yang ada disini sudah merupakan yang peserta yang terbaik. Dari puluhan peserta yang tidak berhasil sampai ditahap ini, kalian sudah cukup luarbiasa bisa berada disini." Panitia tersebut berucap panjang lebar.
Kulihat kembali kertas yang baru saja aku ambil. Benar, angka yang aku dapat adalah nomer 10. Aku mendapatkan bagian paling terakhir. Ah, semoga saja aku tidak terlambat kekampus untuk mengikuti uts ku yang terakhir.
"Yeay aku pertama." Dessy bercerita tanpa perlu aku tanya.
"Wah, enak dong. aku nomer 10 coba."
"Silahkan, Peserta pertama memasuki kelas yang sudah disediakan. Peserta lainnya silahkan bersiap siap." Ucap Panitia.
"Aku duluan ya." Sapa Dessy sebelum berlalu pergi dengan beberapa media yang sudah tersusun rapi.
Para peserta tampak sibuk dengan aktivitasnya masing masing. Kulihat bu Dewi tengah sibuk membariskan berbagai macam mobil mobilan, mulai dari mobil polisi, ambulan, pemadam kebaran dan masih banyak jenisnya dengan mulut yang terus berucap walau tidak terdengar jelas.
Aku tidak bertanya karena takut membuyarkan konsentrasinya, tapi aku menduga jika tema micro teaching nya kali ini tentang Transfortasi, kalau dilihat dari media yang dia persiapkan.
Aku merasa penat berada diruangan yang hampir semua orang sibuk dengan dirinya sendiri, sehingga aku lebih memilih keluar ruangan karena kebetulan Media dan alat peraga yang aku bawa berada diluar ruangan. Setelah memastikan semuanya sudah terkumpul. aku memutuskan untuk bermain gawai dengan tujuan untuk menenangkan fikiranku.
Ku telpon WR berkali kali tapi tidak bisa. panggilannya selalu saja sibuk. Entah dengan siapa dia sedang telponan.
"Tiya," Dessy mengahmpirku dan menepuk pundak kananku.
"Lah, udahan sih?" Tanyaku heran melihat kedatangannya.
"Udah, kamu gak belajar?" Tanyanya lagi.
"Engga ah. Udah dirumah. Eh tadi gimana aja?" Tanyaku dengan antusias.
Dessy menjelaskan dengan rinci dari awal dia salam, penyampaian materi, praktek hingga penutupan. Jika mendengar dari penjelasannya, sepertinya dia akan menjadi juara. Ya, Semoga saja.
Aku kembali bermain dengan handphone ku dan sesekali berbincang dengan Dessy. WR masih belum bisa dihubungi, kenapa? tidak biasanya dia seperti ini.
__ADS_1