WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
18 - Aku Hanya Selingkuhan


__ADS_3

Sudah cuku lama fajar menghilang dan keberadaan nya di gantikan oleh sang surya yang sudah bersiap dengan rutinitasnya menyinari bumi.


Sama seperti sang surya, aku pun sudah siap untuk menjalan kan rutinitas ku. Hari ini hari minggu, aku sudah ada janji dengan Nina dan Simi untuk berolah raga, sekalian jalan jalan. Bosan juga jika harus berdiam diri terus dikosan yang ukuran nya tidak lumayan besar.


"Berangkat..," ucap Simi sambil menarik gas motornya. Kami selalu bonceng tiga kemana mana, jika salah satu dari kami tidak ikut baru lah bonceng dua.


Kami menuju lokasi Car Free Day. Sudah terlalu ramai suasana disana. Nampaknya, kami datang terlalu siang. Akhirnya, kami pun hanya berkeliling saja dan membeli beberapa makanan.


"Gak jadi olahraga, ah. Keburu males," ucap ku yang disetujui oleh mereka.


Setelah cukup lama berkeliling kota, kami pun memutuskan untuk pulang karena ingin segera rebahan. Hari yang melelahkan, padahal aku hanya makan.


***


"Tiya..," terdengar suara dari luar yang memanggil ku. ku tebak pasti itu WR. dan benar saja dia sedang berdiri didepan kosan ku.


"Udah pulang?" tanyaku antusias.


"Udah. Mau numpang mandi boleh, ya? Dikosan ku, antri soalnya."


"Bayar goceng," jawab Nina yang tiba tiba muncul dari belakang.


"Siap," balasnya sambil memasuki kosan dan bersiap mandi.


Setelah menenteng satu set pakaian,lengkap beserta dengan celana nya. Diapun menyimpan jam tangan serta hp nya di sebuah rak didekat pintu kamar mandi.


Entah kenapa saat itu aku ingin sekali memeriksa hp nya. WR masih berada dikamar mandi ketika aku sudah berhasil menggenggam hp nya.

__ADS_1


"Lah, gak dikunci," ucap ku dengan tertahan ketika mengetahui hp nya terbuka begitu saja. Ku urungkan niat ku untuk memeriksa hp nya karena aku fikir tidak ada yang disembunyikan dari nya.


Namun ketika hendak aku simpan kembali, hp tersebut bergetar, ada sebuah pesan masuk. Aku bingung apakah aku harus membacanya atau tidak.


Ku rasa tidak sopan jika aku membuka privasi nya. Tapi, aku ini kan pacarnya. Ku fikir hal yang wajar jika hanya sekedar membuka pesan di hp nya saja.


Ku buka pesan tsb, tangan ku bergetar dengan air mata yang tak tertahan. Aku berlari ke arah Simi dan memeluknya. Simi dan Nina tampak panik melihat aku menangis dengan berderai air mata.


"Lu kenapa?" tanya Simi dan Nina. Ku sodorkan sebuah pesan dengan tulisan "Sayang aku kangen. Besok jadi kan kita ketemu,".


Membaca pesan tsb, Nina dan Simi tidak kalah kaget nya dibandingkan ku.


"Harusnya gue dengerin omongan lu, Simi," ucap ku terbata bata menahan tangis.


Entah mendengar ke ganduhan atau apa tiba tiba saja WR menyudahi ritual mandi nya. Dengan sudah berpakaian lengkap, dia menghampiri ku.


"Pergi kamu dari sini," ucapku sambil melempar hp nya. dengan sigap WR pun menangkap nya


seolah mengetahui reaksi dari tindakan ku, dia pun memeriksa hp nya.


"Tiya, aku bisa jelasin,"


"Gak perlu. Gue gak butuh penjelasan apapun dari lu," sudah bukan aku kamu lagi yang aku gunakan saat itu. Darah ku sudah naik ke ubun ubun, emosi ku memuncak. ingin sekali rasanya aku memaki maki nya namun masih kutahan. Ku lampiaskan ke marahan ku pada benda benda yang ada disekitar ku.


BRAKK !!


suara kipas angin yang hancur karena aku lempar.

__ADS_1


"Tiya, dengerin dulu," dia mencoba menjelaskan sesuatu. Tapi percuma, saat ini telinga ku sedang tidak ingin mendengar apapun dari mulut nya.


"Pergi !" Aku membentaknya sambil menunjuk ke arah pintu. Namun WR tidak bergeming, dia tetap berdiri di depan ku.


PRANG


Sebuah mangkuk bekas sarapan, pecah. Karena aku baru saja menendangnya.


"Pergi dari sini sekarang atau gue hancurin nih kosan," Aku menatapnya dengan tajam. Saat itu, tidak ada lagi cinta yang terpancar. Hanya ada rasa kecewa yang mendalam


"Udah. bang WR pergi dulu, aja," Nina berkata sambil menarik paksa WR keluar agar meninggalkan ku. Dengan netra yang masih menatapku, dia berjalan pergi menjauh, meninggalkan ku.


Aku terduduk lemas, ku tenggelamkan wajahku diantar dua lulut yang ditahan oleh tangan. Aku menangis menahan perih, semakin aku mengingat setiap kejadian yang aku lewati bersama nya semakin sakit pula aku membayangkan bahwa selama ini dia hanya mempermainkan ku saja.


Aku tidak tau siapa nama gadis itu. Karena WR menyimpan no tsb dikontaknya dengan nama "Sayang 1". Apa maksudnya? Apakah aku yang kedua? atau adakah yang ketiga?


Aku muak, muak sekali. Pantas saja, dia setuju ketika ku buat kesepakatan bahwa "jangan ada hp diantara kita". makanya ketika sedang bersama tak satupun dari kami yang bermain hp.


Aku fikir, caraku sudah benar. Untuk menyembunyikan hubungan ku dengan Arega. Tapi ternyata, dia pun tidak lebih baik dari ku. Dia juga menyembunyikan wanita lain dibelakang ku. Parahnya, ini semua ku ketahui ketika Arega sudah benar benar pergi.


Sempat terfikirkan untuk menghubungi Arega, meminta maaf dan mengajak nya kembali. Tapi, rasanya tidak mungkin aku meraih kembali sesuatu yang sudah aku lepaskan. Belum tentu juga Arega akan mau menerimaku lagi, bukankah sebagai lelaki dia juga punya harga diri.


***


Sudah dua hari WR tidak menemuiku. Di kampus juga aku tidak melihatnya. Sempat ada teman nya yang berkata pada ku bahwa "Bang WR sakit mikirin Tiya," Alah, alasan klasik jawabku.


Aku mencoba untuk tidak peduli padanya. Aku mencoba untuk melupakannya. Namun, semakin ku paksakan semakin aku terpuruk. Aku tidak bisa seperti ini terus. Bagaimana pun juga, hubungan ku dengan nya harus ada kepastian. Jika memang berakhir, biarkan berakhir dengan kejelasan.

__ADS_1


__ADS_2