WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
53. Minggu Bersama WR Part 2


__ADS_3

"Minion?" Tanya WR mengkonfirmasi kebenaran dari ucapanku.


Memang saat itu ada banyak sekali boneka disana, bahkan boneka beruang yang mirip sekali dengan yang aku punya ada banyak berjejer disini. Namun pandanganku saat itu tertuju pada boneka minion tersebut. Pendek , kuning, besar, berkacamata dan memakai celana denim.


"Iya," Aku menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan pelan dan sebuah lengkungan dibibir.


WR mengambil boneka tersebut dan membawanya kemeja kasir. Entah berapa harga yang harus dibayar olehnya, aku tidak tau pasti. Karena aku masih asyik melihat boneka boneka yang ada disana ketika WR membayar boneka tersebut.


"Lah, kok kempes begini sih?" WR menghampiriku dengan membawa boneka minion yang sudah mengkerut didalam plastik bening.


"Iyalah, kan divacum." Terangnya.


"Jelek dong?" Aku masih belum mengerti kata dari vacum yang dia maksudkan.


"Engga. nanti juga kalo dibuka kembung lagi." Ucapnya dengan berlalu menyimpan boneka tersebut dibagian depan.


Aku menghampirinya dan mulai duduk dijok belakang.


"Jatoh gak? Sini aku pegang aja." Saranku yang ditolak olehnya.


"Pulang?" Tanyaku lagi memastikan.


"Engga."


WR mulai mengendarai motornya kembali dan melaju entah kemana. Ini pertama kalinya aku pergi kedaerah ini. Tidak ada satupun tempat yang aku tahu disini.


Matahari mulai bersinar dengan terangnya, udara panas mulai terasa membakar kulit bagian punggung tangan dan kaki yang tidak tertutup kain.


Setelah cukup lama bercengkrama dengan cahayan matahari tiba-tiba saja aku memasuki kawasan dengan gapura membentang yang bertuliskan "Hutan percobaan" Udara yang tadinya terasa panas langsung berubah ketika aku mulai memasuki hutan ini bahkan Cahaya matahari sendiripun tidak mampu menembus rimbunnya dedaunan yang ada dikawasan ini, kanan dan kiri jalan semuanya dipenuhi pohon pohon besar.


Ada beberapa warung kecil dipinggiran jalan yang siang itu dipenuhi pengunjung. Selain itu aja juga beberapa orang yang berjualan baju dan mainan. WR bilang, biasanya jalur tersebut ramai digunakan orang pada minggu pagi untuk sekedar berolah raga atau jalan-jalan saja.


"Dulu sih sering dipake syuting film laga tempat ini. Sekarang gak pernah." Ungkap WR bercerita mengenai hutan percobaan tersebut.


Motor yang aku naiki terus melaju membelah hutan yang lumayan luas untuk ukuran ditengah-tengah kota seperti ini. Di ujung jalan hutan tersebut ramai orang berjualan aneka macam buah-buahan, hingga hamster dan kelinci pun ada yang menjualnya.


"Kok keluar sih?" Tanyaku dengan heran. Sempat aku berfikir bahwa WR akan mengajakku berhenti dihutan tadi. Nyatanya motor yang dia kendarai malah melaju terus melewati hutan itu. Cahaya matahari dengan cepat kembali menumpahi ku dengan sinarnya.


"Kita cari makan, disitu rame." Jawab WR yang memang aku sendiri tidak melihat ada tempat kosong dibeberapa warung yang kami lewati tadi.


"Aku yang milih," Jawabku dengan antusias. Tidak terdengar jawaban dari WR selain anggukan kecil yang terlihat dari gerakan helmnya.

__ADS_1


Aku sudah berkeliling cukup lama, namun tak satupun ku temui tempat makan yang menggugah selera.


Akhirnya WR memutuskan untuk kembali memasuki hutan itu lagi, melewatinya dan sampailah aku pada jalur yang tadi sudah aku lewati. Jalur yang terhubung pada kolong jalan layang yang tadi sempat aku laluii. Jika ke kampung boneka aku harus belok kiri, maka untuk sampai disini aku harus belok kanan. Ya, begitulah yang WR jelaskan. Karena sungguh, aku sangat payah dalam mengingat jalan, bahkan jika WR meninggalkan aku disinipun rasanya aku tidak akan tau jalan pulang.


Sebuah papan berbentuk persegi panjang dengan gambar berbagai macam setan yang terpampang menarik perhatianku. Setelah memberi tahu WR, diapun memarkirkan motornya tepat didepan tempat makan tersebut "Mie Setan," Begitu yang tertulis disebuah papan yang berisikan banyak gambar setan.


"Disini?" Tanyanya memastikan.


"Iya," Jawabku hendak membuka helm.


"Ih, tempat makan ini kan ada setannya tau." Ucap WR menyeringai.


"Masa sih? serem ah gak jadi," buru-buru aku kembali menaiki motor.


"Iyalah, namanya aja tempat makan setan. Tuh," WR menujuk plang nama tersebut.


"Ish, gak lucu." Aku berlalu lebih dulu meninggalkan WR yang tengah mentertawaiku.


Suasana disini cukup ramai namun tidak sampai penuh. Satu meja hanya diisi oleh dua kursi saja. mungkin memang sengaja didesign untuk pasangan. Hampir semua dinding disini dilukis dengan gambar berbagai jenis setan lokal. Selain itu, Ada tiga buah pintu diujung tempat tersebut. pintu pertama bertuliskan "Setan tidak bisa masuk (Mushola)" pintu kedua bertuliskan "Setan senang berlama-lama disini (Toilet). dan yang terakhir "Selain setan dilarang masuk "dapur". Aku hanya tersenyum kecut membaca tulisan tulisan receh itu semua.


Seorang pelayan menghampirku dengan menyodorkan sebuah menu makanan. Hampir semua menunya berbahan dasar Mie. Hanya topping dan levelnya saja yang membedakan satu sama lain.


"Paling pedes, lah."


Aku memesan dua porsi mie setan dengan level 9. Sebenarnya ada level 10 yang paling pedas, tapi aku belum berani mencobanya.


"Pake toping apa, kak?" Tanya pelayan tadi. Saat itu aku sibuk memilih level hingga lupa memilih topping yang akan dipesan.


"Keju," Ucap WR.


Setelah memesan dua porsi Mie, pelayan tersebut juga menawarkan minuman penangkal setan (pereda pedas). Diantaranya ada Es pocong, Es kuntilanak, dan berbagai macam jenis es yang menggunakan nama setan setan pada umumnya.


"Terserah apa ajalah," Ucapku asal.


Tepat disamping tempat makan ini, ada sebuah salon yang sedari tadi ramai sekali dikunjungi oleh pengunjung.


"Salon tuh, Ay." Ucap WR seolah memberitahuku padahal sudah sedari tadi aku memperhatikan salon tersebut.


"Rame banget," timpalku.


"Masih baru kayanya, perasaan dulu belum ada."

__ADS_1


"Oh, pantesan. orang masih promo grand opening," Ucapku ketika melihat sebuah spanduk yang bediri dipinggir pintu masuk salon tersebut.


"Rebonding apaan sih?" Tanya WR yang membuatku tertawa.


"Masa gak tau sih. Itu loh, biar rambutnya lurus." Jelasku dengan bangga.


WR hanya mengangguk pelan dan mulai bertanya lagi. "Kalo smooting apaan?"


"Ya sama aja kaya rebonding." Sebenarnya aku sendiri belum memahami apa perbedaan diantara keduanya. Tapi saat itu aku hanya mencoba lebih unggul dari WR saja.


"Kok mahalan smooting?" Tanya WR lagi.


"Ya gak tau bagusan kali." Jawabku asal sambil sesekali mencari pelayan karena pesanan ku belum tiba sedari tadi.


"Kamu mau?" Tanya WR tiba-tiba.


"Mau apa?" Aku balik bertanya karena bingung harus menjawab apa.


"Itu Smooting."


aku terdiam beberapa saat mendengar tawarannya. Kenapa tiba-tiba saja dia menawariku smooting. Aneh bukan.


"Kalo mau sok aja." Ucap WR, padahal saat itu aku belum menjawab pertanyaannya sepatah kata pun.


"Serius?" Aku bertanya memastikan kebenarannya.


"Iya. Nanti abis makan Mie kita kesitu."


"Rebonding atau smooting?" Tanyaku lagi.


"Yang bagus aja. Terserah Tiya."


Dua buah piring berisi Mie telah tiba dan tertata rapi diatas meja, serta dua gelas es yang tadi entah apa namanya, aku lupa.


"Makasih, mba." Ucapku sesaat sebelum pelayan tersebut berlalu dengan membawa nampannya kembali.


Aku mulai mencicipinya berbarengan dengan WR. Tampak wajah WR mulai berubah kemerahan, sepertinya aku juga. Kupingku mulai terasa panas, seolah mengeluarkan asap.


"Ah, pedes banget." Ucapku berbarengan dengan WR.


Buru-buru aku san WR menganbil segelas es yang katanya mampu menghilangkan rasa pedas. Bohong, rasa pedas itu masih tetap ada tidak berubah sedikitpun bahkan ketika aku sudah hampir menghabiskan setengah gelas es tersebut.

__ADS_1


__ADS_2