
Semalam WR datang menemuiku. Membawa sebuah Kue ulang Tahun yang bertuliskan nama ku, dengan sebuah bunga mawar warna putih yang diberi pita warna yang sama. Ketika ku tanya, kenapa warna nya putih dia jawab "Biar beda, aja," ah itu lah dia.
Setelah menghabiskan kue nya bersama Nina dan Simi. WR pun pulang kekosan. Tapi, pagi pagi sekali dia sudah kembali lagi menemuiku.
"Mau ngapain?" tanyaku sambil tersenyum.
"Selamat ulang tahun," katanya.
"Udah, kan. Semalem,"
"Bukan dari aku,"
"Terus, dari siapa, dong?" aku masih bersikap manja karena berfikir dia mungkin saja sedang akan merayuku dengan gombalan nya.
"Dari mantan kamu, Tuh," WR menujuk seorang laki laki yang sedang berdiri di tengah gerbang dengan tangan memegang sebuah kado berukuran besar
"Arega," ucapku. Ketika melihatnya lagi, setelah sekian lama. Mau apa dia kesini? Aku fikir dia sudah melupakan ku.
Ku tatap lagi WR, untuk meyakinkan bahwa apa yang aku lihat benar benar nyata.
"Kok dia disini, sih," tanya ku pada WR.
Aku takut sekali waktu itu. Takut, kalo WR berfikir bahwa aku yang memintanya untuk datang kesini. Padahal, semenjak kejadian 2 bulan yang lalu. Aku sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan dia.
"Kok nanya aku. Tanya orang nya langsung, lah," ucap WR.
"Aku boleh nyamperin Arega ?" tanya ku memastikan.
"Gak boleh. Dia aja yang kesini. Aku mau denger kamu ngomongin apa sama dia," Jawab WR sambil berlalu masuk ke kosan.
Ku tatap Arega dari jauh. Seolah mengerti maksud dari tatapan ku. Dia pun berjalan menuju ke arah ku.
"Selamat ulang tahun, Tiya," ucap nya lembut. Suara itu masih sama seperti beberapa bulan yang lalu ketika aku masih sering mendengarnya. Tatapan nya pun masih sama, seolah tidak ada yang berubah darinya.
"Aku bawa kado buat kamu. Tapi gak jadi aku kasih. Aku fikir, kamu gak butuh kado ini." bibirnya beringsut ketir, menatap kado yang diberada di tangannya.
Aku masih mematung kala itu. Bingung, apa yang harus aku ucapkan.
"Aku, gak mau nyusahin kamu dengan harus membuang hadiah dari aku. Jadi, biar aku yang buang kado ini sendiri. Nanti aja di jalan pulang. Engga disini." tambahnya lagi dengan masih tersenyum dan menatapku sambil sesekali menarik nafas.
Ku palingkan mata ku dari tatapan nya. Khawatir hati ku akan luluh kembali dibuat nya. Dengan WR yang berada didalam dan mendengarkan semua pembicaraan ku waktu itu. Aku tidak bisa dengan leluasa berbicara panjang lebar pada Arega.
"Aku pamit, ya," ucap nya.
__ADS_1
"WR," aku kaget ketika Arega memanggil nama WR. Merasa namanya dipanggil, WR pun keluar mendatangi kami.
"Udah,?" tanya nya santai pada, Arega.
"Udah lama jadian?" Arega balik bertanya pada WR.
"lumayan, sektitar 2 atau 3 bulan." ucap WR dengan tenang.
Nampak Arega terdiam beberapa saat dan melekuk lekukan jari nya.
"Kita belum putus dong, Ya?" Arega menatap ku. "Jadi kamu selingkuhin aku?
"Maaf, aku gak ada maksud buat ngelakuin itu." jawab ku sambil menunduk.
"Harusnya kamu bisa dapetin yang lebih dari aku, Tiya," balas Arega
"WR juga baik. Sama kaya kamu,".
"Iya baik. Cuma gak lebih ganteng dari aku," tampak Arega tersenyum kecut dengan bibir yang tidak simetris.
"Ganteng doang di banggain," ucap WR dengan sengaja seolah ingin di dengar oleh Arega.
"Lu gak lebih baik dari gue. Lu cuma beruntung bisa kuliah. makanya Tiya pilih elu. coba kalo lu kerja kaya gue, tiap hari gak bisa ketemu Tiya. Pasti Tiya lebih pilih gue ketimbang elu." Nada bicara Arega mulai meninggi. Entah kenapa dia bisa berfikir bahwa aku memilih WR karena dia seorang mahasiswa. Padahal, jika keadaannya WR bukan mahasiswa pun, kalo rasa nyaman itu tiba tiba ada. Aku bisa apa?
"Maksud lu apa?" Seperti tersulut emosi yang sama. WR menjambak kerah baju yang dipakai Arega.
"Yank, kamu panggil laki laki itu, siapa? Yank? Aku yang harus nya kamu panggil sayang, bukan dia," Kini, Arega setengah berteriak ke arah ku, membuat aku sedikit takut.
Arega yang dulu aku kenal, bukan Arega yang seperti ini. Tutur katanya selalu lembut, tatapan nya selalu penuh cinta.
"Kamu berubah. Aku kecewa," ucap ku sambil menatap nya.
"Berubah? siapa yang udah bikin aku berubah? Kamu Tiya, kamu yang udah bikin aku kaya gini. Setengah mati aku cinta. Tapi, balasan kamu apa? kamu kecewain aku, Ya. Kamu kecewain aku, Tiya Adista." Nada bicara Arega makin meninggi membuat WR akhirnya berdiri dihadapan ku. Agar, Aku tidak bertatap muka langsung dengan Arega.
Ku cengkram kuat baju bagian belakang WR. Arega yang kalap benar benar membuat ku takut, khawatir dia bertindak diluar logika. Aku berharap Simi ataupun Nina keluar untuk membantuku.
"Mnggir lu bgst. Gue mau ngomong sama cewe gue," ucap Arega sambil berusaha mendorong WR. Namun WR tetap bertahan untuk berdiri di depan ku.
"Ya, Tiya. Aku kesini bawain kado buat kamu Tiya. Aku mau kita balikan kaya dulu lagi. Aku maafin kamu, asal kamu tinggalin cowo ini, Ya," Nada bicara Arega kembali melembut.
"Gak mau," ucapku sambil sedikit bersembunyi dibelakang pundak WR.
"Dengerkan Tiya bilang apa. Sekarang mendingan lu pergi dari sini," ucap WR dengan nada marah.
__ADS_1
DAKK !!
sebuah pukulan mendarat di pipi kanan WR.
Dengan cepat dia pun membalas pukulan itu. Mereka imbang, sama sama memukul dan sama sama di pukul. Aku berusaha melerai perkelahian itu semampu ku. Namun, apalah arti dari tenaga seorang wanita jika di bandingkan dengan dua tenaga laki laki yang tengah dibakar oleh amarah.
Mendengar keributan yang semakin ganduh membuat Nina dan Simi berlarian keluar. Mereka tampak terkejut melihat perkelahian ini.
"Berhenti." teriak Simi. Namun tidak di dengar.
Seperti dipasang magnet, kedua lelaki itu akan mendekat lagi dan lagi
"Udah stop. Please, udah," Ucapku sambil terbata bata menahan tangis. Kata kata ku lumayan membuat membuat mereka menghentikan perkelahian nya. Walaupun nafas diantara kedua nya masih terdengar begitu berat. Kedua nya sama sama mengepalkan tangan tanda masih siap untuk melawan. Tapi untung lah, Nina sudah memegang WR dan Arega berada dalam cengkraman Simi.
Ku lihat ada darah segar mengalir di ujung bibir bagian kanan WR. Sedangkan Arega sepertinya hanya lebam. Wajar saja, karena setau ku, Arega memang jago dalam hal hajar menghajar, waktu SMA beberapa kali dia pernah terlibat dalam perkelahian dan dia selalu menang.
Aku duduk sambil menangis. Entah siapa yang harus aku bela. Dua dua nya sama sama terluka.
"Aku pulang Tiya, Semoga kamu tidak menyesali keputusan mu" ucap Arega memecah kehenginan diantara kita.
Setelah berucap, dia bergegas pergi dengan membawa kado yang tadi sempat di letakan nya dibawah. Sesaat sebelum memberikan sebuah pukulan pada WR.
"Bibir kamu berdarah," ucapku sambil menghampiri WR yang sedang terluka,
"Iya, gitu," WR berusaha menyentuh bibirnya yang terluka.
"Sakit, gak?"
"Enggalah. Sedikit, doang."
Ku bawa dia masuk dan bergegas membersihkan luka nya sebisa ku.
"Maaf," ucap ku lirih.
"Maaf. Kenapa?"
"Maaf atas kejadian ini,"
"Aku gak apa apa," jawabnya.
"Masa, sih?" ku tekan luka nya. Dia meringis menahan sakit.
"Katanya gak sakit," ledek ku sambil menjulurkan lidah.
__ADS_1
"Naruto juga manusia. Bisa sakit, bisa lapar," ucapnya sambil tertawa ..
Ulang tahun ku kali ini benar benar istimewa. Semoga tidak terulang lagi di tahun tahun berikutnya.