
Sore hari selepas pulang kuliah Aku Nina dan Simi telah merencanakan untuk pergi kesuatu tempat dengan tujuan mencari hadiah untuk WR.
Nina pulang lebih lambat, sehingga mengharuskan Aku dan simi menunggunya terlebih dahulu. Sebenarnya aku tidak masalah jika hanya pergi berdua dengan Simi saja. Tapi Nina menolak. Dia berkata bahwa dia juga ingin ikut menemaniku memilihkan hadiah untuk WR.
Sebelumnya aku telah mengirim pesan pada WR bahwa aku harus belajar kelompok dirumah teman, dengan begitu WR tidak akan menemuiku kekosan apalagi sampai mencurigaiku berbuat yang macam-macam. Aku tidak membahas masalah kado sedikitpun dihadapan WR. Semoga saja WR tidak menyangka jika aku akan memberinya hadiah.
Sesaat setelah Nina selesai kelas. Dengan cepat Aku Simi dan Nina langsung menaiki motor dan Simi memacunya dengan kecepatan biasa. Lalu lintas sekitaran kampus sangat ramai sehingga menyulitkan Simi untuk bergerak lebih cepat. Namun ketika motor yang kami tumpangi telah memasuki jalan utama, barulah Simi menarik gas motornya dengan extra.
"Jadinya kemana ini?" Tanya Simi dengan lantang. Keras nya desiran angin sore itu membuat pendengaran menurun belum lagi busa yang menempel pada helm yang aku pakai benar benar membuat telingaku seolah kedap suara.
"Terserah lu." Balasku yang tidak jauh berisik dari pertanyaan Simi.
"Ke Mall?" Saran dari Simi.
"Jangan ah. Nanti ketemu Arega lagi." Ucap ku.
Nina tertawa mendengar ucapanku. "Emang lu fikir Arega satpam Mall. Sampe ada terus disana." Bantah Nina yang duduk dibagian belakang.
"Jadinya kemana ini?" Simi bertanya tentang hal yang sama untuk kesekian kalinya. Niatan membeli hadiah untuk WR memang sudah dari beberapa hari yang lalu aku rencanakan. Hanya saja, baik Aku, maupun Simi dan Nina masih belum tahu akan memberi apa dihari ulang tahun WR nanti.
"Udah ke Mall aja. Banyak pilihan. Mau beli apa apa juga ada. Dari yang mahal sampe yang murah semua tersedia " Usul Nina yang sepertinya mulai geram karena aku terus menolak untuk diajak ke Mall tapi ketika ditanya akan kemana aku selalu menjawab terserah.
"Yaudah." Jawabku pasrah. Lagi pula takdir tidak mungkin memihak Arega untuk yang kedua kali. Kejadian malam minggu lalu dimana aku bertemu dengan Arega diparkiran sepertinya tidak akan terulang lagi hari ini
Simi membelokan motornya kearah Mall yang berada dipusat kota setelah hampir satu jam berkeliling tidak jelas mau kemana.
Memasuki kawasan parkiran Mall. Simi mulai mengerem motornya dan menekan tombol berwarna hijau agar palang terangkat dan kartu parkir keluar. Berbeda dengan Simi, netra ku malah tengah sibuk mengelilingi parkiran ini. Khawatir kalau kalau bertemu dengan Arega lagi.
Bukan aku membencinya hingga tidak ingin bertemu dengannya. Hanya saja aku takut WR akan marah jika mengetahui aku masih bertemu dengan Arega, Itu saja.
"Woy, turun." Bentak Simi memecahkan lamunanku.
"Lah udah nyampe." Aku mulai turun dan melepaskan helm yang sejak tadi terpasang dikepalaku.
"Lu bengong.?" Tanya Simi.
__ADS_1
"Enggak." Jawabku.
"Kemaren ayam tetangga gue dikampung mati." Tutur Simi dengan mendekatkan wajahnya kewajahku.
"Gara gara bengong?"
"Gara-gara yang punya nya pengen makan ayam." Jawab Simi.
"Terus apa hubungannya sama bengong?" Tanyaku bingung.
"Ya gak ada. Haha." Jawab Simi mentertawaiku.
"Dih, gak jelas lu." Jawabku kesal sembari melenggang masuk kedalam Mall tersebut.
Simi dan Nina sedikit harus berlari agar bisa mensejajarkan tubuhnya dengan tubuhku. Aku mulai melihat lihat setiap toko yang ada di Mall tersebut. Dari mulai toko kaca mata, kamera, handphone, kaos, tas dan masih banyak lainnya.
"Lu mau beli apa sih? Ini kita udah keliling dari tadi." Keluh Simi yang sudah mulai bosan menemaniku yang sedari tadi masih belum mendapatkan insprisai tentang kado yang akan ku beli.
"Bingung gue."
"Gue gak tau." Ucapku
"Gimana sih lu. Pacar macam apa yang tidak mengetahui apa keinginan dari pacarnya. Sungguh durjana kau." Tutur Simi panjang lebar yang membuat aku terdiam menatapnya dan detik berikutnya tertawa.
"Kenapa lu jadi ceramah disini." Ucapku pada Simi.
"Bentar, bentar." Nina memotong percakapan ku dengan Simi dan mulai mengeluarkan handphone dari tasnya.
"Mau ngapain sih lu?" Tanyaku heran.
"Bentar ya." Jawab Nina sembari melangkah menjauhiku dan Simi. Sesaat ku lihat Nina mulai mengarahkan Teleponnya ketelinga.
Beberapa menit berbicara dengan seseorang, entah siapa di telepon. Nina kembali menghampiriku dan Simi.
"Bentar lagi nyampe." Ucap Nina dengan tiba-tiba tanpa ada yang meminta penjelasan darinya.
__ADS_1
"Siapa?" Tanyaku bingung.
"Raka." Jawab Nina singkat.
"Kok bisa?" Tanyaku heran.
"Ya gue nelepon si Wanto mau nanyain kado. Eh malah gak diangkat. Yaudah gue nelepon Raka aja. Hehe," terang Nina sembari tertawa kecil.
"Terus?"
Nina bercerita bahwa pada saat dia menelepon Raka. Kebetulan, Raka tengah bermain footsal dilapangan yang berada dekat dengan Mall yang saat ini tengah aku datangi. Awalnya Nina hanya bertanya mengenai kado apa yang cocok untuk pria, tapi Raka malah meminta ijin untuk bisa menemui Nina langsung.
"Tuh kan, gue pulang aja ah." Ucapku kesal dengan tingkah laku Nina yang seolah tidak memikirkan perasaanku.
"Jangan. Arega nya juga gak ada kok." Tambah Nina.
"Gak ada?"
"Iya. Tadi pas gue telepon Raka, dia lagi main footsal sendiri. Gak sama Arega. Makanya gue bolehin dia datang kesini." Nina menjelaskan semuanya dengan rinci.
Syukurlah. Hanya Raka saja, paling tidak bukan Arega yang datang kesini. Aku mulai mencari tempat duduk sembari menunggu kedatangan Raka.
Hampir setengah jam aku menunggu di halaman bagian depan Mall dengan meja bundar yang ditutupi payung besar.
"Mana sih si Raka. Katanya deket." Keluh Simi sembari matanya sibuk mencari sosok pria bernama Raka disekitaran tempat duduk kami.
"Udah gue kasih tau sih tempatnya disini. Tapi kok lama ya." Balas Nina.
Aku tidak tertarik untuk menunggu kedatangan Raka. Saat itu, otakku tengah sibuk mendaftar apa saja yang nanti akan aku beri untuk WR di hari ulang tahunnya.
"Arega," Untuk sesaat netraku tertuju pada dua orang pria yang tengah berjalan kearahku. Arega, kenapa Raka datang bersama dengan Arega. Bukankah Nina bilang bahwa Raka hanya bermain footsal seorang diri. Tapi kenapa sekarang dia kesini dengan Arega.
"Lah, kok Arega ikut sih." Ucap Nina yang sama kagetnya denganku melihat kedatangan Arega. Nina menatapku seolah ingin berkata bahwa Nina sama sekali tidak tahu bahwa Raka akan datang bersama Arega.
Ku buang wajah dari pandangan Nina dan mulai berfikir apa yang akan kulakukan selanjutnya. Haruskah aku bertahan disini bersama Arega walaupun tidak hanya berdua. Atau haruskah aku pergi saja?
__ADS_1