
Malam itu, Arega mengantarkan ku kembali ke kosan. dengan hati yang bimbang, ku telan dingin nya malam dalam keheningan.
"Disini aja," pintaku sebelum motor Arega memasuki kawasan kosan.
"Kenapa?"
"Gaenak. Takut ganggu yang lain. Udah malem." kali ini aku berkata jujur walaupun sebenarnya jam di hp masih menunjukan pukul 9.30.
Seolah mengerti permintaan ku. Arega bergegas pulang tanpa mendebatku.
"Tidur," ucapnya sebelum berlalu.
Ku buka gerbang yang menjadi pintu utama kawasan kosan ku. Aku berjalan gontai dengan rasa bimbang yang kian berkembang.
"Dari mana?" ucap laki laki dari balik pintu kosan ku sambil membukanya.
"WR. kok masih disini," Aku fikir dia sudah pulang ketika aku pergi tanpa memberitahunya. Tapi, ternyata dia menunggu ku dengan setia. Ku arahkan pandangan ku ke arah gerbang utama hanya untuk memastikan bahwa Arega telah benar benar pergi dari sana.
"Tiya, dari mana? Pergi gak bilang bilang. Bikin khawatir aja,"
"Emm. Anu, itu. Tadi saudara ku yang kuliah keperawatan tau kan? nah dia kesini tadi minta anter cari hadiah buat temen nya," untung saja dulu aku sempat bercerita padanya perihal saudara ku yang juga berkuliah di kota yang sama dengan ku.
"Ohh. Yaudah. Tidur gih, udah malem. Tapi Nina sama Simi belum pulang. Mau aku temenin dulu?"
"Ehh gausah. Aku berani kok sendiri."
"Kalo ada apa apa, tlpn aja, ya," ucapnya sambil berlalu.
Begitu mudahnya dia mempercayai kata kata ku. Tidak ada bantahan atau pun rasa curiga yang berlebih. Kedua laki laki itu benar benar sudah membuat ku bingung tak terkendali.
Ku rebahkan badan ku dikasur, mencoba tidur agar aku bisa melupakan sejenak masalah rumit yang tengah ku alami. siapa yang harus ku pilih?
***
Pagi itu, pintu kosan ku di ketuk secara terus menerus dengan cukup keras.
"Siapa sih. Pagi pagi ganggu orang tidur aja," gumam Simi.
Aku beranjak dari tidur dan membukakan pintu, terlihat WR tengah berdiri depannya.
"Pagi banget. Mau ngapain? Kangen, ya," rayuku sambil tersenyum.
__ADS_1
"Maaf, ya. Abisnya aku udah penasaran banget pengen tau penjelasan nya langsung dari kamu."
"Penjelasan apa?" tanyaku masih santai dan belum bisa menangkap maksud dari ucapan nya.
"Arega, dia siapa?"
"Ah? Arega? aku malah balik bertanya. Belum hilang rasa cemas ku semalam, sudah ada lagi hal baru yang membuat hidupku tambah runyam.
"iya, Arega. Cowok yang semalem nyamperin Tiya kesini, itu Arega kan? " tanya nya lagi dengan yakin dan menunggu pengakuanku.
"Kata siapa itu Arega, itu kan sodara aku,".
"Semalem, aku denger suara motor berhenti dan dengar suara orang ngobrol walaupun samar samar. Segera ku selesaikan hajatku dan aku liat dibalik tembok ada cowo sama Tiya dan gak lama kalian pergi. Awalnya aku gak tau siapa cowo itu makanya aku iseng iseng ketik nama Tiya di kolom pencarian fb dan ketemu fb atas nama " Tiya Adista" yang berstatus berpacaran dengan "Arega Bagaskara". mmNakanya semalem aku nungguin kamu pulang, biar bisa ngomong langsung bertiga. Eh tau nya kamu malah nyuruh cowo itu berenti didepan gerbang,". jelas nya dengan sangat rinci sambil sesekali terhenti untuk menarik nafas.
Fb? dia sempat berkata pada ku bahwa dia punya fb yang sudah lama sekali tidak dia gunakan. itulah alasan ku untuk tidak menyembunyikan statusku dengan Arega. Aku merasa begitu terpojok dengan penjelasan nya.
"Kamu marah aku udah punya pacar?" pertanyaan bodoh itu akhirnya terlontar dari mulut ku.
"Maksud, Tiya?"
"Bukan nya selama ini tidak ada kejelasan hubungan diantara kita, ya? Pernah gak kamu tanya, aku sudah punya pacar belum? pernah gak kamu tanya, aku mau gak jadi pacar kamu? Engga kan.
"Jadi, setelah apa yang udah kita jalanin selama ini. Tiya, masih nunggu aku bilang cinta? Apa Tiya gak bisa rasain pake hati dan perasaan aja. Gausah melulu dinilai dari kata kata?" Dia menatap ku dengan tajam.
"Aku kasih Tiya waktu 1 minggu buat berfikir. Siapa yang mau Tiya pilih. Aku atau cowo itu. Selama satu minggu itu, aku gak akan muncul didepan Tiya. Tepat di hari ke 7 nanti baru aku balik lagi kesini. Siapapun pilihan Tiya, aku terima." ucapnya. Setelah itu berlalu meninggalkan ku sendiri dengan semua beban ini.
Seandainya saja, semua ini terjadi satu bulan yang lalu, pasti bisa dengan mudah aku meyakinkan hati untuk tetap setia dengan Arega. Tapi, kini keadaan nya sudah berbeda. Waktu benar benar telah mengubah perasaanku dari yang biasa saja menjadi cinta.
Apakah ini cinta? Aku tidak terlalu yakin. Tapi yang pasti, jantung ku selalu berdegup lebih cepat dari biasanya saat bersama WR. Rasa yang sudah hampir tak kurasakan lagi saat bersama dengan Arega. Tapi, Arega. Aku tidak mungkin meninggalkan nya dengan situasi seperti yang sudah dia ceritakan malam itu.
Aku tidak mungkin selama nya bertahan dengan situasi seperti ini. Harus aku putuskan siapa sebenarnya yang akan aku pilih.
***
WR benar benar menjalankan misinya. Yaitu, menghilang dari pandangan ku. Sepi sekali rasanya 5 hari tanpa kehadiran dia. Biasanya dia akan datang dipagi hari untuk mengantarku membeli sarapan. Kini, tidak ada lagi yang mengetuk pintu kosan ku sepagi dirinya. Biasanya, di kampus kita sesekali bertemu dan mengobrol di depan kelas dan sudah 5 hari ini pun aku tidak melihat nya.
Hari jumat, aku putuskan untuk kekosan nya, sekedar ingin mengetahui kabarnya. Tapi ternyata dia tidak ada disana.
"WR kamu dimana? aku rindu."
Aku bisa berminggu minggu tanpa bertemu Arega. Tapi, kenapa belum satu minggu saja kamu menghilang aku sudah sangat gelisah tidak karuan. Apakah ini artinya aku lebih membutuhkan mu?
__ADS_1
Aku berjalan pulang dengan perasaan bimbang setelah memastikan WR tidak ada dikosan. Harus kemana lagi aku mencari nya. Pada siapa lagi aku bertanya. Dari semua teman teman nya tidak ada satupun yang tau keberadaan nya. atau mereka semua hanya pura pura karena WR yang meminta.
Lamunan ku seketika itu juga buyar ketika melihat sosok laki laki berdiri didepan kosan.
"Arega," ucapku pelan.
Dia tersenyum menatapku. "Dari mana sore sore, gini?" tanya nya begitu.
hmHari itu, karena tidak bisa menemukan WR dikampus. Akhirnya, sepulang kuliah aku memutuskan untuk mencari nya kekosan tempat biasa dia nongkrong. Sedangkan Simi dan Nina pergi ke Mall, "Refresing" katanya. Mereka mengajak ku, hanya saja aku menolak. Bagaimana bisa aku meRefres otak ku dalam keadaan seperti ini.
"Kamu, udah lama?" aku berusaha untuk tidak menjawab pertanyaan nya.
"Lumayan," jawabnya sambil tetap tersenyum.
"mm. Maaf ya. Ayo, masuk. Didalem, aja," pandangan ku tertuju kesegala arah, khawatir ada salah satu dari teman WR yang melihat.
Aku yang saat itu lebih banyak diam ternyata menimbulkan pertanyaan dari Arega.
"Kamu kenapa? kaya banyak fikiran,"
"Iya Biasalah, banyak tugas. Kamu kok gak kerja?," tanyaku.
"Kerja? Engga aku ijin. takut kamu kesepian kalo aku nya kerja terus. Mau kesini dari pagi, tapi kan kamu siang nya kuliah, jadi ya tunggu jadwal kamu selesai aja " jawabnya
"Kan bisa besok kesini nya,"
"Besok sama minggu aku ada urusan yank. Gak bisa kesini. Kamu gak marah, kan?"
"Iya. Gak apa apa," Ada rasa syukur terbesit dihati ku. Karena mendengar penuturan nya. Jika, WR berkata dia akan menemuiku dalam waktu satu minggu setelah kepergian nya. Kemungkinan, WR akan datang di hari sabtu atau minggu. Paling tidak, kondisi akan aman sampai saat itu.
"Hey, ngelamun. Katanya gak apa apa." tanya Arega membuyarkan lamunan ku.
"Emang urusan apa sih sabtu minggu, kan libur," Tanya ku berpura pura agar dia tidak curiga bahwa aku gembira mendengar dia tidak akan datang di hari libur.
"Biasa, urusan cowo," jawabnya sambil sedikit tertawa. Entah apa maksudnya tapi aku tidak berniat untuk bertanya dan mengetahui nya lebih jelas lagi. Aku hanya mengangguk pelan.
Untung lah Simi dan Nina cepat pulang dari Mall, sehingga aku terbebas dari situasi dingin bersama Arega.
Beberapa teman ku bilang bahwa Arega jauh lebih tampan dari WR. Ya, aku mengakui, memang benar adanya. Tapi, rasanya hubungan ini bukan hanya untuk memuaskan mata ku dan mata orang orang yang melihat hubungan kami saja. Aku juga butuh kesenangan, rasa nyaman, perhatian, perlindungan, bantuan dan segala sesuatu yang kebanyakan wanita harapkan, itu semua aku dapatkan hanya ketika aku bersama WR.
Rasa itu dulu hangat ketika WR belum masuk kedalam hubungan ku dengan Arega. Setalah hadirnya WR kedalam hubungan kami, semua rasa cinta untuk Arega bagaikan hancur tak tersisa, bahkan puing puing nya pun tak ada.
__ADS_1
Aku yang salah. Aku yang sudah membiarkan nya masuk kedalam hubungan ini. Aku yang sudah membiarkan nya bermain main dengan hati ku dengan keyakinan bahwa aku tidak akan jatuh cinta. Karena lagi lagi, Dia tidak setampan Arega, itu yang menjadi patokan nya. Tapi, ternyata kepuasan hati jauh lebih bermakna ketimbang kepuasan mata.