
Setelah berkemas dan berpamitan kepada orang tuaku. Aku, Simi dan Nina segera menaiki motor vario berwarna merah putih dengan stiker tulisan zoembie dibagian depannya. Awalnya aku sempat ragu karena takut ada polisi, STNK motor WR saja masih ditahan hingga saat ini, jangan sampai aku kembali harus berurusan dengan polisi.
"Tenang, gak ada polisinya juga." Ucap Simi dengan yakin.
Hampir satu jam perjalan, Simi tetap mengemudikan motornya dengan santay padahal sering kali helm yang kami tumpangi saling beradu karena guncangan yang di akibatkan oleh jalanan berbatu.
"Orang orang kok pada puter balik sih?" Ucap Nina yang seolah mengamati keadaan sekitar.
"Astagfirallah," Simi mendadak menghentikan motornya sehingga membuat tubuhku terdorong kedepan karena terdorong oleh tubuh Nina yang duduk dibelakangku.
"Simi.." Aku berucap sembari membetulkan posisi dudukku.
"Yang bener dong Sim." Keluh Nina sembari membenarkan helmnya yang miring.
"Itu polisi, iya bener polisi. Ada rajia cuy." Ucap Simi dengan panik.
Polisi masih cukup jauh berada didepan ku tapi Simi sudah sangat jeli untuk bisa melihat keberadaan mereka.
Dengan cepat Simi memutar motornya dan pergi lebih jauh lagi dari tempat aku berhenti tadi. Simi menstandar motornya dan turun yang diikuti olehku dan Nina ketika dirasa telah menemukan tempat yang pas untuk berfikir bagaimana cara melewati rajia kali ini.
"Kan, elu sih." Ucap ku khawatir.
"Motor lu, bodong ya?" Tanya Nina.
"Lengkap lah. ada surat suratnya. Cuma gue gak punya SIM." Jawab Simi.
"Nah, yaudah gue yang nyetir. gue kan punya SIM." Jawabku dengan semangat.
"Okeh. Gue punya STNK. Si Tiya punya SIM. Elu punya duit kan Nin?" Tanya Simi dengan mengarahkan pandangannya pada Nina.
"Duit? buat apa?" Nina tampak kebingungan sama sepertiku. Apa Simi bermaksud menyuap para polisi itu dengan memberikan mereka uang, atau apa.
"Lu mau nyuap, Sim?" Tanyaku heran.
"Enggalah. Si Nina suruh naik angkot aja. Tunggu didepan." Ide dari Simi membuat tawaku sedikit terdengar.
"Ih, gak mau." Nina merengek manja karena tidak mau jika harus menaiki angkot walau sebentar.
"Lu nebeng Mas - Mas yang lewat aja tuh banyak yang sendiri," Ledekku pada Nina.
Karena tidak ada jalan keluar lain, akhirnya Nina menyetujui untuk naik angkot hanya sebatas melewati para polisi yang tengah merajia saja, setelah itu Nina bisa turun dari angkot dan menunggu aku dan Simi lewat. Begitu kesepakatannua.
Sebuah angkot berwarna biru berhasil diberhentikan oleh Simi, dengan raut wajah muram Nina menaiki angkot tersebut dan duduk dibagian depan.
"Hati-hati, Nin." Ku lambaikan tangan pada Nina melepas kepergiannya.
__ADS_1
Ku ambil alih motor Simi hingga kini aku yang mengendarai dan Simi yang duduk dibelakangku setelah STNK motornya aku minta terlebih dulu dan disatukan dengan SIM punyaku.
"Selamat Siang." Ucap Polisi yang memberhentikan motorku.
"Siang, Pak." Ku buka kaca helm yang menutupi wajahku. Dengan senyum mengembang, ku jawab sapaannya.
"Boleh tunjukan surat-suratnya."
Aku mengeluarkan dompet yang belum lama tadi aku masukan kedalam tas yang aku kenakan dan mulai mengambil surat surat seperti yang tadi Pak Polisi sebutkan.
"Ini, Pak." Ku berikan apa yang polisi itu minta serta KTP dan Kartu Mahasiswa pun tak luput ku serahkan padanya.
"Baik. Silahkan lanjutkan perjalanannya. Terima kasih dan Hati - hati." Polisi tersebut berucap dan berlalu meninggalkan ku yang tengah bahagia penuh kemenangan karena berhasil lolos dari rajia kali ini.
Ngeeenggg ...
Kutarik gas dengan segera dan mulai melanjutkan perjalanku. Baru beberapa saat melaju dengan kecepatan extra, tiba tiba saja Simi menepuk pundakku sembari berteriak "Si Nina kelewat, pea."
Astaga, Nina. Ku tatap spion yang terpasang di motor tampak Nina sedikit kesusahan berlari dengan menggunakan wedges nya.
"Orang udah teriak teriak manggilin. malah ditinggalin." Nina meracau bahkan ketika kakinya belum sampai namun suaranya sudah terdengar.
"Sorry Nin. Gue lupa." Ucapku pada Nina dengan tertawa.
"Haha, udah buruan naik." Pinta Simi.
"2000. Supirnya genit banget pake acaranya minta nomer handphone segala." Nina berteriak menjawab pertanyaanku yang diiringi tawa olehku dan Simi.
***
Sebuah mobil pick up terparkir didekat gang yang menuju kekosanku. Ada beberapa barang yang telah tersusun rapi diatasnya seperti lemari, kasur, rak piring, beberapa kardus serta kipas angin. Sepertinya ini mobil yang akan mengangkut barang barang milik Novi. Kenapa harus pakai mobil segala. Aku saja dua kali pindah kosan semuanya ku bawa menggunakan motor. Ah terserahlah, itu urusan dia.
Segera ku bawa motor yang aku kendarai memasuki kawasan kosan dan menyimpannya diparkiran. Simi dengan cepat menuju kekosan Novi yang bersebelahan dengan kosanku. Novi keluar kosan bersama dengan laptop milik Simi dan berpamitan kepada Aku, Simi dan Nina.
"Semoga betah ditempat baru." Ucapku pada Novi.
"Terima kasih." Ucapnya berlalu pergi.
Ceklek..
Ku buka pintu kosanku dan benar seperti yang Novi bilang bahwa pintu tersebut memang tidak dikunci. Aku meracau pada Simi yang teledor mengenai kunci kosan. Bagaimana biss dia pulang membawa anak kunci nya tanpa mengunci pintu terlebih dulu.
"Gue lupa kayanya." Simi beralasan.
Tanpa memperkeruh suasana ataupun memperpanjang masalah, aku melangkah masuk dan menggantungkan tasku pada paku yang menancap di tembok.
__ADS_1
"Terus kita mau ngapain ini gak ada kegiatan." Tanyaku bingung.
"Tidur," Jawab Simi dan Nina kompak.
"Yeh serius."
"Ya sekarang tidur dulu. Nanti malem baru kita ke Mall. Jalan jalan kuy. Gimana?" Ajak Simi yang disetujui dengan sangat antusias oleh Nina.
"Gue bilang WR dulu." Ucapku yang belum mengiyakan ajakan Simi.
"Alah, si WR bukan suami lu. gausah kebanyakan ijin." Ucap Simi.
"Lagian Tiya, kemaren Sakit, sekarang ijin, besok alfa deh kayanya." Seru Nina yang ditertawai oleh Simi. "Udah kaya sekolahan hidup lu." Tambah Simi.
"Sebagai kekasih yang baik gue harus bilang dong kalau mau kemana mana. Biar tidak ada dusta diantara kita." Jawabku dengan percaya diri.
"Ya ya ya. Terserah lu ajalah." Jawab Simi.
Nina dan Simi menjalankan misi nya untuk tidur. Kadang aku heran, bagaimana mereka bisa tidur segampang dam secepat itu.
"Yank, udah dikosan." Sebuah pesan terkirim dari ponselku yang ditujukan untuk WR.
"Udah makan?" Tanya WR.
"Udah pagi. Kalau siang sih nanti aja. Simi sama Nina nya juga tidur."
"Kamu gak tidur." Tanyanya dalam pesan.
"Kamu gak kangen sama aku?"
"Kangen,"
"Kok nyuruh tidur."
"Ya dari pada ngantuk."
"Malem mau jalan jalan ya." Aku meminta ijin padanya sebelum menerima tawaran Simi yang mengajakku ke Mall malam ini.
"Mau ngapain?"
"Jalan jalan doang."
"Pulangnya jangan malem malem. Nanti ada cowo yang ngikutin lagi kaya dulu."
"Haha kan nanti aku tinggal telepon kamu lagi buat jemput."
__ADS_1
"Yaudah, istirahat dulu."
Ku akhiri berbalas pesan dengan WR karena dia memintaku untuk beristirahat terlebih dulu. Akhirnya akupun menginguti aktivitas Nina dan Simi. Yaitu tidur.