
Aku, Nina dan Simi kini berdiri didepan sebuah gerbang besi berwarna hitam. Berkali-kali sudah aku mengetuknya namun masih tidak ada yang membukakan. Berkali-kali juga aku mencoba menghubungi Miss Mala, namun tidak ada jawaban pula.
"Elu sih kepagian." Bentak Simi seolah memarahiku.
"Pagi apaan. udah jam 6," bantahku.
"Ya kan disuruhnya jam 7," Balas Simi.
JEGLEK !!
Pintu gerbang baru saja terbuka. Seorang wanita paruh baya tengah tersenyum dibalik gerbang yang baru saja dibuka olehnya.
"Miss Mala nya ada, bu?" Tanyaku dengan ramah.
"Ada. Lagi mandi. Masuk aja tunggu didalem." Titah wanita tersebut.
Aku dan Simi berjalan melewati gerbang tersebut. sedangkan Nina tengah sibuk memarkirkan motor.
"Masuk aja." Pinta ibu tadi.
Aku dan Simi menunggu Nina selesai memarkir motor dan mulai memasuki rumah Miss Mala lagi untuk yang kedua kalinya.
Setelah mempersilahkan kami duduk, ibu tersebut berlalu meninggalkan kami dan kembali dengan membawa tiga buah cangkir kopi.
"Makasih, bu." Ucap kami bertiga.
"Hey,"
Aku menengok kearah sumber suara tersebut. Terlihat Miss Mala tengah menapaki anak tangga satu persatu, hendak turun menemui ku, simi dan Nina.
"Putri mana?" Tanyanya lagi.
"Tadi sih bilangnya bentar lagi Miss." Ucapku.
"Yaudah kita jemput aja sekalian lewat. Sok diminum dulu kopinya. saya mau manasin mobil," Miss Mala berlalu keluar meninggalkan kami dengan kopi yang belum lama disuguhkan.
Dengan cepat aku habiskan kopi yang sebenarnya masih lumayan panas. Tidak enak rasanya jika membiarkan kepala sekolah harus berlama lama menunggu para gurunya.
"Buruan," Titahku pada Simi dan Nina.
"Iya,"
Aku segera menghampiri Miss Mala yang sedari tadi sudah berada diluar rumah.
"Udah?" Tanya Miss Mala yang melihat aku mendekatinya.
"Udah Miss."
__ADS_1
"Yaudah naik."
Ku buka pintu mobil sebelah kiri, sedangkan Nina dan Simi membuka pintu sebelah kanan Tapi belum sempat kakiku masuk, Miss Mala sudah lebih dulu memintaku untuk duduk didepan menemaninya.
"Masa duduk dibelakang semua. Emang saya supir?" Begitu kata Miss Mala.
Akhirnya akupun menutup kembali pintu yang telah aku buka. Simi dan Nina telah masuk lewat pintu yang satunya. Sedangkan aku kini duduk dikursi depan berdampingan dengan Miss Mala.
"Tunggu dirumah aja. Kita otw kesana sama Miss Mala," Sebuah pesan singkat terkirim dari gawai milikku yang ditujukan untuk putri.
"Oke," balasnya singkat.
Mobil yang Miss Mala kendarai melaju pelan karena rumah Miss Mala berada disebuah gang yang tidak lumayan besar.
TID-TID-TID
Miss Mala membunyikan klakson nya beberapa kali tepat didepan rumah putri. Tampak putri berlari keluar dengan pakaian yang sudah rapi. Dengan cepat putri masuk dan duduk disamping Simi.
"Oke kita berangkat.." Seru Miss Mala.
Tujuan kita kali ini adalah TK Percontohan, Miss Mala sudah tau tempatnya, jadi kami tidak perlu sibuk membuka gps ataupun bertanya.
Sekitar 15 menit perjalanan yang aku tempuh untuk bisa sampai disana. Sudah banyak motor motor yang terparkir dengan rapi dan ada juga beberapa mobil yang telah datang lebih dulu. Miss Mala memilih menyimpan mobilnya dibawah pohon besar nan rindang.
"Biar adem." Ucap Miss Mala.
Luas sekali TK ini, ada banyak ruangan ruangan yang dipenuhi hiasan bunga bunga ataupun mainan. Tampak beberapa orang telah berkumpul disebuah tempat yang lebih mirip seperti pendopo atau entah apa namanya. Yang aku tau, tempat tersebut didesign tanpa tembok dibagian kanan, kiri, depan dan belakangnya. Hanya ada beberapa tiang penyangga saja. Dibagian paling depan terdapat lantai yang jauh lebih tinggi dari yang lainnya, semacam panggung.
Ada banyak kursi plastik berwarna merah tersusun rapi yang sudah hampir semuanya terisi. Aku, Miss Mala dan yang lain segera menuju tempat tersebut.
"Silahkan isi nama, jabatan dan asal TK nya ya bu." Ucap salah seorang petugas ketika aku hendak melewatinya menuju kursi kursi.
Simi mengambil alih tugas tersebut dengan menuliskan nama kami satu persatu. Setelah memberikan satu kotak berisi makanan, kami pun dipersilahkan duduk ditempat yang tersisa.
Aku yang lapar dengan segera membuka kotak makanan tersebut dan mulai memakannya bersama Simi Nina dan Putri. Miss Mala lebih memilih diam, sudah sarapan katanya.
"Assalamualaikum wr. wb." Seorang wanita yang sepertinya sudah pernah aku lihat kini tengah berdiri dihadapan kami semua dengan Mic yang digenggamnya.
"Ah, iya. Dia yang kemarin jadi panitia lomba." Jelasku pada diri sendiri.
Wanita tersebut berbicara panjang lebar, entah apa yang dia omongkan karena aku terlalu sibuk makan. Ku lihat panitia tersebut turun dan digantikan dengan panitia yang lain.
Sekian dari kalimat yang bisa aku cerna yaitu dia berterima kasih atas partisipasi kami dalam lomba guru berprestasi tahun ini. Ya, begitulah kurang lebih.
"Tanpa menunggu lebih lama lagi, mari kita sambut Tiga orang guru berprestasi yang telah mampu menyingkirkan 27 peserta lainnya."
" Juara ketiga diraih oleh..." Panitia tersebut menghentikan kata-katanya yang bersamaan dengan berhenti pula aktifitas mengunyahku.
__ADS_1
"Sim," Ku panggil Simi dengan lirih dan mencengkram tangannya.
"Juara tiga diraih oleh Dessy Sulistiawati perwakilan dari TK Ceria, Kepada yang bersangkutan silahkan untuk kedepan."
"Yeay," Suara teriakan dan tepuk tangan bercampur riuh menjadi satu, mengiri perjalanan Dessy kedepan.
Aku menghembuskan nafas dengan kasar. Hilang sudah kesempatanku untuk menjadi juara tiga. "Dessy, aku sudah menduganya dia pasti jadi juara." Gumamku dalam hati.
"Miss," Aku menatap Miss Mala dengan nanar.
"Masih ada dua posisi lagi." Ucap Miss Mala dengan tenang.
"Juara kedua, diraih oleh..." Panitia tersebut memberi jeda untukku berdoa semoga aku bisa jadi juara. "Dewi Aprilia, perwakilan dari TKIT Al-Furqon. Kepada yang bersangkutan silahkan untuk kedepan,"
Ah, nafasku kembali memburu. Hilang sudah harapanku menjadi juara kali ini. Juara satu? rasanya tidak mungkin aku ada diposisi itu.
Suara tepuk tangan bergemuruh mengantarkan bu Dewi kedepan. Bu Dewi, aku sempat mengobrol dengannya kemarin, walaupun tidak banyak, aku rasa memang dia pantas berada diposisi dua.
"Yah, pulang aja yuk Mis." Aku sudah menyerah dan mengajak Miss Mala untuk pulang saja. karena keberadaanku disini seperti sudah tidak ada gunanya.
"Loh, nanti Tiya dipanggil gimana?" Tanya Miss Mala yang masih saja dengan keyakinannya.
Aku terduduk lemas, Simi dan Nina mengusap ngusap pundakku seolah berkata "yang sabar ya."
"Juara pertama lomba guru berprestasi tingkat kecamatan kali ini diraih oleh... Tiya Adista perwakilan dari TK pelangi. Kepada yang bersangkutan silahkan untuk kedepan,"
Seru panitia tersebut dengan lantang.
"Ah? apa? Tiya?" Aku celingukan mendengar namaku dipanggil sebagai juara pertama. Miss Mala berdiri dan bertepuk tangan. Terlihat jelas raut kebahagiaan terpancar dari senyumnya.
"Buru kedepan," Titah Simi.
Kini aku merasakannya, merasakan berjalan kedepan dengan diiringi oleh suara tepuk tangan.
Aku sudah bediri sejajar dengan Dessy dan juga Bu Dewi. Mereka tampak tersenyum kearahku, begitupun aku yang sedari tadi tidak bisa menghentikan senyumku.
Tiga buah piala dengan ukuran berbeda dibawa menggunakan nampan oleh seorang lelaki yang sudah tidak muda.
Piala yang paling pendek diberikan kepada Dessy dan sebuah sertifikat berwarna hijau.
Piala yang sedang disambut dengan senyum oleh Bu Dewi dan juga sebuah sertifikat yang sama seperti milik Dessy.
Tinggal tersisa sebuah piala yang berukuran paling tinggi yang kini telah aku genggam lengkap dengan sertifikatnya juga.
Sebuah piala berwarna emas mengkilat dan sebuah sertifikat berwarna hijau. Kini telah resmi menjadi milikku.
Sebuah kebanggaan yang sangat luar biasa bisa berada disini, didepan dan menjadi juara.
__ADS_1
"Terima kasih Miss Mala telah mempercayaiku. dan WR. Mana hadiah untukku. Pacar mu ini jadi juara 1," gumamku dalam hati.