WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
38 - Lolos Tes Tulis


__ADS_3

"Waktu habis," Ucap salah seorang pengawas tersebut.


Tampak beberapa orang dengan tergesa gesa melanjutkan jawabannya. Aku hanya terdiam menyaksikan pemandangan tersebut dengan membuat lengkungan kecil di bibir.


"Ayo ibu-ibu. waktunya sudah habis. kalau masih ada yang nulis, akan kami diskualifikasi," Pengawas tersebut kembali mengulangi perkataannya dengan sedikit ancaman.


Hal tersebut membuat beberapa peserta yang belum selesai segera berlari kedepan dan mengumpulkan lembar jawabannya. Tampak, raut wajah keraguan tersirat pada beberapa peserta yang ada disana. Termasuk aku, hanya karena aku mengumpulkan lebih dulu bukan berarti bahwa mereka tidak lebih baik dariku, kan?.


"Kami akan periksa dan langsung kami beritahu siapa saja yang lolos hari ini setelah Asar ya, Bu. Boleh menunggu disini, atau boleh pulang dulu nanti bisa kesini lagi. Yang gak bisa dateng juga gak apa-apa, nanti dikabari Via telpon." Jelas pengawas tersebut sesaat sebelum berlalu meninggalkan para peserta dalam kecemasan.


"Mau nunggu dimana?" Tanya Dessy tiba-tiba.


"Eh, mau pulang aja. Kuliah soalnya, lagi uts," jawabku seadanya.


Aku bergegas keluar menjumpai Simi. Belum sempat aku berucap. Simi telah lebih dulu menghujani ku dengan pertanyaan pertanyaan mengenai tes tulis yang aku jalani tadi.


"Udah gue isi semua, semampu gue, sebisa gue. gak tau bener atau engga." jawabku sambil tertawa menimpali beberapa pertanyaan Simi.


"Trus sekarang apa?"


"Pulang lah. UTS woy, belajar." jawabku sambil berlalu meninggalkan Simi kearah parkiran.


"trus hasilnya nanti gimana?"


"Nanti juga di kabarin lewat telpon." jawabku yakin karena ada keterangan seperti itu sebelumnya.


Entah kenapa rasanya seperti sudah tidak ada alasan untuk ku tetap berada di TK tersebut. Aku tidak yakin akan lolos tes kali ini, jadi aku pikir akan lebih baik jika aku kembali kekosan dengan segera dan mempersiapkan diriku untuk UTS nanti.


***


Aku duduk diatas motor Simi dan memutar Spionnya sehingga pas dengan posisi wajah ku. Aku perhatikan wajahku yang agak terlihat aneh karena bedak yang sudah mulai tidak beraturan karena keringat yang berceceran. Sedangkan Lipstik yang tadi pagi aku pakai masih terlihat rapih dengan warna peach yang masih indah. Mungkin karena aku belum sempat makan.


Ku cari gawai ku dan mulai mengabari Miss Mala perihal tes yang aku lalui hari ini. Tidak banyak yang dia sampaikan selain dari kata katanya yang selalu meyakini kemenanganku. "Semoga Miss Mala tidak kecewa mendengar kabar kegagalan ku nanti." ucapku dalam hati.


"Ayo, buru." Ucap Simi yang entah sejak kapan berada dijok belakang.


"Beli makan dulu, gue laper belum makan dari pagi." Usul ku yang langsung disetujui oleh Simi.


"Warteg depan kosan aja," usul Simi.


"Dimana aja. Asal makan." jawabku sambil mengendarai motor milik Simi.

__ADS_1


***


Matahari tampak bersemangat sekali siang ini, berbeda dengan diriku yang sudah kehilangan semangat sejak pagi tadi. Motor yang aku kendarai berhenti di depan warteg. Dengan segera Aku dan Simi memilih beberapa menu makanan dan dibungkus dengan cepat oleh si empunya warung. Setelah menyelesaikan pembayaran, aku kembali mengendarai motor milik Simi menuju ke kosan. Sedangkan Simi lebih memilih untuk jalan, karena memang sudah dekat.


Ku parkir motor dan berjalan gontai kearah kosan. Ku buka sepatu ku satu persatu dan meletakan tas yang sudah tidak seberat pagi tadi dilantai. Langsung ku baringkan tubuhku disebuah kasur busa yang sudah tidak mengembang. "hmm," ku tarik nafasku dalam dalam dan menghembuskannya secara beraturan.


"Gimana lolos gak?" Tanya Nina dengan antusias.


"Gak," Jawabku berbohong. Saat itu aku memang belum mengetahui hasil dari tes tersebut. Tapi agar aku tidak kecewa, jadi aku lebih meyakini bahwa aku gagal, begitu pikir ku saat itu.


"Buru makan dulu," Ajak Simi.


"Ayo," jawab Nina.


"Bentar, gue nlpn WR dulu." Ucapku membalas ajakan Simi.


WR, Sebuah nama yang muncul di layar gawaiku menerima panggilanku dengan cepat. Setelah memastikan bahwa dia belum makan siang, akupun memintanya untuk menemuiku dikosan.


Hanya butuh waktu 5 menit untuk WR tiba menemuiku.


"Gimana?" tanya nya dengan santai sembari duduk dilantai.


"Kok gitu?"


"Gak tau. Udah ah gausah dibahas. Makan aja."


***


WR sudah pulang beberapa menit yang lalu dengan perkataannya yang membuat ku sedikit terharu "aku percaya kamu bisa."


Ba'da juhur Aku, Simi dan Nina dengan segera menuju ke kampus dengan tujuan datang lebih awal agar bisa memilih tempat duduk paling belakang. Dan berhasil, aku tiba dikampus ketika kelas masih sepi. Nina telah lebih dulu oergi kekelasnya, Sedangkan Aku dan Simi langsung memilih kursi yang paling belakang agar bisa dengan mudah membuka hp jika sewaktu waktu aku membutuhkannya. Jaga-jaga saja.


Satu persatu teman kelasku mulai berdatangan, termasuk Putri yang juga merupakan parter mengajarku.


"Gimana, Tiya?" Tanya putri.


Pertanyaan yang sebenarnya wajar tapi entah kenapa aku jengah sekali mendengarnya. Simi, Nina, WR, Miss Mala dan sekarang putri. Kenapa mereka semua menanyakan tes tersebut.


"Belum ada hasilnya," Jawabku sekenanya.


Dosen mata kuliah pertama tiba dan dengan segera membagikan kertas soal dan lembar jawaban. Diluar dugaanku, ternyata soal yang dosen itu berikan mudah. seharusnya, aku tidak perlu repot-repot memilih tempat paling belakang. Karena tanpa melihat hp pun aku sudah bisa mengisinya. Simi? iya dia juga bisa mengisinya dengan melihat tulisan dari lembar jawabanku.

__ADS_1


Mata kuliah pertama selesai dan lansung digantikan oleh dosen mata kuliah kedua yang segera tiba tanpa jeda. Baik pertama ataupun kedua, semua nya berjalan dengan lancar, mudah dan tidak sesulit yang aku bayangkan.


Semua lembar jawaban telah dikumpulkan dan Sang dosen tengah bersiap keluar. Pukul 4.00, harusnya sudah ada yang menghubungiku perihal tes yang aku lalui tadi pagi. Tapi tidak ada satupun panggilan masuk yang aku terima, entah intu dari Miss Mala ataupun dari pengawas tadi. "Mungkin aku tidak lolos," batinku.


Aku beranjak dari tempat duduk ku untuk pulang setelah kembali mengantongi hp ku, baru beberapa langkah tiba tiba saja gawaiku berdering. Sebuah panggilan masuk dari Miss Mala. dengan penuh kekhawatiran aku memberanikan diri untuk menerima panggilannya.


"Tiya... Selamet ya. Sudah saya bilang, kamu pasti lolos. Kamu harus persiapkan diriku kamu. 2 hari lagi kamu akan mengikuti tes lisan."


Miss Mala berbicara tanpa jeda, aku masih terdiam mendengar semua perkataannya, apa maksudnya. Aku lolos ke tahap selanjutnya?


"Maksudnya gimana Miss?" Tanyaku untuk menghilangkan rasa ragu.


"Kamu lolos tes tulis. Ada 21 orang yang lolos. 9 orang gagal." Tambah Miss Mala.


Seketika tubuhku melemas mendengar penuturannya. Apa yang harus aku lakukan? disatu sisi aku senang bisa melewati tes tulis tersebut dengan sebuah keberhasilan, tapi disisi lain penderitaan ku juga belum berakhir. Aku masih harus belajar lagi dan lagi untuk mengikuti tes lisan yang akan dilaksanakan hari rabu nanti.


Simi dan Putri terkejut mendengar penjelasanku, mereka menjabat tanganku sembari berkata "Selamat, selamat" aku hanya tersenyum kecut menimpali tingkah laku mereka. Bingung, harus bahagia atau apa.


"Eh, Bang WR noh." Ucap Simi menunjuk ke arah pintu kelas ku.


"Ayo, Sim. Sekalian pulang."


Aku berjalan dengan raut wajah yang membingungkan, andai saja WR mampu melihatnya.


"Aku lolos," Kataku ketika sudah berada disampingnya.


"Udah tau." jawabnya singkat.


"Lah, dikasih tau siapa?" Tanyaku bingung.


"Kan udah aku bilang kalo aku percaya kamu bisa,"


"Dih,"


"Tes lagi kapan?"


"Rabu, tes lisan. Huwaaa," Jawabku sembari meraung raung.


Simi tertawa melihat tingkah laku ku. Dia mengarahkan telunjuknya ke jidat dan seolah membuat garis miring disana.


"Udah buru pulang. Belajar," Ucap Simi sambil mengganden ku pergi meninggalkan WR.

__ADS_1


__ADS_2