
Pukul 7 pagi WR telah menjemputku untuk ikut bersamanya kepersidangan. Sebelumnya aku telah meminta ijin pada Miss Mala untuk tidak mengajar hari ini dengan alasan tersebut.
"Oke."Tutur Miss Mala membalas pesanku sebagai tanda persetujuannya.
Udara dingin masih sangat terasa pagi ini. Apalagi berada diatas motor seperti ini. Semilir angin hampir sepenuhnya masuk melalui pori pori.
Beberapa menit merasakan dinginnya angin menembus kulit, tibalah aku disebuah bangunan besar nan megah bertuliskan "Pengadilan Negeri".
Aku sudah sering melihat bangunan tersebut. Tapi, untuk masuk kedalamnya ini merupakan hal baru bagiku.
"Emang disini tempatnya?" Tanyaku pada WR.
"Iyalah. Dimana lagi. Masa pengadilan agama." Jawab WR datar.
WR memarkirkan motornya berbarengan dengan puluhan motor yang telah terparkir lebih dulu. Aku fikir, aku datang terlalu pagi. Tapi ternyata sudah ada yang datang juah lebih pagi dari kedatanganku.
"Kita kemana?" Aku mulai turun dari motor dan melepaskan helm yang aku kenakan.
"Masuk lah." Jawab WR.
"Masuk kemana?"
"Masuk pernjara." Ucap WR.
"Ih, serius dong."
"Haha lagian nanya terus. Aku juga gak tau."
Ditengah tengah rasa bingung yang melanda aku dan WR. Tiba-tiba saja seorang pengendara motor datang dan memarkir motornya tepat disebelah WR. Dengan segera WR menanyakan apa maksud dan kedatangan pria tersebut kesini. Ternyata pria tersebut punya maksud yang sama dengan apa yang WR niatkan. Pria itu memberi tahu WR bahwa tempat untuk persidangan nanti diadakan digedung bagian belakang gedung utama.
Pria itu kemudian pergi mendahului aku dan WR. Ku langkahkan kaki ku dibelakang WR mencari tempat yang tadi disebutkan. Hingga langkahku terhenti melihat tiga buah sel penjara yang berada dibagian kiri jalan.
"Kok penjara nya kosong ya? Sini liat dulu." Ku tarik tangan WR agar lebih mendekat pada ruangan dengan pintu jeruji besi tersebut.
"Mau ngapain?"
"Mau liat." Jawabku sembari meneliti setiap besi yang tersusun hingga menjadi pagar.
"Penjara wanita," ku baca apa yang tertera di depan sel tersebut.
"Udah ayo." Pinta WR yang sepertinya bosan berada dihadapan sel tahanan kosong tersebut.
Aku mulai melanjutkan perjalanan kegedung bagian belakang. Ada banyak sekali gedung gedung yang terletak dibelakang gedung utama hingga membuat aku kebingungan. Setelah berkeliling akhirnya tampak sekumpulan pria dan wanita berada disekitar gedung berwarna coklat muda.
"Itu kali yank." Ucapku pada WR.
__ADS_1
"Kayanya sih."
Setelah bertanya pada salah seorang yang ada disana. Ternyata pengadilannya belum dimulai dan kita harus menunggu terlebih dulu. Aku mulai duduk dideretan kursi yang berbaris panjang dan mengahadap pada televisi besar yang terpasang di didinding.
Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan keadaan sekitar dan lebih memilih untuk bermain gawai sambil sesekali berbincang dengan WR. Tapi entah karena apa, tiba-tiba saja pandanganku terarah pada seorang gadis kecil yang ku taksir baru duduk dibangku sd tengah sibuk menonton sesuatu yang ada di ponsel. Ponsel tersebut dia arahkan sangat dekat sekali dengan matanya, hingga jika hanya selewat tentu tidak akan menyadari apa yang tengah anak kecil tersebut tonton.
Ku runcingkan mataku agar bisa melihat dengan jelas apa yang anak tersebut lihat. "Oh astaga," ku tutup mulutku yang hampir membuat lingkaran karena tersentak melihat pemandangan yang baru saja aku lihat.
"Kenapa? Liat setan?" Tanya WR yang menyadari reaksiku.
"Itu anak kecil didepan kita, liat coba." ku berbisik pelan ditelinganya sembari meminta WR agar melihat apa yang sudah lebih dulu aku lihat.
Sebuah senyum kecut terlukis di wajah WR tanpa berucap sepatah katapun ketika netra nya menyaksikan anak gadis tengah menonton adegan dewasa yang sangat tidak layak sama sekali untuk ditonton.
Awalnya aku fikir handphone tersebut milik wanita muda yang duduk berdampingan dengannya. Tapi ternyata wanita tersebutpun mengeluarkan ponsel yang ada disakunya. Lalu ponsel yang anak gadis tersebut pakai milik siapa? Entah lah, masa bodo.
"Tegur, yank." Rasanya aku ingin sekali menegur ibu dari anak tersebut yang dengan lalai membiarkan putri kecilnya menonton tayangan itu.
"Sok." Jawab WR singkat.
Otakku mulai berfikir cara untuk menegur anak dan ibu tersebut. Tapi bagaimana, haruskah aku memberitahu ibunya langsung, atau apa. Akhirnya kuputuskan untuk mencolek pundak dari wanita yang aku rasa ibunya.
"Apa?" Ucap wanita tersebut sembari menoleh.
"Bukan, dia anak suami saya. Kenapa?" Jawabnya.
Apa-apain ini. Apa dia bermaksud bergurau padaku sehingga dia berkata bahwa gadis itu bukan anaknya tapi anak suaminya. Ah, iya. Mungkin wanita tersebut menikah dengan pria yang sudah memiliki anak. Entahlah, aku tidak perlu mengetahuinya lebih jauh.
"Itu anaknya nonton apa?" Tanyaku pada wanita tersebut dengan pelan.
"Alah, palingan juga nonton video dewasa." Ucap ketus wanita tersebut sembari memalingkan wajahnya keposisi semula.
Deg, jantungku seolah berhenti mendengar penuturan ibu sambung dari anak tersebut yang dengan entengnya berucap seperti itu. Aku sudah membayangkan bahwa ibu tersebut akan mengambil handphonenya dan memberi penjelasan dari apa yang telah ditontonnya. Tapi ternyata, dugaan ku salah. Ibu tersebut telah mengetahui aktivitas anak tirinya itu.
"Ya Allah." Ucapku lirih.
"Ayo pergi." WR menarik tanganku agar meninggalkan tempat tersebut dan mencari tempat lain.
Hampir satu jam berada disitu. Akhirnya aku dan WR memasuki sebuah ruangan dengan tiga buah pintu. Satu dibagian belakang dan dua lagi dibagian samping. Selain itu, Ada banyak barisan kursi di bagian kanan dan kiri yang hanya menyisakan bagian tengah saja untuk berjalan.
"Kamu duduk disini." Ucap WR memintaku agar duduk dikursi bagian pinggir.
Penuh sekali tempat ini, tidak sedikit bapak-bapak yang berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk.
"Kamu gak duduk?" Ku tatap WR yang tengah berdiri disampingku.
__ADS_1
"Gak muat." Ucapnya tetap fokus kedepan menatap tiga orang yang tengah duduk dengan sebuah meja panjang dihadapannya.
Satu persatu nama dari orang yang berada diruangan tersebut mulai dipanggil. Setiap kali ada kursi kosong pasti dengan cepat langsung terisi. Hingga membuat WR harus terus berdiri.
Kutarik lengan WR yang tergantung bebas disampingku. "Apa?" Tanyanya.
"Mau gantian?" Ucapku pelan.
"Hah?" Seperti tidak mendengar apa yang aku ucapkan. Kini WR membungkukan badannya dan mendekatkan telinganya kearahku.
"Mau gantian gak?" Bisikku lirih.
"Engga."
"Kamu gak pegel?"
"Pegel."
"Yaudah gantian."
"Gausah."
Tiba-tiba saja kepala ku terasa sangat berat dan pusing mulai menjalar. Mungkin karena suasa pengap yang ada diruangan ini ditambah lagi aku yang belum sarapan pagi tadi.
"Kenapa?" Tanya WR yang melihatku memegangi kepala.
"Pusing." Ucapku lirih.
"Yaudah ayo keluar." WR hendak menuntunku keluar meninggalkan tempat tersebut. Baru satu kali kaki nya melangkah tiba tiba saja namanya dipanggil.
"Kamu tunggu diluar. Nanti aku nyusul." Pinta WR yang dengan segera melepaskan tangannya dari tanganku.
WR berjalan kedepan dan mulai duduk dikursi yang disediakan. Sebenarnya aku masih ingin berada disitu hingga WR selesai. Tapi rasa pusing dikepalaku membuat aku akhirnya melenggang keluar.
Aku duduk disebuah kursi yang menghadap pada barisan bunga bunga yang bermekaran. Menunggu hingga WR selesai,
"Kamu gak apa-apa?" Tanya WR menghampiriku.
"Engga. Pusing doang dikit. Kamu udah?"
"Udah. Ayo pulang."
"Laper."
"Astaga. Pantesan. Kamu belum sarapan ya? Sarapan dulu ayo." Ucap WR seraya membantuku berdiri.
__ADS_1