WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
7 - Kosan Baru


__ADS_3

Senin pagi selepas subuh, aku merapihkan semua baju baju ku kedalam tas. Tidak lupa peralatan mandi dan juga beberapa buku kuliah ku. semua nya sudah berjejer rapi tinggal menunggu Simi menjemputku dengan motornya.


TID..TID..


Suara klakson motor terdengar sangat nyaring berulang ulang. Sontak, aku berlari keluar. Dan ternyata Simi telah tiba untuk menjemputku.


"Belum mandi, lu?" tanyaku. karena pada saat itu, dia masih mengenakan piyama dengan rambut yang masih berantakan.


"Gak usah. Buruan. Lets go,". Ucap Simi yang enggan turun dari motornya.


"Bantuin."


"yeh, kalo gue turun nanti motornya jatoh," Jawab Simi beralasan.


"Ya di standarin pea."


Ku simpan satu buah kardus yang berisi buku pelajaranku di bagian depan yang dihimpit oleh kedua kaki simi. Sedangkan 2 buah tas berukuran besar berada di bagian depan dan pundak ku.


Beberapa tarikan gas saja, Aku dan Simi sudah tiba dikosan nya. Kosan Simi tidak beda jauh dengan kosan ku yang sebelum nya. Hanya saja, kosan simi satu petak lebih kecil dari kosan ku dulu. Kosanku yang lama memiliki empat buah ruangan yang berbeda sedangkan kosan kali ini hanya ada 3 ruangan saja.


Kosan kami bernomor pintu 4 diantara 6 baris kosan yang ada. Nampak nya, semua kosan telah terisi penuh. jika dilihat dari beberapa baju yang digantung di tiap tiap teras depan.


Aku tidak hanya berdua dengan Simi dikosan tersebut. Karena, sudah ada seorang teman nya Simi dari kelas lain. Yang sudah menemani nya dikosan itu.


Tidak butuh waktu lama untuk ku bisa akrab dengan teman kos nya Simi, Nina namanya. Anak nya ramah dan banyak bicara jadi membuat ku tidak sungkan berada didekatnya apalagi beberapa kali aku sudah sempat melihatnya walaupun belum sempat bertegur sapa. Karena jika dilihat dari raut wajahnya, sepertinya Nina orangnya jutek dan menyebalkan. Tapi ternyata tidak, dia cukup menyenangkan sebagai teman yang baru saja berkenalan.


Beberapa kali aku dan Simi bolak balik mengambil lemari, kasur dan boneka pemberian Arega. Setelah memastikan tidak ada lagi barang barang yang tertinggal Akhirnya aku dan simi bisa rebahan.


Ku baringkan tubuh ku yang penuh dengan keringat diatas kasur yang dulu ku beli bersama Cici.


"ahh, pegal sekali rasanya," gumam ku dalam hati.


Ku ambil hp ku untuk menghubungi Arega. Sekedar mengabari bahwa aku sudah pindah kekosan Simi. Beberapa kali aku menelpon. Namun, tak satupun ada jawaban. Aku periksa, terkahir kali dia mengirimkan pesan padaku yaitu pukul 7 pagi tadi "aku kerja dulu, ya," begitu isi nya yang baru sempat aku buka siang ini. "sibuk kali ya," batin ku.


Ku letakan kembali gawaiku agar bisa lebih leluasa bersantai

__ADS_1


"Gue gak kuliah dulu ah, Simi. Cape banget," rengek ku pada simi.


"Lah, sekarang kan ada quis. Mau, lu. Gak dapet nilai,"


Ah, kuis. Tidak mungkin aku meninggalkannya.


Kutinggalkan barang barang ku yang belum tersusun rapih karena belum sempat aku bereskan. Dengan segera aki bergegas menuju jamar mandi karena jam sudah menunjukan pukul 12 siang dan waktu perkuliahan dimulai satu jam lagi.


"Tunggui gue," Aku berteriak didalam bilik kamar mandi.


"Buruan," Jawab Simi membalas teriakanku.


***


Aku berangkat dengan menggunakan motor Simi yang dinaiki tiga orang sekaligus, Aku, Simi dan Nina. ku ambil alih tugas simi dalam mengendarai sepeda motor miliknya, melaju menuju kampus.


Nina betemu dengan teman satu kelasnya di parkiran dan lebih memilih untuk kekantin dulu bersama temannya. Sedangkan aku dan Simi langsung menuju kelas mempersiapkan diri untuk kuis yang akan dilaksanakan beberapa menit lagi.


Syukurlah, Perkuliahan kali ini berjalan lancar dengan nilai quis yang memuaskan. Walaupun aku tidak sempat belajar. Bagaimana bisa belajar jika jadwal kuis untuk hari ini saja aku lupa. Aku terlalu sibuk dengan pindahan kosan dan pernikahan Cici, sehingga mengabaikan semua ini.


Ku lihat Nina tengah berdiri diluar kelas ku. Menunggu aku dan simi selesai mata pelajaran yang kedua.


Buru buru ku hampiri Nina ketika pelajaran kedua berakhir. Nina tampak melambai lambaikan tangannya ke arah ku dan Simi sembari tersenyum lebar, itulah Nina. Entah kenapa dia selalu terlihat bahagia.


"lets go home girls," ucap Simi pada kami berdua.


"Kantin dulu ah. Laper, cuy." pinta ku yang langsung disetujui oleh Nina dan mau tidak mau simi pun akhirnya mengikuti kami menuju kantin.


***


"Silahkan,"


Sebuah nampan berisi 3 buah piring dengan isi yang berbeda di antarkan oleh petugas kantin kemeja yang berada didepan ku dan disusul dengan tiga buah es teh manis yang diletakan berdekatan dengan masing masing ketiga buah piring tadi. Aku mulai menyantap baso goreng bumbu kacang kesukaanku dengan lahap. Begitupun dengan Nina dan juga Simi.


Dret - Dret

__ADS_1


Saku celanaku bergetar karena ada sebuah panggilan masuk pada handphone yang sedang aku kantongi. Arega, nama penelpon tersebut


"Kemana aja sih, yank,?" tanyaku dengan ketus pada Arega.


"Aku kan kerja, Sayang."


"Iya, tau. Yang kerja sibuk banget sampe gak sempet ngabarin pacar nya,". Aku mulai meracau tidak karuan.


"Kamu kenapa, sih. Yank? lagi pms, ya?"


"Kecapean noh angkat angkat lemari, mana boneka beruang gede banget. nyusahin" ucap Simi disamping telepon yang sedang ku genggam.


"Libur kerja aku main, ya,". katanya dengan lembut.


"janji ya"


"iya, sayang,"


Arega, tutur katanya selalu lembut. bahkan disaat bertengkar sekalipun kata katanya masih tetap sama.


Aku menutup panggilan dari nya dan kembali melanjutkan makan ku yang sempat tertunda.


"Arega, udah kerja dia?" tanya Simi.


"Udah. Emang gue belum cerita, ya?" Tanyaku balik sambil tetap mengunyah.


"Ah, palingan lu cerita nya sama si Cici," Jawab Cici kesal.


"Yaudahlah gak penting juga lu tau," jawab ku cuek.


Suasana kantin begitu ramai sore itu. Ada beberapa mahasiswa yang masih berdiri, menunggu giliran nya mendapatkan kursi. Hingga membuat aku tidak enak hati untuk lama lama berada disini.


"Buruan, cuy," Kataku pada Nina dan Simi yang sepertinya tidak merasakan kegundahan seperti yang aku rasakan. Bagaimana bisa mereka bisa tetap makan dengan santai sambil berhaha hihi ditengah tengah keramaian kantin seperti ini.


"Selow aja, kita bayar kok disini," Jawab Simi dengan enteng.

__ADS_1


Aku hanya menurut dan menunggu mereka berdua menghabiskan makanan nya karena memang saat itu makananku juga belum habis sepenuhnya.


__ADS_2