
Mobil yang aku naiki kini telah berhenti didepan sebuah gang kecil yang menuju kosanku. Gang tersebut hanya bisa dilalui motor, itu sebabnya Miss Mala memarkirkan mobilnya dipinggir jalan. Awalnya dia berniat untuk mampir terlebih dulu. Tapi, sepertinya mobilnya akan sedikit mengganggu lalulintas jalanan tersebut jika di biarkan terlalu lama terparkir dibahu jalan.
"Maaf saya gak bisa mampir, kamu gausah masuk dulu besok. Istirahat aja." Miss Mala mentapaku dengan tenang.
"Iya Miss. Terima kasih banyak." Jawabku sungkan.
Telah banyak sekali yang Miss Mala lakukan padaku. Terima kasih Miss mala, anda baik sekali.
Klik -
Kubuka pintu mobil dan mulai mengeluarkan kakiku satu persatu. Diluar sudah ada WR, Simi dan Nina yang sedari tadi menunggu kedatanganku karena memang dia telah sampai lebih dulu.
"Hati-hati." Ucap WR sembari meraih tanganku.
"Iya," Jawabku lirih dan mengenggam tangannya kuat.
"Lu ngapain bengong aja, Sim. itu ambil buah." Ucapku pada Simi dan Nina yang sedari tadi diam memperhatikanku yang tengah berusah keluar dari mobil.
"Eh iya gue lupa." Ucap Simi.
Simi dan Nina membuka pintu bagian belakang dan mulai membawa buah dan plastik masing masing satu. Setelah berpamitan pada Miss Mala, aku dan yang lainpun segera menuju kekosan yang hanya membutuhkan waktu sebentar walaupun jalan.
"Tunggu sebentar." Ucap WR mendahuluiku memasuki kosan yang sudah lebih dulu dimasuki Simi dan Nina. Dengan cekatan WR membersihkan kasurku dan menumpuk dua buah bantal sekaligus diujungnya.
"Ayo tiduran." Pinta WR setelah selesai dengan tugasnya.
"Heh, Si Tiya cuma typus bukan lahiran. Gausah lebay lu." Simi meledek sembari membuka parcel buah yang sedari tadi dibawanya.
"Simulasi, Sim." Jawabku dengan sedikit tawa.
Aku duduk dan bersandar kepada bantal yang tadi ditumpuk oleh WR. Simi tengah sibuk memakan buah sedangkan Nina dengan tergesa menuju kamar mandi dan bersiap siap untuk pergi kuliah.
"Mau buah." Pintaku pada WR yang sedari tadi duduk disampingku.
"Buah apa?"
"Apel."
Satu buah apel berwarna merah darah dilemparkan oleh Simi sesuai dengan perintah WR.
"Nih," Apel tersebut diberikan langsung padaku olehnya.
"Di belah dong yank." Rengekku
__ADS_1
"Oh digigit langsung gak kuat?"
"Dih gak mau ah."
Simi mendekati WR dan memberikan sebuah pisau kecil yang tadi dia gunakan untuk mengupas apel juga.
"Nih, mau gue lempar tapi takut kena muka lu." Ucap Simi tertawa.
WR segera mengupas dan memotong apel tersebut hingga membuat bentuk seperti lengkungan senyum. Aku mulai mengunyahnya dengan pelan, sedikit demi sedikit hingga satu potong apel yang diberikan WR habis.
"Udah," Aku menolak ketika WR memberiku potongan apel yang lain.
"Makan roti dulu ya?. Kan nanti kamu minum obat." Bujuk WR dan mulai membuka bungkusan yang berisi roti dan memberikannya padaku.
WR mengeluarkan beberapa obat yang berada ditasnya dan mulai membaca mana saja obat yang harus aku minum.
4 butir obat telah terkumpul, sedikit lebih banyak dari obat yang biasa aku minum selama diklinik. Mungkin satu obat lagi sebagai pengganti dari cairan infusan, entahlah. Aku tidak mengerti. Yang pasti setelah memakan sedikit roti aku harus segera meminum obat yang telah disiapkan WR.
"Minum nya mana?" Pintaku pada WR.
"Kan kamu bisa minum obat gak pake air." Ucap WR berasalan.
"Ih, ini gede gede banget. Seret tau. "
Hoam-
Aku mulai mengantuk sesaat setelah obat yang aku minum masuk keperutku. Mungkin ini salah satu reaksainya yaitu menyebabkan kantuk.
"Kamu kuliah aja. Aku istirahat disini " Titahku pada WR.
"Kamu gak apa apa sendirian?" Tanya WR meyakinkan.
"Gak apa apa. Aku udah sehat."
"Bener?"
"Benerlah, kalau masih sakit ya belum boleh pulang."
"Iya juga ya."
Simi dan Nina berangkat terlebih dulu karena mereka lebih takut telat dibanding WR yang biasa saja jika datang terlambat. Simi pergi tanpa mandi dengan alasan sudah tadi pagi.
"Aku ngantuk banget. Tidur dulu ya."
__ADS_1
"Iya," WR beranjak keluar setelah mengusap rambutku. menutup pintu kosan dan tidak lama terdengar suara motornya pergi meninggalan halaman dan disusul oleh mataku yang terpejam.
Sekitar satu jam mataku terpejam, kini kesadaranku mulai berkembang. Aku mulai duduk dan memakan beberapa buah buahan yang masih tersisa banyak. Entah kenapa bangun tidur membuat perutku terasa begitu lapar. Setengan apel sudah aku makan, serta beberapa anggur dan tak lupa juga satu buah pisang berukuran sedang.
"Ah, lupa gak ngechage hp." Umpatku yang mengingat bahwa hp milikku mati. Kuarahkan padanganku kesegala arah karena aku sendiri lupa dimana aku menyimpannya.
"Ah, ini dia." Aku menemukan gawaiku tengah tersambung dengan kabel chargeran dan sudah menampilkan angka 80% dengan warna hijau dilayarnya.
"Mungkin WR yang melakukannya." Gumamku dalam hati.
Bosan sekali rasanya berdiam diri dikosan seorang diri, walaupun ada handphone disini tetap saja tidak bisa menggantikan kehadiran WR, Nina ataupun Simi.
Sempat terlintas untuk menghubungi WR tapi aku takut menggangunya, jadi yasudah akhirnya aku bermain gawai hingga mereka kembali pulang, bersama WR yang juga kembali datang.
***
Sebenarnya Miss Mala memintaku untuk tidak masuk mengajar dulu, tapi aku tidak bisa berdiam diri tanpa ada kegiatan. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali mengajar satu hari setelah kepulanganku dari klinik dan mulai berkuliah lagi seperti biasa.
WR sempat melarangku dan meminta agar kondisiku benar benar stabil, Tapi bukan Tiya namanya kalo tidak ngeyel. Dengan terpaksa WR memberi ijin untuk kembali mengajar dengan cacatan aku harus mengikuti semua pesan yang telah dokter anjurkan.
Hingga hari jumat tiba, dan WR menyarankanku untuk pulang kerumah saja dan kebetulan obat yang aku konsumsi sudah habis dan kondisiku sudah sangat baik saat ini.
"Mau pulang sore atau pagi?" Tanya WR.
"Sore aja. Lumayan biar lebih banyak waktu dirumah."
Setelah berkemas dan berpamintan pada Simi dan Nina, akupun menaiki motor WR dan mulai melaju diatas motor yang sama bersamanya. Sebenarnya Nina dan Simi juga berniat pulang jumat ini. Hanya saja mereka lebih memilih melakukan perjalanan dimalam hari, ketimbang sore hari sepertiku.
"Kuat gak?" Tanya WR setengah berteriak.
"Kuat." Jawabku singkat.
"Kalau gak kuat pegangan."
"Iya."
WR mengendarai motornya dengan agak cepat higga satu setengah jam kemudian motor yang dikendarainya telah sampai didepan rumahku. Kepulanganku disambut dengan hangat oleh keluargaku. Setelah berbincang cukup banyak, tiba -tiba WR pamit pulang.
"Kamu gak nginep aja." Tanyaku heran karena biasanya WR akan menginap setelah mengantarkanku pulang.
"Gak usah. Tadi mamah sms nyuruh pulang. Minggu aku kesini lagi buat jemput kamu."
"Yaudah hati hati." Sebuah lambaian tangan mengeringi kepergiannya malam itu.
__ADS_1