
Aku tersenyum kecut mendengar penuturannya. Seenaknya saja dia berkata seperti itu dihadapanku. Bukankah sama saja dia mendoakan ku agar tidak bahagia bersama WR.
"Aneh," Jawabku singkat menyikapi perkataan konyolnya.
"Kenapa?"
"WR baik, baik banget. Dia selalu ada buat aku kapanpun aku butuh. Jadi sepertinya penantian kamu nungguin aku ngehubungin duluan akan sia-sia." Aku menjelaskan semuanya dengan penuh penghayatan agar Arega juga mampu merasakan bahwa yang aku sampaikan memang kenyataannya.
"Syukurlah kalau dia baik. Semoga selalu baik. Tapi suatu saat nanti, kalau kamu kecewa kamu bisa datang ke aku. Aku akan selalu membuka hati buat kamu." Arega kini menatapku dengan sorot mata yang berbinar.
"Ayolah Arega. Stop kaya gini. Arega harus bahagia walaupun bukan dengan aku orangnya."
"Akan aku usahakan." Jawab Arega pelan.
Tidak ada lagi percakapan diantara kita, baik aku dan Arega ataupun Raka, Simi dan Nina. Semua nya terdiam khusuk menghabiskan satu porsi makanan yang tersedia di piringnya.
"Udah ayo bayar, Ar." Ajak Raka ketika kami berlima sudah selesai makan.
"Tiya, aku minta maaf." Ucap Arega.
"Heh. Apaan nih, jangan bilang lu gak jadi bayarin kita makan." Simi menyambar ucapan Arega dengan pertanyaannya.
Tanpa menghiraukan ucapan Simi, Arega kembali berkata "Aku minta maaf udah bikin Tiya gak nyaman malam ini."
Arega, sebenarnya aku tidak membencinya hanya saja aku tidak suka jika dia berfikiran buruk tentang WR. Andai saja sikapnya bisa biasa saja. mungkin aku tidak akan sekaku ini saat bersamanya. Tapi lihatlah, dari awal hingga akhir selalu saja kisah percintaan yang menjadi topik perbincangannya.
"Gak apa-apa kok. Aku juga minta maaf." Jawabku lirih.
"Udah, gausah maaf maafan terus. lebaran masih lama." Nina bereaksi dari kediamannya.
"Kalian mau kemana abis ini?" Tanya Raka yang ditujukan untuk kami bertiga.
"Kemana ya? Pulang juga masih sore." Tutur Simi sembari menunjukan expresi orang yang tengah berfikir. Sore Simi bilang. Padahal sang surya telah tenggelam beberapa jam yang lalu.
"Nonton aja, yuk." Saran dari Raka.
Dret - Dret - Dret
Getaran ponselku kali ini langsung terasa karena aku memang sengaja menaruhnya di kantong celana.
"Bentar Sim." Ucapku yang tengah berusaha mengeluarkan ponsel tersebut dari saku.
"Hallo, Assalamualaikum." Ucapku membuka percakapan dengan WR. Ya, WR meneleponku lagi untuk yang kedua kali.
"Waalaikum salam. Kamu masih di Mall?" Tanya WR dengan suara khas nya.
__ADS_1
"Iya, Kenapa?"
"Ya gak apa-apa. Kalau udah selesai langsung pulang. Besok pagi aku berangkat kekosan."
"Iya,"
Panggilan tersebut berkahir tapi pertanyaan dari Simi dan Nina baru dimulai.
"Ngapain Tiya?"
"WR kenapa?"
"Marah ya?"
"Lu ketauan ya."
Simi dan Nina saling bergantian memberiku pertanyaan yang belum aku jawab satupun.
"Engga dia bilang besok pagi mau kekosan." Ku jawab pertanyaan mereka.
"Udah pulang aja yuk." Ajakku kepada kedua orang temanku.
"Gak mau nonton dulu?" Raka berucap seolah hendak menahan kepulanganku.
"Pengen sih sebenernya, tapi si Tiya nya harus istirahat." Ungkap Nina.
"Makasih ya, sering sering." Ucap Simi ketika Arega sudah selesai membayar dan menemui kami yang menunggunya diluar bersama Raka.
"Boleh. Minggu depan juga boleh." Arega seolah senang mendengar permintaan Simi yang ingin sering sering ditraktir olehnya. Mungkin dengan begitu dia bisa bertemu denganku, entahlah aku tidak mengerti jalan fikirannya.
"Tapi yang lain dong. Jangan disini." Kali ini Nina yang menggantikan Simi untuk bernegosiasi.
"Terserah Tiya aja." Jawab Arega menumpahkan semua keputusan akhirnya padaku.
"Aku? Maaf. Tapi, aku gak ikut." Jawabku dengan tetap menunjukan kesan ramah. Terlihat jelas kekecewaan mulai menghampiri raut wajah Arega.
"Kenapa?" Tanya Simi.
"WR ulang tahun." Jawabku jujur.
"Serius?" Tanya Nina merasa tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan.
"Iya. Gue liat kok tanggal lahirnya di KTP. Pas ditilang itu." Jawabku jujur.
"Eh iya lu kapan sidang?" Tanya Nina yang seolah kembali mengingat kejadian beberapa hari lalu.
__ADS_1
"Gak tau. Senen kayanya."
"Kamu ditilang kenapa?" Tanya Arega yang seperti biasa selalu ingin tahu mengenai kehidupanku.
"Nerobos lampu merah." Jawabku dengan santai. Yaudah kalau gitu aku pulang duluan ya."
Entah apa yang menjadi tujuan Arega dan Raka sebenarnya karena ketika aku memutuskan hendak pulang. Arega dan Raka pun mengikuti kami dibelakang hingga parkiran.
"Kamu gak jadi nonton?" Tanya Nina pada Raka.
"Engga. Lain kali aja." Jawab Raka.
"Mau aku anter gak?" Tanya Arega ketika aku hendak bersiap mengenakan helmku.
"Gak usah. Makasih banyak."
"Ih, anterin aja. Nanti kalau ada cowok yang ngikutin kita lagi gimana?" Simi beralasan agar bisa diantar oleh Arega. padahal jalur kali ini dengan jalur yang dulu aku diikuti pria itu jelas berbeda.
Simi menceritakan semua pada Arega apa yang pernah aku alami dulu dimalam minggu, karena Arega yang meminta Simi untuk memberitahunya. Simi juga memberitahu Arega bahwa WR datang dengan segera bahkan ketika dia sedang berada di rumahnya.
"Kayanya WR emang yang terbaik buat kamu." Ucap Arega tiba-tiba setelah mendengar penjelasan Simi.
"Semoga. Mungkin aku akan kabarin kamu kalau WR bikin aku sakit hati. Tapi kayanya gak mungkin buat WR nyakitin aku." Nada jawabanku terdengar sangat yakin ketika membicarakan WR.
"Kita masih bisa ketemu gak?" Tanya Arega.
"Engga kalau disengaja. Tapi kalau kejadian seperti ini terulang lagi, ya silahkan saja. Aku gak bisa melawan kehendak takdir."
Aku menaiki motor yang telah lebih dulu ditumpangi Simi dan Nina. Sesaat setelah aku duduk diatas jok motor, tiba -tiba saja Raka berucap "Kayanya ban motor lu kempes, Sim."
Benarkah? bukannya tadi baik-baik saja. Simi memintaku untuk turun dan melihatnya. " Engga ah." Jawabku setelah memeriksa kondisi ban tersebut.
"Ya enggalah, kan kamunya turun. Gimana sih nih pacarnya WR." Ucap Arega dengan sebuah senyuman di wajahnya.
"Iya juga ya. Pea lu. Udah lu naik. gue yang turun buat liat." Simi turun dari motornya dengan Nina yang menggeser posisi duduknya hingga depan. Dengan segera aku duduk kembali diatas jok sesuai permintaan Simi.
"Engga ah. Boong lu." Umpat Simi dengan kesal kearah Raka.
Raka tertawa mendengar penuturan Simi. " Nih orang pada kenapa ya? Kan kempes kalau bertiga. Kalau berdua ya engga." Ucap Raka yang membuat tawaku saling bersahutan dengan Simi dan Nina.
"Nina naik angkot lagi." Ucapku yang dengan cepat ditolak oleh Nina. Dia bilang malam malam begini mana ada angkot lewat. Memang benar tidak ada angkot yang lewat kearah kosanku. Dan seingatku tidak ada juga bengkel terdekat disekitar Mall. Lalu bagaimana ini,
"Udah ayo paksain aja bertiga. Cuma bentar." Simi bergegas kembali menaiki motornya.
"Eh jangan. nanti rusak bannya. Yaudah gue yang ngalah. Gue nunggu disini sementara Arega anterin salah satu dari kalian. Gimana? Tiya pulang sama Arega." Saran dari Raka yang sepertinya sengajs ditujukan untuk menjebakku.
__ADS_1
"Kok gue?" Jawabku heran.