WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
44 - Micro Teaching Part 3


__ADS_3

Para siswa berhamburan keluar meniggalkan kelas, menandakan peserta dengan nomer urut 8 telah selesai menjalankan micro teachingnya. Sudah hampir 2 jam aku menunggu disini, setiap dua kali peserta tampil, para siswa akan diganti dengan siswa dari kelas lain, hal tersebut agar para siswa tidak merasa bosan apalagi tertekan.


Sudah 4 kali terjadi pertukaran siswa. Kali ini yang kelima dan akan menjadi yang terakhir. Peserta nomer urut 9 telah masuk berbarengan dengan Para siswa yang baru datang dari kelas lain.


Jantung ku makin berdegup tidak karuan. Keringat mulai bercucuran. Aku mencoba untuk tetap tenang sebisaku. Beberapa kali aku berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar, entah aku akan pulang sebagai pemenang atau bukan yang terpenting usahaku sudah maksimal sehingga tidak akan ada penyesalan.


"Gimana?" Sebuah pesan singkat kuterima dari Simi.


"Belum, bentar lagi. Doain." balasku dengan segera.


"Kata Miss Mala, lu pasti juara 1. Santai aja,"


Astaga, Miss Mala. Kenapa dia selalu menaruh harapan yang besar padaku. Apa sebenarnya yang dia tahu tentang kemampuanku. Aku rasa, jika aku gagal dalam lomba kali ini, Miss Mala lah orang pertama yang paling patah hati.


"Ya Tuhan, kali ini aku berdoa. Semoga aku bisa menjadi juara. Walaupun hanya juara tiga." lirihku dalam hati.


"Peserta terakhir. Silahkan masuk." Seorang wanita berdiri didepan pintu kelas dan memanggilku. Aku bangkit dari dudukku dengan kaki yang gemetar. Tampak Dessy tersenyum kearahku dan berkata "Semangat, kamu pasti bisa,"


Aku memasuki ruangan tersebut dengan diawali ucapan salam dan langsung menghampiri kedua orang penguji yang tengah duduk dengan memegang buku dan pulpen.


"Ini bu, perangkat pembelajarannya." Kuberikan beberapa hard copy perangkat pembelajaran yang sedari tadi aku simpan rapi didalam tas berwarna hitam yang selalu aku kenakan.


"Iya. Simpen aja." Jawab panitia tersebut.


"Ijin keluar sebentar bu. Mau ngambil media."


"Iya. Cepet."


Aku segera berjalan kearah luar ruangan dan mulai membawa tanah terlebih dulu, disusul dengan tanaman, pupuk, karton dan yang lainnya hingga terkumpul semua didalam kelas.


"Dari semua peserta, kamu yang paling banyak loh media nya. Semoga prakteknya juga bagus ya." Ucap Panitia tersebut.


"Silahkan, mulai." Tambahnya.


***


"Assalamualaikum temen-temen," Aku mulai menyapa mereka dengan sebuah senyuman yang merekah dan Dengan antusias mereka menjawab salamku dengan senyum yang terpancar dari setiap siswa juga tentunya.


"Gimana nih kabar adik adik semua?" Sapaku pada mereka.


"Baik." Jawabnya dengan lantang.

__ADS_1


"Eh, ngomong-ngomong ada yang udah kenal belum ya sama Miss?" Aku mencoba mencairkan suasana dengan perkenalan terlebih dahulu. karena menurut pepatah tak kenal maka tak sayang.


"Belum.." Jawab para siswa kompak.


"Baiklah. Kenalin, Nama Miss itu Tiya Adista. Tapi kalian cukup panggil Miss Tiya aja."


"Hay Miss Tiya." Ucap mereka kompak.


"Hallo adik-adik. Kalian kan sudah tau siapa nama Miss. Gak adil dong kalo Miss gak tau nama kalian. Coba dari yang paling depan sebelah kanan bediri dan sebutkan nama."


Satu persatu mereka berdiri dan menyebutkan namanya masing masing. Ada yang berucap dengan lantang dan ada pula yang berucap dengan pelan. Ku hitung ada 15 orang siswa yang menjadi muridku kali ini. Syukurlah, karena aku hanya mempersiapkan 20 buah pot kosong untuk praktek menanam nanti.


"Karena Miss udah kenal semua nama nama kalian. Sekarang Miss Tiya mau nyari anak yang bisa nyanyi, siapa yang seneng nyanyi ? ayo angkat tangannya." Tanyaku dengan semangat.


"Aku, Aku, Aku." Hampir semua siswa mengangkat tangannya dan meloncat loncat dengan girang.


"Oke. sekarang Miss tanya lagi. Siapa yang tau lagunya naik naik kepuncang gunung?" Lagi lagi mereka mengangkat tangannya dengan sangat antusias.


"Ayo semuanya berdiri. kita nyanyi sama-sama ya."


Para siswa berdiri sesuai dengan instruksi yang diberikan olehku. "naik naik kepuncak gunung. tinggi tinggi sekali 2x.. kiri kanan ku lihat saja banyak pohon cemara.a.a. 2x"


"Wah kalian hebat ya. Miss gak nyangka loh kalo kalian bisa nyanyi sebagus itu." Aku berusaha menunjukan rasa kagumku atas apa yang telah dilakukan oleh mereka.


"Aku, aku, aku," mereka saling berebut menjawab pertanyaanku.


Aku tertarik untuk bertanya pada seorang anak laki laki yang terlihat sangat aktif sekali meloncat loncat sembari mengangkat tangan dan berteriak "Aku.."


"Tadi nama kamu siapa ya? Lupa." Aku menghampirinya dan menatapnya.


"Erwin Miss."


"Erwin pernah kegunung?" tanyaku.


"Pernah,"


"Erwin liat apa aja disana?"


"Banyak Miss, ada binatang ada tumbuhan."


"Tumbuhan apa yang erwin lihat?" Aku mulai mengekrucutkan pertanyaanku kearah yang lebih spesifik.

__ADS_1


"Banyak Miss, ada yang gede, ada yang kecil banget. ada yang berbuah ada juga yang berbunga" Jawab erwin dengan yakin.


"Wah, banyak banget ya tumbuhan yang ada digunung."


Aku tersenyum menatapnya dan kembali berdiri dihadapan para siswa.


"Temen-temen, tadi kata erwin dia pernah kegunung dan ada banyak sekali tanaman disana. Tanaman gak hanya ada digunung lho tapi disekitar kita juga banyak tanaman walaupun jumlah nya tidak sebanyak digunung. ada tanaman hias dan ada juga tanaman obat. Kira-kira tanaman apa ya yang bisa dibikin obat?" Aku mencoba memberikan kesempatan pada para siswa untuk menjawab.


"Jahe Miss." Ucap anak perempuan yang duduk dikursi paling belakang, Medina kalo aku tidak salah nama anak tersebut. Teman teman yang mendengar jawabannya segera mentertawakan medina karena dianggap lucu.


"Kalo aku masuk angin. Ibu aku bikinin jahe sama gula merah pake air panas tau." Jawab anak tersebut dengan berani.


"Iya gitu Mis?" salah seorang dari mereka menungguku untuk mengkonfirmasi keberan dari ucapan anak tersebut.


"Betul banget. Jahe itu selain bisa buat masak juga bisa dibuat minuman ataupun obat. hebatkan? Nih. Miss Tiya punya games buat kalian." Aku menempelkan sebuah karton kosong dipapan tulis.


"Siapa yang berani kedepan?"


"Mau ngapain Miss? ngegambar?" Tanya erwin dengan kritis.


"Bukan, ini loh Miss punya lima buah tempelan berbentuk tanaman jahe. tugas kalian mengurutkan tanaman tersebut dari nomer 1 hingga 5.


"Aku Miss." Erwin menjadi siswa pertama yang melangkah kedepan. Segera ku sodorkan 5 buah bentuk tanaman jahe padanya dan memintanya untuk memilih manakah tahap awal dari proses pertumbuhan tanaman.


Erwin memilih gambar pohon jahe yang paling pendek. dan disusul dengan keempat temannya yang memilih gambar yang semakin tinggi dan menempelkan jahe dibagian akhir.


"bener gak?" Tanyaku pada siswa yang berada dikursinya masing masing.


"Bener,"


"Coba kita samain kaya punya Miss Tiya, ya." Aku mengeluarkan sebuah karton yang telah ditempel dengan gambar tanaman tersebut. dan menempatkannya berdampingan dengan karton yang diisi oleh para siswa.


"Loh kok jahenya diawal, Miss?" Tanya para siswa yang masih berada didepan.


"Tahap pertama kan menanan jahe. berarti jahenya barus diawal dong "


"Oh iya ya,"


"Terus kenapa kalian pilih jahe di nomer urut 5?" tanyaku pada mereka semua.


"kan kalo tanamannya udah gede baru bisa diambil buah jahenya." Ucap mereka.

__ADS_1


Aku tertawa mendengar jawaban mereka begitupun dengan kedua panitia yang sedari tadi menilai micro teachingku.


__ADS_2