WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
6 - Pernikahan Cici


__ADS_3

Hari demi hari hubungan ku dengan Arega kembali membaik. Tidak ada lagi pertengkaran ataupun perdebatan. Disela sela kesibukan nya sebagai seorang karyawan. Dia selalu menyempatkan diri untuk sekedar menemui ku di malam minggu. Walaupun komunikasi kita lewat hp terbatas karena jam kerjanya. Tapi, di malam hari. Kita selalu berbicara banyak tentang apa yang kita lalui seharian ini.


jika tidak datang di hari sabtu. Maka dia akan menemui ku di hari minggu. Memanjakan ku dengan menuruti segala keinginan ku untuk membeli ini dan itu. Sebenarnya aku tidak menginginkan semua itu, tapi katanya "kamu harus bahagia bersama aku,". Aku benar benar merasa dicintai berada disampingnya.


***


Orang bilang, cepat atau lambatnya waktu tergantung dari suasana hati. Mungkin suasana hatiku selalu senang karena tanpa aku sadari waktu bergulir begitu cepat. Tidak terasa, perkuliahan ku sudah menginjak semester 3.


Awalnya semua berjalan baik baik saja, seperti biasa tidak ada masalah ataupun kendala. Sampai tiba tiba, Cici memberitahu ku perihal rencana pernikahan nya yang tiba tiba. Aku kaget sekali mendengar pengakuan nya.


"Gue gak percaya lu mau nikah," ucapku berulang kali ketika Cici mengatakan hal yang sama.


"bagaimana bisa Cici menikah kalo pacar aja dia gak punya" batinku


Cici menjelaskan semuanya padaku perihal rencana pernikahannya dan keputusannya untuk berhenti kuliah.


Ternyata dia dijodohkan oleh orang tua nya, dengan Bos sapi didaerah nya.


"Terus, kuliah lu, gimana, Ci?" tanyaku pada Cici denga rasa iba.


"Gue berenti, Tiya,". Jawab Cici dengan tertunduk. Netranya sedikit berair namun tak sempat terjatuh karena masih bisa ditahan olehnya.


"Ci. Masa lu, tega ninggalin gue, dikosan sendiri," rengek ku seperti anak kecil. Sungguh, aku tidak mengira bahwa kuliah nya hanya akan sampai pada semester dua saja.


"Nanti gue titipin elu sama si Simi. Biar nanti dia yang gantiin gue buat ngingetin elu biar setia sama Arega,". Senyum Cici kembali merekah seolah menyembunyikan kesedihan dibaliknya.


"ihh, Cici. Apaan sih,".


Aku sudah berusaha meyakinkan Cici untuk melanjutkan pendidikan nya. Tapi, Cici sepertinya tidak kuasa untuk menolak permintaan orang tua nya. Entah apa alasannya, tapi ku rasa ini tidak adil buat Cici. Seharusnya dia berhak menentukan sendiri dengan siapa dia akan menikah nanti.


Berhentinya cici dari kuliah dengan alasan menikah. Akhirnya, membuat ku pindah kekosan simi. Karena aku bukan orang yang berani untuk tinggal seorang diri. Lagipula, berapa banyak biaya kosan yang harus aku bayar perbulan jika hanya tinggal sendirian.


"Lu pindah aja, ngekos bareng gue,". ajak Simi ketika membantu Cici membereskan baju baju nya.


"Gak lu ajak juga gua bakal pindah kekosan lu." Balasku

__ADS_1


Sedih sekali rasanya kehilangan sahabat yang sudah lebih dari satu tahun membersamai. Tapi, mungkin ini sudah jalan takdirnya, semoga kamu bahagia, Ci. Doakan aku juga agar bisa bahagia bersama dengan Arega ya, Ci.


***


Hari ini, hari dimana tanggal pernikahan Cici ditentukan. Aku, Simi dan semua satu kelas. Datang menghadiri pesta pernikahan Cici. Kebetulan hari pernikahan cici bertepatan dengan hari minggu jadi Arega ingin ikut menemaniku. Lagi pula Cici yang memintanya langsung untuk menghadiri pesta pernikahannya. Arega memang cukup akrab dengan Cici. itu sebabnya Cici sangat mendukung hubunganku dengan Arega.


Aku berboncengan dengan Arega. Bangga sekali rasanya bisa berada diatas motor yang sama dengan nya. Belum lagi beberapa teman ku yang berkomentar tentang Arega.


"Cowo lu cakep banget,"


"Keren, ih,"


"Kalo lu bosen buat gue, ya,"


Gadis mana yang tidak senang mendengar komentar baik tentang pacarnya. "Enak aja." Ucapku menimpali perkataan asal mereka.


***


Pesta pernikahan Cici berlangsung sangat megah sekali, Terpasang tenda yang begitu megah berwarna emas dengan maroon. disertai beberapa hiasan pita dan bunga asli. Ada banyak pula makanan yang berjejer disertai dengan sederet kue kue cantik. Tampak raut kebahagiaan terpancar dari wajah cici walaupun semua ini keinginan orang tua nya tapi kurasa Cici bahagia.


"Dih, mau banget ya nikah sama aku," jawabku jual mahal.


Arega hanya tersenyum kearahku tanpa menjawab lagi perkataanku.


***


Setelah menyantap beberapa makanan yang dihidangkan. Kami pun berfoto bersama.


"Selamet ya, Ci. Semoga lu bahagia." Ucapku pada Cici sambil memeluknya.


"Iya. Lu juga ya. Yang langgeng biar bisa sampe pelaminan juga." Pesan Cici padaku dan Arega.


Cukup lama kami berada di acara tersebut. Hingga musik yang mengiringi pesta berhenti sejenak karena adjan asar.


Kami semua akhirnya memutuskan untuk pulang karena jarak yang ditempuh lumayan jauh, takut kemaleman.

__ADS_1


siapa sangka ternyata dijalan malah turun hujan. Aku dan beberapa teman ku berhenti disebuah warung di pinggir jalan untuk sekedar meneduh.


Hujan tak kunjung reda dan beberapa teman ku yang lain sudah lebih dulu melanjutkan perjalanan nya dengan menggunakan jas hujan.


"Ujan ujanan aja yuk, yank," pinta ku pada Arega karena bosan menunggu hujan yang tidak ada tanda tanda untuk mereda.


"Yakin,?"


"Iya,"


Kami melanjutkan perjalanan dengan didampingi hujan. Ku masukan tangan ku. ke kantong jaket nya agar tidak terlalu dingin. Entah kenapa suasana saat itu membuat ku ingin sekali merebahkan kepala ku dipundaknya dan betul saja, itu semua ku lakukan.


Ku pejamkam mataku, mencoba merasakan hangat tubuhnya diantara semilir angin. Lama sekali ku titipkan kepala ku dipundak nya hingga aku tidak sadar bahwa hujan sudah mereda dan sebentar lagi kosan ku tiba.


***


Motor berhenti didepan kosan ku, yang dulu ku tempati bersama dengan Cici. Aku berjalan masuk kekosan tersebut, sepi sekali tanpa ada nya Cici. Ada rasa sedih terbesit dihati ketika memikirkan, aku akan meninggalkan kosan ini dan pindah ke kosan Simi. Tapi, sudahlah. waktu harus terus aku jalani bukan hanya dengan berdiam diri.


"Pindahnya, kapan,?" tanya Arega yang sedari tadi sepertinya memperhatikan ku yang tengah melamun.


"Besok, aja,".


"Besok aku kerja, gak bisa bantu kamu pindahan,"


"Iya, gpp. Cuma pindah ke kosan Simi. Tau, kan?"


"Iya. Nanti, minggu depan aku main"


Setelah beristirahat sebentar dikosan ku. Arega memutuskan untuk pulang dengan alasan agar aku bisa lebih cepat istirahat.


Ku lambaikan tangan tanda perpisahan pada nya seraya tersenyum. "hati hati," ucapku dalam hati.


Hari yang sangat melelahkan dan kini aku sendirian. Sepi sekali rasanya tidak ada teman untuk bercanda dan tertawa bersama. Aku tidak bisa lama lama disini sendiri. Aku harus segera pindah ke kosan Simi.


Ku hubungi Simi dan meminta nya untuk menjemputku besok. Pagi pagi sekali.

__ADS_1


__ADS_2