WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
79 - Happy Birthday WR part 1


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Aku dan kedua teman kos ku telah berada dikerumunan orang yang didominasi ibu-ibu. Yap, aku sedang berada di pasar. Malam nanti adalah malam ulang tahun WR dan aku bermaksud untuk membuat sebuah tumpeng untuknya.


Sudah cukup lama aku berkeliling mencari bumbu serta bahan yang akan aku gunakan untuk memasak nasi kuning magiccom ala anak kos. Sebelumnya aku memang belum pernah mencoba. Tapi aku sudah memepelajarinya lewat tutorial di youtube dan kelihatannya gampang.


"Ayo pulang." Pintaku pada Nina dan Simi setelah dirasa semua daftar belanjaan yang aku tulis tadi malam sudah semuanya kubeli.


Aku berjalan bersama menuju tempat awal memarkir motor. Tapi tiba-tiba saja Simi menghentikan langkahnya dan menarik keluar hanphone yang berada disaku celananya.


"Astaga, gue lupa." Ucap Simi dengan tangan yang menepuk jidatnya sendiri.


"Apaan?" Tanya Nina heran.


"Hari ini gue Anniversary." Ucap Simi dengan muka bingung.


"Gimana sih lu. Masa Anniv sendiri bisa lupa." Ucapku pada Simi.


"Ya maklum lah, Annive yang kelima jadi udah gak terlalu spesial haha." Jawab Simi dengan tertawa.


"Terus gimana?" Tanya Nina.


"Lagian si Mathew kok gak ngomong apa-apa ya. Aneh, yaudahlah. Gue beli kue aja sekalian anter beli hadiah buat si Mathew." Ucap Simi.


"Halah, tau gitu sekalian lu belinya pas bareng gue beliin kado buat WR."


"Alah, gue sih bentar. Cuma beli jaket doang sama kue tart. Udah kelar, gak kaya lu. Kebanyakan drama kebanyakan milik." Ucap Simi sembari menjulurkan lidahnya dan berjalan lebih dulu menuju motor.


Kugantung kantong kresek berisi belanjaanku dan mulai menaiki motor yang sudah siap dikendarai oleh Simi. Setelah berkeliling cukup lama, tapi pagi itu aku sama sekali tidak menemukan satu Distro pun yang terbuka.


"Masih pagi, Sim. Udah pulang dulu aja. Gue mau masak ini. " Keluhku pada Simi.


"Yaudah nanti siang aja."


"Eh tunggu dulu. Si Mathew berarti nanti dateng dong kekosan?" Tanya Nina.


"Iyalah,"


"Yaudah gue juga mau nyuruh si Wanto buat dateng ah. Tenang aja, nanti gue minta dia buat bawa cemilan sama buah-buahan. Gimana?" Tanya Nina dengan tersenyum.


"Bawa aja, terserah lu." Jawab Simi sembari kembali menaiki motornya.


Hanya butuh waktu 10 menit untuk ku bisa tiba di kosan. WR tidak tahu jika aku ada dikosan. Makanya sejak hari jumat dia tidak pernah datang kesini. Aku berbohong dan mengatakan padanya bahwa aku pulang bersama Simi tanpa berpamintan dulu dengan nya.

__ADS_1


"Yaudah. Tapi lain kali kalau mau pulang bilang aku aja. Biar aku yang anterin kamu." Begitu yang WR bilang di telepon tempo lalu.


Kuturunkan semua belanjaan mulai dari sayuran wortel, timun, selada. Serta bumbu-bumbu seperti daun salam, sereh, kunyit, hingga garam dan tidak lupa beras dan telut. Ku letakan semuanya didapur dan membiarkan nya tergeletak. Sekarang tugasku adalah membungkus kado kado yang sengaja belum aku bungkus.


Ku ambil kado kado tersebut yang sudah berhari hari menginap dilemari Simi. Sengaja aku melakukannya karena dikhawatirkan WR datang untuk mengambil baju miliknya yang berada dilemariku.


Ku bungkus datu persatu mulai dari tas, jam tangan, dompet, dan pulpen. Dan yang terakhir ku keluarkan gulungan kertas yang berada didalam sebuah botol kaca yang aku beli bersama kado kado lainnya. Sempat bingung ingin menulis apa, tapi akhirnya aku putuskan untuk menuliskan sebuah puisi untuknya.


Telah ku rangkai beberapa kata,


Agar tercipta sebuah makna,


Tapi aku bukan orang yang pandai berkata-kata


Apalagi saat harus bertatap muka.


Selamat ulang tahun, ya.


Aku menggulung kembali kertas tersebut, memasukannya kedalam botol dan menutupnya dengan rapat. Aku mulai menyusunnya satu persatu didalam sebuah keranjang buah yang telah aku persiapkan. Beberapa kali aku harus merubah posisinya karena belum menemukan posisi yang pas. Hingga akhirnya ketemu lah posisi yang sesuai. Setelah itu kubungkus parsel berisi kado kado tersebut dengan menggunakan plastik kado bermotip hati.


"Sempurna." Ucapku sembari memandangi satu keranjang kado buatanku.


"Bisa aja lu dapet ide kaya gitu. " Ucap Simi mengomentari hasil karya ku.


"Masih kurang satu lagi." Ucap Nina.


"Apaan?" Tanyaku dengan khawatir.


"Pita." Jawab Nina singkat.


"Astaga, iya beneran gue lupa. Gimana dong ini."


"Ya nanti gue beliin sekalian beli kue tart." Ucap Simi menenangkanku.


"Oke."


Aku mulai beralih menuju dapur dan bingung harus berbuat apa. Akhirnya aku putuskan untuk merebus satu kilo telur ayam yang tadi aku beli. Kumasukan semua telur kedalam wadah magicom dan mulai mengirisi dengan air. Setelah telur telur itu terendam semua, kumasukan wadah tersebut kedalam megicom, menutupnya dengan rapat dan mulai menekan tombol cook.


Kutinggalkan telur tersebut dan kembali menemui Nina dan Simi yang tengah bermalas malasan.


"Gue beli kado dulu, ya." Ucap Simi ketika merasa hawa semakin panas yang berarti cahaya matahari semakin terik.

__ADS_1


"Gue ikut gak?" Tanyaku menawarkan diri untuk menemaninya membeli kado.


"Gausah. Lu jagain telor lu tuh yang didalem megiccom. Nanti meledak bahaya." Gurau Simi.


"Yaudah, pita gue jangan lupa."


"Siap."


Simi berlalu bersama Nina dengan pintu kos yang tertutup. Sendirian dikosan benar benar mengundang rasa ngantuk untuk datang, apalagi semalam tidurku tidak begitu nyenyak. Sedikit demi sedikit mataku mulai beradu, hingga semuanya gelap dan aku sudah tidak sadar lagi.


Entah berapa lama aku tertidur, tiba-tiba saja aku terhenyak dari tidurku dan teringat akan telur yang aku masak. Dengan sempoyongan, aku berjalan menuju dapur. Lampu pada bagian cook masih menyala, ku buka tutup magiccom tersebut dan menampilak telur telur yang tengah beradu karena golakan air yang mulai berkurang. Aku tidak yakin telur tersebut telah matang. Tapi akhirnya ku rubah tombol yang tadinya cook menjadi warm. Dan membiarkan telur tersebut berada didalamnya untuk beberapa saat. Agar aku bisa kembali tidur dengan tenang.


"Heh. Malah tidur. Pantes gue sms gak dibales" Suara Simi menggema membangunkan ku dari tidur siang yang indah.


"Ah elu. Cepet banget sih." Keluhku yang masih memejamkan mata.


"Cepet mata lu. Nih pita pesenan lu." Simi memberikan sebuah pita berwarna putih dengan ukuran yang cukup besar.


"Kok putih sih, harusnya kan pink atau kalau engga ungu. Kan motip di kadonya gitu."


"Makanya baca tuh sms."


Ku perikss ponselku dan ternyata benar ada pesan dari Simi yang bertanya tentang warna dan ukuran pita yang aku inginkan.


"Hehe. Sorry Sim, gue ketiduran." Ucapku pada Simi.


"Telor lu udah mateng?" Tanya Simi.


"Udah."


"Yaudah gue mau makan. "


"Jangan ih. Gak boleh, lu beli aja sana ke warteg depan. Telor kan buat nanti malem."


"Satu doang."


"Engga."


"Pelit lu. Gak gue kasih kue." Ancam Simi dengan menunjukan kue blackforest yang tadi dia beli bersama dengan jaket yang telah terbungkus rapi.


"Yaudah sekarang gue kasih lu telor. Tapi gue juga minta kue lu sekarang."

__ADS_1


"Haha jangan. Yaudah nanti malem aja."


__ADS_2