
Aku tiba dikampus pukul 12.50 wib. Harusnya tidak setelat ini jika tadi aku tidak mampir dulu disebuah rumah makan padang untuk makan siang. Dengan tergesa-gesa, aku Simi dan Nina berlari menuju kelas karena perkuliahan dimulai 10 menit lagi.
"Tiya," terdengar suara menggema memanggilku. Aku berhenti dan memutar badan. mencari kesegala arah sumber suara tersebut. Sedangkan Simi dan Nina tetap melanjutkan perjalanannya yang hanya tinggal sebentar lagi. WR berjalan kearahku dengan santai.
"Di telpon sibuk mulu?" Tanyaku ketika sudah berada disampingnya.
"Kapan?"
"Pagi,"
"Engga ah. jaringannya aja kali."
"Iya kali ya."
"Terus sms aku kenapa gak kamu bales?" Kali ini WR yang berbalik mengintrogasiku.
"Oh iya lupa." Jawabku yang memang tadi belum sempat membalas pesannya.
"Gimana hasilnya?"
"Besok pengumumannya."
"Gak pulang kampung dong?" Tanya WR memastikan.
"Engga. Eh aku duluan ya. itu dosennya udah dateng. Nanti sore kekosan aja." Dengan segera aku berlari menuju kelas dan meninggalkan WR.
Kali ini aku mendapatkan sebuah tempat duduk dibagian paling depan dengan simi yang sudah lebih dulu ada dikursi sebelah.
"Ah telat sih jadi dapet paling depan kan," Gerutu Simi ketika aku duduk didekatnya.
"Santai. mata kuliah kali ini sih udah diluar kepala. lagian kan dosennya CS gue" Jawabku sombong.
"Awas lu ya kalo gue gak dikasih contekan." Ancam Simi.
"Ogah," Jawabku sembari tertawa.
Dosen yang tadi aku lihat dikoridor kampus telah memasuki kelas dengan tas besar berwarna hitam dipunggungnya.
"Assalamualaikum," Ucap Dosen tersebut.
"Waalaikumsalam, Mr." Jawab kami serentak.
"Tiya,?" Dosen itu menatapku dan memanggil namaku.
"Eh iya. Kenapa Mr.?" Tanyaku gugup.
"Pacaran mulu." Ucapnya yang diiringi dengan tawa dan diikuti oleh mahasiswa lainnya.
"Bukan pacaran pak itu sih diskusi." Aku mencoba mengelak.
"Iya diskusi tentang masa depan yang indah bersamanya, kan?" Ejek Simi dengan tertawa yang membuat seisi kelas ikut tertawa juga.
__ADS_1
"Sudah sudah, ayo kita mulai saja UTS nya." Ucap Dosen tersebut sembari mengeluarkan sebuah map berwarna coklat dari tasnya yang kemudian mulai membagikan lembar soal dan jawaban secara estafet.
Benar seperti dugaanku. Hampir semua soal yang di UTSkan hari ini mampu aku jawab dengan lancar tanpa kendala. Hanya saja aktivitas Simi menyalin jawaban dariku yang agak tersendat, karena dosen duduk tepat didepannya.
Satu setengah jam berlalu, dosen pertama telah berganti dengan dosen yang kedua. Dan sama seperti tadi, aku bisa menyelesaikannya dengan segera.
"Akhirnya... kelar juga UTS dan lomba tinggal nunggu hasil." Aku berteriak dengan kedua tangan terangkat keatas ketika dosen mata kuliah kedua telah keluar.
"Lebay lu." Umpat Simi.
Aku merangkulnya dan mendekatkan wajahku ke wajahnya "Thank you. The best parter ever." Ucapku pada Simi.
"Buru balik ah," Simi berlalu meninggalkan ku tanpa memperdulikan perkataanku.
***
Tiba dikosan, aku dan Simi berebut kamar mandi. Nina tidak ada dikosan, entah kemana karena semenjak Nina mendapat pinjaman motor dari pacarnya, kami sudah jarang bonceng tiga.
"Gue dulu," Ucapku sembari menarik Simi yang hendak menuju kamar mandi.
"Gue, awas ih." Simi mencoba melepaskan peganganku.
Tok .. tok.. tok..
"Assalamualaikum," terdengar suara ketukan yang diiringi dengan salam.
"Noh, bang WR tuh. Udah buruan sono." Simi mencoba mengalihkan perhatianku pada suara salam tersebut.
"Ngapain sih, ribut banget." Ucap WR ketika pintu kosan telah aku buka.
"Biasa rebutan kamar mandi." jawabku.
"Kamu gak pulang kan besok kerumah?" Tanyanya lagi untuk yang kedua kali.
"Engga,"
"Yaudah kalo gitu aku mau pulang dulu kerumah." Ungkap WR.
Pantas saja kali ini dia membawa tas polo miliknya. Aku mencoba menahannya agar tidak pulang karena besok hari pengumuman lombaku dan aku ingin menyampaikan nya langsung pada WR, apapun hasilnya nanti.
"Mau ngambil uang dulu." Ucap WR beralasan.
"Mau beliin hadiah ya buat aku?" Tanyaku dengan percaya diri.
"Dih, buat makanlah. orang uang udah abis." Jawabnya santai.
"Kalo aku juara dibeliin hadiah gak?" Tanyaku mengujinya.
"Iya kalo juara 1." Tantangnya.
"Dih, jangan satu. ketinggian. juara 3 aja ya?" Rengekku mencoba memohon keringanan.
__ADS_1
"Engga. Kalau juara satu nanti aku beliin kamu boneka baru. Si beruang kutub itu nanti dibawa pulang aja, atau kalo engga buang ajalah." Terang WR sembari menunjuk sebuah boneka pemberian dari Arega dulu.
Aku memang masih menyimpannya, tidak bermaksud apa-apa, hanya saja aku merasa tidak harus membuangnya. Lagipula selama ini, beruang itu tidak selalu mengingatkanku pada Arega, jadi aku merasa dia tidak perlu disingkirkan
Untuk sesaat aku terdiam mendengar penuturannya. Seingatku, aku tidak memberitahu WR dari mana boneka itu berasal. Lalu dia tau dari mana? Simi mungkin yang bercerita.
"Kesini lagi besok ya?" Aku mencoba untuk membujuknya.
"Minggu, palingan."
"Dih bete. Aku malam mingguan sama siapa dong."
"Gausah, dikosan aja." Jawabnya.
WR berlalu sesaat setelah dia mengucap salam. Aku menunggunya hingga benar benar tidak terlihat barulah aku masuk.
"Simi, buruan. Atau gue dobrak nih pintu kaya si Nina." Ancam ku dari luar kamar mandi.
"Iyaa.." Jawabnya berbarengan dengan suara air yang mengucur.
Simi keluar dengan segera dan langsung digantikan olehku. Dinginnya air benar benar membuat keringat dan rasa lelah ku hilang dengan cepat.
"Tiya.." Teriak Simi.
"Apalagi sih. Gue baru masuk."
"Ini si Nina bawa donat. 5 menit lagi lu gak keluar, gue abisin ya." Ancam Simi.
Aku percepat mandi ku dan segera menyudahinya. Sebuah kardus berukuran besar dengan gambar donat dan ada tulisan j.co diatasnya telah tergeletak diatas lantai.
"Buruan Sini." Nina tersenyum kearahku.
"Wah, Asik nih." Aku menghampiri mereka, membuka kardus tersebut dan mengambil satu buah donat dengan toping greentea.
"Lu punya duit sih beli ginian." Tanyaku pada Nina sembari mengunyah.
"Dibeliin si Wanto tadi sekalian ngambil motor, jadi sekarang kita bisa bonceng tiga lagi." Terang Nina dengan cengengesan.
***
Selepas Isya, Matew datang kekosan menemui Simi, Wanto tidak datang karena Nina sudah bertemu dengannya sore tadi. Begitupun dengan WR yang entah kenapa malam ini sulit aku hubungi.
"Sinyal nya jelek kali disana." Ucap Nina.
"Kayanya ." Akhirnya selepas solat isya aku memutuskan untuk tidur dengan harapan terbangun di pagi hari dengan hasil dari keputusan lomba yang sudah menanti.
Kuambil boneka beruang yang sudah mulai terlihat lusuh. Kali ini aku menatapnya dan mulai memeluknya. "Sebentar lagi kita akan berpisah." Bisikku ditelinganya. tentu saja dia tidak menjawab karena dia hanya sebuah boneka.
Hingga aku menutup matapun, WR belum membalas pesanku. Hanya sebuah pesan bada magrib yang aku terima darinya "Udah nyampe," begitu katanya.
"Selamat malam, WR." Bisiku lirih.
__ADS_1