WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
56. Kepala Sekolah


__ADS_3

"What?"


Satu kata yang terlontar dari mulut Miss Mala ketika mendengar penuturanku. Seperti ada penekanan dalam kata tersebut yang seolah menggambarkan rasa ketidak percayaan dan rasa terkejut yang mendalam. Ku angkat wajahku dan mulai menatap Miss Mala yang kini tenang menatapku dengan tatapan tajam. Ku edarkan pandanganku kesetiap wajah yang ada diruangan tersebut, teman-teman yang lainpun tidak kalah kagetnya dengan Miss Mala.


"Tiya, Are you serious?" Miss Mala bertanya lagi dengan netra yang enggan meninggalkan ku.


"Iya Miss. Tapi Miss tenang aja saya gak mau kok Miss " Jawabku dengan terbata-bata karena takut Miss Mala mengira bahwa aku akan mengkhianatinya.


"You jawab apa sama Bu Elly itu."


"Belum keburu dijawab. Bu Elly nya langsung pergi abis nawaran itu katanya saya suruh hubungin dia."


Miss Mala menarik nafasnya dengan gusar dan menghembuskannya dengan kasar. Raut wajahnya seolah menggambarkan bahwa ada begitu banyak kata-kata yang ingin dia utarakan.


"Tiya," Miss Mala menghela nafas panjang. Kemudian melanjutkan perkataannya " Kamu datang kesaya beberapa minggu lalu itu kamu bukan siapa- siapa. Belum jadi apa-apa. Masih seorang mahasiswa dan bahkan pengalaman pun belum ada. Saya terima kamu dan temen-temen kamu tanpa test terlebih dulu. Saya contohkan bagiamana cara mengajar yang baik sama kamu. Saya dukung kamu untuk ikut lomba hingga mengabaikan ke inginan Miss Fatma. Saya fasilitasi semua kebutuhan lomba kamu hingga kamu jadi juara dan dikenal seperti sekarang ini."


Miss Mala, dia mengungkit semua yang terjadi selama ini. Akupun menyadarinya dan cukup tau diri sebenarnya. Malah dengan dia berkata seperti itu aku merasa seolah dia tidak mempercayaiku.


"Iya Miss. Tiya juga inget." Aku menimpali semua keluhannya.


"Sekarang kamu fikir, sendainya dulu kamu melamar pekerjaan ke TK Mentari, apakah Bu Elly itu akan menerimamu dengan mudah? Kalaupun kami diterima, apa mungkin dia akan mengirim guru baru yang belum berpengalaman untuk ikut lomba? Saya rasa kamu yang lebih tau jawabannya."


"Terus sekarang saya harus gimana Miss?" Aku mulai bingung dengan semua perkataan Miss Mala yang seolah olah aku ingin mengkhianatinya padahal aku sudah berkata bahwa aku akan tetap stay disekolahnya.


"Kamu harus tetap disini, karena kamu akan gantiin posisi saya sebagai kepala sekolah." Ucap Miss Mala tegas


"Ha?" Kali ini aku yang tertegun mendengar penuturannya. Kepala sekolah? Astaga, apalagi ini.


"Iya, Tapi nanti tunggi tahun ajaran baru."


"Ah, syukurlah." Aku menarik nafas dengan tenang Masih cukup lama waktu yang akan aku lewati menuju tahun ajaran baru.


"Gak bisa gitu dong Miss." Miss Fatma yang sedari tadi diam mulai melontarkan ketidak setujuannya atas keputusan Miss Mala.

__ADS_1


Kini tatapan Miss Mala mengarah pada seorang wanita yang duduk disampingnya.


"Why?" Tanya Miss Mala singkat.


"Saya yang lebih dulu ngajar disini. Harusnya saya dulu yang dipromosikan untuk jadi Kepsek. Bukannya Miss Tiya." Tampak kekecewaan tersorot dari kedua bola matanya.


"Iya Miss gak apa-apa Miss Fatma aja." Aku mencoba mengalah dan meredam perdebatan tersebut. Lagi pula jabatan kepala sekolah untuk seorang mahasiswa sepertiku belum terlalu menjadi pusat perhatianku.


"Ini sekolah saya. Saya berhak menunjuk siapa saja yang menurut saya pantas." Ucap Miss Mala tegas.


"Tapi Miss. Kalo saya jadi kepela sekolah. Nanti Miss Mala jadi apa?" Tanyaku dengan ragu.


"Saya ini ketua Yayasan. Harusnya tidak merangkap dua jabatan sekaligus. Tapi saya gak bisa menyerahkan kendali sekolah begitu saja kepada orang yang belum saya yakini."


Ucap Miss Mala yang sudah mulai mereda ketenangannya.


"Gak bisa. Kalau sampe Tiya menjabat jadi kepala sekolah. Saya out dari sekolah ini." Miss Fatma kembali berkata. Namun perkataannya kali ini lebih tepat diartikan sebagai sebuah ancaman.


Dari tadi hanya Aku, Miss Fatma dan Miss Mala saja yang terdengar bersahutan. Tiga orang temanku lainnya tidak sedikitpun mengeluarkan suaranya bahkan untuk sekedar menyalurkan pendapatnya pun tidak ada.


"Saya cuma gak mau di pimpin sama orang yang pengalaman mengajarnya baru seumur jagung." Miss Fatma menatapku sembari menyipitkan matanya membuat aku tertunduk malu saat itu juga.


"Saya kan gak minta Tiya jadi kepsek sekarang. Tapi tahun depan. Tiya pasti akan lebih banyak belajar lagi." Miss Mala kembali membuatku mampu untuk mendongakkan kepala yang tadi sempat tertunduk lesu.


"Miss," Terdengar suara putri denga lirih.


"Kenapa?" Tanya Miss Mala.


"Masih lama gak Miss? ini udah hampir jam 1 soalnya. Kita harus kuliah Miss. Maaf." Putri berucap dengan sangat hati hati sembari menatap jam tangannya dikalimat terkahir.


"Astaga," Miss Mala menghela nafaanya hingga terdengar begitu berat. "Yasudah kalian kuliah sana. Tiya, kamu segera hubungi bu Elly bilang kalo kamu menolak. Terus buat kamu Fatma, silahkan saja kalau mau keluar." Miss Mala berlalu meninggalkan semua guru guru nya.


Miss Fatma menatapku seolah aku ini mangsanya. Sesaat kemudian dia mengambil tasnya dengan kasar dan pergi tanpa berkata sepatah katapun.

__ADS_1


"Ayo, telat nih." Ucap Simi yang sedari tadi tidak terdengar suaranya.


***


Siang itu, aku tiba dikampus dengan telat. Untung saja dosennya tidak mempermasalahkan itu dan membiarkan kami masuk tanpa banyak pertanyaan. Selesai perkuliahan aku dan Simi bergegas pulang setelah Simi mendapat kabar bahwa Nina harus mengerjakan tugas kelompok terlebih dulu.


"Tiya," Suara langkah kaki terdengar berjalan kerahku. Aku tersenyum pada sosok laki-laki yang baru saja memanggilku.


"Di WA kok ceklis sih?" Tanya WR begitu sudah berada djhadapanku. Sambil terus melanjutkan perjalanan menuju parkiran,


akupun menjawab "Mati kayanya. Lupa ngecharge semalem." Hari ini rasanya begitu sibuk sekali, hingga aku sama sekali tidak menyadari bahwa ponselku tidak berbunyi.


"Pulang bareng," Ajak WR.


"Gak boleh. Gue lagi males nyetir motor." Bentar Simi yang sedari tadi berjalan berdanpingan denganku.


"Haha, aku pulang bareng Simi aja. Kayanya dia masih emosi gara-gara kemarin gak dibawain oleh-oleh."


"Yah, lupa. Nanti Simi sama Nina kesana deh. belum pernah kan kekampung boneka?" WR mencoba membujuk Simi yang tengah merajuk.


"Mauu..." Jawab Simi dengan antusias.


"Aku pulang dulu, ya." Tidak terasa perjalananku sudah sampai ditempat simi menyimpan motornya.


"Yakin, gak mau bareng aku?" Tanya WR lagi.


"Gausah, buruan lu nyetir. Nih kuncinya." Simi menarikku kerah depan dan mendudukanku dengan paksa dijok motornya setelah itu memberikan sebuah kunci kepadaku.


"Santai woy," Ucapku menimpali kelakuan Simi.


"Hati-hati," Ucap WR sesaat sebelum aku pergi.


"Iya," Jawabku sembari mengendarai motor milik Simi.

__ADS_1


__ADS_2