
Aku meminta lima orang siswa yang tadi kedepan untuk kembali ketempat duduknya. Kali ini, aku mengeluarkan 5 buah pot berisi tanaman jahe yang sudah aku sedari tadi aku persiapkan.
Dengan antusias aku menjelaskan kepada mereka proses menanam hingga menjadi sebuah tumbuhan. Mereka tampak senang ketika aku memperlihatkan pohon pohon jahe tersebut.
"Aku punya Miss pohonnya dirumah." Ucap salah seorang siswa perempuan.
"Kalau yang lain punya gak?" Tanyaku pada mereka semua.
"Gak punya Miss." Jawabnya kompak.
"Tenang, sebentar lagi kalian akan punya pohon jahe sendiri."
Aku mengambil pot yang masih berada didalam plastik dan mulai membagikannya satu persatu kepada setiap siswa.
"Masih sisa pot nya?" Tanya salah seorang juri.
"Masih sisa 5 bu." Jawabku
"Yasudah, saya minta dua. Mau ikut menanam bareng anak anak." Cakapnya.
Aku segera memberikan dua buah pot yang masih kosong kepada kedua juri tersebut.
Aku menggunakan nya satu untuk ikut menanam juga dan masih tersisa 2 pot kosong lainnya.
"Sudah dapet pot semua?"
"Sudah Miss."
"Oke. Siapa yang masih inget pertama kita butuh apa kalau mau menanam hayo. tadi Miss Tiya sudah jelaskan?"
"Tanah, Miss. Tanah" Seru mereka berbarengan.
"Yup betul," Kembali aku mengahampiri mereka satu persatu termasuk kedua juri, untuk mengisi setengah dari pot mereka dengan tanah yang aku beli tempo lalu dipenjual tanaman yang sudah pasti tanah gembur.
"setelah dikasih tanah, lalu apa lagi ya?" Tanyaku lagi.
"Siram, Miss."
"Kasih pupuk Miss,"
"Masukin jahenya Miss."
Beragam jawaban dari mereka. Tidak seperti biasanya yang selalu sama dan kompak, untuk pertanyaan kali ini jawaban mereka berbeda, padahal belum lama aku menjelaskannya.
"Setelah tanah, selanjutnya kita kasih pupuk." aku mengoreksi jawaban siswa yang kurang tepat
"Yeay aku bener." Ucap beberapa siswa yang tadi sempat meneriaki jawaban pupuk.
Lagi, aku berkeliling membagikan pupuk sembari membantu beberapa dari mereka untuk mengaduk tanah dan pupuk tersebut agar bercampur.
"Abis ini pasti jahenya." Kata Erwin.
__ADS_1
"Iya. Erwin benar."
Semua siswa dan juri termasuk aku telah memegang sebuah jahe dan penanaman pun dimulai. Aku berkeliling untuk memastikan mereka melakukannya dengan benar. ada beberapa diantara mereka yang hanya meletakannya diatas tanah. ada juga yang membenamkannya hingga ujung dan ada juga yang tepat mengikuti intruksiku untuk membenamkan jahe tersebut tidak terlalu dalam. Hanya sekitar 5 cm dari permukaan tanah.
Dengan segera aku membawa satu botol berisi air untuk menyiram tanaman mereka.
"Ini boleh buat kita, Miss?" Tanya siswa.
"Iya, kalian boleh bawa pulang. Tapi, inget. Dirawat ya, siramnya secukupnya aja. Jangan terlalu banyak. Terus jangan simpan dibawah matahari langsung ya."
"Iya, Miss."
Aku mengakhiri micro teachingku kali ini dengan sebuah ucapan terimakasih karena telah menjadi parter yang menyenangkan untukku praktek mengajar. Suasana kelas lebih hidup karena mereka antusias dengan apa yang aku sampaikan, jika saja mereka hanya berdiam diri saja, tentu sudah lain lagi ceritanya.
Aku berpamitan kepada kedua juri yang sepertinya sudah tampak kelelahan. Aku permisi keluar dengan membawa semua media yang sudah aku gunakan.
"Tiya, kamu keren." Dessy, entah sejak kapan dia berada dibalik pintu hingga mengagetkanku.
"Keren apanya, keringetan begini." Jawabku sembari menyimpan barang bawaanku kepinggir tembok.
"Ih, tadi micro teaching nya." jelas Dessy.
"Kamu liat?"
"Dikit."
Aku tersenyum getir mendengar penuturannya. Aku rasa cara mengajarku biasa saja, apa jangan jangan dia hanya berpura pura berkata bahwa teknik mengajarku keren. Ah entahlah, terserah dia saja.
***
"Besok pukul 8 di TK Percontohan, Kami selaku panitia dari UPTD mengundang ibu ibu semua beserta kepala sekolah dari semua TK yang telah mengikuti lomba tahap awal untuk datang dan menjadi saksi siapa yang berhasil membawa pulang piala utama dan tentunya juga mengharumkan nama TK nya" Jelas panitia tersebut. setelah akhirnya mempersilahkan kami untuk pulang.
"Yah, tau gitu aku pulang dari tadi." Dessy mengeluh didekatku.
"Hehe, iya ya." kataku yang bingung harus menjawab apa.
Dengan cepat ruangan tersebut kosong. hanya tersisa aku, Dessy dan 2 orang peserta lainnya yang tidak aku kenal.
Kucari hp ku yang semenjak masuk kekelas Micro teaching tadi sudah aku silent.
Ada begitu banyak pesan yang belum terbaca.
"Udah belum?"
"Woy,"
"Tiya, gimana?"
Simi, berulang kali dia mengirimkan pesan padaku.Tidak hanya dia, Miss Mala juga menanyakan hal yang sama padaku termasuk juga WR.
"Gimana, Ay Micro teaching nya?" Sebuah pesan dari WR terselip diantara banyaknya pesan yang aku terima dari Simi dan Miss Mala.
__ADS_1
Aku menelpon Simi dan memintanya untuk menjemputku. Karena jarak yang dekat membuat Simi tidak butuh waktu lama untuk berada di TKIT ini.
"Gimana? juara gak lu?" Tanya Simi yang masih nangkring dimotornya.
"Nanti aja sekalian sama Miss Mala. Males gue jelasin dua kali." Ucapku sembari menaik naikan barang bawaanku kemotor.
Tiba disekolah TK ku, para siswa sudah tidak ada.
"Wah, Sang Juara kita nih udah dateng." Dengan penuh keyakinan Miss Mala keluar dari ruang kelas dan menyambutku.
"Haha bisa aja." aku tertawa menimpali pujiannya.
"Gimana?" Miss Mala menatapku dengan nanar. Aku meraih tangannya dan menciumnya. "Assalamualaikum," Kataku.
"Eh iya sampe lupa. Waalaikumsalam, Ayo masuk cerita didalem aja." Balas Miss Mala dengan tawa.
Aku memasuki ruang kelas ku. Sudah ada Miss Putri. Nina dan Juga Miss Fatma yang tengah duduk dan menyantap beberapa jajanan.
Aku mulai duduk berbaur dengan guru yang lain. begitupun dengan Simi dan Miss Mala. Tampak semua netra tertuju padaku, hanya Miss Fatma yang seakan membuang muka padaku.
"Keputusannya besok Miss. Kepsek dan semua peserta yang ikut lomba diundang buat dateng ke TK percontohan, Guru guru juga boleh ikut kalo mau." Aku mencoba menjelaskan apa yang aku dengar kepada Miss Mala.
"Gausah banyak-banyak. Cukup kepsek sama Situ juga cukup kok." Miss Fatma tiba-tiba ikut andil dalam pembicaraan ini. Aku hanya bisa terdiam mendengar ucapannya yang seolah tidak menyukai keberadaanku disini.
"Ah ikut ah. Tenang Tiya, gue bakal jadi saksi keberhasilan lu." Simi menghampiri dan kemudian merangkulku.
"Aku juga ikut." Ucap Putri.
"Nina ikut gak?" Tanya Miss Mala.
"Ikutlah Miss pasti." Jawab Nina dengan yakinnya.
"Besok jam berapa acaranya, Tiya?" Miss Mala bertanya padaku.
"Jam 8 Miss."
"Yaudah. Besok jam 7 dateng kerumah saya. Kita berangkat sama-sama aja naik mobil. Gimana?"
"Asik," Jawab kami berempat.
"Tapi, Miss?" Kata-kataku tertahan.
"Kenapa?" Miss Mala tampak keheranan.
"Kalau gak jadi juara gimana?"
"Yang penting kamu sudah berusaha. Usaha tidak akan mengkianati hasil." Terang Miss Mala.
Tampak sebuah kekesalan tergambar diraut wajah Miss Fatma. Entah apa yang salah menurutnya.
"Kalau gitu saya pulang yah. lagian kalian masih UTS kan?" Tanya Miss Mala.
__ADS_1
"Iya Miss."
"yaudah pulang. nanti telat." Ucap Miss Mala sambil berlalu.